Mbak, Bahasanya Diperhalus Dikit Dong…

a2

“Mbak, bahasanya itu loh.. diperhalus dikit dong..”

“Mbak, menurut saya kalimat semacam itu sangat kasar..”

Jlebb! Rasanya gimana gitu kalo ada yang komentar seperti itu usai membaca postingan atau tulisan-tulisan saya. Sejujurnya, saya nggak pernah terbersit sekali pun untuk berbicara kasar dengan Orang. Baru-baru ini, ada yang mengomentari tulisan saya begini, “Mbak, menurutku bahasa asal ‘njeplak’ itu udah bahasa paling kasar loh..”. Eh.. masa sih?

Hemm.. kadang-kadang, memang saya agak kesulitan memilih diksi yang tepat untuk menyampaikan sebuah nasehat atau gagasan yang bisa ngena, setidaknya “menampar” bagi pembaca, dan saya sendiri khususnya. Bahwa penggunaan bahasa tersebut, diletakkan pada tempatnya. Kebetulan, yang orang tersebut sampaikan pada kalimat ‘asal njeplak’ itu berawal dari postingan saya yang menyatakan begini, “Bahwasanya, yang menjadi rujukan kita berdalil itu Al-Qur’an dan Al-Hadist menurut pemahaman Salafush Shallih Radhyallahu ‘anhumma. Bukan “menurut saya”. Berbicara perkara agama itu nggak boleh asal njeplak, alih-alih meluruskan.. malah jadi menyesatkan tanpa Ilmu”. Nah, kira-kira, kalimat tersebut cukup kasar enggak sih?

Kata ‘asal njeplak’ sendiri, saya dengar dari Adik Kandung saya. Kebetulan, dia tipikal orang yang ceplas-ceplos, lebih-lebih kalo sedang marah, dia berbicara seenaknya saja, maksudnya, dari bahasa yang paling halus dan dalem, sampai bahasa yang kasarnya bikin merinding. Hehehe (ampuun Diiik.. ^^v ) lebih-lebih, kami blasteran #ceileee Jawa Timur dan Cilacap, yang notabene bahasanya ‘terdengar’ kasar, padahal sebetulnya ya tidak, biasa saja bagi kami sesama arek-arek jawa timur dan wong ngapak.

Jadi ceritanya, Adik saya ini, orangnya super sensitif. Suatu hari, ada pembeli di warung kami (waktu itu hari ahad, jadi Adik saya bertugas jaga). Nah, orang tersebut mengatakan sesuatu hal yang membuat Adik saya nggak nyaman. Adik saya agaknya jengkel, lalu setelah orang itu pergi, dia bilang.. “Huh, dadi wong koh ngomonge asal njeplak. Mbok yao nek arep komentar kuwe ndeleng sikon.” (Huh, jadi orang kok bicaranya asal keluar saja. Mbok yao, kalo mau komentar itu lihat sikon).

Karena lama di Jogja dan bisa dikatakan jarang banget mudik (kecuali Idul Fitri dan Libur Semester), saya agak asing mendengar kata itu. Namun, sedikit memahami maksudnya. Nah, selanjutnya kalimat seperti itu sering saya gunakan untuk menampar diri saya sendiri, dan Orang lain. Bahwa tujuan pengucapan kata tersebut, sebagai bahasa lain untuk memberi penekanan pada kalimat saya.

Bukan hanya asal njeplak. Saya dulu orangnya agak-agak hobi mengomentari apa saja yang tengah terjadi di sekitar saya. Pada suatu hari Ahad, karena nggak ada Agenda saya pun ke Sunday Morning UGM¹. Nah, disana saya melihat sepasang muda-mudi (sebetulnya banyak) yang sedang pacaran dan tidak malu-malu mengumbar kemesraan di depan publik. Saya sampaikan pada Kakak Wisma, kemudian beliau menasehati saya begini, “Dik, mungkin ilmu belum sampai kepada mereka. Doain aja yuk, biar mereka dapet hidayah..”. Nah, bagi saya itu “jleeeebbb banget” dan langsung ngena di hati.

