Di Balik Suami yang Sukses, Berdirilah Seorang Istri yang Hebat

dibalik“Di balik Suami yang sukses, berdirilah seorang Istri yang hebat..” Hmm, seratus persen (menurut saya) kalimat tersebut benar. Well, bukan tanpa alasan, karena memang di sekitar saya, banyak wanita-wanita hebat yang mampu mendongkrak kesuksesan Suaminya, meski lebih banyak pada sisi duniawi ya? Karena memang background tempat saya lahir dan tumbuh bukanlah lingkungan yang religius.

Tapi, Alhamdulillaah, di Jogja, wanita-wanita “Pensukses” Suami dalam perkara akhiraat banyak bertebaran, sungguh suatu nikmat yang patut disyukuri, setidaknya, ALLAH beri saya kesempatan dalam perjalanan hidup ini, untuk memiliki teman-teman dan sahabat yang baik agamanya, yang begitu banyak memberi perubahan pada arah yang lebih baik dalam hidup saya.

Adalah Ibu Sunarti, wanita berusia hampir kepala lima itu adalah Ibu saya. Di balik tubuhnya yang imut-imut alias mungil, dengan pakaian khas daster lengan pendek, dan panjang se-mata kaki, serta jilbab lebar yang menutupi dada (Ala bakul Ayam di Pasar 😀 #ngarep banget Mamah enggak baca postingan ini atas petunjuk krucil-krucil di rumah 😀 😀 ) adalah wanita hebat yang atas ijin ALLAH telah berhasil mensukseskan keluarganya, Suaminya, dan ke-enam putra-putrinya.

Mamah, saya biasa memanggilnya begitu, dan Mamih, ketiga Mas dan Mbak biasa memanggil beliau (Entah bagaimana bisa beda gitu, saya juga enggak tau ceritanya. Yang jelas, pas saya masih TK, Mbak Aan pernah bikin kesepakatan buat manggil Bapak, “Papih”.. hahaha.. #abaikan! 😀 ).

“Mamah, adalah Wonder Women!” itu kata Ria, Adik kami yang paling Bungsu dan manjanya minta dijitak. Di mata kami, anak-anaknya, Mamah adalah wanita yang tak kenal lelah. Kalo kata orang Cilacap, “Ora denger kesel..”. Sedari saya kecil, Mamah itu nggak bisa hanya duduk berpangku tangan. Adaaaa aja yang dikerjakan. Adaaa aja yang dilakukan. Kami yang menyaksikan sudah melambaikan tangan ke kamera #hadaaah -_-” Mamah masih aja semangatnya empat lima.

Menurut cerita yang beredar di keluarga besar kami, sejak menikah dengan Den Bagus Roes (Hihihi, panggilan tenar Bapak di Keluarganya), kalo pagi, Mamah udah goreng-goreng Marning (Kedelai yang digoreng pake bumbu). Trus dibungkusin kecil-kecil, dijual keliling kampung pake sepeda onthel, kadang dititipin ke warung Tetangga. Mamah nggak gengsi atau malu, padahal Bapak kala itu adalah seorang Pegawai di sebuah Bank besar milik Pemerintah. Bukan cuma Marning, Mamah juga bikin Es Lilin, Es Batu, pernah juga Jual Daster, Batik, Sprei, Perhiasan, Lemari, Perabotan Rumah Tangga, dari Gerabah, mangkok yang kecil-kecil, sampe Dandang yang super Jumbo, dikreditin, meski ujung-ujungnya banyak juga yang lupa bayar atau kalo ditagih mlipir gitu (Kalo pas barangnya harganya lumayan). Tapi Mamah mah woles aja, kata Mamah, “Biarin saja, nanti biar ALLAH yang mengganti..” wuiiih, supeeer.. Barakallahu fiiki Maah.. ❤

Seiring berjalannya waktu, Mamah bisa menabung dari hasil jualannya. Karier Bapak di Bank pun terus menanjak, bahkan bisa dibilang, ekonomi keluarga kami betul-betul jaya. Bukan bermaksud menyombongkan diri, karena pada akhirnya, Harta pun menjadi ujian bagi manusia. Akhirnya, pada akhir tahun 80-an, atas ijin ALLAH, Mamah bisa membuka warung Kelontong dan sembako di rumah kontrakan kami waktu itu, tepatnya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Sidareja.

