Ustadzah, Saya Bukan Maling Meski pun Mencuri

akhh“Us, mau beli jajan…” wajah gantengnya yang imut muncul di hadapanku. Tangan kanan mungilnya mengacak-ngacak jajanan di keranjang merah, dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk koin lima ratusan ke meja.

“Mau beli apa Nak? Sudah istirahat kah?” Tanyaku sembari menikmati kegantengan Ikhwan Cilik yang bandel dan rusuh kala di kelas.

“Belum sih Us, tapi laper. Ustadzah kok sendirian? Minggu depan ngajar di kelasku lagi kan Us?” Matanya menubruk pandanganku. Aku tersenyum mengangguk. Tak berkedip menikmati alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung dan rambutnya yang dicukur brush.

“Eh Us, nggak jadi beli jajanan yang disini deh. Mau beli Es Susu itu aja ya!”. Ia berlari cepat menuju meja tempat Termos berisi Es Susu yang terletak di dekat pintu masuk Kantin.

“Ini Us uangnya…” Si ganteng meletakkan dua keping uang koin lima ratus rupiah ke keranjang merah di depanku, kemudian melesat pergi. Aku menggeleng gemas, kemudian meraih kepingan koin dan berniat memasukkannya ke Kaleng penyimpanan uang. Seketika aku terhenyak.

“Uang lima ratus di atas kaleng ini mana ya? Perasaan sebelum Insan dateng tadi masih ada kok..” aku menengok ke bawah kolong, kali saja koin itu menggelinding jatuh karena tadi Insan sempat menggeser-geser letak kalengnya.

“Kok nggak ada? Jangan-jangan…” perasaanku mendadak berkecamuk. Mungkinkah?

***

Jum’at di Penghujung Maret 2014 pukul 10. 30 WIB

Halamannya luas nan asri. Masih banyak pepohonan rindang yang menghiasinya. Gedungnya megah, walau yang kudengar baru beberapa tahun ini dirintis. “SDIT Permata Hati”, begitu bunyi tulisan indah yang menyambutku di gerbang sekolah. Aku turun dari sepeda motor, dan segerombolan anak-anak berhenti melakukan aktifitasnya. Mereka menatapku asing sembari berbisik-bisik. “Dasar anak-anak, pasti lagi ngomongin aku nih..” bathinku geer tanpa ampun. Kutebarkan senyum pada mereka, sembari menuntun Mbak Hindun, alias Supra-X 125Rku tercinta memasuki halaman sekolah. Mereka membalas senyumku sambil terbengong-bengong.

“Ahlan wa sahlan yaa Ustadzah.. kaifaa haaluki?” Kepala Sekolah menyambutku hangat.

“Ahlan biik. Alhamdulillah, ana bikhoyr, wa anti yaa Ummu Hamzah?”

“Alhamdulillah, ana sehat Us. Kheif, Sudah siap bergabung bersama SDIT Permata Hati?” mata senjanya mencari jawaban di balik frame kaca mataku.

“Insyaa ALLAH Umm…”

“Na’am, yassarallahu lakii wa barakallahufiykii yaa Ustadzah. Oh iya, ini jadwal pelajaran dan presensi Siswanya. Kalo sudah siap, mari ana langsung antar saja ke kelas tiga ya Us?” wanita paruh baya berwajah sendu ini beranjak dari belakang meja kerjanya. Aku berjalan menjejerinya, sembari beliau menerangkan ruangan kelas yang berderet-deret di hadapanku. Jilbab besar hitamnya berkibar tersibak angin.

“Nah, selamat berjihad ya Us? Semoga ALLAH memberi kelapangan hati seluas samudera bagi anti. Maklum, anak-anaknya luar biasa..” bisiknya. Matanya mengerling dari balik cadar. Keningku berkerut penuh tanya.

Pukul 11. 17 WIB

“Aaaaa… Ustadzah, jajanku diambil sama Insan!” pekik Mas’ud histeris. Aku yang sedang menulis di papan tulis menoleh ke belakang.

“Hayooo Insan, jajannya Mas’ud dikembalikan ya? Dan Mas’ud, berbagi itu indah. Yuk, jajannya dibagi sama Saudaranya. Nanti dapet pahala loh..”

Insan mengembalikan jajan milik Mas’ud, dan Mas’ud memotongnya jadi dua.

“Mas’ud, aku mau yaa..” Husna yang bertubuh bongsor merapat ke samping Mas’ud.

“Ini buat kamu…” Mas’ud memotongnya lagi untuk Husna.

“Jazakallahu khoyr” ucap Husna manis. Aku tersenyum puas melihatnya.

“Anak-anak, siapa yang bisa menyebutkan benda-benda yang terdapat di kelas ini?” aku menatap wajah murid-muridku yang cantik dan ganteng-ganteng.

“Table!” pekik Insan.

“Broom!” Hilda menyahut.”Chair!” Haura tak mau ketinggalan.

“Whiteboard!” Miqdad tak kalah kerasnya tatkala menjawab.

“Lamp!, Map!, Pencil!, Book!” seketika kelas kembali bising oleh antusiasme anak-anak. Benar-benar, semangat mereka empat lima. Telingaku menjadi sakit, seolah mendengar suara dengan kekuatan ribuan desibel.

