Kenapa Sih, Kok Pake Cadar?

1468650_1439565186259712_500744885_n

“Kenapa sih, kok pake cadar? Hellooo.. kita hidup di Indonesia loh Tyaaas..”

“Eh, kok Tyas pake cadar sekarang? Kayak Ninja aja…”

“Cadar itu budaya orang arab keles Yas..”

“Hah? Tyas pake cadar?? Wah, kamu ikut kelompok apaan sih? Kuliah lama-lama di Jogja malah jadi nggak jelas gitu?” -> yang ini sungguh menyakitkan, ihiikks.. 😥

Iya, seperti itulah kalimat tanya maupun ungkapan penuh keheranan yang keluar ketika bertemu teman-teman sekolah maupun teman kampus yang sudah lulus mendahului saya. Iya yah, kenapa coba saya pake cadar? Hayoo.. kalo antunna kenapa? #loh? 😀

Pernah diledekkin sama temen begini, “Oh.. Si Tyas pake cadar itu mah biar kalo lagi ketiduran di jalan, enggak ketahuan kalo melompong bibirnya… Hahaha..” Wah, temen saya yang satu ini pas komentar gitu, belum tahu rasanya saya cubit sampe kempes kali ya pipinya yang gembul itu. Kejam bener. Hikss.. oke, oke, back to topic. Jadi, saya menyadari sepenuhnya bahwa wanita itu adalah sumber fitnah terbesar bagi laki-laki. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Besar kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, tuh, Rasulullah saja sudah mewanti-wanti umatnya agar waspada dan berhati-hati terhadap fitnah wanita. Loh, memangnya salah wanita apa kok bisa sampai menjadi sumber fitnah bagi laki-laki? Para wanita sudah berhijab lebar begini loh, kenapa kami masih dipojokkan dan dianggap biang keladi runtuhnya keimanan laki-laki? Kenapa? Kenapa? Kenapa? #hassst..! #heyhey, ini tulisan bukan sinetron!

highSejatinya, hadist di atas tidaklah berlebihan, karena realitanya banyak kerusakan yang ditimbulkan karena kecondongan laki-laki terhadap wanita. Memang, wanita disebut-sebut sebagai Makhluk yang lemah, kurang akal dan agamanya. Namun, jika kita menengok sebentar kenyataan yang ada, betapa banyaknya laki-laki yang demikian cerdas, kuat, gagah, perkasa dibuat tunduk di hadapan wanita. Betapa banyak para penguasa jatuh tersungkur dalam jeratnya, banyaknya ahli ibadah dibuat lalai dari Tuhannya. Tidak sedikit pula para pejabat pemerintahan yang dikenal amanah, rela mengorbankan nama baik dan harga dirinya untuk korupsi demi wanitanya. Bahkan, sudah menjadi pemandangan yang tidak begitu asing ketika banyaknya pemuda lemah iman nekat bunuh diri, atau menghilangkan nyawa orang lain dikarenakan wanita. Malah, lebih parah lagi ada yang sampai rela menukar agamanya mengikuti agama wanita kafir yang dicintainya. Nggeh nopo nggeh? Nggeh to? Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Tapi, apa perlu sampai bercadar seperti itu? Nanti, kalo nggak nikah-nikah gimana gegara Orang liat kamu aja takut, apalagi ngedeketin? Lagian, kita itu tinggal di Indonesia loh Yas.. bukan di Arab sono?

Yap, perlu digarisbawahi dan diberi tanda pentung pada akhir kalimat 😀 , Bercadar bukanlah budaya Arab, namun ia (cadar -red) merupakan salah satu syariat Islam yang berdasarkan pada dalil-dalil dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman Salafusshalih Radhyallahu ‘anhumma, sehingga tidak benar anggapan bahwa cadar adalah Budaya Arab.

Adapun, mengenai penggunaan cadar atau penutup wajah terdapat khilaf (perbedaan pendapat) diantara jumhur Ulama. Ada yang menyatakan Sunnah (Menurut Madzhab Hanafi dan Maliki), pun ada yang mengatakan Wajib (Menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali). Namun, sejatinya saya menganggap cadar itu sunnah (untuk saat ini) demi kemaslahatan sebab, kondisi yang ada masih mengharuskan bolak-balik ke kampus tidak memungkinkan untuk selalu bercadar. AKAN TETAPI, apabila sudah tunai amanah saya untuk kuliah, in syaa ALLAH saya akan bercadar seumur hidup saya dan menghukumi, cadar adalah WAJIB mengikuti pendapat mayoritas Ulama Salaf seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani -rahimahullahu ta’ala-, Syaikh Bin Baz -rahimmahullahu ta’ala-. dan lainnya.

Tentu saja, saya merasa perlu untuk bercadar. Bukan bermaksud menutupi wajah saya yang kata Ibuk maniez #hatchiih 🙂 , tapi memang saya tidak bisa menjamin apakah wajah saya yang imut #yas, sadar yas! ini menarik dan menimbulkan fitnah bagi laki-laki ajnaby atau tidak. Eh.. eh.. Jadi, saya merasa wajib bercadar karena saya merasa terlindungi karenanya. Terkadang, bercadar membuat saya nyaman, dan aman saja, dan dari segi kesehatan pun baik untuk menghindari paparan sinar matahari langsung dan debu yang membuat kulit kita kusam. Di samping menunaikan syariat Islam tentunya. Ya kan?

