Mbak… Seandainya Kau Tahu

18-Creative-DIY-Ideas-That-Re-purpose-Old-Objects-HOMESTHEITCS-13Lihat Kalender, sudah menunjukkan tanggal 20 Desember. Sebentar lagi Natal ya? Hmm, tadi Keponakan telpon..

“Tante Tyas, mau kasih hadiah aku apa? Kemarin waktu aku Ulang Tahun, Tante nggak ngasih apa-apa. Masa Natal aku juga nggak dikasih Kado sama Tante?” Glekk.. tak lama berselang terdengar Mbak bersuara,

“Tante Tyas itu Muslim Kakak. Kakak Icha itu Kristen, Tante nggak ngerayain Natal.”

“Tapi kenapa kita ngerayain Idul Fitri Mah?”

“Karena Mbah Muslim..”

“Kenapa kita nggak jadi Muslim aja Mah?”

Hening…..

___

Air mataku tak dapat kubendung. Ada rasa sakit yang mengakar disana, di kedalaman hatiku. Ketika air mata menjalar di kedua pelupukku, ia kutekan jauh di hati, namun tak jua surut, mereda. Ia semakin menderas, mengalir, bersama perih yang tak terkatakan. “Mbak…” bisikku lirih, tenggelam diantara riuhnya Icha yang kehilangan mood ngobrol dan akhirnya mengganggu Adiknya, Claudia. Bisa dipastikan hape digeletakkan begitu saja. Dasar anak-anak.

Teringat kenangan masa kecil bersama Mbak Yayan dan Mbak Aan. Kala itu, mereka bersekolah di Yayasan Kristen Satya Indriya di Cilacap. Aku pun sempat mencicipi bangku TK disana. Setelah masuk SD, yang kutahu, kedua Kakakku sering berangkat ke Langgar¹ yang terletak tidak seberapa jauh dari belakang rumah kami. Aku, ikut saja waktu itu. Disana, aku melihat kedua Kakakku tekun ngaji, mengenakan mukena, dan aku pun mengenakan mukena, tentu saja bukan untuk ngaji, tapi untuk bermain-main dengan teman-teman sebayaku.

Alhamdulillah, ternyata, kala itu adalah awal mula hijrahnya keluarga kami pada Agama Islam. Sebuah nikmat yang kusyukuri hingga detik ini. Aku bahagia, melihat Mbak-mbakku bisa ngaji dengan tartil yang baik, bahkan sampai beberapa kali khatam Al-Qur’an. Sedangkan aku, selalu kabur kalo disuruh ngaji. Begitu seterusnya, kami tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga Muslim, kecuali Mamas tertuaku, Mas Korin, dia masih tetap di atas Agama Katholik, hingga pada tahun 2002 dia mengucapkan dua kalimat Syahadat ketika menikahi seorang Wanita cantik yang kini menjadi Ibu dari Keponakanku, Aji.

Kedamaian begitu terasa di dalam keluarga kami, akhirnya, kami utuh menjadi Keluarga muslim. Meski, tidak sereligius keluarga muslim yang memang murni terlahir “Muslim”. Namun, rupanya kedamaian itu tidak berlangsung lama. Pada November 2004, sebuah musibah besar menimpa Keluarga kami. Harusnya, kami berbahagia kala itu, karena, Mbak Yayan akan menikah dengan seorang Pemuda dari Pulau seberang, seorang Lulusan Akademi Militer TNI Angkatan Laut, berpangkat Letnan Satu. Bencana itu datang dari sebuah telepon yang mengabarkan, “Pak… Aku dibaptis…”.

_______

Mbak… seandainya kau tahu, betapa hancur berkeping-keping hati Mamah dan Bapak kala itu. Aku pun tahu, kau disana tak menginginkan ini. Apalah daya, aku pun tak tahu harus berbuat apa, yang kutahu kala itu, kau telah menanggalkan jilbabmu. Kau tak mau menjawab pertanyaanku, “Mbak.. ini bacanya apa?”, “Mbak, setelah Nabi Musa itu Nabi siapa?”. Kau ingat? Aku sedih Mbak.. aku sedih, kau seperti bukan Mbakku lagi. Yang dulu selalu merapikan jilbabku ketika kita mau ke Langgar, kau yang selalu mengalah dan meminjamkan baju panjangmu untuk kupakai, lalu kubawa bermain tanah. Kau yang mengajariku berdoa ketika sahur, bahkan.. kau selalu membangunkanku untuk menemanimu Shalat Tahajjud dan Sahur ketika kau akan puasa Senin Kamis menjelang UMPTN. Mbak, ingat tidak Mbak? Aku ingat sekali..

Mbak, alhamdulillah ALLAH memberiku hidayah. Aku memilih jalan ini, yang aku pun pernah dengar Icha berkata, “Kata Papa, Tante Tyas itu kayak Teroris..” aku tidak sakit hati karenanya, tapi.. aku tak kuasa menahan haru… ketika Putri kecilmu bertanya padaku sewaktu dia kubawa ke Jogja,

“Tante.. kenapa selalu wudhu ketika mau sholat?”

“Biar wajah kita bersinar Kak.. Setiap bagian tubuh kita yang kena air wudhu itu, nanti akan bercahaya di akhirat..”

“Kalo gitu, aku mau deh wudhu.. Ajarin ya Tante?”