Iya, bagi saya kalimat “Mungkin ilmu belum sampai kepadanya” itu adalah kalimat yang indah, dan menyadarkan akan diri saya sendiri. Dulu, saya pun pernah mengalami masa Jahiliyyah. Masa ketika saya menganggap musik itu bukanlah sesuatu yang haram, berpendapat, kalo mau pake jilbab, ya hatinya dulu lah yang dijilbabin, melihat teman-teman pacaran adalah hal yang lazim -waiyyadzubillah-, dan suka ngejek Orang Muhamadiyyah.. hehehe, dulu saya beranggapan kalo orang yang berjenggot, bercadar, bercelana cingkrang, yang selalu berdalil pada Al-Qur’an dan Al-Hadist adalah Orang Muhamadiyyah, saya dulu nggak tau Salafi itu apa? Hingga pada akhirnya hidayah menyapa, dan ilmu sampai kepada saya tentang seluruh kekeliruan saya kala itu. Alhamdulillahiladzhi bini’matihi tattimus shalihat..

Bagaimana jika kalimat, “Mungkin ilmu belum sampai kepadanya” disampaikan pada orang awam, katakanlah temen seumuran deh. Yapp.. beragam reaksi, yang paling sering saya temui ketika  menggunakan kalimat itu, mereka menganggap saya merendahkan orang yang menjadi sebab saya mengucapkan hal tersebut. Nah, beda kepala, beda dalam menangkap suatu maksud kan?

Jadi inget kata seorang Ustadzah yang sekaligus Editor di beberapa situs Islami bermanhaj Salaf, “Sebelum menulis atau berdakwah, setidaknya kita tahu dimana medan kita, siapa sasaran dakwah atau pembaca tulisan kita, apakah Orang-orang awwam, ataukah Mahasiswa, anak-anak, Orang Tua, kalangan suatu profesi tertentu, seperti Dokter atau Guru misalnya? Nah, kalo sasaran Pembaca kita adalah Orang awwam, maka hindari kalimat yang sulit dicerna oleh mereka atau bahasa yang berat-berat. Agar mereka lebih mudah memahami dalam menerima dakwah kita.”

Tapi maklum saja kan, namanya juga Dunia Maya, kalo nggak mau ada yang komentar atau ngeritik ya jangan dipublish, disimpen aja tulisannya buat sendiri, dibaca sendiri, dikomen sendiri. Hehehe. Dulu, saya juga pernah komentar di sebuah tulisan seorang Kakak, alumni Wisma juga yang tulisannya maa syaa ALLAH, mungkin karena latar belakang kita sama-sama dari Bayumasan, jadi bahasanya yaa agak-agak “nujleb-nujleb” (nusuk-nusuk) dan blak-blakan. Tulisan-tulisan beliau sarat akan ilmu, sangat bermanfaat tentunya. Dan, beliau yang menginspirasi saya menggunakan istilah “menampar dalam menasehati”. Waktu itu, beliau posting sebuah tulisan di Blog Wisma kami. Nah, disana ada sebuah kalimat yang menurut saya, agak kasar. Yakni, “Kemudian kau membuat orang merasa tolol dengan sikapmu yang “sok tinggi”..”

Kemudian saya menulis begini, “Bagus banget Mbak isinya.. tapi sebaiknya penggunaan kata “T***l”-nya diganti selainnya.. karena terlalu kasar.. afwaan.. 🙂 ”

Dan beliau membalas,

“Tulisan di atas memang disengaja bergenre “satire” kok. Ibarat sedang berbicara menyindir jiwa-jiwa manusia agar lebih tersentil, karena terkadang jiwa manusia yang tinggi hati itu tidak mempan dinasihati dengan nasihat yang menyentuh. Jika mau diprotes kasar, sedari awal seharusnya diprotes juga, kenapa saya menggunakan “Hei kamu..”, bukan panggilan lembut semisal duhai, atau wahai : ) “

