Mengenang Ia yang Telah Pergi, Sekali Saja…

loveTahun 1997

Pagi itu, suasana di rumah hiruk pikuk seperti biasanya. Semua orang di rumahku sibuk bersipa untuk aktifitas. Aku baru masuk TK, dan Mbakku sudah sekolah SMP dan SD. Sedangkan kedua adikku belum sekolah.

Entah mengapa, hari itu aku bersikeras untuk tetap di rumah. Mogok sekolah. Orang tuaku menyerah membujukku untuk tetap pergi ke sekolah.

Pukul 08. 00 WIB, aku bermain di atas tikar yang digelar oleh Mamah di ruang tamu rumah Mbah Putri. Sembari disuapi Mbah Putri dengan pecel. Aku ingat, ketika itu Mbah Putri mengenakan kebaya warna kuning kunyit, jarik warna cokelat, dan rambutnya dikonde rapi. Khas wanita jawa tempo dulu. Mbah Putri duduk tidak jauh dari tempatku sibuk dengan boneka dan mainanku. Ia memangku Adik Bungsuku, Ria, yang ketika itu masih berusia sekitar 1,5 tahun. Mbah putri menyantap pecel yang dibeli di warung tetangga kami, Mbah Jumeri.Tiba-tiba….

“Hoeeeeekk…” Mbah Putri muntah. Muntah darah bercampur bumbu pecel. Aku yang sedang asyik bermain dan mengunyah makanan terkejut bukan kepalang. Mungkin lebih tepatnya, takut. Di tengah ketakutanku, aku segera bangkit dari duduk dan berlari ke rumah Mamah yang berdampingan dengan rumah Mbah.

“Mamah.. Mbaeh mutah getih..!” pekikku histeris. Mamah yang sedang ngerumpi dengan Tetangga kaget. Ia melempar sapu yang dipegangnya dan berlari menuju rumah Mbah Putri. Kami mendapati Mbah Putri sudah lemas, dan Ria menangis. Saking paniknya, Mamah melempar Ria ke tikar tempatku bermain-main tadi. Dan aku segera memeluk Ria karena takut.

Mamah dengan susah payah membopong tubuh Mertuanya ke kamar. Namun nahaas, karena tubuh Mbah Putri lebih tinggi dari Mamah dan berat, Mamah jatuh tersungkur hingga lututnya terantuk ujung kursi besi, dan craaash.. darah mengucur deras seketika. Tubuh mereka limbung, namun Mamah tetap berusaha membopong Mbah Putri masuk ke kamar. Membaringkannya, dan mengolesi minyak angin ke tubuh Mbah Putri sembari berkomunikasi dengan Mbah Putri.

“Astaghfirullaah, Ibune kenging nopo Bu? Nyebut Bu.. Laa illaaha illallaah..

Tidak terdengar suara Mbah Putri. Mbah Putri pingsan. Mamah berteriak nyaris seperti orang gila, memanggil-manggil nama Mbah Putri. Kemudian Mamah keluar teras rumah Mbah putri dan berteriak dengan keras memanggil nama Mbah Jumeri.

“Bu Jumeriiiii… Bu Jumeriiii…!” wajah Mamah merah padam. Mbah Jumeri datang tergopoh-gopoh sambil membawa pecel. Disangkanya, Mamah marah-marah karena pesanan pecelnya belum diantar. Mbah Jumeri yang melihat Mamah berantakan bergegas menyusul Mamah ke kamar Mbah Putri. Selang beberapa saat, Mamah berteriak-teriak minta tolong hingga tetangga kami berbondong-bondong datang ke rumah.1

Rumah menjadi ramai, banyak orang. Mbah Putri dibopong oleh Bapak-bapak untuk dibawa ke Puskesmas. Aku melihat Mamah memeluk Mbah Putri di atas becak. Ria entah dimana. Ketika itu, aku seolah-olah menjadi makhluk kasat mata yang tak dihiraukan. Aku menyaksikan semua orang tiba-tiba menjadi sibuk. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi ketika itu.

Aku tiba-tiba nelangsa. Tiba-tiba merasa begitu rindu pada Mbah Putriku. Yah… tiba-tiba saja ingatanku bersama Mbah Putri begitu nyata. Aku merasa, Mbah Putri masih duduk di bangku tadi. Aku masuk ke kamar Mbah Putri, dan tiduran di tepi ranjang. Aku masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Aku menangis, tapi tak mengerti apa yang membuatku harus menangis.

Yu Bibit, Babby Sitterku datang. Rupanya ia mencariku.

“Mba Tyas ampun nangis.. Mengkin Mbaeh kondur malih kok..” ia mengusap-usap punggungku.

“Mbaeh nangapa?”

Yu Bibit diam. Hening.

Tak lama berselang, Yu Diah, Khadimat Mamah datang dan mengajakku ke pasar. Aku senang sekali dan melupakan kesedihanku. Aku dan Dewi turut ke pasar. Berbelanja sayur dalam jumlah besar. Aku heran, namun senang. Karena yang aku pikirkan, ketika belanja sayur banyak itu artinya di rumah akan ada pesta.

