Ummi, Abi Boleh Poligami Yaa?

poligamiPoligami?

Degg..! Perempuan mana yang hatinya tidak jungkat jungkit mendengar satu kata itu? Beragam respon diberikan oleh Wanita, ada yang bilang, “Awas saja kalo Suamiku berani Poligami.. Tak gantung di Monas nanti!”, “Alhamdulillah, semoga Abi bisa mengamalkan Sunnah Rasulullah..”, “Halaaah, Monogami aja nggak adil.. gimana mau Poligami? Jangan harap!”, atau bahkan, ada Kaum Feminis yang menentang habis-habisan dan berdemo menolak Poligami.

Wajar saja, Wanita adalah Mahkluk Perasa. Hatinya sangat dekat dengan Cemburu, tapi mudah tersentuh. Seperti hal-nya saya. Semalam dibuat menangis sejadi-jadinya (Lebay) oleh sebuah kisah nyata, Seorang Wanita yang merelakan dirinya dimadu dengan Sahabatnya, lantaran Sahabatnya belum juga menikah, padahal di usianya yang sekarang masyarakat luas biasa memberi labeling Perawan Tua.Ia ridha menyerahkan Suami yang amat dicintainya untuk Sahabatnya.

Maa syaa ALLAH, saya membayangkan jika praktek Poligami itu menyambangi biduk Rumah Tangga saya, walau saat ini saya belum menikah -_-” . Akan jadi seperti apa bentuk hati ini? Saya adalah tipikal Pecemburu Berat, dan ‘sedikit’ tidak sabaran untuk hal-hal yang melibatkan Cinta.

Galau! Poligami itu hukumnya Jaiz atau BOLEH, Dan termasuk salah satu Syariat Islam. ALLAH membolehkan bagi Laki-laki jika mampu. Mampu berlaku adil. Baik dari segi finansial, waktu, dan lain-lain. Seperti firman-Nya,

”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

(Surah An Nisa’ ayat 3).

Nah, ALLAH saja membolehkan Poligami, masa kita yang Manusia biasa menentang mati-matian bahkan mencelanya! Pongah sekali jiwa ini?

Poligami ‘Disukai’ kaum Adam (Pastinya!), beragam cara ditempuh untuk mendapat SIM (Surat Ijin Menikah) dari Sang Istri. Kaum Adam tidak menyadari, jika di dalam dada Istrinya sedang berkecamuk badai dan guruh yang mampu melimbungkan jiwanya. Kecuali Istri-istri yang dianugerahi ketegaran yang luar biasa, mereka akan sumringah menyambut niat baik Sang Suami. Kadang saya berpikir mereka itu “Setengah Gila”, dan Suaminya “Sangat Nekat”. Perpaduan yang kontras, Gila dan Nekat untuk meraup Pahala yang lebih besar dari Sang Pemilik Cinta. SubhanALLAH.

Saya sendiri tidak menentang Poligami, bukan berarti saya mau dipoligami. Mengingat kapasitas dan tabiat saya yang Pecemburu dan Emosional, ahsannya cukup monogami saja. Mengapa? Wanita yang berkarakter “Cemburuan”, dan ditambah lagi keimanannya belum mumpuni, cenderung lalai. Akalnya tidak dapat berpikir jernih, dan hatinya diliputi kegalauan dan kesedihan yang mendalam. Akibatnya, pecahlah percekcokan.

Terkadang, di kala seperti ini Sang Istri merasa terdzalimi dan terpuruk. Saya tidak mau, jika Poligami yang seharusnya membawa maslahat, ketika dihadirkan di sela-sela kebahagiaan kami nantinya justru akan menyebabkan mudharat bagi saya dan Pasangan, juga bagi Madu saya. Bayangkan, sifat pecemburu dan emosional jika dipadukan akan seperti apa? Alih-alih Suami sedang menggilir Madu, saya ngamuk-ngamuk njambak-njambak rambut Madu saya, ujung-ujungnya saya dikenai Pidana KDRT? Maa syaa ALLAH. (Saya tertawa membayangkan sesi ini).

Hmm, bagaimana jika Suami pasang muka imut-imut sambil matanya kedip-kedip, “Ummi, Abi boleh Poligami yaa..?”. Eisst, jangan langsung lempar piring, tapi katakan, “Abi, inget yahh.. Dulu waktu Akad Nikah Ummi udah ngajuin Syarat nggak mau dipoligami loh, dan Abi janji nggak akan Poligami. Seperti Firman ALLAH, ‘Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya…'”. (Bagi yang ketika Akad mengajukan syarat untuk tidak dipoligami, atau memang Suaminya yang berjanji tidak akan Poligami).

Sebuah Peringatan. Diantara Para Lelaki ada yang tergesa-gesa dan bersegera melakukan Poligami tanpa pertimbangan pemikiran yang lebih jauh dan matang, akibatnya justru menghancurkan Dua Biduk sekaligus dan memtuskan tali silahturahmi diantara mereka, seperti yang dikatan A’rabi dalam bait Syairnya :

Aku menikahi dua Wanita karena kebodohanku yang sangat…

Dengan apa yang justru mendatangkan sengsara…

Tadinya aku berkata, aku akan menjadi seekor Domba Jantan di antara keduanya…

Merasakan kenikmatan di antara dua Biri-biri Betina pilihan…

Namun kenyataannya, aku laksana seekor Biri-biri Betina yang berputar di pagi dan sore hari diantara dua Serigala…

Membuat ridha Istri yang satu ternyata mengobarkan amarah Istri yang lain…

Hingga aku tak pernah selamat dari satu diantara dua kemurkaan…

Aku terperosok ke dalam kehidupan nan penuh kemudlaratan…

Demikianlah mudharat yang ditimbulkan di antara dua Madu..

Malam ini untuk Istri yang satu, malam berikutnya untuk Istri yang lain, selalu sarat dengan cercaan dalam dua malam..

Maka bila engkau suka untuk tetap mulia dari kebaikan…

Yang memenuhi kedua tanganmu hiduplah membujang…

Namun bila kau tak mampu, cukup satu Wanita, hingga mencukupimu dari beroleh kejelekan dua Madu…

Bait syairnya yang dikatakan A’rabi ini tidak benar secara mutlak, tetapi barangsiapa yang takalluf (memberat-beratkan dirinya) melakukan Poligami tanpa disertai kemampuan memberikan nafkah, pendidikan dan penjagaan yang baik, maka dimungkinkan akan menimpanya apa yang dikisahkan oleh A’rabi itu yaitu berupa kesulitan dan kepayahan.

Lalu, seandainya jika justru saya yang menjadi Madu? Maa syaa ALLAH, saya tidak berani membayangkan. Tapi, yang diberikan ALLAH, pastilah yang terbaik. Saya sebagai Wanita biasa, hanya bisa berusaha dan berdoa. Mudah-mudahan, dianugerahi Pemimpin Rumah Tangga yang Shalih, bermanhaj yang Haq (yang lain-lain menyusul. LOH?). Dan yang terpenting, semoga kita semua disegerakan untuk menyempurnakan separuh Dien kita, yakni Menikah. Aamiin.


Repost Tulisan di Blog lama. Diterbitkan pada 29 Agustus 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s