Kenang-kenangan PPL

smabbDi kampus saya, khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan wajib mengambil mata kuliah PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) sebagai syarat kelulusan untuk Sarjana Pendidikan. PPL sendiri memuat bobot 2 SKS, kemudian disusul KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebanyak 3 SKS. Kebayang kan, padahal waktu, tenaga, pikiran dan dana yang diperlukan untuk menempuh kedua Mata Kuliah ini tidaklah sedikit.

PPL kelompok saya terdiri dari 14 Mahasiswa termasuk saya dan dari beberapa Program Studi, diantaranya terdiri dari Prodi Pendidikan Matematika, Prodi Pendidikan Kewarganegaraan, Prodi Pendidikan Sejarah, dan Prodi Bimbingan dan Konseling (BK). Kami berempat belas, tentunya memiliki beragam karakter yang unik, kestabilan emosi yang berbeda, tentunya pola pikir dan porsi tubuh yang berbeda pula 😀 , ada yang gendut, ada yang kurus, ada yang pendek, ada yang tinggi, ada yang, yang, yang lain-lain.

Dua bulan memang meletihkan, belum lagi harus dikejar-kejar deadline laporan PPL yang cukup menyita lemak dan kantong kami. Tapi, kalo inget kekompakkan teman-teman, lucunya tingkah mereka, candaan teman-teman, dan hebohnya kami ketika ngumpul di basecamp cukup membuat rindu ini menguap.

Oh ya, PPL kemarin kami ditempatkan di SMA Negeri 7 Yogyakarta. Sebuah sekolah menengah yang terletak di Jalan MT. Haryono Yogyakarta. Kalo mau liat profil sekolahnya, gugling aja yak? hehehe. Untuk menolak lupa, untuk menghargai kehadiran mereka yang begitu ajaib dalam “sepenggal” kehiduan saya, ingin sekali rasanya menuliskan bagaimana dan siapa saja sih temen-temen hebat saya itu? Barangkali, pada suatu masa, saya kembali membaca tulisan ini, akan mengingatkan tentang mereka yang… yang… yang… ah… yuk, kita simak siapa saja mereka ini.

Rizki Hidayah, selama PPL saya paling akrab dengan Rizki. Panggilan kesayangan saya buat Rizki adalah Qiqi. Dia anaknya kurus, lebih tinggi dari saya pastinya (Hiks, agak berat menuliskan “pengakuan” ini). Mmm.. wajahnya imut, tapi banyak bintangnya aka jera**tnya (Ampuuun Qiiii…!), trus kalo ngobrol nyambung banget dan tentunya, memakan durasi yang sangat lama karena yaitu.. nyambungnya kemana-mana, yang nggak ada sangkut pautnya bisaaa aja disambung-sambungin, but.. kita menikmatinya. Oh ya, Qiqi ini Orang Lampung, tapi masih keturunan Jawa. Dia, cerewet juga seperti saya. Semangat dan antusias anaknya, meskipun laptop dia eror tapi entah bagaimana, dia selalu tuntas dan berupaya menyelesaikan tugasnya. Kalo saya jadi Qiqi, entahlah.. karena yaituu.. saya Orangnya gampang badmood kalo ada satu dua hal yang mengganggu kelancaran pekerjaan saya. Qiqi.. aku pasti akan merindukanmu, berhubung kita beda Prodi pasti akan membuat kita jarang ketemu nantinya.

