Cinta Sepanjang Masa

400611_591901050885159_1810477770_nTiba-tiba tercenung ketika melihat beragam video kekerasan Ibu terhadap anak, maupun Ayah terhadap anak. Aku bersujud pada-Nya. Sebab, kedua Orang Tuaku tak seperti mereka. Memang, Bapak dan Mama adalah Orang yang keras. Bukan keras kasar, tetapi lebih tepatnya tegas terhadap anak. Teringat masa kecil, kami (Aku, Adik-adikku, dan Kakak2 Perempuanku) sembunyi-sembunyi nonton Sinetron. Kenapa? Karena jika ketahuan Bapak, beliau akan marah besar sembari berucap, “Sinetron kuwe mung sandiwara! Aja ditontonlah, ora apik. Pokokke ora apik! Ora mungkin temenanan. Ganti!” (Sinetron itu hanya Sandiwara! Jangan ditontonlah, tidak bagus! Pokoknya tidak bagus! Tidak mungkin betulan! Ganti!) begitu kata Bapak. Kami pun dengan wajah kesal mengganti Channelnya, sembari bisik-bisik ke Kakak dan Adik-adik, “Huh, Bapak mah nggak gaul!”, mereka mengangguk mengamini.

Selanjutnya, dulu ketika aku berusia sekitar sepuluh tahun, pernah dipukul kakinya oleh Bapak dan dimarahi habis-habisan di depan rumah, padahal Bapak seumur-umur kalo marah-marah nggak pernah di depan umum, tapi di dalam rumah. Kenapa? Tidak salah, karena sehabis Maghrib aku menghilang dari rumah! Kalo mainnya ke rumah tetangga, mungkin Bapak atau Mama tinggal telpon saja nitip aku. Nanti kalo udah capek baru dijemput pulang (padahal sih rumahnya sebelahan, cuma disekat pager bata). Masalahnya, aku diam-diam main ke TK bekas sekolahku dulu. Salahnya dimana? Salahnya, dulu aku bersekolah di TK Kristen. Disana aku main sama temen-temen SD-ku, sama anak tetangga belakang rumah, dan temen-temen TK-ku. Aku seneng banget waktu itu, karena mengulang kembali nyanyian pujian pas jaman TK (Naudzubillah min dzallik, masih kecil, belum ngerti), joget-joget, dan dapet hadiah tentunya. Aku kaget ketika Bapak muncul di ambang pintu TK, wajahnya memerah, dan menyeruak masuk ke kerumunan. Lalu menarikku keluar sambil berkata, “Ayo pulang!”. Aku hampir nangis karena malu.

Sesampainya di depan rumah, Bapak memukul kakiku dengan sandal jepit yang dikenakannya, dan berkata, “Kamu tahu tidak, Bapak sudah melarang kamu main sama Mahasiswa-mahasiswa Kristen itu! Kenapa? Kamu bisa dipengaruhi untuk masuk Kristen seperti mereka! Agama kamu itu Islam! Bapak bayar Pak Kyai buat ngajari kamu ngaji, supaya kamu bisa baca Al-Qur’an. Jangan kayak Bapak. Bapak itu nggak bisa ngaji. Kamu disuruh ngaji susah, malah mainnya sama Orang Kristen. Awas, kalo besok kamu masih main sama mereka, jangan pulang ke rumah! Sana, tinggal sama mereka saja!” aku menatap Mama yang juga pasti kesal terhadapku. Tapi Mama diam saja, tak membelaku. Ketika aku masuk rumah, Mama baru bilang, “Mulai besok, kalo nggak manut sama Mama, jangan minta apa-apa ke Mama..” huwaaa..!

Ya! Dulu aku kerap sebal dengan Bapak karena kalo sudah marah ‘medeni’ (serem). Mama juga tidak kalah cerewetnya kalo Bapak marah. Secara, kalo anak-anaknya berbuat ulah, nanti Mama juga kena semprot Bapak, kalo Mama udah disemprot, anaknya harus tahan mendengar omelannya yang panjaaaaaang sekali. Dulu aku nggak ngerti, kenapa aku nggak boleh nglanjutin sekolah di SD Kristen seperti Abang dan Kakak-kakak Perempuanku sebelumnya, dan justru Adik-adikku disekolahkan di TK Islam. Setelah masuk SMP aku baru diceritain Mama, katanya, dulu Bapak adalah Mu’alaf dan alhamdulillah waktu aku SD Bapak masuk Islam. Sedangkan Mama dari kecil memang sudah Islam, walau Keluarganya masih ada yang Kristen. Ketika aku SMA, -setelah ilmu sampai pada Orang Tuaku-, Bapak dan Mama memperbaharui pernikahan di KUA, dan memutuskan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, naik Haji. Alhamdulilah.

Kini aku baru menyadari, betapa kemarahan Orang Tua terhadap anak pasti karena dilandasi kasih sayang yang menyertainya. Mereka selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tentulah, Orang Tua pasti mengharapkan anaknya mencapai kehidupan atau prestasi melebihi mereka, baik dari segi apapun. Berkaca pada kondisi di luar sana pada masa kini, aku mensyukuri setiap kasih sayang, kemarahan, dan kecerewetan yang pernah dihujankan kepadaku oleh kedua Orang Tuaku. Tapi sungguh.. aku berbahagia karenanya, kini. Seolah seperti tersentak, mengapa dulu aku bandel ketika dilarang nonton Sinetron? Kenapa dulu Bapak begitu marahnya ketika aku main dengan Orang yang salah? Tak hentinya, kuucapkan terima kasih untuk kedua Orang Tua. Yang ALLAH memberi kelembutan hati pada mereka, karena mendidikku sampai pada titik sekarang ini. Titik dimana aku mulai mengenal arti Pernikahan yang sesungguhnya, arti menjadi Orang Tua, dan.. arti menjadi seorang anak pastinya. Cinta kalian, Cinta sepanjang masa… Semoga ALLAH senantiasa melimpahkan kesehatan bagi Mama dan Bapak. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s