Begitu Sederhananya ALLAH Mendewasakan Kita

Kepik“Setiap peristiwa di Jagat Raya ini adalah potongan-potongan Mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu, apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian…” (Novel Sang Pemimpi – Andrea Hirata)

Ya! Setiap peristiwa yang kita alami dan datang menerpa silih berganti, adalah potongan-potongan mozaik yang telah disusun sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Tidak ada satupun takdir yang luput dari catatan panjang yang telah tertulis di Lauhul Mahfudzh lima puluh ribu tahun lamanya sebelum semesta tercipta. Seperti bunyi nukilan hadist dari Rasulullah Shallallahu ‘allaihi Wassalam yang berbunyi : “ALLAH telah menulis ketetapan dan takdir para Mahkluk semenjak lima puluh ribu tahun lamanya sebelum diciptakannya Langit dan Bumi” (HR. Muslim).

Siapa bilang angka yang bertengger di kepala adalah tolok ukur tingkat kedewasaan kita? Kata siapa, anak kecil bau kencur tidak boleh dewasa? Banyak kita temui, seorang wanita dewasa berusia matang (secara biologis) begitu labil dan guncang emosinya tatkala sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa dirinya.

Pun, ada anak berusia belasan tahun atau bahkan belum genap sepuluh tahun, tahu makna sebuah pengorbanan dan bakti terhadap Orang Tuanya yang tengah lemah dan susah, dengan merawatnya tatkala sang Ayah sakit meski dirinya ditimpa kesusahan akibat kemiskinan yang menghimpit. Tanpa mengeluh, tanpa meminta.

Mungkin, pernah sesekali dalam hidup, kita pun mendapati berbagai macam permasalahan yang begitu meresahkan dan cukup melelahkan tenaga serta pikiran. Mulai dari masalah finansial, rumah tangga, 10421235_869515959760151_316942817576588492_npekerjaan, beban tugas akhir bagi Mahasiswa, dan lain sebagainya. Mustahil rasanya kita hidup tanpa masalah.

Terkadang, ketika badai masalah datang menghampiri, mindset yang sudah terbentuk di pikiran kita adalah, “Duh, susahnya!”, “Yaa Rabb, kenapa harus aku?”, “Paling kalau aku begini, nanti juga begitu”, walau saya menyakini bahwa antara individu satu dengan yang lainnya, tidaklah sama dalam menghadapi dan mengelola problemnya masing-masing. Mungkin ada yang langsung frustasi, ada yang tenang-tenang saja, bersegera menyelesaikan, atau bahkan ada juga yang memilih menghindar.

Orang bijak mengatakan, “Tua itu pasti, Dewasa itu pilihan”. Dewasa adalah sebuah pilihan. Pilihan yang diambil seseorang dalam mengambil sikap. Apakah dia akan bersikap sesuai dengan umurnya, umur kedua orang tuanya, atau justru umur adiknya? Tidak mudah memang ketika kita mendapat “Kado” berupa masalah dari ALLAH. Tapi, jika kita tidak pernah mencoba untuk membuka hadiah kasih sayang Dari-Nya, kita membiarkannya teronggok di depan mata tanpa mau menyentuhnya, mengelolanya, memanfaatkanya sebagai peluang untuk mencari “perhatian-Nya”, membuang waktu hanya untuk memikirkan “Apa sih isinya?” tanpa mau membuka dan mengurai apa yang tersimpan di dalamnya satu persatu, yakinlah, kita tak akan pernah tahu apa “keistimewaan” kado yang telah ALLAH kirimkan kepada kita.

Namun, jika kita mau perlahan meraihnya, mengucap syukur dan memuji atas pemberian-Nya, kemudian membuka bungkusnya dengan segenap kesabaran, dan ternyata kita dapati potongan-potongan Puzzle kehidupan di dalamnya. Lalu kita kerahkan segala daya upaya bersama doa dan pengharapan agar Ia senantiasa memudahkan kita bersama petunjuk-Nya, insyaa ALLAH, kita dapat menyusunnya menjadi sebuah Karya indah yang tak pernah kita duga sebelumnya. Walau mungkin, harus membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan rumit. Setelah nampak keindahannya, kita baru menyadari, “Oh, ternyata aku bisa!”.

Ah ya! Betapa sederhananya ALLAH mendewasakan kita dengan cara-Nya. Teruslah berbaik sangka terhadap takdir yang menimpa. ALLAH mengijinkan kesusahan, keletihan, dan penderitaan, sebab Ia yakin, bahwa kita bisa melaluinya, bahwa kita mampu, bahwa kita tidak dapat memilih takdir, namun kita dapat menjadi Manusia yang lebih bermakna, sebab anugerah kesabaran dan baik sangka yang telah dikaruniakan terhadap kita. So, tetaplah berpikir positif. Aku, pasti bisa! Insyaa ALLAH. Man jadda wa jada!

Ditulis, Kamis 29 Mei 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s