Menampakkan Nikmat ALLAH, Tidak Sama Dengan Pamer

Salah sarainfall2tu bentuk tahadduts bin ni’mah (Menyebut-nyebut nikmat ALLAH) adalah dengan menampakkan nikmat yang diberikan ALLAH kepada orang lain, agar tumbuh kecintaan kepada ALLAH yang telah memberikan nikmat kepadanya. Namun, perlu disadari juga bahwa menampakkan nikmat ALLAH itu berbeda dengan sikap riya’ atau pamer.

Jika dengan menampakkan nikmat yang diberi ALLAH adalah mengupload foto makanan mewah, barang mewah, gadget mewah, dan lain sebagainya dengan tujuan agar ia mendapat pujian dari orang lain, agar dikenal bahwa dia adalah orang yang kaya, atau semacamnya, maka ia hanya sedang pamer dan perbuatannya tercela

Namun, apabila orang tersebut menampakkan nikmat yang diberikan ALLAH dan di dalamnya terkandung kemaslahatan, maka.. kabar gembira baginya yang telah dilimpahkan nikmat oleh ALLAH.. Baik berupa kesehatan, kemudahan dalam beramal shalih, atau seorang Dokter yang dengan pertolongan ALLAH mampu mengobati Pasiennya, dan dia bersyukur memuji nama ALLAH, lalu mengabarkan pada orang lain, maka.. Inilah salah satu dari sekian banyak nikmat-nikmat ALLAH yang lebih pantas untuk ditampakkan.. Selama tidak melampaui batas.. Karena, hasad dan dengki, sangat dekat dengan orang-orang yang dilimpahkan banyak nikmat oleh ALLAH.

Jika seorang hamba menyebutkan nikmat ALLAH (termasuk di dalamnya nikmat amal sholeh) sesuai dengan yang disyari’atkan, lalu manusia memujinya sehingga ia terkesan atau senang dengan pujian tersebut, namun dalam hatinya tidak ada keinginan riya’ (memperlihatkan ibadah agar dipuji manusia) dan sum’ah (memperdengarkan suara dalam beribadah agar dipuji manusia), maka itu termasuk kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.

Dan yang dinamakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin bentuknya adalah seorang mukmin melakukan amal shalih dengan mengharap pahala ALLAH (ikhlas) lalu ALLAH jadikan manusia mengetahui, menyenangi dan memujinya, tanpa ada niat sengaja memamerkan amal shalihnya dan tanpa ada niat sengaja mencari pujian manusia, lalu ia senang dan terkesan dengan pujian itu.

Dari Abi Dzar Radhyallahu ‘anhu berkata,

“Ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan Anda seseorang yang beramal dengan suatu amal kebaikan, lalu manusia memujinya atau mencintainya? Beliau bersabda (Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin)” (Hadist Riwayat Muslim)

Tersadarkan oleh Postingan Mbak Meutia Halida Ummu Harits di home Facebook pagi ini :

Inilah zaman di mana orang-orang berlomba untuk dinilai dari apa yang mereka punya, bukan lagi dari apa yang mereka bisa, bukan lagi dari hal positif yang mereka kerjakan. Pergeseran mindset bahwa tingginya gaya hidup seseorang selalu berbanding lurus dengan kadar kebahagiaan hidupnya.

Dan socmed mengambil peran penting dalam hal ini. Budaya pamer dan selalu ingin jadi yang paling ‘wah’ di antara circle pertemanan membuat manusia jadi selalu ingin lebih dan lebih. Selalu nggak mau kalah dari orang lain yang tampaknya hidupnya jauh lebih perfect daripada kita.

Ketika sebuah postingan yang sarat dengan kemewahan terunggah, sebagian orang mungkin menganggapnya biasa saja. Tapi kadang kita lupa, yang demikian bisa memicu timbulnya keinginan untuk memiliki hal yang sama bagi sebagian yang lain, tak peduli mereka sebenarnya sanggup memilikinya atau tidak.

Karena hampir setiap saat dijejali berbagai kemewahan di socmed, sebagian ada yang memilih untuk mengambil jalan pintas. Ingin memiliki materi dengan cara instan. Akhirnya lahirlah generasi-generasi hedonis yang tak peduli halal haram, asalkan mereka senang. Bodo amat caranya gimana.

This is one thing we must afraid, and aware of. Alhamdulillah sejak kecil, orangtua selalu mendidik saya bahwa uang dan limpahan materi bukanlah standar bahagia. Membiasakan saya agar hidup sederhana, apapun keadaannya. Karena sederhana bukan masalah mampu beli atau tidak, bukan juga tentang kadar kemampuan finansial. Sederhana.. adalah gaya hidup.

Pesan ibuk saya waktu kami masih kecil kecil dulu,

“Sederhana itu bukan masalah punya duit atau nggak punya duit. Sederhana itu gaya hidup. Kadang orang bayar mahal bukan karena makanan yang dia makan atau baju yang dia pakai, tapi karena gengsinya. Karena nggak mau kalah sama punya orang. Bukan hidup kita yang mahal, tapi gaya hidup kita yang mahal. Nggak papa makan sederhana, apa adanya, yang penting hidup tentram, hati tenang, jauh dari hutang..”

Bahagia itu sederhana, ketika kita bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang kita inginkan.

“Ya Allah, letakkanlah dunia di tanganku.. Tapi jangan letakkan ia di hatiku.”

Well… Menjadi pelajaran bagi kita semua, jika ALLAH beri kelebihan harta kepada kita, memberi kemudahan dan kelapangan untuk membeli barang mewah, jalan-jalan ke luar negeri, dan lain sebagainya, tak perlu melulu diupload di media sosial. Selain pengguna media sosial tidak seluruhnya orang berada, dan boleh jadi tidak semuanya terbebas dari hasad, ahsannya.. hanya tampilkan yang sekiranya mengandung maslahat bagi orang lain, atau memotivasi, atau menumbuhkan kecintaan orang yang melihatnya kepada ALLAH, Dzat yang Maha Pengasih, yang telah memberi karunia tersebut. Bahkan ALLAH telah melarang umat-Nya untuk bermegah-megahan dan bersikap boros bukan? Barakallahu fiikumma..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s