Warung Mamah : Eeeh, ada Modelnyaah.. :D Tebak, saya yang mana?
Warung Mamah : Eeeh, ada Modelnyaah.. 😀 Tebak, saya yang mana?

Alhamdulillaah warung Mamah laris, selain Mamah orangnya supel dengan Pembeli, juga mudah meng-hutang-kan dagangannya ke orang, dan beliau, TIDAK PERNAH NAGIH. Maa syaa ALLAH. Namun, warung Mamah hanya bertahan sampai sekitar tahun 94-an, karena waktu itu Mamah hamil Si Bungsu dan sempat sakit juga. Jadi, engga diijinin kerja terlalu berat sama Bapak. Pun, rumah kami di area perkotaan sudah jadi. Akhirnya, warung Mamah tutup.

Setelah Ria udah bisa jalan, Mamah mulai usaha lagi, jualan Daster. Dan Asyiknya, setiap Mamah kulakan baju di Pasar Beringharjo Jogja, kami bisa sekalian jalan-jalan. Apalagi kalo pas bertepatan dengan Bapak Pendidikan di Sendik BRI Kaliurang. Karena kenangan dengan daster begitu indah, hingga kini saya pun sukaaa banget pake baju daster di rumah. Dan belinya selalu di Beringharjo. (Bagian ini agaknya engga penting.. 😀 ).

Kemudian, tahun 1997, Mamah iseng-iseng bikin kecap kedelai. Ternyata, enak! Rasanya khas. Akhirnya, Mamah pun mulai merintis Pabrik Kecap, UD. Kecap Subur. Alhamdulillah, bisnis kecap Mamah sukses. Bahkan, bisa merekrut beberapa Karyawan dan membuka Kios Sembako di Pasar Cinyawang. Bapak agak goyah, dan berniat buat meninggalkan pekerjaannya di Bank, serta memilih berwiraswasta sama Mamah. Tapi Mamah ketika itu bilang, “Namanya usaha, kadang ada di bawahnya juga Pak. Anak-anak, masih sekolah. Buat jaga-jaga dulu. Nabung dulu buat bekal masa depan.” (Waktu itu, Mas saya sudah kuliah, dua Mbak, saya, dan Adek saya masih sekolah, Ria belum sekolah). Bapak pun akhirnya tetap bekerja hingga akhirnya pensiun pada tahun 2002 setelah mengabdi hampir tiga puluh tahun lamanya di BRI.

Dan benar, saya agak kurang paham duduk masalahnya, namun sepanjang tahun 2003-2009 kondisi ekonomi keluarga kami betul-betul memburuk. Kios Mamah kemalingan dalam jumlah besar, usaha Kecap Mamah terhenti. Tiba-tiba semua mobil, sepeda motor, serta beberapa barang berharga di rumah mulai dijual satu persatu. Bahkan, rumah kami yang besar pun pada akhirnya harus dikontrakan pada Pengelola Kantor Telkom Flexi. Karena rumah kami berada di area perkantoran ketika itu. Seperti mimpi, kami sekeluarga akhirnya tinggal di Pabrik Kecap.

Kondisi Pabrik Kecap kala itu sangat memprihatinkan. Berdinding bilik, kamar mandi sangat tidak terurus bahkan tidak layak pakai, lantai dari plester semen yang sudah bopal-bopel ditumbuhi rumput, dan lengket karena tumpahan kecap dan Gula Merah. Dapurnya hanya berlantai tanah, tak berpintu. Di belakang dapur terdapat Sumur Tua yang airnya hitam. Di samping rumah persis, terdapat balong (bekas kolam Ikan) dengan luas 5 x 10 meter, yang penuh dengan sampah. Dan kalo turun hujan, airnya menghitam, pun kadang meluap masuk ke dalam rumah. Ketika malam menjelang, kami kedinginan. Karena, langit-langit rumah dibuat seadanya. Bagian atas bilik, tidak tertutup. Jadi angin malam bebas berhembus, dan itu sangat menyiksa saya. Karena saya riwayat sakit pada Paru-paru ketika masih kecil. Tapi sekarang sudah engga, cuma jadi mudah batuk pilek kalo kena dingin. Kalo siang, panasnya sangat menyengat sekali. karena atap rumah sangat rendah. Oh ya, rumah hanya memiliki satu kamar tidur. Iya, kamar tidur itu sebelumnya adalah tempat penyimpanan botol-botol yang sudah disterilkan untuk diisi kecap.

