Barisan Aksara Penyambung Lidah Langit

1012243_10153100357580195_1358056429_nMaa syaa ALLAH.. Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Hari Ahad ini, agaknya lebih semarak dari hari-hari ahad sebelumnya, alhamdulillahiladzhi bini’matihi tattimusshalihat. Setidaknya, sepanjang hari ini lelahku terbayar sudah dengan perkara-perkara yang bermanfaat bagi diriku khususnya, dan teman-teman semua pada umumnya.

Yang bikin hepi itu, pagi ini juga ada kajian dari KISMIS, yang dibentuk oleh Takmiroh Masjid Ibnu Sina FK UGM. Yang istimewa ituuuu.. Pematerinya adalah… aaaakhh.. Mbak Athirah Mustajab. Siapa sih beliau ini? Kok aku sampe segitunya yak? Hehehe. Jadi, Mbak Athirah ini adalah salah satu Alumni Ma’had Ilmi’ Yogyakarta yang pernah mencicipi rasanya tinggal di Negeri Jiran. Nah, beliau juga merupakan tim redaksi dan editor di beberapa situs islami seperti yufid, muslimah.or.id, dan muslim.or.id. Seneng, selama ini mengenal Mbak Athirah cuma via Whatsaap aja sewaktu aku didapuk jadi Tim Konten di musli**h.or.id. Ehh.. tadi bersua juga, bisa ngobrol pula dengan beliau meski cuma sebentar. Maa syaa ALLAH.

Ini Posternya :

aaaaaaa

Materi yang disajikan oleh Mbak Athirah adalah “Berdakwah melalui tulisan”. Yapp, alhamdulillah.. tadi kebagian makalahnya, tapi kalo dituliskan materi makalah seluruhnya disini bakal panjang lebar, dan minim waktu buat nyalin ulang, mengingat tadi nggak bawa flashdisk, jadi terpaksa deh nggak bisa minta filenya. Jadi, saya tuliskan saja deh mukaddimahnya, ya ya ya? yang legowo yaa? 😀

Menulis adalah salah satu cara mengikat ilmu. Dengannya pula kita bisa menasihati diri sendiri. Referensi yang kita kumpulkan, huruf yang kita ketikkan, mau tidak mau akan punya bekas di hati, sedikit atau pun banyak.

Dari zaman ke zaman, sejak kurun salaf hingga khalaf, menulis juga jadi salah satu usaha untuk menasihati umat. Selain kajian di majelis-majelis ilmu dan ceramah di mimbar-mimbar Jum’at.

Dengan menulis naluri bisa terpanggil, sanubari bisa terketuk. Dengan menulis pula, langkah kaki yang lurus bisa bengkok ke jurang kebinasaan; atau malah bisa sebaliknya, dari jurang kebinasaan berputar arah menuju padang keselamatan.

Hidayah memang ada di tangan ALLAH. Tapi sebagai seorang muslim yang yakin akan wajibnya ikhtiar, kita berusaha menyajikan tulisan sebaik mungkin. “Baik” itu mencakup :

  • Shahih (benar) isinya
  • Apik gaya bahasanya
  • Lentur pilihan diksinya
  • Mudah dipahami susunan kalimatnya
  • Nyaman dibaca tampilannya

Kalau kita buka mata, ribuan bahkan jutaan tangan tengah melambai-lambai merayu manusia untuk jadi pengikut ke jalan kemaksiatan. Kita lihat di koran, majalah, internet, televisi … subhanALLAH berbagai cara ditempuh manusia untuk menyajikan kemaksiatan sebagai barag yang “cantik menarik”.

Lalu kita, yang sudah kenal Islam yang kaffah ini? Ayo, kita bangkit dan raih tangan saudara-saudara kita! Jangan sampai jalan kebinasaan menyedot mereka ke dalam lubang hitam, yang tak membiarkan mereka lepas, yang kian hari menenggelamkan mereka semakin dalam.

Kita berada dalam acara ini untuk meraih ilmu. Paling utama untuk diri kita sendiri. Setelah itu, kita berharap ilmu ini penuh berkah; bermanfaat untuk kerabat terdekat, hingga orang-orang yang tak punya hubungan darah sekalipun dengan kita. Meski amal ini ringan, semoga tetap mendatangkan berkah yang banyak nan berlimpah.

“Yaa ALLAH, jadikanlah kami (manusia) yang penuh berkah di mana pun aku berada. Jadikanlah kami orang yang pandai bersyukur kala diberi, bersabar kala diuji dan beristighfar kala berdosa.”

254578_10150668079710195_3123357_n

Nah, itu mukaddimahnya. Maa syaa ALLAH, barakallahufiihi. Sepakat dengan apa yang disampaikan Mbak Athirah dalam kalimat pembuka makalahnya. Bahwasanya, kita sebagai Umat Islam, seyogyanya senantiasa haus dan merasa butuh akan nasehat. Mungkin iya, yang paling membutuhkan nasehat sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Namun, bagaimana jika nasehat itu hanya untuk diri kita sendiri? Lalu, siapa yang akan mengingatkan tatkala kita salah? Meluruskan ketika berbelok dari jalan kebenaran? Bukankah Agama adalah nasehat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Daary –radhyallahu ‘anhu-,

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi ALLAH, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.”

