Sepenggal Episode dalam Hidupku

14156_250973248360770_2046359613_n_2Dalam satu tahun ini, delapan lembar Undangan Pernikahan dari Kawan Terbaikku mengunjungi kotak suratku. Dalam satu tahun ini pula, empat lembar Kertas bertuliskan nama Bayi pun menghampiriku, “memaksaku” untuk menangis histeris! Bukan, bukan karena aku pilu karena belum mencapai posisi seperti mereka, tapi karena aku turut berbahagia dengan Karunia yang telah ALLAH berikan kepada mereka, Sahabat-sahabatku yang dirahmati ALLAH. (Hmm, sebenernya openingnya sedikit nggak sinkron sama materi tulisannya. Untuk menarik perhatian saja. *Yah.. keceplosan*)

Seiring berjalannya waktu, Skenario ALLAH seakan terus berputar. Episode kehidupan yang disaksikan oleh “Langit” begitu mempesona. Fase-fase kehidupan yang pernah kulalui semenjak baligh hingga hari ini begitu penuh kejutan dan tak terduga. Berawal dari tidak berhijab, hingga kini menjadi bercadar, pun adalah sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Wajar saja, jika Orang-orang di sekitarku begitu “syok” berat mendapati diriku saat ini.Dari dulu, aku suka sharing, ngobrol ngalor-ngidul, diskusi, yah.. seperti kebanyakan Wanita pada umumnya. Aku pada awalnya adalah pribadi supel dan easy going, periang, pecicilan, tapi entahlah, semenjak menginjak usia 22 tahun, justru aku agak susah masuk ke lingkungan baru. Tiba-tiba aku cenderung menjadi pribadi yang introvert.

Beberapa bulan ini, aku masuk ke sebuah lingkungan baru. Menjadi Pengajar di sebuah Sekolah Islam. Dimana, sebagian besar Gurunya adalah seorang Ummahat yang seluruhnya bercadar. Mindset yang terbentuk dalam diriku adalah, bahwa Ummahat itu Orang yang super serius, ngomong seperlunya, berwibawa, pokoknya, mereka adalah sosok yang harus disegani dan aku harus berhati-hati ketika harus berbicara dengan mereka. Karena sedari awal mindset yang terbentuk seperti itu, maka, ketika ketemu Rekan sesama Guru, aku jadi kikuk, nggak nyaman, bete, segan, dan lain-lain. Oh tidaaak, aku bisa lupa bagaimana cara tertawa jika lama-lama berada diantara mereka, sedangkan, aku tipikal Orang yang mudah stress jika diseriusin melulu.

Hari berganti hari kulalui, semua kegiatan di sekolah berjalan sebagaimana mestinya. Dengan sangat “terpaksa” aku mencoba bergabung dengan Guru-guru lain yang sudah Ummahat, mencoba membuka diskusi tentang metode pengajaran, berbagi kisah mengajar yang seru, dll. Oh, ternyata, aku masih bisa nyambung juga dengan mereka, bahkan bercanda. Mereka open, bahkan ngobrol denganku pun seperti sudah lama kenal. Mereka tidak memandangku sebagai “Yunior”, dan mereka “Senior”, justru cara mereka berkomunikasi, pun membuatku nyaman, terlebih, dalam setiap diskusi pun mereka menganggapku teman dan menyelipkan pesan motivasi yang super. Mario Teguh? Lewaaat..! Wow.. aku harus senangkah? Oh, yes. Of course! Mindset negatifku terpatahkan. Ternyata, perasaan canggung, segan, dll, berasal dari dalam diriku sendiri. Bahkan, ada satu Ummahat yang pada awalnya terkesan galak, dan kelihatannya sinis padaku, olala.. kini jadi Motivator handal bagiku. Yang selalu mengingatkan kalo ada rapat, pokoknya justru care dan enakan banget deh. Alhamdulillahiladzhi bini’matihi tattimush shalihat.

Aku senang dilibatkan dalam setiap kegiatan di sekolah. Hingga, tadi sore, aku bersama rekan Guru menjenguk salah satu Guru Tahfidz yang baru saja tertimpa musibah. Dia, adalah salah satu Guru yang pertama kali aku kenal ketika mengajar disini. Ketika kita berkenalan, dia baru tiga hari menjadi Pengantin Baru. Orangnya ramah dan lemah lembut. Usianya lebih muda tiga tahun di bawahku.