Karena Bapak sudah Pensiun, akhirnya Mamah kembali merintis bisnis kecap yang sempat vakum. Bedanya, kali ini tanpa Karyawan. Tenaga pekerjanya, adalah kami sekeluarga. Mamah dan Bapak yang bertugas mengaduk kecap tanpa henti, selama kurang lebih lima jam. Kemudian, anak-anaknya yang memasukkan kecap yang telah dingin ke dalam botol, menempelkan label merk Kecap, ada yang memasang tutup botol, ada yang menyegel tutup botol. Kami saling bahu membahu. Pun, pasarannya tidak seluas waktu kami masih memiliki mobil, hanya sebatas Rumah Makan dekat rumah yang bisa ditempuh dengan becak. Karena, kami tidak memiliki kendaraan ketika itu. Bahkan, sepeda untuk saya dan Dewi bersekolah pun, digadaikan.

Setelah, masa kontrak dari kantor Telkom Flexi habis, kami pindah ke rumah besar kami. Alhamdulillaah, saya lega. Bisa tidur di kamar yang hangat lagi. Meski barang-barangnya tidak selengkap dulu. Tidak mengapa, saya senang bisa merasakan sejuknya ketika siang hari menyapa. Karena rumah kami, termasuk kategori mewah dan dirancang untuk lantai dua. jadi memiliki langit-langit yang tinggi. Pun ornamen kayu jati, menambah kesegaran di rumah kami.

Masalah timbul, itu artinya, Mamah harus memutar otak lagi agar kami tetap bisa makan. Karena sewa rumah tidak diperpanjang. Akhirnya Mamah membuka usaha warung Soto Sokaraja di teras rumah. A’la kulli haal, soto Mamah tidak begitu laris. Bahkan, seringnya, hampir setiap hari tidak ada yang beli, meski hanya untuk sekedar beli es teh. Setiap pulang sekolah, saya melihat Mamah tidur di belakang gerobak Soto. Tapi, saya tahu, Mamah tidak benar-benar tidur. Saya tahu, Mamah sedang berpikir sangat keras. Jika hari ini tidak ada yang membeli Sotonya, itu artinya, hari ini Mamah membuang banyak uang untuk modal berjualan. Padahal, ketika itu, kami sangat membutuhan dana untuk biaya sekolah. Iya, setiap hari, kami hanya makan Soto, dari pagi hingga malam. bayangkan, bagaimana perasaan Mamah ketika itu? Ketika gerbang mau ditutup pun, Mamah selalu berkata, “Tunggu sebentar, barangkali ada yang mau beli Soto kita…”. Saya yang sangat jaim untuk nangis di depan keluarga, hanya bisa menarik napas panjang. Ada sesak yang begitu hebat di dada.

Warung Soto Mamah gulung Tikar. Akhirnya, Mamah menjual tanah di samping rumah. Teras rumah dibongkar, dan diperlebar. Kemudian dibangun ruko. Dengan menyisakan sedikit ruangan untuk pintu masuk ke dalam rumah kami. Alhamdulillaah, ruko Mamah disewa oleh Bank Mega Syariah. Pun, Mamah membangun beberapa kamar untuk indekost. Karena, waktu itu saya, dan Dewi sudah SMA. Mamah dan Bapak, mengharuskan semua anak-anaknya sekolah di luar Kota dan wajib ngekost. Bukan karena sekolah di tempat kami memiliki kualitas tidak bagus, tapi untuk melatih kami agar menjadi anak-anak yang tangguh dan lebih mandiri. Hanya tinggal Ria di rumah yang menemani Mamah dan Bapak. Syukurlah, indekost di rumah kami termasuk yang paling dicari kala itu. Karena, selain dekat dengan area perkantoran, juga dekat dengan sekolah. Dan, harga sewanya murah, include makan 3 kali sehari.

