Jangan Ditumpahkan, Sayang!

Makan BerantakanBetapa terkejutnya Ummu Zahra, ketika mencium aroma minyak kayu putih memenuhi ruang tamu. Setelah diamati, ternyata minyak kayu putih sudah berceceran di lantai. Sementara Zahra, putri mungilnya yang baru saja ditinggal shalat dzuhur, tampak tersenyum manis di pojok ruangan sambil membawa botol kosong. “Jangan ditumpahkan dong Sayang…”, meski terlambat, ia ucapkan juga kalimat itu untuk menasehati putrinya.

Jika anda memiliki anak usia 1-3 tahun, mungkin anda pun pernah dibuat kesal karena si kecil suka menumpahkan sesuatu, seperti minyak kayu putih, babby oil, bedak dan sebagainya. Suka menumpahkan segala sesuatu adalah “hobi” bagi bocah berusia tiga tahun ke bawah (batita). Orang tua tak perlu risau bila si kecil berperilaku demikian, karena itu merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Meskipun demikian, si kecil tetap perlu diarahkan.

PAHAMI ALASAN ANAK

ivanhooart4Mengapa anak suka menumpahkan isi botol? Aktivitas ini sebenarnya terkait dengan tahap perkembangan kognisi, emosi dan motorik anak. Itulah mengapa orang tua harus beredia memahami dulu alasan si batita melakukan hal tersebut agar bisa memberi arahan secara tepat.

  • Belum Memahami Fungsi

Di usia batita umumnya anak belum memahami fungsi benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk minyak kayu putih dan sejenisnya. Contohnyya, fungsi minyak kayu putih adalah untuk menghangatkan badan. Ketidaktahuan tentang fungsi masing-masing benda inilah yang antara lain mendorong anak untuk menumpah-numpahkan isi botol.

  • Senang Berekplorasi

Alasan lain, anak usia ini sedang giat-giatnya berekplorasi terhadap hal-hal baru. Saat membuka botol dan membalikkannya, ia menemukan ada yang mengalir atau menetes dari botol itu, dan hal ini membuatnya heran dan tertarik. Ketertarikan itulah yang membuatnya melakukan hal yang sama secara berulang. Ketika isinya tumpah di lantai, anakpun punya objek eksplorasi baru, entah dengan sekedar mengamati, menyentuh, atau malah mengaduk-aduknya. Semakin banyak cairan yang tumpah, anak akan kian tertantang untuk memain-mainkan tumpahan ini.

  • Kemampuan Motorik

Kegiatan menumpah-numpahkan cairan dari botol tentu tak bisa dilepaskan dengan kemampuan motorik anak yang berkembang lebih baik dari tahapan usia sebelumnya. Kemampuan motorik yang mengalami peningkatan pesat ini bisa dilihat dari senangnya anak usia batita mengangkat-angkat atau menggoyang-goyangkan tangan, maupun jemarinya. Mirip dengan kesenangan anak saat berjalan hilir mudik ketika kemampuan berjalannya mulai dirasakan semakin baik.

Di lain pihak, kemaamapuan motorik yang belum berkembang sempurna sering menjadi penyebab tupahnya benda apa saja yang dipegang anak. Contohnya, makanan dalam piring atau air dalam cangkir. Lazimnya anak usia ini memang mulai belajar makan sendiri. Sayangnya karena kemampuan motoriknya belum sempurna, meyendok dan menyuapkan makanan ke mulut pun menjadi tugas yang teramat berat untuk dilakukan secara “benar”.

Bila anak kemudian merasa frustasi sangat mungkin ia akan sengaja menumpah-numpahkannya ke lantai. Kemungkinan lain, berdasarkan hasil eksplorasinya batita menemukan hal-hal baru yang menarik: makanan yang tercecer, denting sendok yang dijatuhkan ke lantai, dan respons “heboh” dari orang tua atau pengasuh.

  • Sering Mengulang-ulang

Di usia ini lazimnya anak juga senang sekali mengulang-ulang perilau tertentu. Contohnya, ketika mengocok atau mengguncang-guncang wadah bedak dan tanpa sengaja ada yang tumpah, anak pasti akan senang kemudian tertarik untuk mengulang-ulang aktifitas tadi. Dengan kata lain, tindakan ini bermula dari ketidaksengajaan yang kemudian jadi kegiatan yang menyenangkan.

