Ketika Jendela Tua Bercerita di Bawah Langit Pakem

405844_332272336792841_1671616254_nPengalaman mengagumkan sore ini berawal dari ketidaksengajaan, niat hendak mengikuti kajian, ternyata kajian rutin akhir pekan hari ini libur. Akhirnya, aku ikut temen – temen yang sedari tadi terlihat sibuk mengumpulkan Baju – baju layak pakai, mukena, sarung. snack, dan lain-lain untuk dibagikan ke Panti Jompo.

Letak Panti Tresna Werda dari Wisma lumayan jauh, sekitar 30 menitan kurang lebih. Tepatnya di daerah Pakem, Sleman. Baru kali ini aku “naik” ke Jalan Kaliurang Kilometer 17, hawanya lumayan bikin merinding, karena dingin. Nggak seperti di Pogung, yang kalo jam setengah lima masih hangat-hangatnya, sisa “jerangan” Matahari seharian.

Tadi rombongan kami sempet nyasar sih, tapi alhamdulillah nggak jauh-jauh amat. Setelah nanya sama Orang, kita putar arah deh, trus pas ada Kantor Polisi kita belok ke kiri, memasuki jalanan sempit menuju Panti. Panti yang kami temui sangat asri, halamannya luas dan dipenuhi dengan rerimbunan Pohon-pohon besar dan beragam tanaman. Hawanya juga sejuk, entah emang biasanya seperti itu, atau emang akunya aja yang baru kali ini menghirup udara Kaliurang Km 17.

Kami disambut dengan ramah oleh salah satu Perawat di Panti Jompo. Setelah cukup mengorek informasi seputar Penghuni Panti, kami pun jalan-jalan berkeliling Panti. Kami singgah ke Wisma yang terletak di ujung jalan, dekat kantor. Aroma pesing menyeruak menusuk-nusuk hidungku. Di Wisma (lupa namanya), Terdapat beberapa kamar. Masing-masing kamar berisi dua tempat tidur. Kami disambut dengan antusias oleh Para Penghuni Wisma yang sudah berusia lanjut, sekitar 60-90 tahun. Aku berdiri mematung, agak lama memandang wanita – wanita tua yang hampir semuanya, sudah kehilangan giginya, namum senyum ramah, keterbukaan, dan tulus, masih menghiasi wajah mereka.

Ada nyeri, yang tak terjelaskan dengan kata-kata, seakan mencambukku bertubi-tubi. Tepat di ulu hatiku, sakit, perih. Wajah Mbah Putri -rahimmahallah- seolah menjelma di balik senyum-senyum mereka. Apakah itu saja? Tidak! Ada sepasang anak Manusia, yang tanpa mereka aku tak akan ada, yaitu, kedua Orang Tuaku.

Kulangkahkan kaki, menyapa mereka satu persatu, mencium tangan mereka, dan pelukan lemah mereka, – lagi-lagi – mengingatkan pada pelukan Mbah Putri yang sudah wafat sekitar 18 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku berusia lima tahun. Ketika aku duduk di samping mereka, menggenggam tangan erat seorang Pasien Panti, beliau bertanya padaku :

“Bapak kalih Ibu taksih sehat Nduk?”

aku pun lekas menjawab, “Alhamdulillah, taksih sugeng Mbah..”

Kemudian Simbah (Nggak tau namanya, lupa nggak nanya :D) menasehatiku, intinya :

“Bersyukur sama Gusti ALLAH. Masih dikasih orang tua yang masih sehat. Mumpung masih muda, sekolah yang tinggi, lulus biar bisa nyenengin orang tua. Kalo bisa, sampai jadi Pegawai Negeri, biar nanti pas sudah tua seperti ini, masih dapet bulanan. Ya ndak? (Simbah terkekeh, dan dibalas senyum oleh teman – teman yang mendengarnya) Simbah sudah nggak bisa ngapa – ngapain, makanya tinggal di Panti.” Simbah menasehati, sambil terus mengelus – elus tanganku. Penuh kasih sayang. Dan, aku kembali tercenung, -Sudahkah aku membahagiakan kedua Orang Tuaku? Sedangkan mereka masih diberi kesehatan yang memadai?- lalu Simbah melanjutkan, “Puji Tuhan, semoga Tuhan Yesus memberkati…”

Gubraaak!! Hiks.. Oh, ternyata….