Dengan adanya Bank di samping rumah, dan melihat banyaknya Nasabah Bank ketika itu, Mamah berinisiatif membuka warung rames. Alhamdulillah, Warung Ramesnya kali ini bernasib baik. Laris manis. Begitu seterusnya sampai sewa ruko untuk Bank habis, kini giliran disewa oleh BO XL. Hingga akhirnya Mamah mencapai titik jenuh. Lelah. Setiap hari masak, melayani pembeli sendiri, berbelanja sendiri, bahkan mencuci piring sendiri. Mamah kangen jualan sembako. Kangen jadi Boss katanya. Saya cuma tertawa godain Mamah, “Halaah.. Mamah jadi Boss, tambah gendut nanti..”. Rupanya, ALLAH menjawab doa Mamah. Tiba-tiba ada Orang berniat menjual rukonya dengan harga murah kepada kami. Rumah Toko yang terletak di dekat Pasar. Tepatnya, di Desa Gandrungmangu.

Mamah bersemangat sekali ketika itu. Namun, surut, ketika menyadari tidak ada modal. Setelah lama berembug dengan Bapak, dan kami, anak-anaknya, akhirnya kami sepakat menjual rumah di Sidareja. Qadarullaah, rumah kami terjual dengan harga sedikit lebih rendah dari harga pasaran untuk daerah Sidareja. Tapi Mamah meyakinkan kami, “Kita buktikan, in syaa ALLAH ada kehidupan yang lebih baik di Gandrungmangu. Siapa yang tau kan? Nggakapapa, kita ikhlas saja. Disyukuri saja, toh semua sudah diatur sama ALLAH..”. Bapak diam ketika itu, tapi saya paham, diamnya Bapak, tanda setuju. Meski saya dan Saudara yang lainnya agak-agak protes.

Seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat, dengan ijin ALLAH.. dengan keluasan rahmat ALLAH, kami pada akhirnya dibangunkan dari mimpi-mimpi panjang yang banyak menguras air mata. Mamah membeli ruko itu. Meski luasnya lebih kecil dari rumah kami di Sidareja, tapi saya melihat, Mamah begitu mensyukurinya. Pekan pertama rumah itu jatuh ke tangan Mamah, Mamah rela bolak-balik Sidareja-Gandrungmangu untuk membersihkan rumah tersebut. Ngecat, ngepel, beberes ini itu, dan lain sebagainya. Saya melihat rona bahagia dan optimis di wajah Mamah. Dan itu, sangat melegakan saya.

Pekan kedua, tepatnya dua hari sebelum Idul Fitri, pada tahun 2013, kami sekeluarga pindah ke rumah baru di Gandrungmangu. Ada rasa sedih yang menggelegak di dada harus meninggalkan Sidareja dan rumah kami yang sudah ditempati hampir dua puluh tahun lamanya (Eh, seumuran Ria ding, berarti sekitar delapan belas tahun). Namun berubah menjadi bahagia, ketika Idul Fitri tiba, seluruh anak-anak Mamah dan Bapak berkumpul di rumah baru. Berjualan! Berjualan sembako dan kelontong itu ternyata seru. Alhamdulillaah, tak henti-hentinya kami menyeru kebesaran ALLAH.

Toko Mamah kini.. Abaikan dua model yang mengganggu Pemandangan :D : Tegar (11y), Icha (9y)
Toko Mamah kini..
Abaikan dua model yang mengganggu Pemandangan 😀 : Tegar (11y), Icha (9y)

Kini, setiap mudik, tak saya dapati lagi mata mendungnya. Hanya, omelannya saja yang semakin panjang seperti kereta Api Pengangkut Semen di Maos -_-” . (Akkk.. ampuun Mah! Hihihi..). Mamah, wanita hebat di balik kesuksessan Suami dan Putra-putrinya. Saya selalu bersyukur, memiliki Mamah seperti “Ibu Sunarti”. Saya bertekad ingin seperti Mamah. Seorang Ibu yang amat sangat memperhatikan kebutuhan putra-putrinya, bahkan cucu-cucunya. Pun, sangat sayang terhadap Menantu-menantunya. Soalnya, Mamah cuma punya anak laki-laki satu doang, tapi ngeselinnya itu bikin pengen gebukin. Iya, Mas saya itu, udah punya anak dua, masih suka malakin Adik-adiknya dan ngusilin kita kalo pas ketemu di rumah. Huh! (Entahlah, kalo menceritakan Mas Korin, rasanya geregetan.. nyebelin sih.. ).