  • Ingin Bermain

Bosan dengan aktifitas yang itu-itu saja setiap hari, membuat anak tergerak mencari alternatif permainan lain. Nah, ketika dia tahu bahwa menumpahkan isi botol adalah kegiatan yang mengasyikan, maka dia ingin melakukan dan melakukannya lagi. Tak heran bila banyak anak yang tiba-tiba minta diambilkan botol babby oil atau wadah serupa lainnya hanya untuk ditumpah-tumpahkan isinya.

  • Mencari Perhatian

Banyak hal yang akan dilakukan anak demi mencari perhatian orang tua. Perilaku yang tidak disangka-sangka oleh orang tua semisal menumpahkan isi botol, mungkin juga merupakan bentuk mencari perhatian. Bisa jadi saat itu orang tua tengah asyik memasak, baca buku atau koran, atau melakukan kegiatan lain yang membuat anak merasa terabaikan. Sementara respon yang diperlihatkan, yakni “heboh” dengan berteriak atau pasang mimik kesal, akan membuat anak merasa ditanggapi hingga ia makin tertarik untuk melakukannya setiap kali minta diperhatikan.

AJARKAN TANGGUNG JAWAB

IMG_0460Sejauh terkait dengan proses perkembangan anak usia batita, perilaku menumpah-numpahkan sebetulnya merupakan tindakan wajar. Akan tetapi orang tua tetap perlu mengarahkan buah hatinya agar hasil yang didapat jauh lebih bermanfaat dibanding hanya didiamkan saja. Sebagai orang tua, kita tetap harus mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, walau mungkin mayoritas anak batita masih sulit memahaminya, namun setidaknya ia sudah mendapat sinyal sedini mungkin mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Anak jadi tahu kalau air dalam gelas, babby oil, minyak kayu putih, bedak dan sejenisnya bukan benda yang boleh ditumpah-tumpahkan begitu saja, melainkan harus digunakan sesuai fungsinya.

Beberapa hal berikut harus diperhatikan saat mengarahkan anak agar apa yang kita sampaikan dapat diterima anak dengan baik.

  • Jaga Sikap

Tetaplah bersikap manis saat menjelaskan kenapa anak tak boleh menumpah-numpahkan sesuatu. Contohnya dengan mengatakan, “Lihat tuh, lantainya jadi licin kan? Nanti kamu terpeleset gimana?” Dengan menyingkirkan rasa jengkel atau kesal menghadapi ulahnya justru akan memudahkan anak memahami apa yang kita inginkan. Namun, mengingat kemampuannya untuk memahami masih amat terbatas, jangan terlalu berharap arahan kita langsung dipahami dan dipatuhi. Apalahi di usia ini keinginan bereksplorasinya amat tinggi.

  • Tidak Emosional

Kadang Orang tua langsung terpancing emosinya dengan berteriak sekencang mungkin sat melihat anak menumpahkan sesuatu. Sikap itu kurang tepat, karena malah bisa membuat anak jadi ketakutan. Sebaiknya nasehatilah anak dengan lemah lembut. Ingatlah bahwa perilaku si batita bukanlah tindakan ang salah. Ia hanya berlaku sesuai proses pertumbuhannya. Pemahaman ini akan sangat membantu orang tua untuk tidak bersikap emosional.

  • Harus Konsisten

Dalam hal apapun, termasuk mengarahkan anak, orang tua harus bersikap konsiisten. Dengan demikian anak akan terus menerus terarahkan hingga diharapkan akan muncul kebiasaan baru yang sesuai dengan arahan orang tua. Sebaliknya, hindari inkonsistensi, misalnya hari ini dilarang tapi besok dibolehkan. Ketidakpastian sikap ini hanya akan membuat si anak bingung mana yang sebenarnya boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Alih-alih ia menuruti arahan orang tua, anak justru berpeluang besar bersikap semaunya.

  • Ajak Anak Untuk Ikut Bertanggung Jawab

Agar arahan dari Orang Tua bisa efektif, anak harus diajak ikut bertanggung jawab membersihkan apa yang ia tumpahkan. “Lho, kok ditumpahin, lantainya jadi kotor kan? Ayo sekarang ambil lap, dipel biar nggak licin..” Pembiasaan seperti ini akan membuat anak semakin sadar hingga di lain waktu yidak akan menumpah-numpahkan apapun. Di samping itu, dengan melibatkan anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, anak justru memiliki pengalaman baru yang tidak kalah mengasyikkan, yakni membersihkan lantai.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s