Jangan Menjadi Penulis Kalau Alergi Kritikan!

10620764_921536607891419_4445122400745964161_nTemanmu yang menasehatimu dengan kejujuran dan menunjukkan kesalahanmu, itu lebih baik.

Daripada mereka yang memuji dan menyanjungmu dengan kedustaan agar meraih simpatikmu.

Ya, nasehat itu pahit tidak semanis Madu.

Perkataan jujur pun terkadang menyakitkan hingga merobek hati.

Seandainya, kita hanya mau menerima nasehat jika itu menunjukkan kebaikan kita saja, lalu bagaimana kita akan tahu dimana letak kesalahan kita?

Umar Bin Khattab -radhyallahu ‘anhu- berkata : “Orang yang paling aku sukai, adalah ia yang menunjuki kesalahanku”

Justru, apabila orang lain menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, jadikan itu sebagai cambuk dan koreksi.

Jangan menjadi Penulis kalo mentalnya mlempem!

Jangan berkarya kalo tidak mau dikritik!

Diam saja, simpan saja, atau buang saja karya-karyamu di tong sampah.

Usah dibagikan ke khalayak, jadi, kau selamat dari kritikan, dan celaan.

“Apakah seburuk itu, karya saya hingga tak ada kebaikan yang disebutkan?”

Nah, kalo merasa karyanya tidak buruk silahkan buktikan!

Jangan menjadi Orang yang mengukur baju di badan sendiri. Menganggap karyanya sudah yang paling oke. Bahkan tulisan saya ini pun, tak ubahnya Ketombe di rambut yang bikin risih dan sangat mengganggu. Menyadari, masih banyak bagian dalam tulisan ini dan tulisan saya yang lainnya yang perlu diperbaiki. Agar elok dibaca.

Saya salut dengan segelintir Penulis yang mampu membuat karya yang bersifat kontroversional (Dalam hal yang positif). Menciptakan pro dan kontra. Membangun diskusi intelektual yang berbobot. Toh, kalau pun pada akhirnya ada penghujat, cukuplah ingat, “Bahasa Verbal menunjukkan siapa anda, Bahasa Tulisan menunjukkan Intelegensia anda”.

Menjadi Penulis harus tangguh! Jangan patah arang meski hujan celaan bertubi-tubi menerjang. Kamu, yang berdarah-darah mengeruk ide di kedalaman pikiranmu cuma buat nulis khayalan, kok yo lesu mendapat kritikan dari Orang yang bahkan tidak pernah membuat karya satu pun barangkali, atau mereka yang udah expert, ibaratnya, karyamu itu cuma jerawat yang mengganggu pemandangan ketika PMS. Jelek, tak diharapkan, bahkan lihat pun enggan!

Heyy! Ingat, Nabi-nabi kita dahulu, mereka bukan saja dihujani hujatan secara verbal, seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bahkan pernah dianggap gila oleh Orang-orang munafiqin. Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam pernah dilempar batu hingga wajahnya berlumuran darah, terusir dari tanah kelahiran beliau. Tapi lihatlah, beliau tak gentar! Perjuangan beliau berat, demi sampainya risalah Agama Islam ini kepada kita.

Ulama-ulama kita dahulu, yang gemar menulis seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimmahullahu ta’ala-, meski berada di dalam penjara, kegiatan menulis beliau tidak pernah berhenti, semangat beliau dalam memperjuangkan kebenaran, maa syaa ALLAH.

Kenal Syaikh Nashiruddin Al-albany? Syaikh Bin Baz? Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Imam An-Nawawi? Ibnul Qayyim Jauziyyah? Ibnul Jauzi? Imam Ahmad bin Hanbal? Ibnu Katsir? Ibnu Hajar Al-Asqalani? Kenal? Saya juga enggak kenal! Tapi, saya membaca tulisan-tulisan mereka, menikmatinya, memahaminya, maa syaa ALLAH. Semoga ALLAH memberikan balasan kebaikan berupa Surga kepada mereka. Menjadikan Karya-karyanya sebagai amal jariyyah. Aamiin. Mereka semua, adalah Ulama Besar, Pejuang Pena Islam, menulis hadist, serta beragam hal yang bermanfaat bagi dienul Islam.

Nah, kalo asing banget dengan nama-nama Ulama di atas dan karya-karya mereka, barangkali ada yang familier nih sama Harry Potter? Sebelum sukses, karya J. K Rowling ini telah ditolak mentah-mentah oleh 12 Penerbit loh. Hayoo, siapa yang punya koleksi Chicken Soup karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen? Dibalik kesuksesan novel yang sudah berulangkali dicetak ulang ini, ternyata sebelumnya pernah ditolak oleh ratusan Penerbit. Bayangkan, ratusan! Mereka tidak menyerah, ketika karya-karya mereka dianggap “seonggok sampah”. Kini, Dunia mengakuinya.