Mamah adalah wanita mandiri. Bahkan sejak kecil, Mamah terlatih untuk bekerja keras. Selepas SMA, Mamah dipinang oleh Bapak. Boleh dibilang, Bapak orangnya sangat keras. Mungkin, watak kerasnya karena beliau berdarah Jawa Timur kali ya? Jadi karakternya kuat. Mamah sangat patuh sama Bapak. Sepenglihatan saya, tidak pernah sekali pun Mamah membantah Bapak. Saya aja heran, kok Mamah mau ya sama Bapak? Hihihi, kan Bapak galak? Tapi itu dulu loh yaa? Sekarang mah Bapak takut sama Mamah, soalnya Mamah udah jadi Boss.. Hahaha. Saya suka sakit perut kalo lihat Bapak lagi minta uang buat beli bensin ke Mamah, Bapak pasti colek-colek Mamah sambil bilang, “Boss.. Boss.. kayane Bensin ne enteng apa yah? Kudu diisi deh ketone..” (“Boss.. Boss, kayaknya bensinnya habis apa ya? Harus diisi deh sepertinya..” ). Dan Mamah sok-sok’an mentotal uang bensinnya Bapak, sambil bilang, “Berarti, hari ini Bapak pake uang sekian ribu..”. Bapak tertawa kalo melihat Mamah lagi bergaya begitu, pun kami yang melihatnya. Ada-ada saja.

Mamah, tidak pernah mengeluh pada Bapak. Bahkan seingat saya, Mamah sangat pantang untuk patah arang. Tidak seperti saya, yang mudah melempem. Saya ingat, dulu ketika kami sedang kesulitan keuangan, pernah hampir putus kuliah. Tapi, Mamah selalu berupaya mencarikan uang untuk biaya registrasi kala itu. Berkat pertolongan ALLAH, dan kegigihan Mamah dalam memperjuangkan Pendidikan anak-anaknya, kini cita-cita Mamah terwujud. Ke-enam Putra-putri Mamah pada akhirnya mengenyam Pendidikan hingga ke jenjang Perguruan Tinggi. Bahkan si Bungsu, kini sudah masuk semester empat. Dia nekat ambil Jurusan Teknik Geologi di Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. Di Purwokerto, katanya, “Biar deket sama Mamah tuuu..”. (Maksudnya ‘Mamahku’, cuma Ria kalo bilang ‘Mamahku’ dicadel-cadelin gitu, ikut-ikutan Nadya (4y), sambil bibirnya mecucu). Dan terbukti, hingga sebesar itu, Adik saya kalo mudik yang pertama dicari adalah Mamah. Dia akan uring-uringan dan ngambek seharian kalo pas pulang Mamah nggak di rumah. Pas awal-awal malah nangis kalo Mamah nggak ada di rumah. Manjanyaaa.. -_-“

Banyak hikmah yang saya ambil dari kisah perjalanan hidup Mamah, atau lebih tepatnya, perjuangan Mamah untuk menjadikan keluarga kami lebih sejahtera.

Semoga, ALLAH bri kelancaran dalam usaha Mamah. Semakin berkembang, tentunya, semoga Mamah dan Bapak agar selalu sehat, saling menguatkan, dan memotivasi dalam kebaikan.
Semoga, ALLAH beri kelancaran dalam usaha Mamah. Semakin berkembang, tentunya, semoga Mamah dan Bapak  selalu sehat, saling menguatkan, dan memotivasi dalam kebaikan.

