Kemanakah Perginya Rasa Cemburu Itu?

Bukan CintaBukan Cinta namanya kalo tidak cemburu dan rindu…

Ah ya benar, salah satu tanda cinta adalah cemburu. Cemburu yang dibenarkan syari’at, dan tentunya cemburu yang akan semakin mengokohkan cinta di dalam dada masing-masing Suami mau pun Isteri. Cemburu (Ghirah) adalah fitrah bagi setiap insan, terutama wanita. Sebagaimana fitrahnya wanita, yang selalu ingin menjadi nomor satu dan satu-satunya di hati Suami, sehingga karenanya hatinya akan mudah terbakar tatkala mendapati Suaminya memandang wanita lain, berbicara dengan wanita ajnabiyyah, dan lain sebagainya. Sebagaimana halnya wanita, sudah selayaknya seorang laki-laki pun memiliki rasa cemburu kepada Istri dan  wanita yang menjadi mahramnya, yang memiliki hak untuk dicemburuinya.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan Suami pergi ke Sunday Morning di Lembah UGM untuk membeli Hijab (Tirai) untuk ruang tamu rumah kami. Saya sudah membayangkan mau lihat-lihat beragam pernak-pernik yang lucu-lucu disana. Setibanya di Sunday morning, Suami langsung berjalan menuju stand tirai dan memilih tirai yang sesuai untuk cat dinding rumah kami. Lalu buru-buru mengajak saya pulang. Saya ngambek ketika itu, karena saya masih ingin melihat-lihat tirai motif lainnya. Hingga akhirnya Suami berkata, “Disini padat sekali orang. Banyak Mbak-mbak yang tebar aurat berseliweran, dan kita harus senggolan sama bukan mahram. Kamu mau ta, aku lihat Mbak-mbak yang nggak nutup aurat itu disini? senggolan sama mereka? Kalo aku sih nggak mau. Aku juga nggak mau kamu dilihatin laki-laki, dan kesenggol mereka.”

Degg! Seketika saya mengamati sekeliling, dan memang Sunday Morning pagi itu sedang sangat padat pengunjung. Duhh.. memang banyak Mbak-mbak yang tidak menutup aurat ada disana, dan saya tetiba merasa cemburu sekali membayangkan Suami harus melihat rambut mereka yang terekspose, wajah mereka yang dipoles, serta parfum mereka yang begitu menusuk hidung. Ada perasaan tidak rela jika Suami harus menikmati apa yang seharusnya tidak ditemuinya di luar rumah.

Sepanjang jalan Suami mengutarakan, betapa tidak sukanya beliau berada di tengah keramaian. Baik ketika bersendirian mau pun dengan saya. Alasannya, ikhtilath dan banyaknya Mbak-mbak yang berseliweran mengenakan baju minim bahan. Betapa wanita adalah godaan terbesar bagi laki-laki. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Suami kala itu, bahwa apabila wanita keluar rumah, setan akan menghiasinya hingga wanita nampak cantik di mata laki-laki, sekali pun dia tidak cantik.. hehehe. Ya, wanita yang tidak menutup aurat lengkap dengan parfum yang semerbak dan make up yang warna warni, tentu saja menarik perhatian. Sudah menjadi sunatullah, bahwa laki-laki memiliki kecenderungan untuk menikmati keelokan wanita. Sekali pun ia berusaha keras untuk gadhul bashar (menundukkan pandangan), namun terkadang panah-panah setan lebih lihai membidik mata dan pikiran manusia dengan syahwat.

Dari Jabir bin Abdullah -radhyallahu ‘anhu-,

“Bahwa Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wa Sallam melihat wanita, lalu beliau mendatangi isterinya, Zainab yang sedang menyamak kulit kambingnya, lalu beliau menggaulinya, kemudian keluar kepada Para Shahabat dan bersabda, ‘Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan, dan pergi dalam bentuk setan, bila salah seorang diantara kalian melihat seorang wanita, maka hendaknya mendatangi isterinya, karena hal tersebut menolak apa yang ada di dalam hatinya’.” (Hadist Riwayat Muslim).

Kecemburuan adalah perkara yang sensitif. Sudah selayaknya, seorang Suami cemburu kepada Isterinya kala sang Isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, leluasa ngobrol dengan lelaki non mahram meski dibarengi embel-embel, “Teman Kampus”, “Teman Kecil”, bersalaman dengan lelaki non mahram, hingga dibonceng oleh lelaki selain dirinya. Begitu pula sebaliknya, sudah seharusnya seorang Istri cemburu ketika Suaminya dengan bebas inboxan, smsan, berhaha-hehe ria, mau pun memandang wanita lain selain dirinya. Meski, wanita tersebut adalah teman dekat Istri sekali pun.

