Mendidik Anak Seperti Mengukir di Atas Batu

SANYO DIGITAL CAMERAMendidik anak-anak itu, seperti mengukir di Batu. Akan melekat terus hingga Dewasa. Menjadi Guru untuk Sekolah Dasar, itu harus extra hati-hati, baik ketika menyampaikan materi, maupun bertingkah laku. Sebab, nalar anak-anak masih polos, dan kecenderungannya masih meniru tindak tanduk Orang Dewasa. Perhatikan saja, perilaku anak-anak yang terlahir dari Keluarga yang Religius pasti berbeda dengan yang dibesarkan dalam background lingkungan Keluarga Hedonis.

Ya, Lembaga Pendidikan Pertama (Keluarga) yang Religius mampu mencetak anak-anak yang taat, menghormati sesama, saling berkasih sayang, dan menjunjung tinggi adab dan perilaku dalam lingkunan sosialnya. Sedangkan, anak-anak yang terlahir dari Keluarga Hedonis, sebagian suka pamer (walau jiwa polosnya mungkin tidak bermaksud demikian),  egois, kompetitif, dan doyan ngambek. Korelasi antara nilai agama dengan keberhasilan pendidikan terletak pada sikap dan minat terhadap ilmu yang didapat di sekolah.

Yang perlu ditekankan sebagai Pendidik, baik Guru maupun Orang Tua, penanaman nilai-nilai agama, moral, adab, perilaku, akidah, dan lain sebagainya harus dimulai sedari dini mungkin. Bahkan, Ibu, sebagai Madrasah Pertama adalah Kunci utama keberhasilan Pendidikan awal anak, yang bertugas mentarbiyah generasi penerusnya. Sedangkan Guru di sekolah, harus lebih mengencangkan ikat pinggangnya untuk lebih bersabar dalam menghadapi keberagaman karakter dari masing-masing Bibit Generasi Bangsa yang diampunya.

Bayangkan, menjadi Ibu yang mendidik satu anak saja terkadang kewalahan, apalagi mendidik puluhan anak yang memiliki kemampuan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disinilah profesionalitas dan peranan seorang Guru diuji. Menurut pepatah Jawa yang sederhana, Guru itu Digugu lan ditiru, yang bermakna Guru adalah sosok yang menjadi panutan dan diikuti ucapan atau nasehatnya. Jadi, baik Guru Sekolah maupun Ibu, harus memiliki skill yang mumpuni agar tidak keliru dalam mengajari anak-anaknya.

Bukan hanya kesabaran yang extra dan skill yang mumpuni saja, tapi, harus mampu menjadi Psikolog dadakan yang Profesional, agar anak merasa dekat dengan kita, percaya pada kita, menyukai kita, dan kehadiran kita selalu dinantikan untuk menyegarkan dahaga mereka yang gersang akan ilmu. Karena, apa yang ada pada diri kita, akan selalu terkenang oleh anak-anak hingga mereka dewasa. Ciptakanlah kesan yang baik, niatkanlah untuk tujuan mulia mencerdaskan anak bangsa dan bekal akhirat yang insyaa ALLAH, pahalanya akan selalu mengalir meskipun kita telah tiada. Seperti sebuah Peribahasa, Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan nama atau setidaknya Ilmu.


  • Repost tulisan dari Blog lama. Diterbitkan pada 7 Oktober 2013.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s