Di Balik Suami yang Sukses, Berdirilah Seorang Istri yang Hebat

dibalik“Di balik Suami yang sukses, berdirilah seorang Istri yang hebat..” Hmm, seratus persen (menurut saya) kalimat tersebut benar. Well, bukan tanpa alasan, karena memang di sekitar saya, banyak wanita-wanita hebat yang mampu mendongkrak kesuksesan Suaminya, meski lebih banyak pada sisi duniawi ya? Karena memang background tempat saya lahir dan tumbuh bukanlah lingkungan yang religius.

Tapi, Alhamdulillaah, di Jogja, wanita-wanita “Pensukses” Suami dalam perkara akhiraat banyak bertebaran, sungguh suatu nikmat yang patut disyukuri, setidaknya, ALLAH beri saya kesempatan dalam perjalanan hidup ini, untuk memiliki teman-teman dan sahabat yang baik agamanya, yang begitu banyak memberi perubahan pada arah yang lebih baik dalam hidup saya.

Adalah Ibu Sunarti, wanita berusia hampir kepala lima itu adalah Ibu saya. Di balik tubuhnya yang imut-imut alias mungil, dengan pakaian khas daster lengan pendek, dan panjang se-mata kaki, serta jilbab lebar yang menutupi dada (Ala bakul Ayam di Pasar 😀 #ngarep banget Mamah enggak baca postingan ini atas petunjuk krucil-krucil di rumah 😀 😀 ) adalah wanita hebat yang atas ijin ALLAH telah berhasil mensukseskan keluarganya, Suaminya, dan ke-enam putra-putrinya. Continue reading “Di Balik Suami yang Sukses, Berdirilah Seorang Istri yang Hebat”

Advertisements

Karena Kalian Tak Pernah Benar-benar Pergi

mariageAlangkah bahagianya hati ini, ketika kemarin Sabtu, 7 Januari 2015, seorang Sahabatku merayakan cinta. Cieee.. antara terharu dan sedih. Mmm, masih teringat obrolan malam itu selepas diwawancarai doi buat data skripsinya. Tak pernah terlupa dari ingatanku serpihan cerita yang dibagikan kepadaku. Selamat ya Sayang, akhirnya, kini jadi Ummahat. Loh? #gagalfokus

Kilas balik. Tepatnya, awal tahun 2013. Waktu itu, Penghuni Wisma Qaanitah angkatan pertama masih berjumlah beberapa Orang. Ukh Anita, Ukh Ririn, Kak Dewi, Kak Tika, Kak Emmi, Dek Nida, Dek Bibah, Dek Titi, Dek Novi, aku, kemudian menyusul Kak Lining. Selanjutnya jadi buanyak. Hihihi.

Masih teringat, betapa serunya kita kala itu. Berangkat kajian bareng, makan bareng, silahturahmi ke rumah Ummahat. Yaa ALLAH, kalo inget jadi mrembes mili. Kangen. Maa syaa ALLAH.

Ketika pulang dari mudik tetiba dapet Undangan walimah.

“Hayoo, siapa tebak Dek yang mau nikah?” Tanya Kak Dewi.

“Siapa Kak?”

“Tuh, liat Undangannya di Papan..” Continue reading “Karena Kalian Tak Pernah Benar-benar Pergi”