Maa syaa ALLAH.. Bahagia mengenalmu Yaa Ummu Yazid…

Yahh.. memang, setelah saya buka-buka folder tulisan-tulisan saya, memang ada beberapa tulisan yang isinya terlalu gamblang, ceplas-ceplos dan terkesan emosional. Iya memang, jika bahasa yang saya gunakan hampir seluruhnya atau mendominasi tulisan tersebut agak keras, bisa jadi ketika menulis saya memang betul-betul sedang jengkel, marah nggak mood. Karena, memang sedikit banyak tulisan saya berangkat dari keadaan ketika saya sedang menulis. Kalo lagi seneng, ya tulisannya isinya santai, kalo lagi sedih, ya melow-melow gitu deh, kalo lagi marah.. ya bahasanya kayak ngomel-ngomelin orang. Tapi, tidak semuanya loh yaa? 😀

Apakah tulisan ini bentuk pembelaan? Hehehe, iya bukan yaa? Ini cuma unek-unek aja, liat tuh kategori-nya aja masuk di “Dear Diary” yang artinya berisi tentang curhatan saya. Nah, kalo yang lebih pribadi lagi baru deh ditulis di buku Diary sungguhan. Kebayang kan, gimana pegelnya nulis dan kucelnya itu Buku Diary? 😀

Mmm.. kesimpulannya, mungkin saya harus banyak-banyak mencari kosakata yang lebih pedas #lho?, enggak-enggak, berarti saya harus banyak belajar, banyak membaca, agar bisa lebih selektif dalam memilih penggunaan bahasa yang tepat, tidak menyinggung perasaan orang lain. Karena sejujurnya, tujuan saya menulis hanya ingin berbagi hikmah pada temen-temen pembaca. Saya menyadari, bahwa ilmu yang dimiliki masih dangkal, belum memiliki kapasitas untuk berbagi beragam tulisan yang lebih rinci terkait Ilmu-ilmu Agama. Mungkin, berangkat dari hobi menulis yang masih berusaha untuk terus diasah ini, saya bisa berbagi sedikit-sedikit ilmu yang pernah saya peroleh selama ngaji, atau minimal menyampaikan satu dua ayat mau pun hadist deh, biar bisa diambil faidahnya.

Selanjutnya, saya hanya wanita biasa #eaa yang pastinya, sudah menjadi hal yang mahfum bahwa saya memiliki sisi yang lembut, sensitif dan tentu saja, memiliki sisi emosional yang terkadang tidak terkontrol dengan baik, yang kemudian dalam keadaan marah misalnya, bisa saja saya tuangkan melalui tulisan-tulisan saya. Jadi, harap maklum. Pun, seandainya ada kesalahan pada tulisan-tulisan saya (di luar kategori Dear Diary), mohon untuk dikoreksi nggih? Saya menyadari, banyaknya kekurangan disana-sini pada setiap tulisan saya. Saya harap, teman-teman mau mendoakan saya, supaya menjadi Penulis yang produktif, dapat berbagi manfaat pada teman-teman, tidak melulu isinya curhaaaat aja, tapi juga bisa menuliskan tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat. Mumpung belum repot, mumpung belum sibuk, mumpung belum ada tanggung jawab yang lebih besar dari ini. Dan, satu mimpi saya.. Saya ingin menulis sebuah Buku sebelum napas ini berhenti. Dan semoga ALLAH memberi kekuatan dan karunia berupa Ikhlas pada diri kita, untuk tidak tertipu dengan amalan dan ilmu yang masih sedikit sehingga menjadikan takabur dan ujub.

قيل إن العلم ثلاثة أشبار :
من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.

“Ada yang berkata bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia menjadi tinggi hati (takabbur). Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa.” Dinukil dari Kitab Hilyah Thalibil ‘Ilmi, buah pena Syaikh Bakr ibn ‘Abdillaah Abu Zaid rahimahullaah.²


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s