Motivasi Menjadi Guru : Saya Menjadi Guru, karena Saya Tahu Rasanya Menjadi Pelajar

254578_10150668079710195_3123357_nKetika masih bersekolah, Menjadi pelajar bagi saya adalah hal yang sangat menjemukan. Alasannya, saya adalah tipikal orang yang tidak menyukai rutinitas, peraturan, dan apapun itu yang mewajibkan saya untuk melakukan kegiatan yang kontinyu dan bertarget. Sekolah bak penjara, menyeramkan, melelahkan, membosankan, banyak tuntutan, mengutamakan hasil tanpa proses. Akibatnya, jika dibuat perbandingan, Cerdas Moral < Cerdas Otak, atau, kecerdasan moral lebih kecil daripada kecerdasan otak. Sedangkan, saya lebih menyukai bermain drama, menulis puisi, bercerita, namun juga gencar bertanya.

Menurut hemat saya, sistem pendidikan harus menghargai kreatifitas dan potensi yang dimiliki setiap anak. Tetapi, pada kenyataannya, program pendidikan di Indonesia justru telah membunuh kreatifitas anak. Sejak saya bersekolah, dimulai dari Taman Kanak – kanak hingga Sekolah Menengah Atas, saya merasa, bahwa pendidikan yang saya terima di sekolah tidak menghargai hak saya untuk berkreatifitas. Ketika masih usia sekolah, -konon- saya memiliki kecenderungan kecerdasan linguistik, intrapersonal, dan kecerdasan natural. Dulu saya kerap bercerita di depan kelas, bahkan mengkhayal sekalipun saya ceritakan pada Guru, sehingga mengganggu aktifitas belajar mengajar yang sedang berlangsung. Karena daya khayal saya yang kelewat tinggi, terkadang Guru memotong cerita saya. “Sudah jangan diteruskan, ceritamu itu mengganggu teman yang lainnya”. Ketika Guru mengatakan hal itu, perasaan saya menjadi tidak karuan. Bukan karena sakit hati ditegur seperti itu, tapi karena hasrat saya yang begitu menggebu – gebu tentang cerita yang ingin saya sampaikan belum tersalurkan dengan tuntas. Akhirnya, ia hanya mengendap di dalam pikiran saja. Setelahnya, saya telah lupa dengan apa yang ingin saya “ledakkan” ketika itu. Maka, matilah satu kreatifitas itu satu. Bagaimana jika dilakukan terus menerus? Pastinya saya akan jengah, dan berhenti bercerita lagi.

Ketika duduk di bangku SMA, saya semakin menyadari, betapa lemahnya saya dalam menangkap Materi Matematika yang disampaikan oleh Guru. Sampai – sampai, saya pernah mendapat nilai dua (2) untuk mata pelajaran ini, itu pun bukan karena jawaban saya betul, melainkan BONUS yang apabila jawaban saya salah namun tetap dikerjakan, saya mendapat nilai setengah. Itu artinya, dari empat soal yang diberikan Guru, jika tidak ada bonus, nilai saya adalah nol (0). Sejak saat itu, saya semakin malas mengikuti pelajaran Matematika. Dan parahnya, jika ada jam Mata Pelajaran ini, saya kabur ke kantin bersama teman sebangku saya!.

Karena sesuatu hal, Guru Pengampu Matematika yang menurut saya membosankan itu, pindah ke sekolah lain. Dan digantikan oleh Guru Wanita yang galak dan hanya memperhatikan Murid yang pintar-pintar saja. Saya semakin frustasi, karena setiap jadwal Matematika tiba, saya tewas di tempat karena menjadi bulan  – bulanan omelannya. Terus terang, semakin saya dimarahi, justru membuat saya malas belajar, merasa tidak mampu berpikir, merasa minder, dan tertekan. Karena hal itu, timbullah rasa benci dalam diri saya terhadap Guru itu, yang berdampak, saya pun membenci pelajarannya.