Sepulang dari pasar, aku semakin girang. Pasalnya, halaman rumah kami sudah dipasangi tenda. “Asyik, ada pesta..” pikirku. Aku melompat turun dari becak. Namun, tiba-tiba datang mobil pick up yang diatapi terpal, biasa digunakan untuk angkot anak-anak sekolah. Aku melihatnya! Mbah Putri sudah pulang! Aku tercekat, karena Mbahku tertidur di tempat yang ketika sudah nalar baru aku ketahui bernama Keranda. Aku menghambur hendak membangunkan Mbah Putri, namun tubuhku ditahan oleh Yu Diah. Aku memberontak, aku ingin sekali memeluk Mbah Putri. Aku tidak tahu, benar-benar tidak mengerti bahwa Mbah sudah tiada. Yang aku ingin tahu ketika itu adalah, kenapa Mbah tidur di Keranda? Sejak kecil aku tidak pernah diajak takziah oleh Mamah mau pun Mbah, jadi aku tidak tahu keranda itu apa? Pun, istilah meninggal dunia baru benar-benar aku pahami ketika duduk di kelas 1 SD.

Omm-ku datang, ia mengendarai sepeda motor terseok-seok hingga masuk parit kering di seberang jalan rumahku. Ia tak mempedulikan motornya, ia segera berlari menuju rumahku. Aku melihat Mbah Darno sedang memukul kentongan sambil berbicara melalui TOA. Mengumunkan berita lelayu kepada Masyarakat.

Tak lama, Bapak datang. Ia tak menghiraukanku yang masih berdiri bingung di bawah tenda. Ia berlari pula menuju rumah. Ia masih terlihat tegar. Guru-guruku dan Guru Mbak-mbakku datang. Seluruh keluarga besar Bapak mau pun Mamah datang. Hingga puncaknya, Pakdhe dan Omm-ku yang di Kebumen sudah tiba di rumah. Mereka berpelukan satu sama lain. Bapak berdiri termenung di tembok teras rumah. Tubuh Bapak limbung, dan Bapak jatuh pingsan.

Kami semua bertangisan. Bapak dibopong ke kamar, dan aku ketakutan melihat Bapakku pingsan. Aku segera membuntuti orang-orang yang membopong Bapak ke kamar. Rupanya di kamar tamu sudah ada Mbak-mbakku yang menangis meraung-raung. Mbak Yayan, ditenangkan oleh Mbah Jarwo Putri (Kakaknya Mbah Putri), Mbak Aan ditenangkan oleh Tante Diah (Istri Omm Manto, Adiknya Bapak). Mereka semua masih mengenakan seragam sekolah. Mamah berkali-kali pingsan, hingga dipisahkan di kamar lain. Ditenangkan oleh Ibunya.

Malam itu menjadi malam panjang bagiku. Karena di setiap sudut ruangan, aku melihat kedukaan yang demikian dalam. Semua orang tiba-tiba saja menatapku dengan iba, padahal sebelumnya lebih sering jengkel karena kenakalanku. Mereka memelukku, mengajakku ngobrol. Aku tidak menangis ketika orang-orang di sekitarku menangis. Mbakku yang biasanya mau-mau aja kuajak main, kini kulihat demikian lunglai tak berselera.

Waktu beranjak malam hari itu. Aku tidur bersama Mamah. Biasanya, aku tidur bersama Mbah dan kedua Mbakku. Aku terbangun, dan Mbah tak ada di sisiku. Aku mencarinya. Aku turun dari ranjang Mamah, membuka pintu kamar hendak pergi ke rumah Mbah yang pintunya tidak lebih dua meter dari pintu dapur Mamah. Mamah mengejarku, dan menangkapku. Mamah menangis ketika aku bilang, “Aku mau minum susu buatan Mbah…”.

***

love22 Juli 2015

“Kata Ibu, dulu waktu kecil kamu lama ya dirawat sama Mbah?” Tanya Suamiku sembari menggoreng Tepung Madu, cemilan favorit kami.

“Eh.. Iya. Soalnya waktu aku umur berapa bulan gituu, Ibuku hamil Dewi. Jadi aku sama Mbak diasuh Mbah. Nggak diasuh full sih. Cuma kadang dititipin ke Mbah. Kalo pagi di rumah Mamah, nanti malem tidurnya sama Mbah. Begitu sebaliknya. Kalo aku pengin tidur sama Mamah, ya Mbah nginep di rumah Mamah. kan rumahnya deket banget dulu..”

Suami mangut-mangut. Dan.. kini air mataku jatuh. Teringat kepada Mbah Putriku tercinta yang telah pergi untuk selamanya. Wanita senja yang bersahaja. Yang tutur katanya selalu didengarkan oleh anak-anaknya. Yang dari rahimnya lahir orang-orang sukses. Memiliki cucu yang demikian banyak dan selalu mengenangnya.

Mbah Putriku yang cantik, semua orang yang pernah mengenalnya mengatakan demikian. Yang kecantikannya diwarisi kepada Dewi, Adikku. Mbah Putri yang selalu menjadi rebutan anak-anaknya untuk dirawat. Namun, ia tetap memilih tinggal berdampingan dengan Bapak dan Mamahku. Katanya, hanya Mamah-lah satu-satunya Menantu yang benar-benar tulus merawat Mbah dan Saudarinya. Mbah Wir, