Cairan-cairan Yang Keluar Dari Kemaluan Wanita

nanananaSetelah semalem kamar kost kebanjiran, akhirnya pagi ini beberes kamar. Mengeluarkan perabot yang baru kusadari, ternyata banyak banget. Pas lagi mindahin buku-buku, eh.. nggak sengaja nemu catatan Kajiannya Ustadzah Maryam Ummu Saffanah -hafizhahallahu ta’ala-. Beliau adalah salah satu Ustadzah Favorit saya, setelah Ustadzah Azizah Ummu Yasir -hafizhahallahu ta’ala-. Keduanya adalah Pengajar di Islamic Center Bin Baz. Maa syaa ALLAH, keilmuan mereka, cara menyampaikan ilmunya dan tentu saja, menjadi tempat yang tepat untuk sharing dan dimintai nasehat.

Nah, kembali ke topik. Jadi, selain darah haid yang keluar setiap bulannya dari kemaluan wanita yang disebabkan oleh peluruhan dinding rahim karena tidak dibuahi (Sebagai Indikator sudah balighnya seorang anak perempuan), terdapat beberapa cairan-cairan lainnya yang juga keluar dari farji wanita. Cairan yang keluar dari kemaluan wanita terbagi menjadi dua bagian yaitu :

  1. Cairan yang keluar karena adanya sebab
  2. Cairan yang keluar tanpa adanya sebab

Cairan Yang Keluar Tanpa Sebab

Yaitu cairan yang keluar dari rahim wanita dengan kadar yang sedikit dan terkadang keluarnya bisa dirasakan terkadang pula keluar tanpa disadari, dan cairan ini dikatakan oleh para Ulama sebagai “Rubutul Farji” (Cairan kemaluan wanita).

Hukumnya : Terdapat khilaf di antara Ulama, apakah cairan ini najis dan membatalkan wudhu? Atau suci tidak membatalkan wudhu? atau, suci tetapi membatalkan wudhu?

Akan tetapi, dari seluruh pendapat-pendapat yang ada maka terdapat dua mayoritas, yaitu :

– Cairan ini suci dan tidak membatalkan wudhu (Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan Ulama Tsiqoh (Terpercaya) dan Ulama belakangan, dan pendapat mereka ini berdasarkan hujjah yang kuat bahwa “Tidak ada satupun dalil yang datang dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wassalam- yang mengatakan akan batalnya wudhu, padahal syariat ini selalu datang dengan kemudahan terutama bagi wanita, dan kalaupun ada hukum syar’i tentulah Nabi kita sudah menjelaskannya.”

– Cairan ini suci tapi membatalkan wudhu (Pendapat ini adalah pendapat dari empat Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Imam Ahmad). Beliau-beliau berpendapat bahwa : Cairan tersebut memiliki bau dan keluar dari anggota tubuh akan tetapi bukan najis dan tidak menyebabkan najis pada pakaian atau anggota badan yang terkena, akan tetapi membatalkan wudhu.

Inilah kedua pendapat yang paling kuat dan sama-sama kuatnya maka silahkan memilih mana yang paling yakin menurut anda.

Cairan inilah yang sering kita sebut dengan keputihan (Ifrozaat), dan keputihan ini terkadang keluar karena kelelahan, terkadang karena penyakit (Bakteri).

Cairan Keputihan karena Penyakit, sifatnya ada 3 (Tiga) :

1) Keputihan yang berwara kekuningan atau kehijauan yang disebabkan karena adanya bakteri di dalam rahim.

2) Cairan rahim berwarna putih disebabkan karena kelelahan

3) Cairan rahim yang memiliki bau yang tidak sedap yang disebabkan karena adaya sesuatu di dalam rahim

Jika menmukan slah satu dari tanda-tanda di atas maka hukumnya adalah :

  • Cairan itu suci dan tidak membatalkan wudhu,
  • Suci tapi membatalkan wudhu, maka diwajibkan berwudhu setiap kali hendak melaksanakan shalat. -> Paling rojih

Cairan-cairan Yang Keluar Dikarenakan Adanya Sebab

1) Al-Wadii

Yaitu cairan yang berwarna putih yang keluar setelah buang air kecil (cairan yang mengiringi air kencing) cairan ini keluar setelh keluarnya ir kencing dan keluarnya tanpa merasakan kenikmatan dan dalam jumlah yang sedikit.

Hukumnya sama seperti hukum air kncing, yaitu najis. dan apa saja yang trkena cairan ini maka hukumnya juga najis dan terkadang ada juga seseorang yag selalu merasakan ingin buag air kecil maka yag dia keluarkan tersebut adalah Wadii (Yang sering kita sebut dengan beseran atau anyang-anyangen).

Jika mengeluarkan cairan ini, maka membatalkan wudhu namun tidak mengharuskan mandi sebagaimana hukum air kencing.

