Untukmu Guru dan Ibu

10857877_505390902949503_864565682810271439_nKetika anak berbuat salah mengapa tidak memberi kesempatan mereka untuk memperbaikinya? Tanya pada diri, apakah marah dan berteriak adalah sebuah solusi agar anak menjadi lebih baik? Mendidik itu tidak dengan memarahi. Memberi tahu itu, bukan dengan suara keras dan bentakan. Menjadi Orang dewasa pasti pernah mengalami menjadi anak-anak, jika mau membayangkan, maukah kita dimarahi ketika salah? Dipelototin? Disindir-sindir? Ditegur di depan teman-temannya? Tidak mau kan? Begitu pula anak-anak.

Setiap anak memiliki karakter unik yang berbeda-beda. Ada yang kalem, nakal, super duper nakal, dan sangat pake banget-nget bandelnya minta ampun. Tapi mereka, tetaplah anak-anak. Belum bisa membedakan mana yang “salah” dan mana yang “benar”. Disinilah peran kita, sebagai Ibu maupun Guru untuk mengarahkan, agar mereka “jadi tahu” bahwa, “oo.. ini bener.. oo.. itu nggak boleh, oo.. itu salah..”.

Tunggulah, masa kanak-kanak hanya berjalan beberapa tahun saja. Biarkan anak berproses membentuk siapa dirinya, setelah itu mereka pun akan menjadi dewasa seperti kita. Bukan berarti memaklumi kesalahan mereka, tetapi menjadi sebuah evaluasi bagi diri kita, bahwa anak adalah Obyek belajar bagi kita. Bahwa marah-marah pada anak kecil, bukanlah sebuah solusi. Orang dewasa dimarahi atasannya saja bisa stress, apalagi anak-anak? So, sayangi anak kita, anak didik kita. Mereka berhak untuk diluruskan, bukan dikerdilkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s