Setelah dinasehatin Simbah pertama tadi, cukup lama, mengena, (sebenernya banyak sih nasehat-nasehat bagusnya, cuma tadi jadi gagal fokus gara-gara setelah Simbah menyatakan identitas keyakinannya) kemudian aku beralih ke sosok wanita sepuh, bersahaja, dengan rambut disanggul, baju kebaya abu – abu motif bunga, dan “Tapian” (Mengenakan bawahan dari Jarik/Kain khas wanita Jawa tempo doloe). Wajahnya teduh dan arif. Gurat- gurat kecantikan masih tersisa di balik keriput yang menelan kejayaan masa mudanya. Aku menyalaminya dengan takzim, tangannya dingin namun lembut. Aku duduk berseberangan dengan Simbah Kedua di Meja Makan.

“Mbah, sugeng?” tanyaku. (Mbah, sehat?)

“Alhamdulillah, taksih diparingi waras selamet teng Gusti ALLAH. Asalmu soko ndi Nduk?” tanya Simbah, matanya yang berkabut menubruk pandanganku. (Alhamdulillah, masih diberi sehat, selamat sama Gusti ALLAH. Asalmu darimana Nduk?)

“Alhamdulillah. Tyas saking Cilacap Mbah..”

“Wooo.. Cilacap? Adoh yo Nduk? Yen aku biyen ki omahe ning Godean. Anakku pitu, Putuku wolu.” Simbah mulai bercerita.

“Mbiyen, pas aku ijeh sehat, ben ndino mlaku soko Godean meng Pasar Kranggan. Adol Krambil, dipanggul dhewe. Lha, saiki wis tuwo, wis ora kuat. Meh dodolan ndak dikiro wis tuwo ijeh serakah, ngoyo golek duwit dhewe. Wingi, aku dijak ming Pakem neng anakku. Aku yo emoh. Wong aku ijeh waras kok, ijeh genah. Kono lor, kono wetan, kono kidul, kono kulon (sambil menunjuk arah utara, timur, selatan dan barat). Ya to? Bener to?”

aku menjawab, “Leres Mbah…”

“Hlaa iyo, moso aku ijeh waras meh dikirim meng rumah sakit jiwa? Karo wong – wong sek ora nggenah?” wajah Simbah menyiratkan protes. Aku diam menyimak.

“Njug, anakku lanang ngomong, jare, udu neng Rumah Sakit Jiwa, ning neng mburi rumah sakit jiwa. Jare, neng panti jompo. Pas ditinggal anakku, aku langsung ngoyak, moso meh mbrangkang meng Godean? Tapi yo soyo suwi, kepenak kok neng kene Nduk” Tatapan Simbah kosong.

“Simbah iki wong bodho..” katanya melemah.

“Mboten Mbah, Simbah mboten bodho kok…” tampikku cepat.

“Iya, Simbah saiki ora bodho. Simbah ijeh sehat, meski wis pikun, ning Simbah ijeh diparingi selamet, bahagia ning gusti ALLAH. Wis iso ndeleng anak lan putuku seneng..” Simbah tersenyum memandangku, lalu mengelus – elus tanganku. Aku mencium tangan Simbah. Ada haru di dada. Masyaa ALLAH, Simbah. Speechless.

Benar jika ada yang mengatakan,

“Jadi anak itu, jangan merasa paling pintar dan sok menasehati Orang Tua. Biar bagaimanapun juga, Orang Tua itu sudah lebih dulu lahir daripada kita. Mereka lebih dahulu mengecap asam manis kehidupan, daripada anak – anaknya.” Memang seperti itu kenyataannya.

Pelajaran yang aku dapat dari nasehat Simbah Pertama adalah, ya, memang benar bahwa tugas kita, sebagai anak, mumpung masih muda, maksimalkan potensi kita, sebelum usia senja menyapa. Salah satunya adalah membahagiakan mereka dengan prestasi kita. Selanjutnya, yang membuatku menangis sepanjang jalan pulang adalah, iya yah, Orang Tua yang melahirkan kita, merawat dan mendidik kita hingga besar, kemudian menikah, dan memiliki anak. Setelah kita menikah pun, peran Orang Tua tidak pernah lepas bagi kita, mereka masih mau membantu merawat anak kita, dll. Orang Tua menghabiskan masa muda untuk bekerja keras demi kita. Bersusah payah menghimpun rupiah dan harta demi kesejahteraan kita, lalu, setelah mereka berusia lanjut, mereka harus kesepian dan menelan rindu karena jauh dari kita, darah dagingnya.