Yang pertama, Menjadi Seorang Istri itu harus Kreatif. Harus banyak berinisiatif. Memang, pekerjaan yang mulia adalah menjadi Ibu Rumah Tangga. taruhlah, Mamah adalah Teladan Terbaik bagi saya, tentunya, setelah Para Shahabiyyah, Ibunda-ibunda Umat Islam, Para Generasi Salafush Shalih pendahulu kita. Mamah contoh nyata Ibu Rumah Tangga yang kreatif dan produktif. Beliau, tetap bekerja meski berada di dalam rumahnya sendiri. Membuat Industri Rumah Tangga, Kecap, Menjual makanan dan apa pun yang halal untuk dijual. Meski pemasukannya tidak begitu besar, tapi cukup membuatnya dipercaya oleh Suami untuk mengelola bisnisnya tanpa sedikitpun mengabaikan dalam mengurus anak-anak dan Suami, tanpa Suami khawatir, penghasilan yang diraihnya di luar sana disalahgunakan oleh Istri. Ini hal yang patut saya tiru. Bahkan, Kedua Mbak saya, Mbak Yayan dan Mbak Aan, mereka rela meninggalkan pekerjaannya dan memilih menjadi Ibu Rumah Tangga. Pun, mereka sekarang berjualan Online Shop, seperti Baju, Perhiasan dan Tupperware. Padahal, Suami mereka berlatar belakang militer, yang notabene mampu menanggung biaya hidup mereka. Pun, Mbak-mbak saya sebelumnya bekerja di Perusahaan yang bonafide. Saya tidak mau kalah, sebelum menikah pun, saya belajar sedikit-sedikit untuk membuat makanan ringan, berharap, suatu hari nanti jika ALLAH beri saya umur panjang dan kesempatan, saya ingin membuka usaha di bidang kuliner, tidak menutup kemungkinan merambah Parcel, Perabot Rumah Tangga, Jualan Baju-baju Muslimah, bahkan Daster. In syaa ALLAH. Tidak hanya online, tetapi juga offline, karena ada keinginan untuk membuka usaha di samping toko Ibu sekarang. hihihi.. 😀 .

Yang Kedua, pantang mundur dan terus berjuang. Mamah tidak pernah mengajarkan saya dan saudara-saudara saya menjadi Orang yang mlempem, mudah menyerah. Saya sudah berusaha setangguh Mamah, tapi rasanya, masih belum bisa melampaui kegigihan Mamah selama ini. Setiap ada masalah, saya justru lebih banyak mengurung diri, merenungkan, baru bertindak. Tidak seperti Mamah, yang bisa “Srek, srek, srek..”, Istilahnya cepat tanggap. Mamah suka bilang gini ke anak-anaknya, “Dalam berbisnis, tidak ada kata lamban. Jadilah orang yang trengginas, Jangan lelet. Ketinggalan kereta nanti..” (Maksud ketinggalan kereta, kita tertinggal jauh oleh Orang lain. Mudah disalip, lemah, dan dijatuhkan).

Yang Ketiga, Tidak mudah mengeluh pada Suami. Suami sudah memiliki banyak beban di kantornya. Sepulangnya ke rumah, diharapkan Istri dapat membuatnya sedikit rileks dan perasaannya membaik. Bukan malah disodori keluhan-keluhan yang akan menambah beban pikirannya. Lihatlah, kebanyakan laki-laki terlihat lebih rapuh ketika telah beranjak senja. wajahnya lebih terlihat sendu dibandingkan wanita. Ya, karena mereka banyak berpikir. Dan, saya membuktikan sendiri kok. Bapak saya, masih terlihat awet muda dan segar hingga kini. Ingatannya masih tajam, pun masih bisa menjenguk kami putra-putrinya di luar kota. Tidak ada yang menyangka bahwa usia Bapak sudah menginjak 62 tahun. Bahkan, teman-teman saya di Jogja pun mengira, usia Bapak masih bekisar lima puluh tahunan. Maa syaa ALLAH. Padahal yang saya dengar dari Dewi, yang kini bekerja di Bank yang sama dengan Bapak, “Menjadi Pegawai Bank itu sangat menguras tenaga dan pikiran Mbakyu. Tingkat stressnya lebih tinggi. Apalagi kalo pas akhir bulan, pas tutup buku, hadeuuuh.. gilaaa..”.

