Ora Ngapak, Ora Kepenak

cilacapTaraaa.. sebentar lagi akhir tahun sekaligus libur Minggu Tenang UAS nih. Hmm, udah pengen cepet-cepet mudik, kangen banget sama rumah, soalnya kalo akhir tahun biasanya Keponakan pada kumpul, apalagi Mbak Dha (Namanya Nadya, tapi nggak mau dipanggil Nadya, maunya Mbak Dha.. -_-” #kecil-kecil udah narsis aja) yang selalu mengusahakan untuk mudik kalo pas Papanya lagi libur dinas. Ngomong-ngomong soal mudik, kemarin dibuat tersenyum-senyum oleh ulah Bapak-bapak Tukang parkir di areal Shopping (Pusat Penjualan Buku yang terletak di belakang Taman Pintar). Melihat huruf depan yang terpampang di plat nomor Mbak Mimi, Bapaknya nanya ke saya begini :

“Plat R Mbak? Cilacap nopo Purwokerto?”

“Cilacap Pak..”

“Oh.. wong Cilacap? Cilacape ngendi kuwe? nyong Kroya..”

“Gandrungmangu Pak..”

“Owalah, ya nyong apal banget…..” selanjutnya, Tukang Parkir tersebut berbicara dengan dialek ngapak pada rekan Tukang Parkir yang lainnya. Karena saya masih menunggu teman yang sedang ke toilet, saya sempat mendengar percakapan mereka yang medok banget ngapaknya, lebih-lebih, ketika Bapak itu akan mengeluarkan motor pengunjung lain dan menggunakan bahasa Indonesia. Pantes saja yah, dulu waktu awal-awal kuliah saya suka diketawain kalo ditanya aslinya mana? Ternyata, Bahasa ngapak memang begitu aneh terdengar di telinga, dan… lucu.

clpHampir lima tahun lamanya tinggal di Jogja, membuat saya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia kepada teman-teman dan Bahasa Jawa Kromo Inggil ketika berbicara dengan Orang yang lebih Tua dan Para Pedagang. Sebab, kebanyakan teman-teman saya berasal dari luar jawa, dan kalau pun ada yang sesama Jawa, mentok-mentoknya Purworejo dan Kebumen, yang agaknya lebih banyak pake akhiran huruf vokal O meski logatnya campur-campur antara ngapak dan ke-wetan-an. Dan rupanya ini mempengaruhi aksen bicara saya yang menjadi lebih terdengar seperti logatnya Orang Wetan pada umumnya.

Kenapa kok ke Orang Tua dan Pedagang pake bahasa Kromo Inggil? Karena, sejak kecil saya terbiasa berbicara matur basa (berbicara dengan bahasa yang halus) sama Orang yang lebih tua atau sepuh. Selain itu, Orang tua di tanah Jawa, (menurut pengamatan saya) lebih respek dan mudah akrab jika berkomunikasi dengan bahasa Kromo. Kalo sama Pedagang, biar dikasih harga murah. Hehehe. Konon, Pedagang di Malioboro mau pun Bringharjo, suka mahalin harga kalo ada Turis. Nah, biar nggak dianggap Turis, maka saya selalu mengusahakan matur kromo inggil. Itu kata temen saya loh yaaa.. dan, emang sih, terbukti. Temen saya yang Orang NTT pernah beli Daster Batik harganya 40 ribu, dan saya cuma 25 ribu, itu pun setelah nawar-nawar gaya emak-emak. 😀

Nah, karena tadi pas lagi nulis inget obrolan Bapak Tukang Parkir, maka saya pun penasaran juga pengen tahu banyak tentang bahasa yang berhasil membuat Madina (Sahabat saya) tertawa terpingkal-pingkal ketika sedang liburan di rumah saya. Hihihi. Ini dia hasil tanya sama Mbah Gugel :

Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak (oleh masyarakat di luar Banyumas) adalah kelompok bahasa bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah CirebonIndramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).

Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.

Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan kelompok bahasa Jawa bagian Timur.

Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap dibedakan dengan Jawa Barat/Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan.

Secara geografis, wilayah Banten utara dan Cirebon-Indramayu memang berada di luar wilayah berbudaya Banyumasan tetapi menurut budayawan Cirebon TD Sudjana, logat bahasanya memang terdengar sangat mirip dengan bahasa Banyumasan. Hal ini menarik untuk dikaji secara historis.

Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran ‘a’ tetap diucapkan ‘a’ bukan ‘o’. Jadi jika di Solo orang makan ‘sego’ (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan ‘sega’. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf ‘k’ yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan oleh masyarakat di luar Banyumas disebut sebagai bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.¹

Hal unik yang sering saya alami ketika mudik dan berkumpul dengan teman-teman semasa sekolah, “Jangan sekali-sekali ngomong pake bahasa bandhek².” Bisa dibully nanti, xixixi. Tapi ini khusus untuk kami wong ngapak yang merantau ke wetan. Alasannya, kita dianggap melupakan tanah asal. Dan kaku juga sih jadinya. Jadi teringat pepatah, “Dimana Bumi dipijak, disitu Langit dijunjung..”. Hmm.

Nah, memang sih.. Bahasa Ngapak itu terdengar agak kasar di telinga, tapi sebetulnya ya biasa saja. Meski demikian, saya tetap selalu bangga menjadi Orang Cilacap. Walau pernah ada yang nyeletuk gini, “Walah ana, wong Cilacap? Jand.. Wong Cilacap ayu-ayu, tapi dadi Ora ayu nek ngapake metu..” (Walah, ada Orang Cilacap? Orang Cilacap cantik-cantik, tapi jadi nggak cantik kalo ngapaknya keluar).

“Ya ben, ora ngapak ora kepenak” (Nggak ngapak, nggak enak).

Padahal, saya juga nggak ngapak-ngapak amat. #kabuuur 😀


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s