Alangkah jahatnya kita, sebagai anak, yang sudah menghabiskan masa muda kedua Orang Tua, kini justru membiarkan tubuh renta mereka kedinginan di Panti Jompo. Menitipkan mereka pada Dinas Sosial, sembari menanti kabar, “Mereka telah tiada…”. Wahai Anak! Celaka! Celaka! Celaka! Apabila kalian dapati kedua Orang Tua kalian masih hidup, namun kalian kehilangan kesempatan masuk Surga melalui mereka. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia – siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi).

Meski Simbah – simbah di Panti Jompo terlihat ceria, sekaligus kecewa terhadap anak – anak yang menitipkannya ke Dinas Sosial, mereka tetap memuji anak – anak dan cucunya. Atas keberhasilan putra putrinya dalam pekerjaan dan pendidikan, tak lupa pula, memuji cucu – cucunya yang bahkan mungkin, tak mengenal Simbahnya dengan baik. Benarlah, kasih sayang Ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah.

Selanjutnya, kisah kedua yang bisa kita ambil hikmahnya adalah, bahwa masa Muda ini akan berlalu. Kita tidak akan selamanya menjadi seorang wanita muda yang kuat, cantik, energik, dan penuh semangat. Jika ALLAH menghendaki usia yang panjang bagi kita, ingatlah selalu, wajah mulus kita yang hari ini dipoles dengan kosmetik harga selangit sekalipun, akan tetap keriput ditelan masa. Rambut indah, berkilau dan hitam kita, kelak pun akan memudar warnanya menjadi kelabu jika usia senja telah menyapa. Tidak akan berguna semua kecantikan fisik di masa muda, jika tidak dibarengi dengan kecantikan bathiniah. Tentu saja, kecantikan fisik akan memudar, tidak abadi. Namun, kebaikan akhlaq, sampai kapanpun, tidak akan berlalu dari pemiliknya.

Begitu pula bagi Pemuda yang hari ini masih terlena dengan kesibukan membuang waktu untuk hal – hal yang tidak bermanfaat. Terlalu sering menonton bola, sibuk membicarakan bola, wanita, main Game hingga lupa waktu, mengerahkan seluruh waktu hanya untuk hal – hal yang tidak bermafaat lainnya, ingatlah, kita tidak selamanya muda. Kalian akan mengalami menjadi Kakek yang lemah, pikun, tidak ganteng lagi, ompong, keriput, dll. Jadi, mulai dari sekarang, ayo, perbaiki diri kita. Manfaatkanlah waktu muda kita dengan sebaik – baiknya. Bahagiakanlah kedua Orang Tua dengan sebaik – baik bakti yang mampu kita lakukan. Bagaimana kita memperlakukan kedua Orang Tua, begitulah suatu hari nanti kita akan diperlakukan oleh anak – anak kita.

Jika dulu Ibumu yang membersihkan kotoranmu ketika Bayi, menyuapimu, menghiburmu, tanpa kenal lelah, sekarang, balaslah budi mereka. Kini, gulunglah lengan kemeja kalian wahai Lelaki Pekerja, suapilah Ibumu ketika dirinya telah kehilangan daya karena penyakit tua. Bersihkanlah badannya dari kotoran yang tak sengaja melekat di tubuhnya, karena semakin senja usia mereka, semakin berkurang fungsi – fungsi penting di dalam organ tubuhnya. Temanilah hari – hari senja Ibu dan Ayah kalian, dengan kasih sayang, jangan biarkan mereka bersedih, jangan biarkan mereka berduka. Sungguh, dengan kalian menjual Bumi seisinya sekalipun, tidak ada yang akan sanggup membayar jasa kedua Orang Tua kepada anaknya. Kukatakan, tidak akan pernah ada!

Masyaa ALLAH, hari ini, sungguh seperti tertampar, tersadar, hingga sesadar – sadarnya, sungguh.. Orang Tua adalah segalanya bagi kita. Kasih Sayang mereka melebihi luasnya Samudera. Terima Kasih Simbah – simbah di Panti, dari kalian, aku belajar memahami, belajar mengerti, menjadi Orang Tua itu tidak mudah.. Pun, masa mudaku tidak akan selamanya. Mensyukuri, masih memiliki Ayah dan Ibu yang sehat, dan masih segar. Semoga, seterusnya, kedua orang tuaku selalu diberi kesehatan, dijauhkan dari kesusahan di masa senja. Alhamdulillah, mulai dari nol belajar birrul walidain.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
“Ya ALLAH, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada keduanya, sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil.”
1239396_735491843190085_6461866148380441106_n
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s