Bolehkah Membuat Bank ASI?

asiBank ASI memang belum diterapkan secara general di Indonesia tetapi ada segelintir Orang yang ingin membawa praktek ini ke Indonesia. Dalam syariat, yang menjadi permasalahan adalah tercampur dan ketidakjelasan nasab, karena persusuan bisa menyebabkan kemahraman.

Nabi Shallallahu ‘Allaihi Wassalam bersabda :

“Persusuan itu menyebabkan adanya hubungan mahram, sama seperti keturunan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang, ada beberapa pendapat mengenai masalah kontemporer ini. Secara ringkas pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut :

Pendapat Pertama : Hukumnya BOLEH

Dengan alasan susuan yang menjadikan mahram adalah menyusu secara langsung dari payudara Ibu, sedangkan Bank ASI tidak.

Pendapat ini TIDAK TEPAT

Karena pendapat terkuat bahwa kemahraman karena persusuan terjadi juga walaupun tidak menyusu secara langsung. Karena yang menyebabkan kemahraman adalah persusuan yang menumbuhkan daging dan tulang, ASI dalam gelas atau Bank ASI juga termasuk dalam hal ini.

Nabi Shallallahu ‘Allaihi Wassalam bersabda,

“Tidak termasuk menyusui kecuali susu yang membentuk tulang dan menumbuhkan daging.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Begitu juga dengan kisah Sahlah binti Suhail (Istri Abu Hudzaifah) Radhyallahu ‘anha ketika Salim bin Ma’qil (Bekas Budak Sahlah yang diambil anak oleh Abu Hudzaifah) sudah beranjak dewasa dan merasa tidak enak dengan keberadaan Salim (karena, anak angkat tetap bukan mahram bagi Ibu angkatnya), maka Rasulullah Shallallahu ‘Allaihi Wassalam menyuruh Sahlah untuk menyusui Salim supaya menjadi anak susuannya (Dan ini adalah kekhususan bagi Sahlah ketika menyusui Salim yang sudah dewasa, karena batas umurnya adalah 2 (dua) tahun).

Kemudian beliau bersabda,

“Susuilah dia, maka dia menjadi haram atasmu (Menjadi mahram)” (HR. Muslim)

Maka jelas bahwa Salim Radhyallahu ‘anhu tidak langsung menyusu dari payudara Sahlah karena saat itu dia bukan mahram Sahlah dan tidak layak karena dia sudah dewasa.

Al-Qadhi ‘Iyadh Rahimmahullah berkata,

“Mungkin demikian yang terjadi ketika menyusui Salim, susu sampai ke tenggorokannya tanpa menyentuh payudara wanita asing dengan sebagian anggota badannya” (Ikmaalul Mu’lim Syarh Shaihil Muslim 4/331, Syamilah)

Pendapat Kedua : Hukumnya BOLEH dengan SYARAT yang KETAT

Yaitu syaratnya ASI harus didaftar dan diregistrasi dengan baik, sehingga akan jelas nanti siapa yang mendonor ASI dan siapa yang menerima. sehingga percamuran nasab yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Pendapat ini juga KURANG TEPAT

Karena dengan menimbang kaidah fiqhiyah yaitu,

“Menolak mafsadat didahulukan daripada mendatangkan maslahat.”

Maka menolak mafsadat lebih didahulukan, selain itu meskipun sudah teregistrasi dan tercatat lengkap, faktor kesalahan manusia pasti ada seprti tertukar atau salah catat. Bayi-bayi yang tidak mendapat ASI juga bisa mendapat ASI dengan cara mencarikan Ibu Susu sehingga Bank ASI benar-benar tidak diperlukan.

Pendapat Ketiga : Hukumnya HARAM

Inilah pendapat yang TERKUAT

Berikut fatwa dan penjelasan Majelis Ulama mengenai hal ini,

Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islami,

Setelah dipaparkan penjelasan secara fiqh dan penjelasan ilmu kedokteran tentang Bank ASI dan setelah mempelajari pemaparan dari masing-masing bidang disiplin ilmu, dan diskusi yang melibatkan berbagai sudut pandang, maka disimpulkan bahwa :

  1. Bank ASI telah diuji cobakan di masyarakat barat. Namun muncul beberapa hal negatif, dari sisi teknis dan ilmiah uji coba ini, sehingga mengalami penyusutan dan kurang mendapatkan perhatian.
  2. Syariat Islam menjadikan hubungan persusuan sebagaimana hubungan nasab. Orang bisa menjadi mahram dengan persusuan sebagaimana status mahram karena hubungan nasab, dengan sepakat ulama. Kemudian, diantara tujuan syariah adalah menjaga nasab. Sementara Bank ASI menyebabkan tercampurnya nasab atau menimbulkan banyak keraguan nasab.
  3. Interaksi sosial di Masyarakat Islam masih memunginkan untuk mempersusukan anak kepada wanita lain secara alami. Keadaan ini menunjukkan tidak perlunya Bank ASI.

Berdasarkan kesimpulan di atas maka diputuskan:

  1. Terlarangnya Mengadakan Bank ASI untuk para Ibu-ibu di tengah Masyarakat Islam.
  2. Haramnya memberikan susu dari Bank ASI

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab,

“Haram. Tidak boleh membuat bank dengan bentuk penampungan semacam ini. Selama susu yang ditampung adalah susu manusia. Karena akan bercampur semua susu wanita sehingga tidak diketahui siapakah ibu susuannya. Sementara syariat islam menjadikan hubungan susuan sebagaimana hubungan nasab. Adapun jika yang ditampung adalah susu selain manusia, maka tidak jadi masalah.” (Sumber http://www.islam-qa.com)


Dinukil tanpa mengubah isi dari Kitab “Rambu-rambu Syariat Praktis Fiqih Wanita” Karya Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Halaman 154-158 Penerbit As-Salam Publishing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s