Bersabarlah…

KBabbyetika ditanya, “Kapan punya Dedek Bayi?” rasanya itu seperti ditanya, “Kapan mau meninggal?”, hehehe. Sebuah pertanyaan yang kita tidak akan pernah tahu jawabannya, sampai ALLAH mentakdirkannya untuk terjawab. Entah cepat atau lambat.

Semenjak menikah, saya selalu heboh ketika masanya mendekati tanggal seharusnya haid. Saya yakin kok, umumnya wanita yang baru menikah dan ingin bersegera memiliki momongan mengalami hal serupa seperti yang saya rasakan. Nggak sabaran banget buat beli test pack. Dan setelah diketahui hasilnya negatif, langsung deh bad mood dan sedih.

Meski baru menginjak dua bulan lewat beberapa hari usia pernikahan kami, saya sudah ngebet sekali ingin segera hamil. Hampir setiap hari saya selalu berkata, “Kalo aku hamil.. Kalo aku melahirkan. bla bla bla..” yang ditanggapi dengan tampang sok seriusnya Suami.. hihihi. Wajar.

Kegalauan semakin menjadi ketika saya mengenal beberapa teman sesama Ummahat yang sudah menikah lebih dari satu tahun belum juga dikaruniai anak. Duhh.. saya sedih dan begitu ketakutan. Entah ya, saya tiba-tiba merasa sangat kesepian dan rindu yang begitu mendalam pada keponakan-keponakan saya yang sudah mulai beranjak satu persatu dari masa kanak-kanaknya. Terlebih ketika bertemu teman yang sudah lebih dulu menikah dan mereka sudah berputera, lalu teman tersebut bertanya, “Udah isi belum?” aaaa.. rasanya itu kecut kecut gimanaaa gitu.

Beruntung, kegalauan saya terobati ketika pekan lalu kajian Taammul bainnazzaujain. Pas udah duduk di majelis, pas banget ketika membahas tentang “Anak”. Seperti ada embun sejuk yang membasahi hati ketika Ustadz Aris Munandar mengisahkan tentang Istri Nabi Ibrahim Alaihissalam yang diberi karunia putera ketika usianya sudah tua, kisah tentang Nabi Sulaiman yang memiliki banyak Istri dan bercampur dengan 70 Istrinya demi untuk memperoleh keturunan, qadarullah dari sekian banyak Istrinya, hanya satu yang melahirkan, pun anaknya cacat dan tidak dapat membantu Ayahnya untuk berjihad di jalan ALLAH.

Ya, saya terhibur ketika Ustadz berkata kurang lebih, “Memperoleh anak atau tidak, adalah otoritas ALLAH..”. Ah ya benar.. jika kita sudah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan anak, namun ternyata ALLAH belum ijinkan, ya apa boleh buat, mungkin itu yang terbaik bagi kita. Maka, sebagai orang yang beriman kepada takdir ALLAH, sudah sepantasnya kita menerimanya dengan kesabaran yang tak bertepi.

Seperti nasehat Suami semalam, “Jika kita memiliki keinginan dan dikabulkan oleh ALLAH, maka berbahagialah. Namun apabila kita memiliki keinginan dan tidak dikabulkan oleh ALLAH, maka seharusnya kamu sepuluh kali lebih berbahagia. Karena itu adalah keinginan ALLAH. Keinginan ALLAH, sudah pasti adalah yang terbaik bagi kita…”

ALLAH tidak akan mendzhalimi hamba-hambaNya. Jika ALLAH berkehendak atas segala sesuatu dalam hidup kita, pasti akan terjadi. Semoga, saya bisa lebih bersabar menanti, berdoa, berusaha dan berpasrah diri kepada ALLAH. Saya tahu, ALLAH demikian menyayangi saya. Pada setiap peristiwa dan ketetapanNya, pasti ada hikmah yang dapat kita petik di dalamnya. Tapi semoga tidak lama, karena, sudah tak sabar rasanya ingin ada yang memanggilku, “Ibu…”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s