Tentang Sebuah Perhiasan Indah

375524_495460660493771_898535990_nSeseorang pernah berkata kepada saya ketika dalam sebuah perjalanan, “Mesra-mesraan di depan publik, dan banyak tertawa itu menurunkan wibawa dan muru’ah loh.. Apalagi buat Orang yg sudah ngaji..”

Seketika saya tercenung. Benar juga ya? Teringat, pernah mendapati sepasang Suami Istri yang sudah mengenal sunnah di sebuah warung. Mereka agaknya masih menjadi Pengantin baru, hal ini nampak jelas dari tindak tanduknya. Mereka bermesra-mesraan di hadapan saya, dan orang-orang yang berada disana, seolah dunia milik berdua, yang lainnya ngontrak. Entah mengapa, ada perasaan risih yang begitu mengganggu hati. Well, bukan karena saya hanya berteman Mbak Mimi saja (baca : sendirian), tapi ada semacam rasa malu karena harus melihat interaksi yang seharusnya cukup dilakukan di dalam rumah saja. Dan, karenanya, membuat saya tidak respek. Entah saya salah atau tidak, yang pasti, saya tidak suka.
Pun, belakangan saya mulai belajar banyak hal. Hal tentang mengolah rasa, mengontrol diri, perlahan banyak-banyak bercermin tentang aib-aib yang membukit di balik punggung ini. Yang hanya dengan pertolongan ALLAH-lah, mereka yang mengenal saya, menganggap saya adalah orang yang benar baik yang boleh jadi hanya karena lisan maupun tulisan. Padahal, sejatinya, banyak yang harus diperbaiki dalam diri ini. Bahkan dimusnahkan selayaknya ketombe di rambut, yang sangat mengganggu aktifitas dan penampilan.

Al-Hasan Bashri -rahimmahullah- mengatakan,
“Nilailah orang dengan amal perbuatannya jangan dengan ucapannya. Sesungguhnya semua ucapan itu pasti ada buktinya. Berupa amal yang membenarkan ucapan tersebut atau mendustakannya. Jika engkau mendengar ucapan yang bagus maka jangan tergesa-gesa menilai orang yang mengucapkannya sebagai orang yang bagus. Jika ternyata ucapannya itu sejalan dengan perbuatannya itulah sebaik-baik manusia.”

Berkaitan dengan kewibawaan, khususnya untuk wanita (baca : akhwat). Berwibawa, bukan berarti harus pasang ekspresi “tua” dan bijak, ingin dihormati, dan lain-lain. Berwibawa artinya, menjaga citra baik untuk dirinya. Menjunjung tinggi harga dirinya. Tapi bukan berarti melambung, meremehkan orang lain, mengikis muru’ahnya, dan congkak karenanya.

Analogi sederhananya, ketika kita mendapati seseorang yang kesehariannya suka tertawa hingga terbahak-bahak dan berperilaku konyol, sehingga demikianlah orang-orang mengenalnya. Jika pada suatu ketika dia berbicara atau berlaku serius, bisa jadi hampir-hampir semua orang menanggapinya dengan guyonan, bully-an, tertawa, menyepelekan, dan bahkan muncul celetukan, “Halaah, dia inih..”. Nah, disadari atau tidak, saat itu lah wibawa dari orang tersebut telah hilang. Wibawa bukan bertujuan agar kita gila hormat, tapi ketika seseorang berwibawa, maka dengan sendirinya ia akan lebih dihargai, didengarkan perkataannya, dan tentunya, membatasi orang semena-mena terhadap dirinya.

Hal umum, yang banyak terjadi di kalangan kaum hawa, tabiat alaminya yang cenderung suka “berkicau”, kerapkali menjadikannya begitu mudah mengucapkan, melakukan, atau menuliskan apa saja yang terbetik di dalam pikirannya. Hal ini pun berlaku dalam ber-medsos. Sering ditemui, beberapa akun di home facebook menuliskan status hampir setiap menit. Bukan ngeshare perkara agama, cenderungnya hanya curhatan bebas yang tidak terarah. Entah status terjebak macetlah, lagi sakitlah, beli gadget baru, atau hal-hal pamer lainnya yang sedikit faidahnya, bahkan tidak ada sama sekali. Termasuk saya pribadi, yang agaknya termasuk dalam golongan yang cenderung suka berkicau di medsos. Hampir-hampir setiap terbetik suatu ide, selalu saya tuangkan di lembaran-lembaran buku saku, draft blog, pun, tak jarang di laman facebook.

Menyadari akan tabiat ini, disamping ada hati yang harus dijaga, membuat saya merasa perlu membuat akun khusus bagi akhwaat saja. Dan postingan yang bersifat curcolan, yang sebenernya lebih cocok dan klop hanya jika dibaca dan dikomentari oleh sesamanya saja, saya pun menyetting privasinya friends only. Sebaliknya, jika dirasa hal tersebut bermanfaat, atau perlu diketahui oleh khalayak yang lebih luas, maka saya setting menjadi publik.

