Mengendapkan Tulisan, Tips Menulis Bagi Pemula

10462602_851266141552558_1392036039062315583_nAkhir-akhir ini lagi jarang update tulisan di Blog. Bukannya lagi aras-arasen nulis, namun, selain sedang sibuk UAS juga sedang dalam proses mengendapkan tulisan. Di sela-sela belajar, masak, menunggu, atau melakukan kegiatan apa pun kalau ide muncul di kepala, langsung deh ambil HP, dan ngetik di fitur Notes. Kalau kerjaan sudah selesai atau sudah selo, baru deh buka notesnya dan ngetik di Blog untuk dikembangkan menjadi bentuk paragraf atau tulisan yang utuh. Namun, tidak segera saya terbitkan. Saya simpan di draft, untuk kemudian beberapa hari, atau pekan, bahkan bulan, jika mood menulis sedang baik, saya buka lagi, edit, kemudian baru publikasikan. Well.. ini namanya mengendapkan tulisan.

Ngomong-ngomong soal mengendapkan tulisan, pengendapan tulisan selama beberapa hari memberikan jeda bagi si penulis untuk menemukan sudut pandang pembaca. Tulisan yang sudah jadi, cobalah disimpan sebentar di draft, kemudian dibaca ulang. Hmm.. pasti deh akan menemukan kalimat yang kurang tepat, typo, atau ada kalimat yang harus dibuang, atau ditambah. Pengendapan tulisan ini berguna bagi penulis untuk merevisi atau tambal sulam tulisan-tulisannya agar menjadi lebih rapi dan enak dibaca.

Tadi ba’da subuh, ketika sedang beberes kamar, saya menemukan lembaran naskah novel setengah jadi, karya saya pada tahun 2007. Wah, sudah hampir delapan tahun ya? Iseng baca, dan saya bersyukur banget itu novel belum sempat diselesaikan hingga kini. Pokoknya mah, tutupan bantal sambil guling-guling kalo baca. Antara bingung, malu, dan lucu.

novel1
Sampul Novel yang demikian sederhana. 😀

Bingung, karena itu novel dibuat pada saat saya masih duduk di bangku kelas dua SMA, tapi temanya mengangkat kisah kehidupan anak kuliah. Seorang Mahasiswi, yang baru lulus SMA, kemudian melanjutkan studi di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), jatuh cinta sama Keponakan Bapak kostnya, daaan.. tidak perlu diteruskan. Oke.. oke.. itu hasil karya Korban Sinetron. Hahaha. Saya masih heran, pada jaman saya SMA, di pelosok sana, akses internet sangat sulit, bahkan saya gaptek abis. Nggak kebayang, ini kenapa setting dan plotnya bisa pas banget. Bisa gitu loh, gambarannya kesana-sana. Kalo sekarang, mau bikin cerita tentang kehidupan di Jepang misalnya, yang kita belum pernah menginjakkan kaki disana, pasti modalnya tanya sama Mbah Gugel kan? Survey, ini itu. Nah ini, ke Solo aja cuma beberapa kali waktu Mbak Yayan kuliah disana. Dan, saya masih kecil ketika itu.

Malu? yaiyalah. Bahasa saya masih polos begitu, bahasnya tentang kisah anak gede. Guru Bahasa Indonesia saya, Pak Rakhmat Tri Partono, selalu mengapresiasi karya-karya saya dan berujung diprotes oleh teman-teman di Bagaskara Pers (Majalah Sekolah), soalnya hampir setiap terbit, tulisan saya selalu jadi headline ketika itu. Dan saya malu, ketika baca ulang naskah-naskah saya (setelah hampir delapan tahun lamanya), ternyata saya demikian alay dan terlalu mendramatisir. Bahkan, kini enggak mau mengakui kalo itu karya saya. 😀 Sekarang juga masih sih, yaaah walau tidak selebay jaman baheula ketika Pitechantropus Erectus Paleojavanicus belum mengenal tulisan. #lho? #gagalfokus #plakplak (Eh, emang Manusia Purba bisa baca? Ahh.. entahlah..). 😀

novel4
Naskah yang sudah dicorat-coret ketika editing. Nah, lihat tuh, betapa kacaunya karya saya itu. 😀 Alaynya nampak sudah.

Lucunya, saya bisa tertawa begitu lepas sampai nangis tadi pagi. Membaca berlembar-lembar tulisan saya, dan tulisan tangan saya ketika SMA. Gaya bahasa, cara penulisan, nampak terlihat masih banyak yang kacau dimana-mana. 😀

Pengalaman baru, saya seperti sedang membaca karya Orang lain, bukan tulisan saya sendiri. Nah, inilah salah satu dampak dari mengendapkan tulisan selama beberapa waktu. Kita tidak pernah memikirkannya, membacanya lagi, apalagi ngutak-atik. Kita menjadi tidak terikat emosi dengan tulisan tersebut. Sensasinya beda!

Kita akan menemukan sudut pandang sebagai Pembaca. Penilaian kita sudah berubah menjadi objektif, bukan subyektif lagi sehingga akan mudah bagi kita untuk menemukan kesalahan disana-sini. Nah, disadari atau tidak ketika baru saja finish menulis sesuatu, anggapan kita, “Wah, ini layak terbit nih…” atau, “Mmm, kayaknya udah pas deh..”. Ya kan? Nanti di lain waktu, ketika baca ulang, “Wah, ternyata banyak yang kurang?”, “Wah, kok terlalu melebar ya bahasannya?”.