Takut nggak ada Laki-laki yang berani deketin? Ahaa..! Justru ini, membantu saya untuk lebih selektif dalam memilih Suami dan Calon Ayah Terbaik bagi anak-anak saya tanpa harus ada pencitraan diantara kita! Why? Iya, dengan “identitas” saya yang seperti Burung Gagak begini, kalo ada Pemuda yang mau mendekati saya tentulah bukan Preman, Perokok, atau laki-laki yang beraninya cuma ngasih cokelat tapi nggak berani ngasih mahar di depan Penghulu. Mikir-mikirlah mereka. In syaa ALLAH, yang tertarik dengan “Burung Gagak” adalah mereka yang kesehariannya tersibukkan dengan mengkaji kalam dan ilmu ALLAH, dekat dengan Masjid, dan “Lambung mereka jauh dari tempat tidur”. You know who him? Yaa.. Hanya Pemuda Shalih yang berani memilih “Burung Gagak” menjadi Solmatenya, #eaa!

Dan, meskipun kita sudah berhijab, namun kemudian serta merta ada Ikhwan masih aja pandanganannya kepleset di wajah kita, ya jangan salahkan Ikhwannya juga. “Lhoooo.. KOK BISAA?? Salah mereka kan nggak gadhul bashor..”

Yaa Akhwaty fillaah, saya pernah mendengar penuturan salah seorang Ustadz, qadarullahu ma sya’a fa’ala terlupa namanya. Beliau mengatakan kurang lebih seperti ini, “Ikhwan, kalo melihat wanita tebar aurat itu cuek bebek saja, nggak ada minat sama sekali. Kalo lihat Akhwat berjilbab lebar, kadang masih suka kecolongan lihat wajah si Akhwat. Namun, ketika mereka (Ikhwan) berpas-pasan atau melihat Akhwat berjlbab lebar dan bercadar, hati mereka berdesir, nggak berani memandang sama sekali.” Maa syaa ALLAH.

Ikhwan yang sudah ngaji, in syaa ALLAH mampu menjaga dirinya dari pandangan yang haram. Meskipun, tidak dapat dipungkiri mereka pun fitrahnya memiliki kecondongan terhadap wanita. Namun, seyogyanya sebagai wanita kita juga harus paham, bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di dalam rumahnya. Sebab, apabila seorang wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya sehingga nampak begitu indah di mata lelaki, seperti bunyi hadist :

“Wanita adalah aurat, apabila dia keluar, Setan menghiasinya (pada pandangan lelaki, -pen.).”

( HR. at- Tirmidzi no. 1176, beliau berkata, “Hadits ini hasan sahih.”)

Nah, terus, kamu kok pakai kaos kaki mulu kalo keluar rumah? Oke, cadar kadang dilepas tapi kaos kaki dipake terus? Emang nggak bau? Berarti, kaos kaki lebih utama dong daripada pake cadar?

kaoskakiKaki termasuk aurat yang wajib ditutup. Kalo ditanya, lebih utama mana menggunakan kaos kaki atau cadar? Sependek pengetahuan saya, keduanya utama, namun jika disuruh milih tetap lebih utama bercadar (Karena wajah lebih mudah terkena fitnah), sedangkan kaki bisa kita tutup dengan baju yang agak panjang hingga maksimal satu hasta dan menyeret tanah, sehingga kaki kita tidak nampak. Seperti hadist dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkapSatu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)

Dari hadits di atas dapat ditarik dua kesimpulan, yaitu:

Pertama, bahwa seorang wanita wajib menutup kedua telapak kakinya dengan pakaiannya.

Kedua, boleh hukumnya memanjangkan pakaian bagi seorang wanita dengan ukuran sebagaimana telah dijelaskan hadits di atas.

Dari mana diukurnya satu jengkal di mana seorang wanita memanjangkan pakaiannya?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama satu jengkal itu diukur dari mana. Akan tetapi, pendapat yang kuat In syaa ALLAH satu jengkal adalah diukur dari mata kaki. Karena inilah Ummu Salamah berkata, “Jika demikian, kedua kakinya masih tersingkap,” lalu Rasulullah memberikan keringanan dengan satu hasta.*

Jadi, kaos kaki kan bisa disiasati dengan memanjangkan baju (Intinya, kaki harus dan wajib ditutup karena termasuk aurat), nah sedangkan Orang pertama kali memandang kita kan wajahnya, bukan kakinya. Dari wajah, turun ke hati. Ya kan? Makanya, wajah juga wajib ditutup.

Emang nggak bau ya pake kaos kaki terus? Ya baulah, kalo kaos kakinya enggak pernah ganti dan dicuci. Kalo saya, stok kaos kaki banyak, dan setiap habis keluar rumah selalu ganti biar kaki nggak gatel-gatel. Nggak lucu juga kan, kalo pas kajian aromanya bikin mabok darat? 😀

Wallahu a’lam bishawab..


* Selengkapnya baca di : http://muslimah.or.id/fikih/ujung-pakaianku-penyapu-jalanan.html

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Sih, Kok Pake Cadar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s