Menjadi Istri, Haruskah Pandai Masak?

cooooookPernah ditanya, “Mbak, bisa masak?” lekas saya jawab, “Bisa in syaa ALLAH..”

“Enak?”

Nah.. itu pertanyaan yang sulit. Hehehe. Hmmm.. berbicara soal masak-memasak, kalo ditanya bisa masak, ya saya memang bisa masak sejak kelas empat SD. Tepatnya pada waktu acara Kemah Hari Pramuka. Saya itu Orangnya paling males kalo harus capek-capek jalan kaki mencari jejak, halang rintang atau apa pun itu yang mengharuskan saya jalan kaki jauuuuh di medan yang terjal, trus harus panas-panasan dan melakukan aktifitas yang sangat menyita energi seperti push up kalo melakukan kesalahan atau panjat-panjat tebing. Makanya, kalo ada kegiatan Pramuka saya selalu mengajukan diri untuk jadi Juru Masak biar di Tenda aja. Minimal, sepanas-panasnya di Tenda, secapek-capeknya nguleg, badan ngga sakit-sakit amat. #maunyaenaknyaaja 😀 😀 e tapi saya juga capek loh di tenda, beresin tas temen-temen, nyapu, nyuci piring, beres-beres. Ketahuan kan yaa saya tipe Orang rumahan, enggak suka keluar-keluar kalo nggak penting-penting amat. #ngeles 😀

Banter-banternya saya masak, paling sering masak Tumis, Soto, Gulai Daun Singkong, Sayur Lodeh, Sop Ayam, atau Sayur Bening, yang ringan-ringan aja deh. Daaan.. sejak SD hingga kemarin itu, seumur-umur saya belum pernah masak yang namanya hasil Laut. Well.. karena saya memang tidak makan Ikan. Bukan pantangan atau apa sih, cuma saya ada alergi dengan Hewan Air. Dan, sama sekali nggak tertarik buat masak seafood, hingga pada akhirnya saya menyadari, bahwa suatu hari nanti, saya pun harus masak untuk teman hidup saya, yang boleh jadi Penggemar Seafood. Dan, nggak mungkin juga kan yaa, gegara saya alergi dan nggak doyan Ikan en frenfrennya, lantas anak saya besok makan tetumbuhan melulu? Padahal, Protein Hewani dan Gizi Ikan yang tinggi sangat bermanfaat sekali bagi tumbuh kembang anak-anak saya kelak. Hmm.. hmm..

fishUntuk pertama kalinya sepanjang hidup saya, saya belanja Ikan sendiri ke pasar dan nyuci sendiri Ikan Mujair yang gendut-gendut itu. Rasanya? Jangan ditanya, antara gigu dan serem. Yaa ALLAH, enggak tega gitu liat Mayat Ikan dan matanya terbuka begitu.. hiii.. tapi Mamah teriak-teriak dari arah pintu dapur, “Besok, yang makan masakanmu itu Anak Orang, bukan Herbivora…” argghhh.. baiklaah, saya buang jauh-jauh bayangan arwah Mayat Ikan itu bergentayangan mengganggu tidur saya.. xixixi.. #plakplak

Daaan.. alhamdulillaah, setelah bersusah payah #halaah memutilasi dan membumbui Ikan itu, saya goreng deh seperti goreng Donat. Hasilnya? Yes!!! Kurang Mateng! hadeeeh.. -_-” meski Bapak menghibur, “Nggak papa, yang penting udah tau bumbunya. Soal cara memasak, minimal udah tau dasar-dasarnya..” iya sih, yang namanya masak sebenernya siapa saja bisa masak, asal sudah punya ilmu dasar memasak. Hal yang patut saya syukuri, se-nggak enak-nggak enaknya masakan saya, saya tau caranya menumis Kangkung, merebus telur, nguleg sambel dan ngasih takaran garam dan gula dengan ilmu Kiro-kiro. Kiro-kiro wis asin, kiro-kiro wis legi, kiro-kiro kurang asem. 😀 Coba bayangkan, kalo saya nggak tahu gimana caranya menumis? Caranya nguleg biar Bawang merah dan Bawang Putihnya nggak gangnam style?, cara mensiasati biar Kangkung yang dibeli kemarin sore nggak menguning, cara masak nasi biar nggak rasa aron? kata Mamah, “Ora usah dadi wong wadon nek kaya kuwe…” (Nggak usah jadi Perempuan kalo seperti itu -red).

