Menyadari Banyaknya Kesibukan di Masa yang Akan Datang

317827_343997095695405_990343184_nAgaknya sudah lama saya ndak ikut kajian Ustadz Aris Munandar -Hafidzhahullahu Ta’ala- pada kajian rutin Sabtu-Ahad. Iya sih, dua bulan terakhir ini tersibukkan dengan banyaknya kegiatan di sekolah dan kampus. Nyesel banget, ketika Ahad kemarin tau-tau materinya sudah mendekati bab terakhir. Tau nggak materinya apa? Kalo mau baca tuntas tulisan ini sampai akhir itu rasanya nohok banget, disini ini.. tepat di hati. Kenapa coba harus “Pas ngena banget” gitu, kayak lagi dikuliti dan disindir habis-habisan pas dengerin beliau baca Kitabnya. Akhhh..! Sudah, sudah.. prolognya jangan kepanjangan.. #opsst.. 😀

Banyaknya orang yang diperdayakan oleh setan dengan dihalang-halangi dan dipalingkan dari menuntut ilmu. Dia menyangka bahwa mencari ilmu syar’i tidak perlu sekarang. Karena belajar membutuhkan kejernihan pikiran dan ketika kosong dari segala kesibukkan. Dan sekarang bukan saat yang tepat untuk belajar. Tetapi menunggu hingga peluangnya banyak yaitu ketika kuliah sudah selesai sehingga bisa fokus untuk belajar ilmu syar’i.Ketika lulus kuliah, setan datang menggoda, “Sekarang waktunya tidak cocok untuk belajar, tetapi harus menikah dulu, agar mendapatkan ketenangan. Setelah itu baru mulai menuntut ilmu syar’i.” Setelah seseorang menikah, setan datang lagi dan berkata, “Sekarang waktunya tidak tepat untuk belajar, anda harus mendapatkan pekerjaan tetap terlebih dahulu agar bisa tenang dalam belajar.”

Begitulah hari-hari berlalu hingga orang tersebut menjadi tua dan kematian menjemputnya, kemudian dia dikubur dalam kegelapan lahat. Saat itu, dia akan menyesal tetapi sudah tidak berguna. Sebenarnya keyakinan akan adanya waktu luang untuk belajar di waktu yang akan datang dan tidak punya kesibukkan hanyalah fatamorgana tipu daya dan mimpi yang tidak pernah ada di dalam realita. Itu semata angan-angan setan. Apabila anda ingin mengetahui hakikat kebathilan semua ini, mari kita perhatikan beberapa renungan berikut ini :

Saudaraku!

Apakah anda mempunyai perjanjian dengan ALLAH, bahwa anda dimasa yang akan datang memliki waktu luang untuk belajar? Dan terbebas dari semua kesibukkan dan pengganggu? Tentu jawabannya “tidak!” bahkan pemutus kenikmatan, pemisah dengan teman, pembuat yatim putera puteri (kematian) suatu saat akan datang menyerang dan memindahkan anda ke liang lahat yang menjadi sarangnya ular. Bermanfaatkah atas penyesalan umur yang telah anda sia-siakan?

Saudaraku!

Anda harus mengetahui bahwa semakin tua seseorang akan semakin berkurang pula semangat dan kekuatannya. Semakin lemah kemampuannya untuk menghafal ilmu dan mengingatnya. Ketahuilah saudaraku! Bahwasanya baju baru tidak akan pernah sama dengan baju lama yang lusuh dan sudah sering dipakai. Semoga ALLAH merahmati seorang penyair yang menjelaskan kenyataan ini,

“Apakah anda berharap setelah menjadi tua seperti anda ketika masih muda?

Jiwa anda telah dibuat tipu daya, bukanlah baju yang lusuh seperti yang baru?”

Bersambung in syaa ALLAH….

Saudaraku!

Usia seseorang semakin bertambah dari usia bayi ke anak-anak, kemudian remaja, dewasa dan akhirnya tua. setiap perpindahan usia ke tahapan berikutnya seseorang akan semakin bertambah tugas dan kewajibannya, baik dalam keluarga, masyarakat, keuangan dan kejiwaan.

Apabila anda menginginkan bukti nyata, maka katakan kepada saya, “Apakah Pemuda bujangan sama tanggungjawabnya dengan Pemuda yang sudah menikah? Atau apakah seseorang yang belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sama tugasnya dengan Mahasiswa yang belajar di Perguruan Tinggi (Universitas)?” Apabila kenyataannya seperti ini, demi ALLAH katakan kepada saya , “Kapan ada waktu luang untuk belajar dan mencari ilmu?”

Saudaraku!

Ketahuilah, semakin bertambah usia seseorang akan bertambah banyak pula hubungan, kunjungan dan ikatan sosialnya, baik dengan keluarga, rekan kerja, teman sekampus, keluarga istri dan lainnya.  Maka, katakan kepadaku, “Demi ALLAH! Di tengah kesibukan seperti ikatan-ikatan di atas yang banyak memakan waktu itu, apakah ada waktu anda yang tersisa untuk belajar?

Saudaraku!

Semakin bertambah usia seseorang akan semakin banyak pula penyakit yang dideritanya hingga pikiran mereka hanya berpindah drai satu dokter ke dokter yang lain untuk mencari pengobatan dan kesembuhan. Apakah bisa diharapkan untuk belajar bagi orang yang sakit dan hatinya selalu memperhatikan masalah penyakit yang telah melemahkan kekuatannya?

Saudaraku!

Semakin bertambah usia seseorang akan semakin banyak kesedihan dalam hatinya. Bertambah kesibukan dan pengganggu dalam pikirannya. Dengan demikian, kemampuan untuk menghafal dan memahami pelajaran semakin berkurang. Karena, hati telah dipenuhi dengan kegundahan dan kesedihan, sehingga tak ada tempat lagi untuk menuntut ilmu. Maka, sadarlah diri anda! Kesimpulannya, angan-angan dan mimpi yang dusta menjadi harta bagi orang-orang yang bodoh dan merugi. Ia tidak akan bisa mengganti yang telah berlalu, tidak membangun hari ini, dan tidak membentuk masa depan. Sesungguhnya seseorang berbuat pada hari ini, bukan esok hari. Dengan amalnya, bukan dengan angan-angan dan mimpinya. Apakah anda menyadari semuanya itu?

Benarlah, bahwa kita hidup pada hari ini bukan besok. Pun, kita tidak pernah tahu kapan akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya, sedangkan penyesalan selalu datang terlambat, sedangkan waktu, tak mungkin dapat berputar lagi.

Teringat nasehat indah Ibnul Jauzi,

“Seolah engkau belum mendengar berita mereka yang telah berlalu…

Dan belum melihat pada orang-orang apa yang masih tersisa apa yang diperbuat masa…

Kalau engkau tak tahu, maka itulah negeri mereka…

Yang telah diterpa gelombang angin dan pusara sepeninggalmu….”

Maa syaa ALLAH… semoga ALLAH menjadikan masa muda kita, waktu luang kita, berkah. Semoga ALLAH memberikan kefakihan bagi kita untuk memahami dienul Islam. Semoga ALLAH senantiasa menerangi dada kita dengan ilmuNya. Semoga ALLAH senantiasa meneguhkan kita di atas Agama Islam.. Aamiin yaa mujibbassa’ilin…

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi a’la diinik…”


Sumber :

  •  “102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara” Hal. 270-272 Karya Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah. Penerbit Elba,
  • “Shaidul Khathir” Karya Ibnul Jauzi Hal. 7. Penerbit Darul Haq.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s