Seakan-akan Aku Mati Esok

553491_176019492519788_778413673_nGrudak gruduuk.. begitulah, ketika adzan shalat menjelang. Seluruh Penghuni Wisma bergegas wudhu, dan berkumpul di ruang tengah sambil menanti waktu sholat berjama’ah. Sambil menghafal Hadist Arba’in dan Doa. Setelah iqamah, kita dorong-dorongan,

“Hayooo.. siapa yang mau jadi Imamnya..” seruku.

“Mbak Anita, ayok Mbak.. yang hafalannya banyak loh..”.

“Wah, enggak kok.. Dik Nida aja, yang udah hafal Juz 29..”Mbak Anita sambil menarik Dik Nida.

“Ahh.. enggak kok, Kak Lining aja deh.. Yang bacaan Al-Qur’annya bagus..” Dik Nida pun menolak.

“Kan kemarin udah? Hayoo, Dik Tyas aja..” Kak Lining mendorongku ke tengah.

“Wah Mbak, aku bacaannya belum lancar ee.. ayok, Mbak Ririn aja..” kilahku sambil tertawa.

“Nggak ahh, Mbak Anita aja selaku Amiroh Wisma…” Mbak Ririn membelakangi Mbak Dewi.

Terus saja begitu, setiap akan menunaikan shalat fardhu berjama’ah. Seru, lucu, dan menggemaskan.

“Yaudah, kalo gitu.. yang jadi Imam yang paling tinggi ajaa..” seruku setengah bersorak.“Brarti Kak Atikaa…” Jawab para Akhoowat kompak. Kak Atika jingkrak-jingkrak, “Waahh.. bukan termasuk syarat Imam itu… Ayok Kak Lining ajaa..”. Setelah cukup lama dorong-dorongan, akhirnya Kak Lining terpaksa jadi Imam.

Usai sholat kita masih ribut mengantri giliran setoran hafalan. Masyaa ALLAH, pemandangan langka yang kutemui sepanjang hidupku. Tak pernah terbayangkan sekalipun sebelumnya, aku akan berada di tengah-tengah mereka yang kini kuanggap sebagi Saudaraku sendiri. Kutemukan ketulusan, kesejukan dan kedamaian yang menjalar sendi-sendi hidupku.

Sebenarnya aku benci untuk menceritakannya, karena itu sebuah bagian dari masa lalu yang seharusnya kukubur dalam-dalam. Hanya saja, aku ingin berbagi kisah yang insyaa ALLAH menjadi sebuah ibrah bahwa setiap Orang bisa berubah.

Sekitar Tiga setengah tahun yang lalu, sejak pertama kali hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi, aku seperti Wanita kebanyakan. Tidak berhijab, bahkan sering melalaikan kewajibanku sebagai seorang Muslimah. Aku jarang sekali menunaikan shalat, bahkan Al-Qur’an yang jauh-jauh kubawa dari rumah pun mulai berdebu, tak terjamah sama sekali, astaghfirullah. Bahkan, dulu aku sering mencela para wanita yang sudah berhijab, “Alaah.. jaman sekarang, cewek pake hijab itu cuma buat kedok. Percuma pake jilbab, kalo kelakuannya amoral…” celaku kala itu -semoga ALLAH mengampuniku-. Bahkan, karena ketidaktahuanku aku suka ilfiil kalo melihat Ikhwan yang bercelana cingkrang. Parahnya, aku pun suka mengghibah apabila bertemu Akhowaat bercadar di jalan, “Heh, ada Istri Teroris tuh…” -Masyaa ALLAH-.

Sekian lama aku terperangkap dalam persepsi sempitku. Bergaul dengan teman yang jauh dari nilai-nilai Agama semakin memperparah karakterku, alhamdulillah, ALLAH menjagaku untuk tidak menyentuh Dunia malam, khamr, narkoba, free sex dan lain sebagainya. Aku terombang-ambing, waktuku banyak kuhabiskan untuk main dan main dengan teman-temanku. Berbelanja sesuka hatiku, mendengarkan musik, begadangan hingga pagi untuk nonton film, dan lain sebagainya.

Aku tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupku. Masalah selalu datang silih berganti. Aku tidak pernah berusaha untuk menyelesaikannya, dan cara terjitu adalah menghindarinya. Menurutku, itu adalah pilihan terbaik yang bisa aku tempuh. Hal itu sangat berdampak besar terhadap kestabilan emosiku. Aku menjadi pribadi yang sangat mudah tersinggung, pemarah, dan galak.

Hingga akhirnya, tepatnya Ramadhan tahun lalu hidayah menyapaku. Ketika itu, aku sedang liburan di rumah Kakakku di Surabaya. Sambil menanti waktu berbuka puasa, aku mendengarkan musik. Namun, adzan Maghrib yang menggema terasa mengusik kalbuku. Entah mengapa, air mata ini mengalir begitu derasnya. Seolah, aku tidak akan mendengarkan lantunan adzan itu lagi untuk selama-lamanya. Aku segera bergegas untuk menunaikan shalat Maghrib, dan untuk pertama kalinya aku larut dalam doaku. Walaupun aku berpuasa, tapi shalatku masih bolong-bolong kala itu. -astaghfirulah-.

