Mudik : Jogja, Kali Ini Berbeda

mudikAlhamdulillaah..

Akhirnya, hari ini bisa menghirup udara kota Jogja kembali setelah kurang lebih sepekanan ini mudik ke Kampung Halaman tercinta, di Kota Bercahaya, Cilacap. Setelah menempuh perjalanan nyaris dua belas jam karena kemacetan parah yang terjadi sejak di Kota Cilacap hingga lepas Kebumen.

Bus Efisiensi yang kami tumpangi berjalan merangkak. Meletihkan hati, badan dan pikiran. Padahal, pada kondisi normal, safar dari Cilacap menuju Jogja dengan bus tidak lebih dari enam jam. Maklum, masih suasana arus balik Lebaran.

Saya dan Suami sampai di Jogja pukul 23. 00 WIB. Qadarullaah, selama musim lebaran Shuttle yang disediakan Efisiensi ditiadakan. Alhasil, kami terpaksa turun di Pasar Gamping, mencari taksi. Hmm.. di depan Mirota Gamping memang berjajar Taksi warna hijau, entah ya.. Nama Armadanya apa? Yang jelas, ketika kami sampaikan tujuan kami, Sopir taksi yang tak berseragam tersebut menyebutkan nominal seratus ribu dan pada hari biasa bekisar lima puluh ribu.

Saya terkejut, dan segera menyadari bahwa ternyata taksi tersebut adalah borongan, tidak menggunakan argometer. Saya enggan bernegoisasi dengan mereka, dan menarik lengan sambil berbisik pada Suami, “Telepon aja ke 373737 Bang. Yang resmi aja. Masa tarif taksi ke jalan Magelang lebih mahal dari tarif Bus Efisiensi?”. Yang dijawab oleh anggukan Suami. Belum sempat kami menelepon, tetiba ada taksi yang kami maksud melintas. Fyuhh.. lega. Karena, sependek yang saya ketahui, taksi mobil Avanza bercat hitam tersebut resmi, dan yang pasti berargometer. Maklum yaa.. Ibu-ibu, bukannya pelit sih, tapi ngirit 😀 #alesan .

Jogja
(Sumber : Internet)

Pukul 23. 30, sampai juga di rumah. Maa syaa ALLAH, kangen banget mendengar suara Angsa, Kalkun dan Ayam yang bersahut-sahutan di pelataran rumah kami yang luas. Karena Unggas-unggas di kampung entah pada kemana sekarang?

Well..! Rumah kami berdebu. Hiks.. 😦 Padahal hanya ditinggal seminggu. Untunglah, kami meninggalkan rumah dalam kondisi rapi jadi nggak nambah capek buat beberesnya. Menjadi pengalaman berharga bagi kami, supaya menutupi perabot rumah tangga dengan plastik atau kain lebar, dan menyandarkan kasur ke dinding supaya tidak berdebu ketika akan ditinggal lama. Rumah rasanya pengap sekali, terpaksa saya menyemprot lantai supaya debunya berhenti berterbangan dan mengganggu pernapasan.

Sore hari berikutnya, saya dan Suami keluar untuk makan di luar karena masih rada capek buat masak. A’la kulli haal.. hampir seluruh rumah makan tutup. Hanya beberapa warung Bakso dan Restoran Junk Food saja yang buka.

Setelah muter-muter, akhirnya kami menemukan warung penyetan di Pogung yang masih buka. Alhamdulillaah, harganya masih tarif normal, engga pake tarif “lebaran”.

Pulang makan, kami mampir ke Mirota Kampus untuk berbelanja beberapa kebutuhan dapur dan toilet. Jalan C. Simanjuntak yang biasanya macet kini tampak lengang. Padahal, jam 16. 30 adalah jam supersibuk. Tetiba saya merasa sedih. Seperti ada yang hilang.

“Jogja hari ini seperti kehilangan ruhnya ya Bang..” Tanya saya ke Suami.

“Lha kenapa emang?”

“Biasanya maceeet banget. Banyak Mahasiswa pada cengengesan di lampu merah ini, lihat Masjid Al-Hasanah hidup, trus Mirota Kampus padat, bunyi klakson mobil sahut-sahutan, dan Orang-orang sembarangan nerobos trotoar. Kok aku jadi sedih gini ya Bang?”

“Iya. Sekarang tinggal Penduduk asli Jogja aja ya yang kelihatan? Kontras banget kalo mayoritas Penghuni Jogja adalah Mahasiswa.”

Hmm..

Oya, sebelum ke Mirota Kampus kami ke Masjid Pogung Raya. Duh, tetiba mrembes mili. Ada rindu yang tertinggal di Masjid ini. Pukul empat sore, ketika Ramadhan Masjid ini sudah penuh hiruk pikuk anak-anak TPA, Mahasiswa dan Masyarakat Pogung yang hendak buka puasa bersama, bersapa dengan akhwaat yang piket ngajar TPA selama Ramadhan mau pun yang sekedar buka bersama sembari mendengar kajian pengantar buka puasa.MPR

Bahkan, sepulang kami dari jalan-jalan sore, masih terasa hampa. Rumah menjadi terasa sangat sepi. Tidak terdengar lagi musik atau suara televisi dari rumah Tetangga, yang biasanya membuat saya mengurut dada dan mengeluh pada Suami supaya menegur. Di satu sisi saya sebel dengan kebisingan yang ditimbulkan oleh Tetangga, namun di sisi lain rindu. Bukan rindu pada suara musiknya, tetapi.. rindu akan adanya kehidupan di rumah sebelah. Tetangga sesama muslim, yang kini tengah mudik.

Semakin sepi dan berbeda sekali ketika adzan Isya berkumandang. Ketika Ramadhan, menjelang buka hingga usai tarawih nyaris kami tidak pernah di rumah, karena buka bersama di luar dilanjutkan tarawih di Masjid Pogung Raya mau pun Masjid Pogung Dalangan. Kini, waktu berjalan begitu lambat. Pukul 20. 00 rasanya demikian panjang. Sampai-sampai Suami berkata, “Hampa banget ya setelah Ramadhan? Jadi kangen MPR, kangen Ustadz Aris dan Ustadz Afifi..”

Ketika mau lebaran, rindu mudik ke kampung halaman. Setelah mudik, eh malah rindu Jogja seperti sediakala. Terutama ketika Ramadhan. Lebih-lebih, Ramadhan yang saya lalui kemarin adalah ramadhan pertama menjadi seorang Istri. Ramadhan pertama bisa full tarawih di Masjid.

Jogja kali ini berbeda, kisah mudik di kampung halaman pun kini berbeda. Bukan saja karena sudah ada yang menemani, namun karena ada rindu yang tersemat untuk mereka yang kucinta. Meski dalam diam, semoga waktu lekas mempertemukan kita dalam sua. Untukmu akhwaati fiilaah rahimakummullah.. semoga, ALLAH mudahkan antunna datang kembali menyemarakkan kota Pelajar ini, memberi warna pada Kampung Pogung yang kini temaram dan senyap. Mudah-mudahan pekan depan aku menemukan senyummu di Majelis Ilmu Syar’i.. Aamiin..

Advertisements

One thought on “Mudik : Jogja, Kali Ini Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s