Awas, Jarkoni!

opppjjPernah mengalami, menulis status berisi nasehat tentang “Jangan mengeluh di Facebook..”. Kala itu, ramai like dan komentar yang menghiasi postingan saya. Namun, beberapa saat setelahnya, saya mengeluh karena tugas kampus belum terselesaikan padahal sudah dekat waktu pengumpulan. Nah, ada teman nyeletuk, “Katanya nggak boleh ngeluh…” dengan emot icon orang melet. Degg! Rasanya seperti tertampar.

Saya sering menasehati Adik-adik di rumah untuk shalat di awal waktu, terutama shalat subuh. Karena kebiasaan di kampung saya, jam enam pagi itu masih waktu subuh. Saya sampe nyindir-nyindir ketika mereka shalat jam setengah enam, “Subuhan, apa sholat Dhuha?”. Nah, kemarin waktu mudik, dan saya kecapekan karena nyampe rumah jam setengah tiga dini hari, saya bangun kesiangan, Adik saya balas dendam, “Katanyaaa.. shalat harus di awal waktu? Subuhan, apa Dhuha?” duh… jlebb banget rasanyaaa.

“Punya temen. Sebut saja fulanah. Dulu dia rajin banget update status tentang Ilmu syar’i. Saya pun termasuk mengikuti statusnya yang sarat manfaat. Namun seiring berjalannya waktu, statusnya tenggelam diantara status-status tidak penting..”

“Ada lagi, beliau dulu begitu gencar menasehati supaya tidak terlalu sering upload foto makanan atau masakan, eh.. sekarang dia gencar banget upload foto-foto masakannya dan sisa-sisa makanan dari restaurant..”

“Dulu, beliau termasuk orang yang selalu menasehati agar tidak mengumbar kemesraan di publik. Ini sekarang, hampir setiap hari update status mesra dan mention-mention Suami, foto-fotonya ketika berdua..”

“Perasaan dulu dia pernah bilang hukum foto haram, ini kok pajang2 foto selfie?”

SubhanALLAH..

Pernah kah antunna mengalami hal serupa, seperti contoh di atas? Menasehati Orang lain, namun sendirinya tidak melakoninya? Atau di depan Orang lain kerap memberi nasehat yang baik, namun ketika bersendirian meninggalkannya? Mengajarkan kebaikan pada Orang lain, namun sendirinya hanya pandai berbicara namun praktiknya tidak? Istilah Jawanya Jarkoni, “Iso Ngajar Ora Iso Nglakoni”.

Ayolah, jujur pada diri sendiri. Mengajarkan kebaikan, memberi nasehat, itu adalah hal mudah. Namun realitanya, untuk melaksanakannya bisa jadi menjadi terasa begitu sulit. Kenapa? Karena niat.

Perhatikanlah niat yang tersimpan di hati kita, sudah luruskah? Sudah tuluskah? Atau hanya sekadar mencari perhatian publik saja? Atau hanya sekadar ingin dlihat oleh manusia saja? Ingin dianggap baik di hadapan manusia? Ingin dinilai baik di hadapan manusia?

Wahai diri… janganlah kita mengklaim bahwa niat kita sudah tulus, bahwa niat kita baik, bahwa kita ikhlas karena ALLAH semata namun sejatinya di dalam hati terbersit harapan ingin dipuji, dll. Ingatlah, Surat Al-Ikhlas pun tidak terdapat kata “Ikhlas” di dalam rangkaian ayatnya. Setan begitu pandai menghembus-hembuskan riyaa’ di dalam setiap dada anak adam. Setan semakin kreatif dalam merusak niat-niat baik kita, tidak akan berhenti mengusik hingga tergelincir bersamanya. Waiiyadzubillah.

Ketika sedang menulis status, kadang penasaran, “Kok nggak ada yang ngelike..”, “Kok nggak ada yang komentar?” dan hati menjadi berbunga-bunga ketika banyak yang ngelike, komen, bahkan nge-share status kita. Hayooo.. siapa yang pernah merasakan ini? Ngakuuu.. 😀 manusiawi kok. Namuun Ladieees, meluruskan niat itu harus bersungguh-sungguh. Berdoalah kepada ALLAH agar kita diberi kekuatan untuk bisa melakukan sesuatu, termasuk berbagi kebaikan dengan tulus. Bukan berarti, kita nggak boleh ngeshare status yang bermanfaat, tulisan yang berfaidah, hanya saja, ketika perasaan “penasaran” berapa yang ngelike? Siapa yang komentar dan ngeshare? Itu datang, perbanyaklah istighfar dan minta, minta, minta, dan mintalah kepada ALLAH agar kita senantiasa istiqamah dan konsekuen terhadap apa yang kita sampaikan. Pun, membekas dalam akhlaq dan perilaku kita selanjutnya.

Hati kita berada diantara Jemari ALLAH. ALLAH-lah yang berkehendak membolak-balik hati kita. Bisa jadi “Isuk Tahu, Sore Dele..” (Pagi tahu, sore Kedelai-red) Maka dari itu perbanyaklah berdoa, “Yaa muqolibbal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik’…” agar kita diberi keteguhan hati, ditetapkan iman dan taqwa. Maksimalkan ikhtiar kita untuk menjadi Orang yang konsisten, dan jangan Jarkoni..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s