Monolog Di Penghujung Malam

rain1Waktu sudah menunjukkan pukul 2. 34. Mataku sudah berat, namun enggan untuk terpejam. Insomniaku kambuh lagi. Fyuuh, hal yang sangat menyebalkan bagiku. Entahlah, sejak kecil aku terbiasa tidur larut. Terlebih setelah kuliah, sangat kesulitan untuk bisa tidur di bawah pukul sebelas malam. Hanya pada waktu PPL saja, aku bisa tidur lebih awal, bahkan jam 20. 00 sudah tidur nyenyak, kemudian bangun pukul 2. 00 dini hari untuk belajar dan shalat tahajud. Meski terkadang, bahkan seringnya ketiduran di atas keyboard laptop atau tumpukkan buku hingga subuh menjelang. Aku rindu tidur gasik.

Kulirik kalender digital di pojok kanan bawah layar laptop. Hmm, tanggal Tiga Desember. Rasanya, baru kemarin aku membersamai November? Begitu cepatkah waktu berlalu? Suara detak jarum jam dinding, dan desingan rinai hujan begitu membuatku gamang. Tidak seperti biasanya, aku begitu gelisah. Ada apakah? Mencoba mengistirahatkan sejenak persendianku, menyelonjorkan kaki, dan melemaskan badan di kursi belajar. Kusandarkan kepala di badan kursi, menatap kosong ke arah monitor Acer hitamku, menarik napas dalam-dalam, dan memejamkan mata perlahan. Menghirup harumnya wangi tanah, menyelaraskan irama hujan dengan degup jantungku, dan detak jam yang tak berhenti, terdengar sayup-sayup lirih lantunan surah Al-Muthafifin dengan suara sendu Abu Usamah, menghadirkan hati. Kudapati damai disana.

Tess.. air mata ini mengalir begitu saja. Ahhh.. menyebalkan! Kalo sudah melow begini, aku masih bingung bagaimana caranya berhenti untuk menangis. Ada apa denganmu wahai hati? Ada yang salahkah dengan hari ini? Tidak kan? Yah, kupastikan tidak. Err.. atau mungkin ada yang melukaimu? Hmmm.. betul kan? Ada yang melukaimu? Kemarilah, peluk bantal gulingmu yang membisu itu. Tumpahkanlah segenap air matamu di badannya yang kini sudah tak segemuk dulu ketika pertama kali kau memilikinya. Menangislah sepuasmu. Menangislah hingga kau tertidur, dan terbangun kembali dengan mata pandamu yang akan sangat besar ketika bangun tidur. Oh ya, kau menyebutnya mata Kodok ya? Hahaha, jelek sekali ternyata! Heyy, jangan ngambek, aku hanya mencoba jujur padamu.

Sudah tenang kah hatimu? Kemarilah, lihat dirimu di cermin. Lihatlah, rambutmu begitu berantakan, lipatan bantal membekas di pipi, hidungmu merah seperti hidung Kelinci, daaan.. matamu itu seperti… Mmm.. itu kenapa tumbuh jerrr… ah, sudahlah jangan diteruskan, kau pasti akan menggerutu dan panik jika kuteruskan kalimatku. Dan sungguh, aku pun tak tahan dengan gerutuanmu yang begitu panjang dan berepisode seperti Sinetron Sri Tanjung, Eh.. Tersanjung. Hahaha, kau tertawa ya kini? Baiklah, ayo ceritakan padaku, ada apa denganmu wahai hati?

Kau ingat tidak, kenapa ALLAH bersumpah Demi Masa? Ingat kan? Kenapa coba? Karena begitu berharganya waktu. Kau… Mmm.. ah ya, dalam surah Al-‘Asr kan? Hmm, iya.. tepat. Ada apa dengan waktu? Hey… hey.. sudah-sudah.. jangan menangis lagi. Ada apa denganmu?

Aku menangis.. karena, waktuku tak pernah terulang.. Aku menangis karena ia yang begitu berharga terbuang percuma. Kau lihat, tadi aku terlalaikan dengan perkara yang seharusnya tidak perlu terlalu kuseriusi? Astaghfirullah.. iya, i’m know. Kau tahu tidak, bahwa terkadang aku malas. Ah, itu terkadang kan? Ya memang, bukankah itu hal yang tidak disukai ALLAH? Hmm, jangan kau ulangi kalo begitu. Oh, oke.. banyak kulihat diantara Kawanku, Sahabatku, mereka begitu gigih menuntut ilmu syar’i, belajar ini itu, di usia yang sangat belia mereka menuai karya, mereka mahir berbahasa arab, sedangkan aku? Ahh, siapalah aku. Ilmuku tak ada seujung kuku, tapi mengapa aku begitu congkak? Itu perasaanmu saja. Tidak! Aku membayangkan, jika nanti aku jadi Ibu dan bacaan Al-Qur’anku jelek. Sungguh, pasti aku sangat bersedih karenanya. Maka dari itu, belajarlah lekas.

Hikss.. tak terlambat kah untuk memulainya? Hai, apakah ada dalil yang mengatakan demikian? Mmm.. sepertinya tidak. Berletih-letihlah dalam menuntut ilmu, suatu hari pasti kau tuai juga hasilnya. Fyuuhh.. apakah aku bisa? Bisa! Kau bisa! Tapi, kau lihatlah aku yang lemah ini.. kakiku tak kuasa untuk menopang diriku sendiri. Heiy, makanya, kukatakan padamu untuk memulai sedikit demi sedikit asal rutin. Itu lebih disukai ALLAH. Belajarlah kau sana. Tak usah kau keluhkan lagi, tak usah kau risaukan lagi. Kau tahu, waktumu tak akan kembali, manfaatkanlah ia, jangan kau siakan lagi.

Baiklah.

Tersenyumlah, Desember ini begitu berbeda.

Oh ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s