Sok amat sih? Engga kok, sadar diri, bahwa bukan berarti karena saya bukan siapa-siapa dan sangat minim ilmu, membuat saya harus meminimalkan mudharat bagi diri sendiri. Memproteksi hati dari kejamnya fitnah dunia maya. Dengan tidak begitu bebas melanglang di dunia maya, membuka celah-celah fitnah bagi ajnaby untuk mengetahui aktifitas “centil” kita disana. Melihat cekikikan kita, menyimak obrolan kita yang bersifat pribadi. Hal-hal sepele yang banyak tidak disadari, bahwa itu membuka celah bagi hati-hati yang lalai untuk “ngepoin” kita. Karena terkadang sebuah bahasa, gaya interaksi seseorang, memiliki sisi menarik untuk disimak.

Ya tidak masalah, kalo keponya ajnaby itu karena ada kepentingan yang syar’i, misalnya, bersebab tengah ta’aruf dengan akhwaat tersebut, dan perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait akhwat ini. Karena ketika memutuskan untuk menikah, sedikit banyak kita harus jadi orang yang “kepo” abis. Tapi, bukan berarti keponya itu keterlaluan, terlebih sampai membuat yang bersangkutan terganggu. Misalnya, hampir setiap postingannya dikomentari, turut nimbrung dalam obrolan, inboxan untuk perkara yang melenceng dari koridor syariat.

Nah, begitu pula halnya dengan wanita. Apabila seorang wanita muncul diantara obrolan para lelaki, sahut-sahutan, mention-mention, hihi-hihi-hehe-hehe, cengar-cengir atau cuma pasang emoticon smille di postingan mereka (ajnaby), sungguh, bagi ia yang sudah mengenal dan mengilmui batasan interaksi dengan lawan jenis non mahram namun tidak memperhatikan adab-adabnya, maka saksikanlah, ia sedang terjun bebas menurunkan wibawanya. Sedarurat apakah hingga harus “ndongol” diantara mereka? Berlaku pula sebaliknya.

hjl;lk;Membuat teringat kembali pada postingan seorang Ummahat yang mengatakan kurang lebih begini, “Dulu.. ia adalah seorang yang gemar menebarkan kebaikan dan memberi nasihat, namun… kini justru ia mengingkari nasehat-nasehatnya sendiri, padahal teman-temannya yang dinasehatinya dulu banyak mengambil faidah dari nasehat yang disampaikan olehnya…”. Menjadi warning bagi diri sendiri juga, bisa jadi hari ini saya menulis begini, menasehati atau mengingatkan demikian dan demikian, tapi saya tidak pernah tahu akhir dari kehidupan saya akan seperti apa? Apakah hingga ajal menjelang, saya masih istiqomah dan bisa mengamalkan apa yang juga pernah saya sampaikan kepada orang lain, atau justru di kemudian hari saya melanggarnya? Waiiyadzubillah.

Jundub bin Abdillah Al-Bajali -radhyallahu ‘anhu- mengatakan,
“Gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.”
(Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih, 1/195)

Pada tulisan ini, saya mengungkapkan tentang ketidaksukaan saya pada orang yang suka mengumbar kemesraan di ranah publik, menganjurkan untuk tidak “ndongol” di status Ikhwan tanpa keterdesakan yang syar’i, hanya confirm pertemanan di akun Facebook khusus akhwaat, posting dilarang curhat melulu (tidak berfaidah), siapa yang tahu, di hari yang lain saya justru melakukan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang saya tulis hari ini? Sungguh, hati kita berada diantara Jemari-jemari ALLAH. Hanya ALLAH-lah yang berwenang membolak-balik hati kita. Maka berdo’alah agar kita semua senantiasa diberi istiqomah. Karena, semua amal tergantung pada penutupnya.

Dari Usamah, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.’”
(HR Bukhari dan Muslim)

Dan pada akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Tolok ukur keshalihan seseorang bukan dengan siapa ia berteman, bukan dengan siapa ia berguru, bukan seberapa ketat ia memproteksi dirinya dari pandangan ajnaby dengan hijab dan cadarnya, bagaimana membatasi interaksi dengan non mahram. Namun, tentang seberapa takutkah ia kepada ALLAH dalam setiap tindak tanduknya. Sedalam apakah, ia ingat ALLAH dalam keadaan ramai maupun bersendirian, bahwa dalam keadaan apapun, ia tak pernah luput dari pengawasan ALLAH. Tetaplah jaga wibawamu yaa Ukhty.. Jagalah Izzah, Iffah, dan Muru’ahmu, karena ia perhiasan indah bagimu, bagi engkau Shalihah, sebaik-baik perhiasan dunia. Barakallahu fiikunna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s