Usai berbuka puasa, sebuah sms dari seseorang menyambangi handphone jadulku.

“ALLAH ada dimana?” Bunyi pesan itu.

Dengan santainya aku membalas, “ALLAH ada dimana-mana”.

Lama pesanku tak terbalas. Kemudian,

“Salah. Sesungguhnya Rabb kamu ialah ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-istiwa` (berada/naik) di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak ALLAH. Maha Suci ALLAH, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54). Jadi, ALLAH beristiwa di atas arsy’-Nya, tetapi ilmu-Nya meliputi alam semesta” (Kurang lebih begitu bunyi pesannya). Aku terperanjat membacanya. Karena, setahuku ALLAH ada dimana saja, termasuk di hatiku.

Aku pun kemudian tertarik untuk bertanya lebih jauh mengenai Agamaku padanya. Dengan sabarnya, dia menjelaskan panjang lebar tentang Islam. Yang kuingat, ketika aku akan berangkat ke Masjid untuk shalat Tarawih, dia mengingatkanku untuk tidak mengenakan Parfum ke Masjid. Karena, apabila Wanita mengenakan wewangian ketika keluar rumah agar wanginya dicium oleh para lelaki, maka Wanita itu tak ubahnya seorang Pelacur. Masyaa ALLAH, aku merenungkan pesannya. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah mengenakan wewangian ketika hendak keluar rumah.

Sejak saat itu, ketertarikanku untuk belajar Agama semakin kuat. Aku mulai mengenakan jilbab. Dia sering menasehatiku agar berhijab dan berpakaian sesuai syar’i. Memberi referensi situs-situs Islami yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meminjamiku Buku-buku Agama, dan terus menerus memotivasi untuk tetap istiqomah. Hinggap secara tidak sengaja, di home Facebook-ku ada pengumuman Kajian Kemuslimahan. Alhamdulillah, inilah awal mulanya aku mengenal Manhaj Salaf. Awalnya aku masih sangat awam dan kaget ketika tahu bahwa kajian yang kuhadiri dipenuhi oleh Akhwat-akhwat bercadar. Namun, kekagetan itu hilang tatkala berada di dalam ruangan mereka melepas cadarnya, dan menyapaku ramah. Masyaa ALLAH, semua di luar dugaanku.Tadinya aku pikir mereka itu jutek dan nyebelin, tapi sampai detik ini, aku belum pernah menemukan dua sifat itu pada mereka yang bercadar.

Perlahan tapi pasti, aku mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan burukku. Semua file musik di Laptopku, kuhapus. Semua foto-foto di Facebook-ku pun begitu. Mulai menjaga lisan, menghindari ikhtilat dengan laki-laki non mahrom, dan lain sebagainya.

Seperti halnya sebuah Jalan. Kadang menanjak, kadang mulus, berliku, bahkan terkadang banyak batu sandungan disana-sini. Begitu pula dengan jalan hidup Manusia. Tidak selamanya mulus. Pengalaman pahit pertama ketika aku mudik adalah ketika Orang Tuaku mulai menyadari perubahan yang sangat signifikan terhadap sikap dan penampilanku yang mulai berhijab lebar. Awalnya mereka membiarkanku, namun ketika aku mulai menasehati Ibuku untuk tidak melakukan ritual bid’ah, beliau malah berprasangka terhadapku. Bahkan Bapak melarangku untuk mengurangi panjang hijabku, katanya, berlebihan dan tidak wajar jika di desa kami aku mengenakannya. Aku tetep keukeuh dengan prinsipku, akhirnya, Bapak pun mengalah dan membiarkanku berhijab lebar.

Begitu seterusnya setiap kali aku pulang ke rumah, Orang Tuaku selalu memarahiku dengan tema yang sama. Lagi-lagi, nggak wajar pake hijab lebar begitu. Masyaa ALLAH, semoga ALLAH melunakkan hati mereka.

Akhirnya aku memutuskan hijrah kost ke Wisma Muslimah agar aku bisa lebih mengenal Agamaku. Keseharianku dikelilingi oleh Akhwat-akhwat yang shalihah. Aku disibukkan dengan hafalan Al-Qur’an, Matan Hadist, Doa, belajar Bahasa Arab, Kajian Kemuslimahan, hingga perlahan mulai melupakan kesenangan Dunia. Dulu aku bercita-cita tinggi, ingin berkarier dan melanjutkan studi hingga jenjang S3 dan menikah ketika Usiaku sudah 27 tahun. Hanya duniawi saja yang kukejar, aku melalaikan kehidupan akhiratku. Tapi kini, berubah seratus delapan puluh derajat. Benarlah jika ALLAH bisa dengan mudahnya membolak-balikkan hati Hamba-Nya, dan Dia-lah Perencana yang tiada tandingannya. Cita-citaku kini adalah Surga! Apa jadinya, ketika esok pagi aku sudah tidak terbangun lagi untuk selamanya, sedangkan aku belum cukup bekal?