Hmm, jika editing artinya mengoreksi tulisan dari sisi bahasa, atau memperbaiki kesalahan penulisan huruf atau kata, maka mengendapkan adalah mengoreksi, dan memperkaya tulisan dari sisi ide atau gagasan, penjabaran, pengayaan referensi, pendalaman makna, dan lain sebagainya.

novel3
Naskah yang ditulis pake tangan. Hadalaah berantakan nian. :/

Biasanya, karya yang paling bagus dari seorang penulis ada dua:

Pertama, tulisan pertama pada saat ia mulai menulis. Tulisan pertama bukan berarti bagus dari semua sisi, tetapi bagus dari sisi penyajian. Sebab seorang pemula pasti berusaha untuk menciptakan karya terbaiknya walaupun menurut kaidah dan aturan ia belum bisa dianggap benar, karena ia memang belum menguasainya.

Kedua, tulisan saat dia sudah menjadi seorang pakar dalam menulis. Karena dia sudah tahu ilmunya sehingga karya-karya tersebut menjadi karya terbaik yang pernah diciptakan.

Akan tetapi, ada kesamaan untuk kedua karya tersebut, yaitu Mengendapkan Tulisan. Seorang pemula tidak akan langsung menulis dan mengirim atau menerbitkan tulisannya. Tapi ia akan mengedit, memperbaiki, meminta pendapat, membaca ulang, menyimpan beberapa saat untuk kemudian dilihat kembali, sampai ia yakin itulah karya awal yang sudah final sesuai dengan kapasitasnya. Adapun penulis yang sudah ahli tentu saja karena pengalaman dan penguasaannya terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepenulisan.

Well, meski saya menyadari, saya masih pemula, banyak tulisan-tulisan saya yang tidak sesuai kaidah kepenulisan yang benar, EYD kacau, diksi terlalu kaku, plot yang disajikan tidak apik, bahkan amanat yang ingin disampaikan dalam tulisan terkadang tidak “ngena”, tapi saya ingin bagikan sedikit tips menulis bagi sesama pemula, tentu saja sesuai dengan sebatas pengalaman pribadi saya:

  1. Banyak membaca. Sebelum menulis, perbanyaklah membaca. Terkadang, ide muncul begitu saja ketika kita membaca. Manfaat lainnya, dengan membaca akan menambah kosakata baru, referensi baru, pengalaman, dan kawan-kawannya.
  2. Ketika ide sudah muncul, segera ambil pena dan kertas, atau hape, atau buka laptop, atau apapun media di dekat kita yang dapat digunakan untuk menulis. Tuliskan apa saja yang saat itu ada di pikiran kita.
  3. Menulislah. Tulis kembali apa yang sudah kita tulis di notes, hape, dan teman-temannya. Kembangkan menjadi rangkaian kalimat atau prosa. Tulis apa adanya sesuai dengan kemampuan berbahasa kita. Nah, bagi yang hobi nulis diary nih, sepertinya bukan hal yang sulit? 🙂
  4. Setelah menulis, disimpen dulu. Jangan dilihat, jangan dipikirin. Nanti, selang sehari, sepekan, atau sebulan, baru deh dibaca ulang, dan diedit. Nah, pas ngedit ini, pasti deh ada tambal sulam. Tapi, kalau udah yakin buat di-launching, ya nggak masalah sih.
  5. Percaya diri. Modal menulis, salah satunya adalah percaya diri. Jangan malu untuk menerbitkan karya kita, tapi juga jangan malu-maluin amat.. hihihi. Bersikap terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun. Tidak mengapa, jika ada yang mengkritik atau mengomentari tulisan kita, “Perhatikan EYD Mbak!”, “Diksinya kayak Es Batu, kaku..”, jangan melemah dengan krisan (kritik dan saran). Semakin banyak yang berkomentar terhadap tulisan kita, artinya, banyak yang peduli terhadap karya kita. Nah, jadikan momen ini untuk memperbaiki kesalahan penulisan.
  6. Tulislah segala perkara yang bermanfaat. Akan sangat baik sekali, jika tulisan kita memuat ilmu yang berfaidah bagi pembacanya. Bukan seperti Novel atau cerpen-cerpen saya, yang isinya cinta-cintaan gaje begitu. Karena, kelak di akhirat pun, kita akan ditanyai mengenai hal ini. Bukankah ilmu yang bermanfaat akan mendatangkan pahala ketika kita telah tiada? Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”.

(Hadist Riwayat. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Saya bersyukur, Novel itu tidak diteruskan. Beruntung, dulu gaptek sehingga tidak menjadikan tulisan saya tersebar di dunia maya sehingga tidak banyak yang membaca. Masih sebatas koleksi pribadi yang teronggok begitu saja diantara tumpukkan naskah yang sama sekali tidak ada bermanfaatnya. Tapi semoga, kali ini tulisan saya bisa bermanfaat yaa? Barakallahu fiikumma. Salam Pena!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s