Malaikat Tak Bersayap

yesi.jpgSudah beberapa hari ini tamu tak diundang yang kehadirannya begitu mengganggu kestabilan emosi dan fisik datang menyapa. Untunglah, kali ini dia tidak membawa pasukan Bintang Kejora yang bentuknya mengganggu pemandangan di wajah, alias Jerawat. Legaa. Tapi ya itu, kehadirannya kali ini membuat perasaanku jauh lebih sensitif, nangis nggak jelas, ngomel-ngomel mulu, dan pengen makan terusss. Pre-Menstruation Syndrome (PMS).

Mungkin banyak dirasakan oleh sebagian besar wanita, ketika menghadapi siklus bulanannya ini badan berasa lebih pegel dari biasanya, perut kram, lemes, bahkan ada yang pusing dan sampai pingsan. Alhamdulillah, sejauh ini aku belum pernah pingsan karena PMS, hanya kalo perut sudah nyeri, langsung minum Asam Mefenamat atau Paracetamol untuk meredakan rasa nyeri yang awalnya di sekitar perut saja, namun entah mengapa kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Berhubung ada riwayat sakit pada Lambung, jadi dokter menyarankan mencukupi dengan Paracetamol saja. Padahal, Asam Mefenamat lebih cepat reaksinya untuk meredakan nyeri. Menurutku sih.

Hal yang paling nggak aku sukai ketika mau kedatangan si Bulan a.k.a Menstruasi adalah perasaan dan emosional yang mendadak nggak bisa terkontrol dengan baik. Kalo hari normal (waktu ngga haid), mau nyuci baju misalnya, enjoy aja. Mau panen cucian seminggu juga dijabanin, nggak ngeluh, dkk. Ealah, kalo pas PMS lihat cucian banyak badan mendadak pegelnyaa, sambil meres baju sambil nangis, hehehe.. sampai diketawain temen-temen kost. Liat kamar berantakan langsung bad mood banget, liat baju belum diseterika, koneksi internet lelet, denger temen berisik, parkiran motor nggak rapi, bensin menipis, telpon Adek, Mbak, Ortu lama diangkatnya, itu rasanya mendadak bikin sedih, jengkel, sebel, bete, ahh.. dan perasaan galau yang pada hari biasa cukup dimusnahkan dengan tilawah, wudhu, atau dzikir, rasanya berbanding terbalik banget kalo udah PMS. Padahal Rasulullah berwasiat kepada kita, “Laa taghdab wa lakaal Jannah..!”.

Nah, biasanya kKangen Denokalo kepala udah sepaneng, uring-uringan dan bad mood, mulai deh buka-buka foto Keponakan. Entahlah, seketika moodnya mendadak baik. Apalagi kalo liat fotonya Denok (Namanya Claudia, 2 tahun. Tapi, kebiasaan di keluargaku suka memberi julukan-julukan kecil, jadi dipanggilnya Denok 😀 padahal belum tentu Denok mau dipanggil Denok, apalagi Denok Debong.. 😀 untunglah, dia belum bisa protes.. 😀 ).

Liat wajah-wajah polos Keponakan, Mamas Ajibonk (Aji), Kakak Ifun (Icha), Mbak Dha (Nadya) rasanya nyess. Ingin membersamai mereka lagi lewat pintu kemana sajanya Doraemon #plakplak banguun :D. Iya, kalo lihat wajahnya mereka aku suka senyum-senyum sendiri, membayangkan pas lagi menderita begini #halaah lebay -_-” ada mereka yang mijitin aku, ambilin makanan di Warungnya Mamah, trus cerita-cerita sama mereka, liat mereka tertawa, berantem, trus baikan lagi, belum ada lima menit, yang satu nangis kejer, yang satunya berlindung di belakang Mamah sebelum kena semprot Adekku yang paling bontot.. xixixi.. aaaaah.. kalo sudah menceritakan mereka, rasanya pengen cepet-cepet Lebaraaan. Karena Lebaran adalah satu-satunya moment dimana kami berlima belas bisa saling bersua, karena jarak yang membentang dari Cilacap, Jogja, Tegal dan Surabaya, yang memisahkan kami dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

Malaikat-malaikat kecilku yang nanti pada masanya akan beranjak remaja, kemudian mendewasa. Yaah, sebab itulah, setiap berkesempatan untuk berada di tengah-tengah mereka, rasanya tangan ini gatel buat merekam tingkah “ada-ada sajanya” mereka. Memotret kelucuan mereka, Maa syaa ALLAH, barakallahu fiikumma Malaikat Kecilku yang Tak Bersayap ❤ . Kadang, aku ingin, mereka ya seperti itu saja, tidak tumbuh mendewasa, agar mereka tetap polos, tetap lucu, tetap rame, tapi sayangnya, kelak mereka pun akan mengalami menjadi seperti aku. Aku hanya tidak ingin mereka berubah, menjadi Orang lain yang tidak aku kenal. Melihat keluar sana, anak-anak yang ketika bayi masih suci, kini telah ternoda oleh jaman yang semakin mengkhawatirkan.

Yaa ALLAH.. berilah rahmat-Mu kepada Malaikat-malaikat Kecilku, agar ketika mendewasa nanti, mereka teguh di atas agama-Mu, jauhkanlah mereka dari kejahatan Dunia di luar sana. Aku tak ingin mereka berjelaga dosa seperti kami, Pendahulunya.

Hhhhh… Mungkin, suatu hari nanti ketika aku pun memiliki Malaikat Kecil yang terlahir dari rahimku, tak ingin kulewatkan sedetik pun masa emasnya, dengan mengabaikan hak-hak mereka. Sungguh, masa kanak-kanak hanya sebentar. Mungkin pada jamannya Putra-putriku menyapa dunia, meremaja dan mendewasa, tidaklah sama seperti jamanku kecil dahulu. Ketika lompat tali, main kelereng, Memori Daun Pisang, petak umpet, gobak sodor, dingklikan masih menjadi permainan favorit generasi 90’an. Iya Nak, mungkin ketika kau hadir menyapa kami, menyemarakkan hari-hari kami, di luar sana akan lebih bising, tidak setenang dan senyaman di dalam perut Ummi, tapi semoga saja.. ALLAH memberi kekuatan pada kami, Orang Tuamu, agar senantiasa bertaqwa kepada ALLAH, mendidikmu menjadi Generasi-generasi Terbaik, menshalih dan menshalihah-kan mu ya Nak? Aamiin.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Rabbi hablii minash shaalihin

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih”

(Surah Ash Shaffaat ayat 100)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s