Yang Keempat, Sebesar apa pun kekayaannya, hormat dan patuh kepada Suami adalah segalanya. Mamah, tidak pernah meminta uang kepada Bapak. Tapi, Bapak yang menjatah uang untuk Mamah ketika masih bekerja. Dengan perjuangannya yang tanpa letih, Mamah dapat menghimpun kekayaannya sendiri. Meski tidak seberapa. Sesibuk apa pun Mamah, Mamah selalu memprioritaskan Bapak. Senggak ada uang pun, Mamah selalu melayani Bapak. Entah bagaimana, di meja makan kami selalu tersedia makanan. Pun, selalu ada piring khusus untuk makan Bapak. Semarah apa pun Bapak ketika sedang kesal, Mamah selalu diam dan mendengarkan. Tidak membantah. Seletih apa pun, jika Bapak minta dibuatkan ini itu, Mamah segera bergerak memenuhi permintaan Bapak. Sungguh, itu terpatri kuat dalam setiap ingatan saya. Teladan Istri yang taat kepada Suami. Saya lihat, kini Bapak begitu menyayangi Mamah. Saya lihat, ucapan terima kasih Bapak ketika tatapannya jatuh kepada Mamah. Bapak seakan merasa begitu berdosa pernah menyakiti Mamah barangkali ketika masih muda dengan egonya. Kini beliau menyadari, bahwa tak ada yang akan benar-benar mengerti Bapak, selain Mamah. Dulu, Bapak berada di tengah Saudara-saudaranya. Setelah menikah, semuanya menjalani kehidupannya masing-masing. Kemudian, anak-anaknya yang telah dididiknya selama puluhan tahun lamanya, pun sama, telah meninggalkannya satu persatu, dan memiliki kehidupan masing-masing, tak lagi di sisinya. Ya…. Hanya Mamah lah, yang masih tetap berada di samping Bapak. Hanya Mamah.

Yang kelima, Membuat saya lebih menghargai Ibu-ibu yang warung makannya sepi. Saya selalu melihat harapan dari mata-mata teduh para Ibu yang warung makannya sepi. Duduk termangu di balik etalasenya. Memandangi setiap orang yang lewat berlalu lalang di depan warungnya. Hanya demi rupiah, pun belum tentu mencukupi kebutuhan untuk esok hari. Bisa jadi, hanya untuk membeli bahan untuk berjualan besok. Dan harus menahan air mata, karena membuang percuma lelah letihnya hari ini. Saudariku, jika kalian mendapati warung seorang Ibu yang sepi, meski tak begitu lapar, meski tak begitu enak. Mampirlah sesekali, barangkali disana, kau akan dengarkan kalimat syukur, senyuman tulus, yang kau pikir itu hal biasa. Tapi mungkin saja, pada seulas senyum yang menghiasi bibirnya, terselip doa kebaikan bagimu, yang akan bersaksi untuk kebaikanmu pada hari itu di Pengadilan ALLAH. Siapa tahu?

Yang Keenam, Berdagang adalah Salah Satu Pekerjaan yang Mulia. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun adalah seorang Pedagang. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seringkali memuji dan memotivasi para pedagang. Diantaranya beliau bersabda:

التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada”

(Hadist Riwayat Tirmidzi)

Yang Ketujuh, Mamah menghabiskan masa mudanya untuk kita. Menghimpun kekayaan untuk kita, kini saatnya kita yang membahagiakan hari tuanya. Lihatlah, ketika Mamah telah sukses, Mamah tak pernah berhenti memberi kepada Putra-putrinya. Tak ia keluhkan sepeserpun yang telah keluar untuk anak-anaknya. Ya, memang benar.. kasih sayang Ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Semoga, ALLAH selalu mudahkan kita untuk berbakti kepada kedua Orang Tua. Dan berkesempatan merawat hari-hari tua mereka.

Yang Kedelapan, harta itu Ujian.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi ALLAH-lah pahala yang besar” (Surah Al-Anfaal ayat 28).

Harta adalah ujian bagi Manusia. Oleh karenanya, cukuplah jadikan harta sebagai sarana dalam mengharapkan pahala ALLAH, bukan sebagai tujuan hidup. Sebab, segala kekayaan kita itu milik ALLAH. Kapan saja ALLAH menghendaki, pasti akan diambilNya. Oleh karena itu, siapa pun yang akan mencari nafkah untuk penghidupan keluarganya, niatkanlah hanya karena ALLAH semata, niatkanlah sebagai bentuk ibadah kepada ALLAH. Iya, ALLAH akan menguji umatNya dengan sedikit atau banyaknya harta.