Jika sedari awal Suami tidak keberatan Isterinya ngobrol dengan temannya, bebas bersolek ketika keluar rumah kemudian pada suatu hari didapat berita bahwa Sang Isteri menelikungnya, barulah kecemburuan itu berkobar, maka sungguh yaa Akhi.. kecemburuanmu sudah terlambat, tak berarti apa-apa.

Pun, apabila seorang Istri merasa biasa saja ketika Suaminya menjadi “Teman Curhat” Sahabatnya, tidak risih melihatnya berjabat tangan dengan selain dirinya, hingga pada suatu ketika didapati sang Sahabat yang begitu dikasihinya, dan Suami yang begitu dipercayainya bermaksiat di balik punggungnya. Lalu, engkau menjadi cemburu buta karenanya. Duhai Ukhty… Sungguh, kecemburuanmu hanya sebuah kesia-siaan belaka. Betapa malangnya dirimu..

Seorang Suami harus memiliki rasa cemburu yang terpuji. Bukan yang membabi buta atas dasar prasangka. Kecemburuan yang terpuji adalah apabila ia diletakkan pada tempatnya. Suatu kali, Sa’ad bin Ubadah berkata, “Kalau ketahuan ada seorang lelaki ada bersama Isteri saya, akan saya potong lehernya dengan pedang sabagi sanksinya.”

Maka Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

“Apakah kalian melihat cemburu Sa’ad itu? Ketahuilah, saya lebih cemburu daripadanya. Dan ALLAH lebih cemburu daripada saya. Dan karena kecemburuan itu, ALLAH mengharamkan perbuatan yang keji, baik secara terang-terangan mau pun tersembunyi.” (Hadist Riwayat Bukhari)

Bahkan, Agama Islam yang mulia ini membenci laki-laki dayuts yang tidak memiliki rasa cemburu. Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :

“Tiga golongan yang tidak akan masuk surga : Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dayuts (laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupakan diri dengan laki-laki.” (1)

Dalam hadist yang lain disebutkan :

“Tiga orang yang ALLAH haramkan surga atas mereka, Pecandu Khamer, durhakan kepada Orang Tua, dan Suami dayuts yang membiarkan keburukan di tengah keluarganya.”(2)

Cemburu yang terpuji adalah apabila sebab-sebabnya jelas dan memiliki bukti-bukti yang nyata. Seperti mendapati Isteri besenda gurau dengan laki-laki non mahram, sehingga terlihat demikian akrabnya. Berbalas komentar, inbox dengan laki-laki selainnya tanpa keterdesakan yang sangat darurat.

Ada pun kecemburuan yang tercela adalah kecemburuan yang dibangun atas dasar persangkaan semata, tanpa ada bukti kuat yang melandasinya. Seperti melarang Isterinya menerima tamu mahramnya ketika Suami tidak berada di rumah.

Sedangkan, lelaki dayuts adalah Suami yang tidak dapat menjaga kehormatan Isterinya. Ia cuek bebek saja ketika melihat Isterinya dandan menor ketika mau kondangan, sedangkan di rumah penampilannya acak-acakkan. Memakai wewangian ketika keluar rumah, tidak menutup aurat, berjabat tangan dengan lelaki non mahram, boncengan dengan lelaki lain, berbicara lemah lembut dan bercampur baur dengan sekumpulan laki-laki lain.

Dayuts adalah perbuatan tercela, dan pasangan Suami Isteri yang tidak memiliki kecemburuan ketika pasangannya berinteraksi bebas dengan selainnya pun tidak kalah tercelanya, dan azab ALLAH adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang yang demikian. Na’udzubillaah.

Yaa Ukhty..

Jika engkau mengaku Muslimah, jika engkau tidak ingin Suamimu terpikat oleh selainmu di luar rumah, maka tutuplah auratmu. Saling bahu membahu di antara kita, agar memudahkan Suami-suami temanmu menudukkan pandangannya.

Yaa Akhy…

Sekiranya engkau telah menikahi seorang Muslimah, laranglah dengan tegas agar Isterimu tidak keluar rumah tanpa jilbabnya. Sungguh wahai Saudaraku… Suami, bertanggungjawab atas maksiat yang dilakukan Isteri dan Puterimu. Maka, nasehatkanlah kepada mereka agar mengulurkan hijabnya hingga ke dada, agar tetap betah tinggal di dalam rumahnya, dan.. saling tolong menolong dalam mentaati ALLAH, agar cintamu pada mereka, sampai hingga ke Surga.

Barakallahu fiikum.

Tyas Ummu Hassfi

Kragilan, 28 April 2015

Ketika menanti jemuran kering…


  • (1) Hadist Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Ibnu Umar -radhyallalhu ‘anhu- dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 3063.
  • (2) Hadist Riwayat Ahmad dari Ibnu Umar -radhyallahu ‘anhu- dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 3052.
Advertisements

4 thoughts on “Kemanakah Perginya Rasa Cemburu Itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s