Renungan Sepanjang Masa

ibuKenalkah antumma dengan Imam shalat di Masjidil Haram, yang suaranya begitu merdu dan hampir tidak ada Manusia Muslim yang belum pernah mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakannya? Ya… dialah Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz As Sudais. Kiranya, apa sebab utama yang menjadikan beliau atas ijin ALLAH Subhanahu wa Ta’ala seorang yang diberi amanah mengimami jutaan Umat Manusia di Negeri yang paling mulia, dan Masjid yang paling mulia pula? Sebab utamanya adalah doa amarah Sang Ibu. Yaa… doa amarah Sang Ibu.

Maa syaa ALLAH..

Saudaraku sesama muslim yang dirahmati ALLAH, dimana pun kalian berpijak kini di Bumi ALLAH, semoga ALLAH senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Memberi kelembutan di hati kita, agar selalu menyayangi terhadap sesama, terutama, kepada mereka, Jendela Tua yang sudah beranjak senja, yang di kedua sudut matanya kini mulai temaram, mentari yang dulu bersinar pada setiap tatapannya, mulai meredup seiring berjalannya masa. Siapalah, jika bukan Orang Tua kita, Ayah dan Ibu…

Renungkanlah, hadirkan hati ketika menyelami barisan tulisan ini,

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapimu dan memandikanmu..

Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Lalu kau beranjak 2 tahun, dia ajari engkau berjalan..

Balasanmu, engkau kabur saat dia memanggilmu..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Di usia 3 tahun, dia memasakkan makanan untukmu dengan rasa kasih dan bumbu cinta…

Balasanmu, kau campakkan piring dan makanannya…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Kau beranjak tahun ke 4, dia memberimu pensil berwarna…

Engkau malah mencoret dinding rumah dan meja makan…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat kau 5 tahun, pakaian terbaik untukmu dia belikan…

Tapi kau pakai untuk bermain di tanah dan kubangan becek,

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

6 tahun, diantarkannya engkau ke sekolah…

Tapi kau bilang, “NGGAK MAUUU..”

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Usiamu 7 tahun, dia memberikanmu bola..

Malah kau lemparkan ke jendela tetangga..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat kau 8 tahun, dia membelikanmu es krim..

Naas kau tumpahkan ke seluruh bajumu…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Usiamu 9 tahun, diantarnya engkau ke kursus bahasa..

Balasanmu, kau bolos dan malas berlatih…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Umurmu masuk 10 tahun, dia rela mengantarmu mulai dari kolam renang sampai taman..

balasanmu, kau pergi tanpa pamit dan kecup tangannya..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Usiamu 11 tahun, dia rela menjemputmu di sekolah…

Namun kau lebih memilih main game dengan temanmu..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat umur 12 tahun, dia membatasi acara Televisi yang berbahaya bagimu..

Apa yang kau perbuat? Ya.. menunggu Ibumu pergi..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

13 tahun, dia sarankan agar engkau memotong rambutmu agar rapi..

Kau maki dia dengan cap Ibu tak tahu mode dan style..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat usiamu 14 tahun, dia bayar lunas biaya kemahmu…

Balasannya, kau tak pernah mengabarinya…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat umurmu 15 tahun, sepulang kerja dia ingin memelukmu…

Kau malah mengunci pintu kamarmu..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Masuki 16 tahun, dia ajarkan engkau mengemudi..

Balasannya, kau sering kabur entah kemana..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Beranjak puber, 17 tahun, dia menunggu telepon penting…

Tapi kau pakai teleponnya semalaman untuk si dia…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

18 tahun, Ibumu begitu terharu engkau lulus SMU..

Kau malah berpesta dengan teman-temanmu hingga pagi…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

19 tahun, dia lunasi perkuliahanmu dan mengantarmu hingga pintu gerbang..

Kau malah malu dilihat teman-temanmu..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Umurmu 20 tahun, dia bertanya, “Nak, darimana saja seharian?”

Kau hardik dia, “Cerewet amat sih?”

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Umur 21 tahun, dia sarankan sebuah bidang pekerjaan demi masa depanmu..

Kau katakan, “Aku ngga ingin kayak Ibu dah..”

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Kini, 22 tahun usiamu, dia peluk hangat karena engkau lulus kuliah…

Balasanmu, kau tanya dia kapan jalan-jalan ke Bali…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Saat usiamu 23 tahun, dia belikan furniture untuk rumah barumu..

Balasanmu, kau katakan di depan rekan kerjamu betapa kampungannya Ibumu..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

24 tahun, dia bertemu dengan calonmu dan bertanya rencana ke depannya..

Balasannya, “Ibu gimana sih, kok gitu nanyanya?”

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

25 tahun, dia bantu biaya pernikahanmu..

Balasanmu, kau pindah ke kota lain 500 Km jauhnya…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Usiamu 30 tahun, dia berikan nasehat cara merawat bayi..

Balasanmu, “Bu.. jamannya beda nih..”

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Usiamu 40 tahun, datang kabar Ayahmu sakit..

Balsanmu, kau di luar negeri bersama anak isteri…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Telah 50 tahun umurmu, dia sakit-sakitan sehingga butuh perawatanmu…

Balasanmu, kau cari artikel tentang bahaya orang tua yang numpang di rumah anak..

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Hingga suatu hari, dia lepas darimu karena tak ingin membebanimu…

Barulah kau teringat semua yang belum kau berikan untuknya…

Kau tahu apa yang dirasakan Ibumu?

Dia tidak merasakan apa-apa lagi…

Kecuali berharap “Engkau hidup bahagia wahai anakku…”

Wahai anak…

Betapa Orang tua, terutama Ibu..

Tidaklah mengharapkan apapun kepada kita…

Bahagia kita, adalah bahagia miliknya…

Mumpung mereka masih membersamai hari-hari kita…

Carilah pintu Surga darinya…

Sungguh.. yang terkatakan, tak pernah lebih jujur dari bahasa Hati… dan kedalaman cinta di sudut Jendela Senja mereka… yang kusebut, “Mata”…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,“Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.”(Hadist Riwayat Muslim)


Referensi : Makalah Kajian Ngaji Sabtu Ahad, Tema “Wahai Ayah Ibu, Doakan Anakmu..” oleh Ustadz Sulaiman Rasyid -hafidzhahallahu ta’ala-. Ahad, 21 Oktober 2012 di Mushala Teknik UGM. Forum Kajian Mahasiswa (FKIM) Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s