Rupanya, kemarin sore beliau baru mengalami keguguran. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un. Alhamdulillah, Ukh “A” adalah Wanita yang kuat. Dia tetap tersenyum walau baru tertimpa musibah, yang membuatku kagum adalah ketika dia mengatakan, “Qadarullah wa maa’syaa faa alaa.. thohurun insyaa ALLAH..”. Jlebb, kalimatnya begitu menusuk hatiku. Padahal, selama ini, ketika aku pusing karena kerjaan atau kuliah, pasti ada saja Korban Perasaan dari sikapku. Radangku kambuh, mengeluh kesana kemari. Astaghfirullah.

Karena sebagian besar yang menjenguk adalah Ummahat, yang rata-rata menggendong anak kecil, maka terbukalah diskusi tanpa opening. Jadi, Ukh “A” mengalami keguguran ketika usia kehamilannya memasuki trimester pertama. Tepatnya enam pekan tiga hari. Dia tahu, bahwa dirinya sedang hamil, baru sekitar satu pekan ini. Qadarullah, kemarin malam beliau mengalami pendarahan hebat. Singkat cerita, akhirnya Janinnya nggak bisa diselamatkan, dan rahimnya harus dikuret.

Salah seorang Ummahat nyeletuk, “Wah, kalo dikuret rahimnya, rasanya sakitnya masyaa ALLAH.. ana aja dulu sampai nangis kejer.”

Ummahat yang lain menimpali, “Tapi Umm, kalo dikuret karena keguguran dan pasca melahirkan ya beda loh. Kalo keguguran mah nggak sakit, yang sakit itu dikuret waktu habis melahirkan..”

Ana nimbrung, “Jadi, dikuret itu sebenernya diapain to Umm?”

“Dikuret yo rahimnya dibersihkan. Entar, tangan Dokter sebesar lima jari ini nih, dimasukin ke rahim anti..” sambil nglirik ke arahku usil.

Aku nelan ludah ngeri. Ummahat yang lainnya menimpali, “Wuih, itu belum seberapa Ukh. Kalo pas melahirkan itu, rasanyaaa.. hmm, sakitnya masyaa ALLAH! Ana aja sampe narik-narik baju Suami loh.”

“Sudah Umm, jangan nakut-nakutin ana to. Ana kan masih di bawah umur..” rajukku. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan tertawa.

Semakin siang, obrolan semakin panas. Aku semakin merinding membayangkan betapa beratnya perjuangan ketika melahirkan. Ummahat itu begitu “tega” mennceritakan pengalaman sakitnya ketika mengandung anak. Dari obrolan tadi, mereka menyisipkan fiqih kehamilan dan menstruasi, menumbuhkan kembali rasa sayang kepada Ibu, mengingatkan, betapa pentingnya menjaga kesehatan ketika masih single dan telah berumah tangga, jadi nambah ilmu tentang kehamilan, melahirkan, pentingnya peranan seorang Ibu dan Istri dalam perkembangan seorang anak, dari dalam kandungan hingga dewasa, dan yang membuat panas adalah, mereka ngompor-ngomporin untuk berganti status dari “Akhwat” menjadi “Ummahat”.

Ah ya, pelajaran berharga hari ini adalah, kita harus bersegera melakukan kebaikan, seperti menikah? *Loh? (salah fokus). Intinya, jangan mudah berprasangka negatif terhadap Orang lain. Kedua, pilihlah teman “Penjual Parfum”, maksudnya, teman yang shalihah, yang selalu mengingatkan kita dalam kebaikan. Selanjutnya, “Don’t judge a book, from the cover”.. jangan menilai sebuah buku, dari sampulnya. Kenapa? Ya, apa yang kita lihat tidak menarik, justru itulah yang terkadang tepat untuk kita setelah mengetahui isinya. Pentingnya memahami berbagai bidang ilmu, seperti ilmu kesehatan yang berkaitan dengan reproduksi wanita, gizi, fiqih, dan lain-lain. Yang terakhir, teruslah berusaha untuk memperbaiki diri, jangan mudah meremehkan Orang lain, merasa kita sudah mumpuni ilmunya, kita tidak pernah tahu, ALLAH akan menjadikan akhir hidup kita seperti apa? Harapanku, semoga kita semua, bisa memetik hikmah dari sepenggal episode kehidupanku, kita bisa menjadi Wanita-wanita terbaik di akhir zaman, yang berpegang teguh pada Sunnah, yang menegakkan syariat ALLAH dan menjadi Shalihah yang dirindukan Surga, aamiin. Barokallahufiykunna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s