Orang Tuaku berkunjung ke Yogyakarta. Mereka ingin mengetahui keseharianku di Kota Gudeg ini. Mereka terperanjat ketika mengetahui teman-teman Kostku rata-rata bercadar. Mereka pun mulai curiga dengan aku yang selalu mengenakan masker di luar ruangan. Aku berdalih, bahwa aku alergi debu (itu memang benar, dan mengharuskan aku mengenakan masker ketika harus berkendara). Mereka menatapku penuh selidik. Orang Tuaku terkesan dengan tindak-tanduk teman-temanku yang sopan santun, bersahaja, bahkan mereka menjamu Orang Tuaku. Hal yang langka didapati oleh Orang Tuaku, “Baru kali ini, aku berkunjung ke kost anakku aku dijamu sama temennya..” Kata Ibuku ketika itu. Aku senang mendapati respon positif darinya. Awal yang bagus! Seruku, seperti melihat peluang untuk meruntuhkan persepsi mereka tentang Wanita Bercadar yang negatif. Mereka mulai tidak mempermasalahkan hijabku. Alhamdulillah.

Tak dinyana, itu hanya bertahan dua hari saja. Dengan cepatnya, Orang Tuaku mengubah keputusannya. Hanya gara-gara sebuah berita di Televisi yang menyorot tentang Terorisme dan provokasi dari ahlul bid’ah serta fitnah-fitnah yang ditujukan pada Salafy. Mereka memarahiku habis-habisan, bahkan menganggapku anak durhaka jika masih mengenakan hijab lebar, apalagi sampai bercadar. Aku pun diharuskan pindah kost, tidak boleh bergaul dengan Wanita Bercadar dan bercelana cingkrang lagi. Entah mengapa, Orang Tuaku begitu cepatnya berubah pikiran. Bahkan, jika aku tetap bercadar sudah tidak dianggap anak lagi. Karena, pemikiran mereka bahwa Cadar itu adalah Budaya Arab, bukan syariat. Mereka begitu khawatir aku ikut aliran sesat dan didoktrin oleh golongan sesat. Perdebatan sengit di rumah pun pecah, aku tetap teguh untuk berhijab lebaar dan bercadar.

Akupun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja. Membawa sejuta luka yang menyayat kalbu. Aku tidak pernah menyangka, Orang Tuaku begitu kerasnya terhadap keinginanku untuk menegakkan syariat. Walau Cadar itu sunnah, dan ada sebagian Ulama yang mewajibkan, tapi rasanya, aku lebih merasa terjaga ketika mengenakannya. Aku memang tidak cantik, bagiku itu bukan sebuah alasan untuk menutupi wajahku. Tapi, bukankah Mutiara yang terjaga itu terlindungi Oleh Kaca yang indah dan tidak sembarang Orang bisa menyentuhnya? Kelak, hanya untukmu Suamiku kupersembahkan Mutiara itu. Aku menshalihkan diriku, agar aku pun dipertemukan dengamu yang shalih. Bukankah Laki-laki yang baik untuk Wanita yang baik?

Walau begitu, aku sangat mencintai kedua Orang Tuaku. Aku tidak mau menjadi Orang yang celaka karena melukai perasaan mereka, tapi tidak ada ketaatan dalam memaksiati ALLAH bukan? Aku paham, mereka sebenarnya tahu bahwa cadar itu sunnah, mungkin mereka sangat khawatir jika aku salah jalan. Mereka masih awam, seperti Orang Tua kebanyakan. Mereka begitu pun pasti karena sayang pada anaknya, tidak ada Orang Tua yang tidak mencintai darah dagingnya sendiri. Semoga, suatu hari nanti, Mamah dan Bapak terketuk hatinya untuk menerimaku yang begini. Dan pastinya, mudah-mudahan mereka ridha jika memiliki Menantu yang bercelana Cingkrang.

Tak tahu kapan aku akan berlalu dari Dunia ini…

Mungkin, aku akan terkenang dalam ingatan ataupun lekang oleh Waktu..

Aku tak berharap untuk ditangisi ketika telah pergi…

Aku hanya Seorang Pendosa yang takut pada Tuhannya…

Aku tak tahu, jalan pulang mana yang akan kutempuh..

Mengapa kobaran Api Neraka begitu nanarnya menjilat penglihatanku..

Padahal aku haus akan Air Yang mengalir di TelagaMu…

Di Surga sana..

Akankah kuteguk nikmatnya SurgaMu itu?

Ya Rabbi Izzati…

Aku tertunduk pasrah pada tangan-tangan takdirMu..

Yang menggenngam kehidupanku…

Meremas Hatiku yang berjelaga ini…

Rengkuhlah aku yaa Rabb dalam keridhoanMu…

Kutegakkan Syari’atMu..

Kupatuhi petunjukMu..

Aku yakin, Kau tak akan menyesatkanku setelah aku kembali padaMu…

Kulakukan semua, seakan-akan aku mati esok…

Agar Engkau mencukupkan Umurku dalam bekal kebaikanku…

Ampunilah aku yang dhaif ini…

Teguhkanlah aku di atas Agama ini..

Agar aku termasuk golongan Orang-orang yang selamat…

Sulistiyoningtyas

29 Agustus, 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s