Yang kesembilan, Bersabarlah. Sesungguhnya, ALLAH bersama dengan Orang-orang yang sabar. Bersabarlah ketika musibah menimpa. Bisa jadi, ALLAH datangkan musibah kepada kita, sebagai penggugur dosa-dosa yang telah lalu.

Yang Kesepuluh, Kesuksessan tidak akan diraih dengan bersantai-santai. Bekerja keraslah, bahwa setiap ikhtiar itu in syaa ALLAH membuahkan hasil. Jika tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bertaqwalah kepada ALLAH. Banyak-bayak berbaik sangka, bisa jadi, ALLAH akan beri kita yang lebih baik. Mungkin tidak sekarang, tapi, tetaplah menunggu dan teruslah berdoa.

Yang Kesebelas, Carilah Kekayaan Dunia, tapi.. Jangan Engkau lupakan Jalan menuju Akhiratmu. Mamah selalu mengingatkan, “Kamu mau punya uang segunung sekali pun, kalo kamu nggak pernah ibadah sama ALLAH, percuma..”. Itu jlebb banget.

Yang Kedua Belas, Tetaplah Setia, Mendakilah bersama dengan Suami dalam keadaan apa pun. Pasca Bapak pensiun, praktis Mamah yang menanggung hampir seluruh kebutuhan keluarga. Karena ketika pensiun, usia Bapak sudah hampir mustahil untuk bisa melamar pekerjaan kembali. Sejak menikah, Bapak hanya fokus kerja di belakang meja. Jadi beliau kesulitan untuk memulai bisnis jika tidak didampingi Mamah, yang sudah expert pengalamannya dalam berwirausaha. Mungkin darah Pengusaha, memang menurun dari Mbah saya, yang dulunya Pedagang. Dan semoga menurun ke saya juga, aamiin.

Dan masih banyak hal lainnya yang rasanya butuh waktu berhari-hari kalo saya sudah menceritakan tentang Mamah. Tapi sisi nyebelinnya Mamah, adalah beliau orangnya suka heboh dan bikin gempar. Pernah, saya dikabari, Keponakan masuk Rumah Sakit. Katanya tangannya patah, nangis terus, nggak bisa ngapa-ngapain. Tante mana coba yang ngga panik dikabarin seperti itu. Akhirnya saya buru-buru pulang demi menengok Keponakan. Eh, pas nyampe rumah, Keponakan saya lagi main tuh ke rumah Mbahnya (Rumah Mamah), masih bisa cengar-cengir dan dia dengan santainya minta dimandikan sama saya dengan logat ngapak super medok, “Tante.. enyong adusilah. Kiye, perbanne gedene ngepol. Angel le nyopot klambine…”. (Tante, saya dimandiin lah. Ini perbannya besar sekali. Susah buat melepas bajunya). Saya langsung nyubitin perutnya Mamah. Sebal.

Semoga kisah ini bisa menginspirasi pembaca, untuk menjadi Orang yang tangguh seperti Mamah saya. Karena, saya pun terinspirasi dengan beliau. Sekaligus menampik anggapan, bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga itu tidak bisa sukses. Lebih bagus lagi, jika bisa sukses dalam perkara dunia, pun sukses dalam perkara akhiraat. Mungkin, dari sisi Agama, Mamah saya cukup religius, hanya tidak seperti para Ummahat, teman-teman saya di Jogja. Namun, sisi lain dari beliau ini lah, yang membuat kami bisa hidup layak. Bisa membeli baju syar’i dengan mudah, bisa memiliki laptop untuk menulis, menyimpan artikel tentang ilmu agama, mendengarkan kajian, bisa memiliki kendaraan sendiri yang bisa digunakan untuk wara wiri datang ke Majelis Ilmu, yah.. mungkin inilah yang disebut harta sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya, bukan untuk tujuan hidup semata.

Jazakummullahu khairaan Mamah, Bapak.. atas kebaikan Mamah dan Bapak selama ini.. Semoga menjadi pahala bagi Mamah dan Bapak, aamiin..

Advertisements

One thought on “Di Balik Suami yang Sukses, Berdirilah Seorang Istri yang Hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s