Anggun Wahyu Meitasari, Nah.. ini dia temen PPL yang satu rumpun dengan saya, alias serumpun dari Kota Ngapak. Bedanya, Anggun berasal dari Kabupaten Purbalingga. Meskipun sama-sama berbahasa Banyumasan, Anggun ini kalo ngomong medok banget ngapaknya. Dia mau ngomong Bahasa Indonesia maupun English Language, tetep aja tidak bisa menghilangkan identitasnya sebagai Ngapakers. Saluuut! hihihi. Anggun Mahasiswi Prodi BK. Dia anaknya lebih mungil dari saya (Eaaa.. akhirnyaaa.. 😀 ), meskipun pake high hells, tetap belum mampu menyamai tingginya dengan saya. Secara karakter, di mata saya Anggun ini ambisius. Maksudnya, ghirah (Semangat) untuk berkontribusi terhadap kepentingan kelompok sangat besar. Tapi, dia orangnya terlalu cepat menarik kesimpulan dari suatu permasalahan, dan terkadang tanpa pikir panjang dalam mengambil keputusan. Pernah, sekali saya iseng-iseng pengen konseling sama dia. Setelah curhat panjang lebar, dia tiba-tiba berdiri dan masukkin Androidnya ke saku Jas Almamater sembari bilang, “Mbak, aku mau ke kantin dulu ya? anu laper…”. Setelah melongo beberapa saat, saya menatap ke arah Qiqi dengan wajah memelas, “Qi.. sakitnya tuh disinii… akkkhhhh…”. Qiqi pun tertawa terbahak-bahak. Awas yah!

Septi Widyanti, hihihi.. entahlah, kalo inget Septi rasanya perut ini kaku. Septi oh Septi. Septi satu jurusan dengan saya, Pendidikan Matematika. Secara fisik, Septi memiliki banyak kelebihan dibandingkan saya. Kelebihannya adalah lemak dan tinggi badan. Secara karakter, dia orangnya ceplas ceplos, terkesan cuek (padahal kalo udah kenal, enggak kok), ramah, pernah sih sekali saya dibuat tersinggung sama Septi dengan gaya bahasanya itu (karena belum kenal banget). Tapi setelah kenal, olala.. sering dibuat ketawa karenanya. Hal yang paling khas dari Septi, adalah tiga hobi tetapnya yang menjadi pekerjaannya sehari-hari yaitu: Telponan, Ngaca daaan… SELFIE!. Demi ALLAH, tidak pernah saya dapati dalam kurun waktu satu hari pun Septi tanpa melakukan ketiga aktifitas itu. Pokoknya, entah itu usai ngajar, entah itu baru dateng ke basecamp, entah dari kantin, pokoknya setiap membuka pintu basecamp dan di dalamnya ada Septi, ya pasti dia sedang melakukan satu dari tiga aktifitas itu. Kalo cuma berdua di ruangan dengan Septi, kadang saya diam-diam kabur sebelum dia berkata, “Mbak.. fotoin dong…”.

Ayu Triastuti, Ayu gadis asli Jogja dengan wajah khasnya yang emang kemayu. Gayanya yang super duper ramah menarik siapa saja yang ngobrol dengannya. Termasuk saya, yang terkesan dengan keramahannya. Ayu anaknya baik, lucu, dan apa adanya. Ayu satu-satunya yang tidak berjilbab diantara kami. Dia telatan seperti saya. Hehehe.

Tri Nur Utami, setelah Qiqi, yang paling sering saya mintai bantuan dan teman meluapkan beragam kegalauan terkait PPL adalah Tami. Saya lebih nyaman memanggilnya Tamtam, entahlah.. dia suka atau tidak dipanggil begitu oleh saya. Tamtam satu jurusan dengan saya, Septi dan Anjar. Anaknya sabar, dewasa, dan pinter. Kalo saya jalan sama Tamtam itu seperti angka satu dan koma. Yang satu kurus, yang satunya lebih kurus lagi. Oh ya, Tamtam pernah cerita sama saya waktu kita lagi kebagian jatah piket. Dia, satu dari sekian banyak korban Gempa Jogja tahun 2006 lalu. Dalam ceritanya, Tamtam waktu itu lagi mau mandi (Eh, apa habis mandi ya?) nah trus tiba-tiba rumahnya bergetar hebat seperti dihempas gelombang (maksudnya, lantai rumahnya itu bergulung seperti ombak), nah Tamtam langsung lari keluar menyelamatkan diri. Tapi, belum sempat sampai pintu tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Pas sadar, dia melihat ada secercah cahaya (Maksudnya, cahaya yang tertangkap matanya itu dikit banget). Dia ngerasa nggak punya harapan hidup lagi, ketika menyadari dirinya kini terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan bangunan! Kemudian mengucap takbir, “ALLAHU Akbar.. ALLAHU Akbar..” sampai pada akhirnya Orang-orang menolongnya dan membawa dia ke rumah sakit. Tangan Tamtam terluka dan mendapat jahitan karena terkena kepingan kaca. Nah, usai dijahit, tiba-tiba ada isu Tsunami. Tamtam dengan Bu Liknya berupaya menyelamatkan diri, dalam kondisi Tamtam kepayahan, namun terkadang orang-orang menjadi begitu kuat ketika panik melanda, atau istilah kerennya The Power of Kepepet. Setelah isu reda, Tamtam baru nyadar kalo dia udah lari jauh banget dari rumah sakit, duhhh.. sakitnya pasti dimana-mana ya Tam? Hikss..