Ehmm.. tapi ngomong-ngomong, memangnya menjadi wanita itu mutlak harus pandai masak ya? Mutlak enggak yaa? Kalo menurut saya sih, setidaknya minimal bisa masak. Kalo sudah terbiasa masak juga nanti pandai kok in syaa ALLAH. Rasanya aneh aja, kalo menjadi wanita nggak bisa masak. Ini menurut saya loh yaa? Sering saya baca di status Facebook temen kurang lebih isinya, “Kangen masakan Ibu..”, “Kangen masakan Mamah..”, dll. Nah, itu mengindikasikan bahwa salah satu faktor yang bisa membuat anak yang jauh dengan Ibunya menjadi rindu adalah masakannya. Kayak saya, Mamah kalo masak itu asiiiiin banget, tapi seringnya enak dan sitimewa eh istimewa. Kalo di rumah, kadang saya ogah makan, tapi kalo lagi di Jogja, rasanya pengen pulang aja buat makan masakan Mamah. ❤ ❤

Berulangkali Mamah menasehati, bahwa ketika menjadi seorang Istri, itu kudu pinter di Dapur, Kasur dan Sumur. Maksudnya, tidak dapat dipungkiri, bahwa ketiga “Ur” itu terkadang menjadi perekat keharmonisan dalam berumah tangga. Dapur misalnya. Bagaimana seandainya Istri tidak bisa masak dan tidak mau belajar masak, mengandalkan katering atau makan di luar? Lalu, apa dong gunanya dapur di rumah? Pasti ada saatnya, pagi-pagi harus uprek di dapur menyiapkan sarapan buat suami dan anak-anak. Kalo Istri nggak pinter masak, trus siapa dong yang memperhatikan gizi keluarga? siapa yang bisa menjamin kebersihan makanan yang dikonsumsi keluarga terjaga? apa dong makanan khas yang membuat Suami yang sedang bekerja rindu pengen cepet-cepet pulang? Kalo Suami atau anak sakit, siapa dong yang masakin Bubur? Hayooo.. siapa? Masa Mbak Yuli.. #eh.. siapa tuh? #hehehe, khadimatnya Mamah yang unik.. 😉

Perkara Sumur, berkaitan dengan dengan kebersihan dan keindahan rumah. Duh.. nggak kebayang, kalo jadi Istri nggak pinter mengatur rumah. Suami pulang kerja, rumah masih berantakan. Pakaian kotor masih berserakan, buku-buku dan majalah bertebaran, lantai kamar mandi licin, bekas minyak di kompor sampe menebal, hmm.. harusnya Suami tiba di rumah bisa melepaskan penat, eh.. malah jadi Asisten Istri buat beresin itu semua. Duhh.. sayang ya?

Nah, ini berkaitan dengan kasur, emm.. #tengok kanan kiri kali aja ada anak di bawah umur 😀 seyogyanya, seorang Istri harus pandai mengatur penampilannya, tentunya agar menjadi penyejuk pandangan bagi suaminya di rumah. Ini penting loh akhwaat. Jangan seperti pepatah yang kurang lebih berbunyi begini, “Wanita itu, ketika di dalam rumah seperti Kera.. tetapi ketika keluar rumah seperti Kijang..” (redaksi aslinya qadarullah saya terlupa). Maksudnya adalah, di hadapan Suaminya, ia enggan berdandan, bau penguk, pake daster bolong-bolong tapi pas mau kondangan wuiiih.. penampilannya rapi, wangi, pokoknya cantik maksimal deh. Ini enggak boleh yaa? Pun, Suaminya berkewajian menegur apabila memiliki Istri yang demikian. Masa rela sih, cantiknya Istri dibagi-bagi?

Loh, kok jadi melebar begini yak? Hihihi.. ah, biarkan saja.. namanya juga lagi cerita. 😀

Terus Mbak, masakannya gimana? Enak?

Mmm…….. hehehe.. sini nyicipin dulu aja yaa.. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Istri, Haruskah Pandai Masak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s