Kemudian, putrimu berwudhu Mbak, sepertiku, dan sepertimu dulu…. Lalu, ketika hendak shalat, aku lihat.. aku lihat, dia memperhatikanku. Dan dia meminta Mukenaku, lalu…. Dia shalat Mbak!! Yang membuatku terpukul bertubi-tubi adalah ketika dia berkata,

“Tante… aku pengen sholat. Aku pengen jadi Muslim kayak Tante Tyas, Tante Wi, Tante Ri, Tante An, Mbah Haji. Biar wajahku bersinar di akhirat nanti..”

Yaa Rabbi! Mbak.. teman-teman Wismaku adalah Saksi sejarah itu. Aku jatuh tersungkur pada sujud terakhir, ketika Gadis kecil itu, berdiri di sampingku, dalam barisan shaf kami. Mbak… wajahnya bercahaya! Polos, tanpa dosa. Ia seperti Malaikat! Aku tak kuasa Mbak.. aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Dia menatapku heran Mbak, bertanya,

“Tante.. kenapa Tante…?”

Aku tak sanggup menjawab, aku tak mampu, yang kutahu, sungguh, aku ingin meminta Bidadari kecilmu itu dari sisimu, agar ia selalu bersamaku selamanya. Akan kubawa ia hingga ke Jannah-Nya.

Maafkan aku Mbak, maafkan aku harus membenci perbuatanmu. Tapi sungguh Mbak, kau Kakakku yang kucintai, bahkan aku pun tak rela kau tersakiti oleh siapa pun. Mbakku tersayang, maafkan aku tak pernah mengucapkan selamat Natal untukmu Mbak. Maafkan aku, tak dapat berlama-lama di rumahmu yang megah itu, bukan aku tak suka.. tapi Mbak, tiadalah tenang aku shalat jika Malaikat pun enggan memasuki rumahmu, yang Salib berdiri tegak di dalamnya.

Mbak, seperti Rasulullah yang tak dapat menyelamatkan Pamannya dari siksa api Neraka karena ia enggan masuk Islam, begitu pula denganku, yang tak tahu bagaimana caranya meminta pada ALLAH agar kita semua bersatu di Surga-Nya. Yang kutahu, hanya mendo’akanmu agar ALLAH memberimu hidayah Islam, dan mengembalikanmu di tengah-tengah kami lagi. Kita ngaji bareng, aku menceritakan pada Icha dan Claudia Kisah Nabi Yusuf, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, tentu saja tak lupa, Nabi Besar Umat Islam yang Mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mbak.. aku rindu Shalat Ied bersamamu…

Mbak.. aku rindu kau mengajariku surat-surat pendek…

Mbak… aku rindu melihatmu mengenakan Mukena…

Mbak.. kembalilah bersama kami… dalam naungan Agama Islam…

Namun Mbak…

Bukanlah hak-ku memaksamu untuk kembali menjadi Mbakku yang Shalihah..

Jika memang itu menjadi pilihanmu yang tangan, lisan dan perbuatanku tak mampu mengubahnya.. maka cukuplah bagiku….

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Lakuum diinukum waliyya diin

“Untukmu Agamamu, dan untukku lah Agamaku..”

(Surah Al-Kafirun Ayat 6)


  • Pesan untuk Saudari-saudariku yang dirahmati ALLAH. Banyak fenomena yang kutemui, betapa Agama kini bukanlah patokan utama untuk memilih seorang Suami. Pernah, ada seorang teman, curhat padaku, bahwa dia tengah berpacaran dengan seorang laki-laki beragama Nashoro. Tak banyak yang kusampaikan, kala itu, hanya kuceritakan saja kisah mereka yang pada akhirnya Murtad. Dan ia pun mengakui, bahwa secara halus, Kekasihnya mengajak temanku itu mengenal agamanya. Saudariku, ketahuilah.. banyak mereka yang menghalalkan dusta untuk membuatmu menjadi seorang nasrani. Bisa saja, mereka mengaku mau memeluk Islam, menjadi mu’alaf, namun.. tak sedikit justru mereka banyak yang berhasil menjadikanmu murtad. Jika kalian merasa keimanannya cethek, jangan coba-coba menerima pinangan atau ajakan pacaran dari Orang-orang selain dari Agama Islam. Shalat bolong-bolong kok ngoyo meh ngislamke wong? Berhati-hatilah Sayang, Saudariku Muslimah.. hidup hanya sekali. Jangan salah mencari tempat berlabuh, jangan salah memilih Nahkoda bagi Sampanmu. Pacaran itu dosa, murtad, lebih dosa lagi Ladies.. bahkan, membuatmu kekal, abadi, selama-lamanya di Neraka Jahanam. Waiyyadzubillah. Ladies, sebelum halal ikatan kalian, jangan mau dibawa-bawa ke rumah Kekasihmu, yang belum tentu menjadi Suamimu itu. Kisah yang sampai kepadaku, mereka, wanita seorang diri, dibawa ke tempat Calon Suaminya dengan alasan untuk persiapan pernikahan. Ah.. nyatanya, wanita yang bersendirian itu di tengah orang-orang Asing, rupanya tengah dibaptis, tanpa sadar, tanpa kuasa menolak. Berhati-hatilah.
  • ¹ Langgar adalah sebuah Surau atau Mushalla kecil di Kampung kami.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s