Tri Anjarwati, Sapaannya Anjar. Dari pertama liat kacamatanya Anjar, saya jadi naksir sama kacamatanya.. B-) . Kacamatanya unyu-unyu, berbingkai hitam dan otomatis lensanya akan berubah warna ketika tertimpa cahaya matahari, gunanya untuk menghindari radiasi. Anjar Mahasiswi PPL paling sibuk. Jam ngajarnya tinggi. Eh, dia enak dapet Guru Pembimbing yang up to date, yang rajin ikut Penataran dan rajin bikin Perangkat Pembelajaran.

Citra Ardigartika, Citra adalah Mahasiswi Bimbingan Konseling, satu prodi dengan Anggun, Ikrom dan Yutha. Citra berasal dari Tasikmalaya, Sunda euy.. Citra ini mirip-mirip sama temen saya, anak UII yang namanya Dini. Wajahnya agak segitiga. Narsisnya sebelas dua belas sama Septi dan Aini.

Khurotul Aini, Enak banget kalo manggil Aini, “Ayyyy…” hihihi. Emmm.. jadi inget, semalem pas ngumpul bareng sama temen-temen di Angkringan Jogja ketemu kembarannya Aini. Kembaran porsi tubuhnya maksudnya alias sama-sama endut. Namanya, Mpusss. 😀 ampuun Ayyyy..! 😀 Aini ini Wanita yang super, apalagi kalo lagi salaman itu bikin trauma. Gimana enggak, dia menjabat tangan saya sampe tulang jemari saya yang unyu-unyu berbunyi, “Kreteeeekkk…” kejaaam.. 😥 Dia Orang mana ya? Lupa deh, cuma anaknya itu rame. Kompak banget kalo udah ketemu sama Mas Rama. Kadang saya membayangkan, mereka berdua menjadi Pasutri. Dari segi wajah dan postur bodi mereka itu cocok abis. Yang bikin basecamp gaduh ya mereka berdua ini. Ada-ada saja kekonyolan yang dibuat Aini dan Mas Rama. Aini ini penyuka Burung Hantu. Sampe sekarang saya juga masih bingung tuh, apa yang menarik dari Burung Hantu coba? Malah ngeri kalo liat cakarnya itu lohh. Oh ya, Aini Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, bareng sama Deni, Lukman dan Ayu. Kalo menilik status-status facebooknya, saya sepakat kalo Aini lebih cocok jadi Filsuf daripada Sejarawan, why? Dia lumayan pinter merangkai kata-kata bak ahli Filsafat.. #eaaa.. 😀

