Generasi “Pendidik” Pengemis

5653d8bc0cb64c0934b2c4b627f0df5208ac0a18Baca Postingan Ayah Edi, jadi inget.. Lusa kemarin ketemu Ibu – ibu di depan Mushala Taman Pintar lagi gendong anaknya yang difabel karena jatuh dari sepeda sewaktu kecil. Dari penampilan fisik, si Ibu ini bersih dan gaya berpakaiannya pun layaknya Orang mampu. Badannya masih sehat dan bugar. Awalnya kami ngobrol biasa saja, namun kok lama – kelamaan obrolannya menjadi mengarah ke “Minta Sumbangan”, aku tertegun sejenak dan mulai menangkap maksud si Ibu. Perasaanku nggak enak, karena waktu itu kebetulan pas di dompet nggak ada uang sepeser pun, tujuannya kala itu emang mau ke ATM sekalian mampir Mushala dulu nemenin Temen Shalat Dzhuhur.

Si Ibu nggak putus asa, dia meninggikan nada suaranya ketika aku mau ambil HP di tas, “Sabar ya Nak? Makannya nanti kalo kita udah dapet uang. Sekarang kita pasrah aja, kalo nggak dapet uang ya puasa dulu yah?” Duhh.. rasanya salah tingkah banget, untunglah temenku segera datang. Aku refleks aja bilang, “Duhhh Nonaaa, aku belum ambil uang di ATM. Piye iki, mana bensin nipis, adanya Pertamax, udah gitu ngantrinya lama lagi…” hehehe, yo opo sih, aku rasane jadi nggak mood. Piyeee ngunuu, baru kali ini ketemu Orang minta Sumbangan begitu mendramatisir. Si Ibu pun beringsut dari duduknya dengan wajah kesal, nah.. saat itu ibu itu ngeluarin HP. HPnya bagus pula. Aku tambah kaget lagi. Selang berapa lama, eh.. si Ibu balik lagi sambil bawa Es Krim buat anaknya. Hmmm.. katanya?

Yah… memang, Pendidikan Mbah – mbah kita jaman dahulu kala yang menanamkan yang namanya “Pakewuh, Isin, Sregep Makaryo” sepertinya sudah mulai luntur. Coba deh kalo mau menengok ke masa lalu, jaman Mbah Kung dan Mbah Uti kita masih kecil dan Remaja, hidup di pedesaan, ibarate “Isin nek ora makaryo” tercermin jelas dari Mbah Putriku, yang hingga usia senja masih mau berdagang di Pasar jual Sembako, Mbah Kakung -rahimahullah- yang juga ketika berusia senja masih giat bekerja di Sawah dan Berdagang di Pasar. Meski anak – anaknya terbilang sudah sukses semua, mereka pantang untuk merepotkan pantang sekali untuk meminta, dikasihpun mereka tetap pakewuh dan akan membalas Pemberi dengan Hadiah yang lebih. Entah itu sayuran, beras, atau apapun itu. Harga diri mereka tinggi.

Tapi jaman sekarang, SubhanALLAH.. yang namanya Pengemis itu malah jadi Profesi. Kok mau ya, mereka merendahkan harga dirinya sendiri?? Perhiasan berupa malu sepertinya sudah sirna dikikis yang namanya “Kepepet Butuh”. Hanya karena alasan ekonomi, banyak lahir generasi Pemalas. Salut, dengan mereka yang meski jauh dari cukup mampu bersyukur dengan tidak mengemis, bekerja apapun yang penting halal, alangkah indahnya mereka yang kekurangan harta namun masih mau memberi terhadap sesama.

Ini dia postingan Ayah Edi yang menyentuh dan menginspirasi tulisan saya ini:

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=704532669617837&id=141694892568287&substory_index=0


Repost dari Blog lama. Diterbitkan tanggal 12 September 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s