“Ustadzah Titaaaaaa…!” Sebuah suara menggelegar mengalahkan koor kelas. Seperti dikomando, seketika koor suara anak-anak terhenti. Hening. Pandangan kami semua tertuju pada pemilik suara. Lalu…

“Hahahahahaha…” kami semua tertawa serempak. Ada-ada saja Insan kelakuannya.

Hari pertama mengajar di kelas tiga membuatku berkesan. Baru kali ini aku mengajar di sekolah yang ruang kelasnya masih bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Jadi, masih agak lucu ketika harus mengajar anak laki-laki juga. Karena di sekolah sebelumnya aku mengajar, kelasnya hanya khusus akhwat saja. Siswi-siswinya masih kalem dan pemalu. Berbeda dengan di sekolah baruku ini, suasananya benar-benar berbeda. Walau semua Gurunya adalah Wanita, tapi hingar bingar suara anak-anak sungguh terasa melengking memekakkan telinga. Bandel-bandel, walau kuakui, mereka cerdas dan sangat aktif. Itu yang membuatku bisa tahan banting pada hari pertama. Walau Insan dan teman-temannya ketika proses KBM susah sekali disuruh untuk duduk, bahkan ada yang mau ngumpet di bawah papan tulis, ada yang ngintip-ngintip kelas sebelah, ada yang bermain teka-teki, yang membuat aku pening, ada yang menakut-nakuti temannya dengan bercerita, “Jadi, di belakang tembok ini, kata sepupuku, dulu ada hantu Nenek-nenek. Teruuus…” aaakkkkhh! Seandainya aku tidak ingat peranku sebagai Penddidik dan ingat bahwa mereka adalah anak Orang, sudah kujeweri mereka satu-satu dan kujemur di lapangan basket. Sabar.. laa taghdhab wa lakaal jannah! hiks.

***

Aku kecewa. Si Ganteng kenapa bisa mencuri ya? Ingin rasanya memanggil Insan dan menginterogasinya. Namun, hati kecil ini menahannya. Walau perbuatannya tak bisa dibenarkan, mungkin tidak ada salahnya kalo aku menjadi peneliti dadakan beberapa hari ke depan untuk menyelidikinya. Aku yakin, di dalam setiap diri anak kebaikan itu masih melekat di dasar hatinya. Toh, marah dan membentak anak-anak tak selalu menjadi solusi. Tapi apa yang salah? Insan dibina di lingkungan sekolah yang berlabel islami, bahkan sudah tersohor kualitasnya walau baru berusia delapan tahun. Apakah di rumah ada yang salah dengan pembinaan Umminya? Namun, ketika kucermati kembali, rasanya, Umminya pun pasti mengajarkan kebaikan padanya.

Tak ada salahnya juga aku mencoba untuk menganalisis perbuatan kurang baiknya. Mengingat tadi Insan merebut jajan milik Mas’ud. Apakah dia adalah anak yang impulsif? Impulsif berarti seseorang yang mempunyai dorongan yang kuat untuk memiliki sesuatu, dan ketika menginginkannya, dia harrus mendapatkannya seketika? Atau hanya sekedar ingin mendapat perhatian saja? Atau bisa jadi, Insan tipe anak yang egosentrik, yang cenderung egois dan tidak mengenal batas milik, sehingga suka merebut milik temannya? Mungkin memang ada masalah dengan kejiwaannya ya? yang lebih sering disebut kleptomania yaitu anak-anak yang sebetulnya kompulsif, yang mempunyai problem perilaku, di mana dia harus mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang dia inginkan tapi dia mengambilnya, karena menurutnya itu suatu perilaku yang harus dia lakukan? Entahlah, semoga hanya sekali ini saja kudapati Si Ganteng mencuri.

“Us, besok kita Kuis bahasa Inggris ya?” Insan muncul dari balik pintu kantin. Lalu mendekatiku, dan duduk di kursi kosong di sebelahku. Sebenarnya aku bukan penjaga Kantin, tapi karena belum tahu mau ngapain, ya terpaksa duduk di Kantin, itung-itung membantu Petugas jaga kantin. Aku tersenyum. Insan melepas rits cadarku, “Us, dilepas aja. Biar aku bisa liat senyumnya Ustadzah. Kalo ditutupin kan nggak kelihatan, lagian disini nggak ada ammi-ammi..” celotehnya polos. Matanya jenaka tanpa dosa.

Jantungku berdegup kencang, ingin sekali bertanya padanya perihal tadi. Yahh.. lagi-lagi bibirku terasa kelu untuk menayakan itu.

“Insan, kok nggak masuk kelas sih?” tanyaku bergetar.

“Enggak ahh. Bosen di kelas.”

“Lho kenapa?”

“Pengen mainan, tapi dimarahin terus sama Ustadzah Reni. Ya mending aku di luar aja.” kilahnya sambil bibirnya maju mundur.

“Eee.. nggak boleh begitu. Nanti, kapan pinternya? Bukankah Rasulullah saja mengajarkan kita untuk bersemangat dalam menuntut ilmu? Kan, kasihan Ummi dan Abi di rumah, udah mahal-mahal bayar buat sekolah Insan?” Bujukku.

“Yaaaahh.. Ustadzah nggak tau siiih.. Ummi sama Abi lebih sayang sama Adik-adik daripada aku…” suaranya melemah, menggantung di udara. Aku semakin membisu. (TAMAT)

Kota Pelajar, Menjelang Fajar, Sabtu 29/03/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s