Wahyu Ramadhani, secara prinsipil dan ideologi, saya lebih sering berseberangan pendapat dengan Mas Rama. Konon, kata Qiqi Mas Rama ini keturunan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta (Eh, kalo salah minta ralat ya?). Perbedaan sudut pandang yang kerap terjadi diantara kami seringnya menyentuh ranah akidah dan perspektif terkait sistem pemerintahan. Yaiyalah, dia kan Mahasiswa Prodi Pendidikan Kewarganegaraan, jelaslah dia lebih paham terkait sistem pemerintahan, politik dan lain-lain dibandingkan dengan saya yang kesehariannya nguprek-nguprek rumus. 😀 Hal lucu yang pernah mencuat disela diskusi diantara kami, ketika kami membahas terkait Pilpres kemarin. Saya yang kala itu masih belum legowo Pak Jokowi jadi Presiden mengungkapkan beragam kekhawatiran terkait kebijakan Pemerintah yang akan dicanangkan oleh Jokowi, dan menyatakan lebih setuju jika Pak Prabowo yang menjadi Pemimpin Negeri ini, tentunya dengan menimbang maslahat dan mudharat yang akan ditimbulkannya nanti. Awalnya saya nggak begitu ngeh, tapi kok semakin dalam pembahasan, terkesan beliau sangat membela Jokowi. Nah.. setelah saya desak, akhirnya dia mengakui kalo dia itu Pro Jokowi. Selanjutnya, belakangan saya baru menyadari kalo dia pake cincin batu yang besar seperti yang dipakai Embah-embah. “Mas, cincinmu kok kayak yang dipake Mbah-mbah?” celetuk saya. Berawal dari pertanyaan itu, Mas Rama bercerita banyak hal kepada kami terkait hal-hal berbau klenik, salah satunya, konon di sebuah hutan ada Manusia yang menikah dengan Peri baru-baru ini. Kemudian, si Deni pun membenarkan cerita Mas Rama. Tidak cukup sampai disitu, Mas Rama juga menjelaskan tentang bedanya Pesugihan dan Kesugihan, tentang ritual-ritual mandi apalah namanya yang sering dilakukan calon Presiden ketika Pemilu, tentang beragam hal-hal mistis lainnya. Banyak deh, beliau meyakini semua itu memang ada dan menutup obrolan dengan kalimat, “Kembali lagi ke masing-masing Orang tersebut..”. Saya pun menambahkan kala itu, padahal, perkara seperti itu sangat berbahaya sekali bagi akidah orang Islam. Kalo seorang Muslim meyakini hal-hal yang berkaitan dengan keghaiban seperti itu bisa menyebabkan Pelakunya jatuh ke dalam kesyirikan dan membatalkan keislaman pelakunya. Mas Rama pun sepakat dengan saya untuk hal tersebut, meski di lingkungannya yang kental dengan budaya kejawen, tidak dapat membuatnya berlepas diri seutuhnya dari ritual bid’ah dan khurafat. Tapi, sisi lain Mas Rama, beliau orangnya usil dan kocak. Apalagi kalo udah membully Aini, bener-bener deh keterlaluan lucunya. 😀 Dipanggil Mas, karena dia yang paling tua diantara kami. 😀

Deni Dwi Setiawan, saya sebenarnya tidak terlalu akrab dengan teman laki-laki dalam kelompok PPL. Jarang, bahkan tidak pernah kami terlibat obrolan tanpa melibatkan teman-teman yang lainnya. Diskusi yang pada akhirnya melibatkan teman laki-laki, tentunya disertai dengan teman-teman wanita. Hanya karena kami sering bertemu dan berkumpul saja di basecamp, membuat kami terbiasa dan sedikit banyak memahami karakter satu dengan yang lainnya. Deni ini orangnya tenang, kalo berbicara seadanya, tapi dia peduli dan pengertian dengan teman-temannya. Anaknya kurus jangkung, dan berkumis juga perokok. Dia, itemnya tiga belas empat belas sama Mas Rama dan Ikrom. 😀

Ikrom Fauzi, Kebiasaan, saya itu cuek kalo ada laki-laki lagi main ke kost untuk menemui temen kost saya, teringat perintah Rasulullah Shallallahu ‘Allaihi Wassalam untuk gadhul bashor (Menundukkan Pandangan). Nah, ba’da maghrib ketika itu, saya baru pulang dari beli Seragam Batik untuk kelompok PPL, tugas pertama saya selaku Bendahara PPL. Waktu saya mau masukin motor, saya nggak sengaja liat Ikrom. Berhubung saya pake cadar, dia nggak ngeh wajah saya. Kemudian saya buru-buru masuk, dan menanyakan perihal betul atau tidaknya yang sedang duduk di ruang tamu itu Ikrom. Kata temen-temen, betul. Oalaaah, ternyata kita satu kelompok to? Dan Ikrom juga baru ngeh, kalo yang baru lewat itu saya ketika saya akhirnya menitipkan seragam batik yang baru dibeli ke temen kost saya untuk diserahkan ke Ikrom kala itu. Pembawaan Ikrom itu terlalu formal dan kaku. Itu menjadi ciri khasnya yang terkadang membuat saya geleng-geleng kepala karena merasa “aneh” 😀 Yang membuat saya geli, khusus ketika bertemu saya dia selalu mengucapkan salam dengan suara dinadakan seperti Wendy di sebuah Sinetron di SCTV, “Ass.. salaaamu alaykumm warrahmatuuullahiii waaabaraakaaaaatuuuuuh…”, trus tangannya menangkup sambil kakinya ditekuk sedikit, dan kepala menunduk takzim. Kalo Ikrom sudah begitu, teman-teman yang lain pasti tertawa, dan saya gatel banget pengen nimpuk pake Kipas Angin. 😀