Berbeda, ketika pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Geografi, Sosiologi, Kesenian, dan yang tidak berkaitan dengan numerik saya sangat bersemangat, selain itu pun menyukai Gurunya yang ramah, perhatian, dan penuh kasih sayang dalam mengajar. Imbasnya, saya antusias dalam belajar dan menghapal, yang akhirnya, membuahkan nilai yang sangat memuaskan.

Selepas SMA, saya nekat memutuskan untuk kuliah di jurusan Pendidikan Matematika. Setelah menjadi Mahasiswa, saya bertekad akan menjadi Guru yang tidak galak untuk murid – murid saya. Dan, sekarang saya menjadi Guru, terjawab sudah mengapa momok “Guru Matematika itu Galak dan Membosankan” menjadi labeling yang populer di kalangan Pelajar, tak lain dan tak bukan adalah egoisme dan emosional Guru yang belum matang dan terlatih dengan baik. Kurangnya perhatian dan kedekatan dengan Murid. Merasa, bahwa materi yang diajarkannya sangatlah mudah -baginya-, tapi dia lupa, bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama untuk menyerap ilmu pasti ini.

Menjadi Guru, khususnya Guru Matematika, harus banyak – banyak belajar tentang psikologi anak didiknya. Apapun latar belakangnya, bagaimanapun keadaan dirinya, seorang Guru haruslah tulus dan mencurahkan segenap kasih sayangnya kepada Siswanya. Tidak mebeda – bedakan, si A pintar maupun si B tidak pintar. Dari sudut pandang saya, semua anak pada dasarnya pintar, mereka semua adalah juara. Tapi, justru bermula dari diri kita sendirilah sebagai seorang pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang ceria, penuh semangat, dan gunakan metode belajar yang efektif. Dan yang pasti, jadilah Pendengar dan Penasehat yang baik bagi murid – muridnya.

Saya pernah merasakan menjadi seorang Pelajar yang tidak pandai Matematika. Saya tahu rasanya, seperti apa tidak bisa mngerjakan PR Matematika. Paham, seperti apa ngantuknya ketika Guru saya hanya berbicara pada “Papan Tulis”, dan hafal, bagaimana sakit hatinya ketika Guru memarahi saya di depan teman – teman saya dengan mimik yang tidak ramah. Dari sana saya belajar, saya mengerti. Mengapa anak – anak tidak menyukai mata pelajaran ini. Semua, harus dimulai dari saya Apapun Mata Pelajaran yang saya ampu, saya harus tetap berbesar hati untuk memaafkan ketidaktahuan Murid saya. Saya harus legowo untuk tidak pasang ekspresi menyeramkan di hadapan mereka, sekalipun hati saya jengkel karena murid saya tidak paham – paham juga. Saya harus banyak instropeksi diri jika mereka gagal memperoleh nilai baik untuk mata pelajaran saya, mungkinkah kesalahan itu terletak pada saya?

Jangan mudah memberi labeling seorang anak Pemalas atau pun bodoh, baiknya, kita mendoakan, agar dia diberi kemudahan untuk menuntut ilmu sembari berusaha memotivasinya untuk rajin belajar. Dan kita sebagai Guru, berdoa, agar ALLAH menjadikan kita Manusia yang bermanfaat bagi Generasi Bangsa, dan menjadi bekal tabungan di akhirat nanti. Menjadi Guru, jangan termotivasi karena uang maupun jabatan. Guru yang Profesional bukan dia yang memiliki jam mengajar tinggi. Tapi, Guru Profesional adalah, seorang Pendidik yang mampu mengajar dengan indah, mau menyelami hati anak didiknya, dekat dengannya, dan menjadikannya sosok yang dirindukan dan diteladani oleh anak didiknya hingga akhir hayatnya. Mengajarlah dengan Hati, maka akan sampai ilmumu ke Hati anak-anak didikmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s