Memahami Anak Hiperaktif

hihihi“Ustadzaaah… kemarin waktu pelajaran Ustadzah A, si B melompati tumpukkan meja. Trus, kepalanya kebentur lantai. Padahal udah dibilangin, enggak boleh lompat-lompat dan lari-lari…” Laporan dari siswa-siswi kelas Empat membuat saya merinding, membayangkan seorang anak usia sepuluh tahun melompati meja yang tinggi, dengan rok pajang lalu akhirnya dia tersungkur dan membentur lantai, pasti rasanya sangat sakit sekali ya?

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, namun lambat laun saya mulai menyadari ada yang “berbeda” dari Siswi tersebut. Dia kerap membuat ulah di kelas. Beberapa laporan dari Guru-guru yang lain mengetuk naluri saya sebagai seorang Guru dan Wanita. Cerita yang mampir di telinga saya, anak tersebut jika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung seringnya ngobrol sendiri dengan teman sebangkunya, jika bibirnya diam, badannya selalu bergerak atau sebaliknya, jika badannya aktif bergerak maka bibirnya diam, tapi seringnya sih aktif bergerak dan berisik.. 😀 , tidak bisa anteng (tenang). Ketika saya sedang menulis di papan tulis, anak tersebut tengah berjalan-jalan, lompat-lompat, pokoknya bergerak terus. Dia cerewet dan bawel sekali, suka menyela ketika saya sedang menerangkan meskipun ujung-ujungnya dia “sok tau” hihihi. Uniknya, dia bisa demikian percaya diri dengan pelafalan kalimat yang terbalik-balik, misalnya “Rahasia” menjadi “Harasia”, “Istirahat” menjadi “Istiharat”, dll. Awalnya sih saya pikir dia sengaja untuk mencari perhatian, tapi kok semakin lama malah semakin kacau kosakatanya, terlebih ketika dia kecapekan.

Untuk menjawab kecurigaan tersebut, akhirnya saya melakukan observasi dan berinisiatif mengunjungi Orang Tuanya untuk mengoreksi perihal “Kenakalan” anaknya di sekolah. Rupanya, sang Bunda sudah dapat menebak maksud kedatangan saya. Beliau pun mengisahkan, bahwa memang benar, Putrinya Hiperaktif. Dan beliau mengharapkan saya selaku Guru kelas beserta pihak sekolah untuk mau kooperatif, bergotong-royong membantu membimbing siswa tersebut agar lebih bisa mengontrol dirinya.

Gejala Hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan kesana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan berisik.

Nah, setelah tanya ke Mbah Gugel gejala atau indikasi bahwa anak mengalami Hiperaktif atau ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) yaitu :

Inatensi
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Nah, informasi yang saya peroleh dari Guru yang mengajar Shiroh Nabawiyyah di sekolah, ketika pelajaran beliau tengah berlangsung, Siswi tersebut awalnya memperhatikan, namun tidak lama berselang, dia sudah memilin-milin kertas, bermain plastisin. Ketika ditegur, dia menghentikan aktifitasnya, namun setelah Guru mulai melanjutkan lagi, ibarat kata lidah belum kering menegur, Siswa tersebut sudah melanjutkan kegiatan memilin kertas lagi. Hasilnya, Sang Guru pening tujuh keliling.. 😀

Hiperaktif
Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh gejala impulsif adalah seperti yang dialami Siswi saya, yaitu tidak sabaran ketika Orang lain sedang berbicara atau Guru sedang menerangkan pelajaran sehingga ia terdorong untuk menyela pembicaraan atau penjelasan Orang lain maupun Guru. Hal ini, jika tidak dipahami dengan baik oleh teman-teman di sekolah tentu saja sangat mengganggu berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar. Sisi lain impulsifitas adalah, anak dapat terdorong untuk melakukan aktifitas yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, contohnya ia melompati meja, dengan mengambil ancang-ancang untuk berlari melompati meja, padahal meja di kelas memiliki sudut-sudut yang tajam. Jika sampai tersungkur karena ‘kebelibet’ rok panjangnya, jika tidak kepalanya yang terantuk meja.. bisa jadi teman lain yang tertabrak olehnya. Jika hal ini terjadi ketika jam istirahat, dan Guru sedang berada di kantor, maka pihak yang akan disalahkan adalah Guru, karena dianggap lalai dalam mengawasi kegiatan anak-anak di sekolah. Nah!

Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah. Usia yang rentan anak mengidap hiperaktif adalah 4-14 tahun.

Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif

hiperaktifProblem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran.

Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.

Problem di rumah
Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan factor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut.

Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi.

Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya.

Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anak pun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress dan situasi rumah pun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.

Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.

Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak – anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.

Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :

Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif

Terjadinya perkembangan otak yang lambat.
Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan

Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memiliki potensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.

Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.

Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :

– Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas.
– Kenali kelebihan dan bakat anak
– Membantu anak dalam bersosialisasi
– Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak.
– Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya.
– Menerima keterbatasan anak
– Membangkitkan rasa percaya diri anak dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
– Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.


Daftar Pustaka :

Bachtiar, Soeseno. 2012. Buku Pintar Memahami Psikologi Anak Didik. Yogyakarta. Pinang Merah Publisher.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s