Yutha Kuntharto, Yutha ini Orangnya menurut saya aneh. Polos banget, padahal badannya besar seperti Mas Rama. Untuk ukuran laki-laki, menurut temen-temen prodi BK dia terlalu “lembut”. Kejadian lucu yang yang berkesan adalah, entah kenapa, waktu itu tiba-tiba Yutha lari sampe nabrak-nabrak kursi di basecamp gara-gara mau ditangkap sama Aini. Saya yang sedang buat RPP sampe kaget banget dibuatnya karena berisik yang ditimbulkan. Selanjutnya, dia orangnya bingungan. Menurut cerita salah seorang kawan PPL, pernah suatu kali Yutha diminta ngunci pintu kantor BK. Nah, kunci udah di tangan Yutha. Temen saya itu, nungguin di sebelahnya. Agak lama di berdiri nunggu Yutha, tiba-tiba Yutha tanya, “Ini cara nguncinya gimana?” hihihi. kebayang temen saya ngomel-ngomel gemes pada akhirnya

Lukman Hakim, ini dia ketua kelompok PPL kami yang badannya tinggi jangkung. Dia orangnya fleksibel, nggak terlalu kaku terhadap anak buahnya. Dia ini yang paling terang kulitnya diantara Bapak-bapak dalam kelompok PPL kami.. 😀

Ibunda Dra. Sri Rejeki, M.Pd, Tebak.. siapa ya beliau ini? Hehehe, agak sungkan mau menuliskan tentang Bu Jeki. Beliau adalah Kaprodi (Ketua Program Studi) PKn, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PPL kami. Waktu pertama kali tahu bahwa Bu Jeki jadi DPL kelompok kami, saya lega dan seneng banget pastinya. Kenapa? Menurut cerita yang beredar dari temen-temen kost saya yang anak PKn, beliau Orangnya enakan, nggak ribet dan pengertian sama Mahasiswa, tidak jarang loh temen-temen curhat sama Bu Jeki. Kalo saya? Agaknya sungkan untuk menyita kesibukan beliau. Kalo tidak salah dengar, saat ini Bu Jeki sedang sibuk seminar untuk naik jabatan menjadi Guru Besar (Kalo informasi ini salah, minta ralatnya yaa? hihihi). Tapi, ya memang sih.. pembawaan beliau ini cukup tenang, lihai dalam memompa semangat dan motivasi kami, berusaha mempermudah kami, pandai mematching-kan gaya berbusananya. Daaan, lembuuut sekali bahasanyaaaa.. ah Ibu, sayangnya saya bukan Mahasiswa PKn, jadi jarang banget deh bertemu beliau.

Nah.. itulah kenang-kenangan PPL saya beberapa waktu yang lalu. Mohon maaf yaa, bukan berarti sedang menjelekkan atau mengghibah, tapi sungguh deh.. kalian itu temen-temen saya yang in syaa ALLAH tidak akan terlupa, dengan kekhasan, keunikan masing-masing, yang beragam. Semoga, suatu hari nanti, kalian juga akan tersenyum ya, mengingat setiap moment yang pernah kita lewati bersama. Sukses selalu kawan, semoga.. ALLAH senantiasa melimpahkan kebaikan bagi kalian semua, tentunya semoga someday ketika kita bertemu lagi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Barakallahufikumma.. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s