2) Al-Madzii

Yaitu cairan yang keluar dari kealuan wanita atau laki-laki ketika sedang merasakan syahwat ringan tanpa melakukan hubungan (Bisa jadi timbulnya syahwat karena pikiran atau suami istri bersenang-senang tanpa melakukan hubungan, atau melihat sesuatu yang menimbulkan syahwat) dan keluarnya cairan ini tidak terasa keluar secara tiba-tiba dalam jumlah yang sedikit.

Hukum Cairan ini : Hukum cairan ini adalah Najis berdasarkan qaul yang rajih (Menurut Ijma’ Ulama) dan jika mengenai pakaian atau badan maka dihukumi Najis dan harus dicuci.

Hal ini berdasarkan dalil dari Ali Radhyallahu ‘anhu :

“Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi. Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi karena istriku adalah putri beliau. Maka aku mengutus Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya kepada Nabi (tentang status madzi ini). Nabi pun menjawab :

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Muslim)

3) Al-Manii

Yaitu cairan yang keluar dari kemaluan dengan kejantanan dan syahwat yang memuncak, keluar dalam keadaan sadar dan terkadang dalam keadaan tidur yang sering kita sebut dengan mimpi basah (ihtilam), dan terkadang pula mani keluar dengan hanya sekedar bersenang-senang dengan suami istri.

Hukumnya : Bukan najis (Menurut pendapat yang lebih rojih) dari ahlul ilmi, akan tetapi keluarnya mani termasuk salah satu penyebab wajibnya mandi.

Kebanyakan maninya wanita berwarna kuning sebagaimana dalam hadist :

“Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Air mani laki-laki putih, kental dan air mani wanita kuning, encer, maka yang mana saja yang mendahului maka anaknya akan menyerupainya.” (Hadist riwayat Muslim, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah dan Hakim).

4) Mani yang Tertahan

Yaitu mani yang keluar dari kemaluan setelah mandi janabah, keluarnya mani ini tidak mengharuskan mandi akan tetapi membatalkan wudhu, hukumnya bkan najis.

Secara umum, apa saja yag keluar dari dua jalan membatalkan wudhu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi angin yang keluar dari kemaluan membatalkan wudhu maka apa saja yang keluar dari dua jalan, termasuk cairan apapun yang keluar dari dua jalan (lebih utama dari sekedar angin yang keluar) maka dapat membatalkan wudhu berdalil dari hadist :

Dari Hammam Ibn Munabbih bahwasanya beliau mendengar Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak diterima shalatnya seseorang yang berhadast sampai dia berwudhu”, maka berkata seorang laki-laki dara Hadramaut, ‘Apa yang dimaksud denga hadast wahai Abu Hurairah?’, maka beliau menjawab, ‘Kentut tanpa suara dan kentut yang bersuara’.” (Hadist riwayat Imam Bukhari).

Adapun cairan selain yang disebutkan di atas adalah :

  • Darah Haid -> Disebabkan karena darah adat kebiasaan Wanita
  • Darah Nifas -> Disebabkan karena proses persalinan
  • Darah Istihadah -> Darah penyakit

(Kesemua darah tersebut keluar dari kemaluan, akan tetapi berasal dari rahim).

Adapun agama Islam mensyariatkan adanya istinja dengan menggunakan air atau istijmar dengan menggunakan batu atau apa saja yang dapat menggantikan kedudukannya ketika telah selesai buang air besar atau air kecil, atau dengan menggunakan wewangian ketika selesai dari haidh maka dari semua perkara-perkara yang diperintahkan oleh syariat (Agama Islam) maka mengandung maslahat (kebaikan) bagi umatnya.

Dan, tentu saja perintah untuk mandi dan mencuci kemaluan dalam rangka perawatan terhadap organ kemaluan dari segala macam bakteri-bakteri yang dapat menghinggapi jika tidak dibersihkan jal ini bisa berbeda dengan pemeluk agama lain yang tidak memerintahkan penganutnya untuk melakukan istinja dan istijmar ketika selesai buang hajat maka tentu saja banyak sekali kita dapati dari mereka penyakit-penyakit kelamin dan terutama lagi banyaknya mereka melanggar perintah ALLAH dan perbuatan dzhalim mereka mendatangkan azab dari ALLAH Ta’al, wa’iyadzubillah.

Maka segala sesuatu yang diperintahkan oleh ALLAH ta’ala dan Rasul-Nya, sesungguhnya hal itu mengandung kebaikan, adapun segala sesuatu yang dilarang oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya maka hal itu mengandung kejelekan atau berbahaya bagi manusia atau akan mendatangkan penyakit dan azab serta segala hal yang dapat mencelakakan bagi Manusia.

Segala puji bagi ALLAH Rabb semesta Alam, shalawat dan salam atas junjungan kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para Sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau sampai akhir jaman.

Semoga bermanfaat bagi antunna yaa akhwaaty fillaah.. barakallahufiykunna..


  • Catatan Kajian Islam Muslimah Ibnu Sina (KISMIS) #13 “Keputihan Ditinjau dari Kacamata Syar’i dan Medis” 18 Mei 2014
  • Dengan sedikit perubahan
Advertisements

3 thoughts on “Cairan-cairan Yang Keluar Dari Kemaluan Wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s