(Hadist Riwayat Muslim)

Untuk berdakwah, tidak harus kita membahas perkara yang berat-berat, terutama yang ilmunya masih ecek-ecek macam saya ini. Yang menyampaikan dakwah pun tidak harus bergelar Lc atau pun S. Ag. Dakwah disini, adalah menyampaikan kebenaran, menyampaikan suatu ilmu yang kita pernah belajar tentangnya, sebatas yang kita ketahui dan pahami dengan tujuan untuk memberitahu kepada orang lain yang belum memiliki pengetahuan tentangnya. Misalnya, ada teman kita yang masih makan dengan tangan kiri. Kita contohkan padanya terlebih dahulu dengan makan menggunakan tangan kanan, sembari berkata pelan-pelan, “Ayo.. makan pake tangan manis (tangan kanan).. Rasulullah pernah bilang loh, katanya kalo makan pake tangan kiri itu kayak cara makannya Jin.. hehehe..” atau semacamnya.

Menulis, bisa menjadi ladang dakwah bagi kita. Tentunya, tulisan yang kita buat harus bermanfaat, dan sesuai dengan koridor syari’at. Teladanilah Para Ulama kita terdahulu, yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menulis dan meneliti ribuan hadist, seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani -rahimmahullahu ta’ala- yang dengan pertolongan ALLAH-lah, sampai kepada kita pengetahuan tentang hadist-hadits dhaif, ma’udu, hasan, shahih, dll yang pernah beliau klasifikasikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang sangat masyhur dengan begitu banyaknya karya-karya beliau, yang konon mencapai 500 jilid lebih, atau bahkan ada yang mengatakan tidak dapat dihitung, saking banyaknya. Maa syaa ALLAH. Berikut adalah kisah beliau, yang saya copas dari Website milik Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal -hafidzhahallahu ta’ala- http://www.rumaysho.com :

Ibnu Taimiyah adalah orang yang tidak pernah melalaikan sedikit pun dari waktunya. Beliau selalu sibukkan waktunya dengan belajar, menulis atau ibadah. Kalau mau dihitung hasil karyanya, ada ratusan yang sulit sekali dihitung, bahkan beliau sendiri sukar untuk menghitungnya.

Ibnu Syakir Al Katbiy berkata, “Karya beliau telah mencapai 300 jilid. Adz Dzahabi berkata bahwa karya Ibnu Taimiyah sampai saat ini telah mencapai 500 jilid.”

Ibnul Qayyim berkata, “Aku telah menyaksikan bagaimana kuatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam mengikuti sunnah, dalam berbicara, dalam berjalan dan dalam menulis. Semua itu sangat menakjubkan. Dalam sehari beliau bisa menulis sebagaimana seseorang yang cuma sekedar menyalin (copy-paste) yang menghabiskan waktu satu Jum’at (satu minggu) atau lebih dari itu.”

Al ‘Allamah Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Adapun karya tulis beliau, maka sungguh teramat banyak hingga tersebar di berbagai penjuru negeri. Tidak ada seorang pun bisa menghitungnya.” (Dinukil dari Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah, 4: 172-173)

Faedah dari perkataan murid Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Madarijus Salikin (3: 129-130), di mana beliau berkata,

وإذا أراد الله بالعبد خيرا أعانه بالوقت وجعل وقته مساعدا له وإذا أراد  به شرا جعل وقته عليه وناكده وقته فكلما أراد التأهب للمسير لم يساعده الوقت والأول كلما همت نفسه بالقعود أقامه الوقت وساعده

“Jika ALLAH menghendaki kebaikan pada seseorang, maka ALLAH akan menolongnya untuk memanfaatkan waktu dengan baik, waktu tersebut yang akan menolongnya. Sebaliknya, jika ALLAH menghendaki kejelekan, waktunya malah jadi celaka untuk dirinya. Waktu tersebut akan merintangi dan tidak akan menolongnya. Jadi, kalau ia punya semangat yang kuat untuk memanfaatkan waktu dalam kebaikan, waktu tersebut akan mendukung dan menolongnya”

Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :

Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi

Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.

Daripada kita nulis gaje (nggak jelas), selfie-selfie, curhat nggak penting di status facebook, yang isinya tidak memberi manfaat apapun bagi kita maupun pembaca, yuk, rame-rame belajar menulis sedikit-sedikit tentang ilmu yang kita peroleh di kajian. Tentu saja, bukan hanya menukil dari Kitab tanpa Guru. Meskipun baik kita belajar hanya membaca dari Kitab, akan tetapi biasanya banyak salahnya jika tidak dengan bimbingan Guru. Dan, pastikan juga yaa, tulisan kita itu nggak asal copas, harus dari sumber yang shahih, jadi tidak menyesatkan pembaca. Nah, kalo ada pengetahuan yang kita tidak ketahui tentangnya, katakanlah.. “Laa adri..” (saya tidak tahu), daripada ngeyel dan bersikukuh bahwa tulisan kita benar? Alih-alih mendakwahi, malah jadi ajang perdebatan yang tak berkesudahan.

Menulis membuat kita abadi, meski Pusara-pusara kita telah mengering, namun tulisan-tulisan kita abadi. Maka, menulislah yang baik, tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat, sebab, pahalanya akan terus mengalir. Jadilah Penyambung Lidah Langit, semoga ALLAH merahmatimu. Aamiin.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, dan bukan berarti aku orang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk tata kepada-Nya, tidak pula melarang untuk memaksiati-Nya..”¹

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s