Atau, bagi sebagian Orang yang alergi baca. Biasanya sih anak-anak eksak nih yang nggak demen baca-baca Novel atau cerita yang panjang kali lebar kali ngantuk. Hmm, pasti sudah nggak Asing kan dengan Albert Einstein? Ilmuwan Fisika yang terkenal dengan Teori Relativitasnya. Nah, waktu kecil, Albert Einstein mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Sehingga ia terpinggirkan, bahkan dianggap bodoh. Well.. siapa sangka, dia menjadi Orang yang super duper jenius sampai-sampai setelah wafat otaknya diteliti oleh ilmuwan untuk mencari tahu, apa sih rahasianya? Ini Orang kok pinter amat?

Well.. jangan jadi Penulis yang gampang ngedown. Meski saya juga bukan Penulis yang expert, boro-boro bikin karya yang berkualitas, nulis buku juga belum satu pun yang terealisir. Tapi, semoga ALLAH beri saya kesempatan buat nulis buku sebelum saya meninggalkan dunia ini.

Sungguh mengherankan, jika ada orang yang alergi dengan kritikan. Terlebih, jika kritikan itu disampaikan dengan adab yang benar, sembunyi-sembunyi, dengan tujuan membangun agar Si Penulis bisa membuat karya yang lebih berkualitas. Masih untung loh ya, Pembaca tulisan kita menyampaikannya tidak terang-terangan di depan umum? Banyak kok, Penulis di luar sana yang bahkan bukan hanya mendapat kritikan yang mengkonstruksi, tetapi justru mendestruksi. Berusaha menjatuhkan mental, ide dan gagasan penulis, menyerang secara pribadi, bullying, dan tindakan tidak menyenangkan lainnya. Biasanya sih, ini terjadi pada penulis besar atau namanya sudah mengudara. Eh, tapi ada juga sih Orang yang bisa tenar tanpa karya, ramai dibicarakan dimana-mana, siapa tebak? Yaitu.. Farhat Abbas, eh bukan.. yaa, orang-orang yang suka bikin status yang kontroversif di akun sosialnya. Kayak itu, siapa yah, anak SMP yang beberapa tempo lalu ngaku-ngaku berasal dari masa depan? Saking kelewatan imajinasinya. :v

Menulislah yang bermanfaat bagi diri kita, agama kita, kehidupan kita, dan Orang lain tentunya. Jangan menjadi Penulis yang membuka celah setan untuk menjerumuskan pembacanya pada hal-hal negatif dan sia-sia. Misalnya, menulis Novel bertemakan percintaan remaja meski diberi embel-embel “Islami”, misalnya Kisah “Ta’aruf” anak Rohis, atau Cinta Lokasi Anak Pondoklah, dan lain sebagainya. Tulisan horor, humor atau apa pun itu yang dapat melalaikan kita dari mengingat ALLAH dan mengandung hal-hal yang diharamkan oleh syariat.

Asy Syaikh Shalih bi Fauzan Al Fauzan pernah ditanya : “Apa hukum membaca dan menulis kisah fiksi dan cerita yang bisa membangkitkan imajinasi? Dan apakah jika kisah-kisah ini membantu memperbaiki beragam masalah sosial, maka kisah-kisah ini diperbolehkan?”

Beliau menjawab : Kisah fiksi seperti ini merupakan kedustaan yang hanya menghabiskan waktu si penulis dan pembaca tanpa memberikan manfaat. Jadi lebih baik bagi seseorang untuk tidak menyibukkan diri dengan perkara ini (menulis atau membaca cerita fiksi-ed).

Apabila kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi ini membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini hukumnya makruh. Dalam setiap kondisi, waktu seorang muslim sangat berharga, jadi tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak ada manfaatnya.

(Fatwa Syaikh Fauzan di ad-Durar an-Naadhirah fil-Fataaawa al-Mu’aasirah – Pages 644-645, al-Fowzaan – ad-Da’wah 1516, Jumaada al-Oolaa 1416AH)

Nah, semoga kita bisa menjadi Penulis yang tangguh, tidak anti kritik, mau berupaya untuk berubah menjadi lebih baik, tentunya menulis untuk hal-hal yang bermanfaat. Barakallahu fiikumma. ^^

♥♥♥


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s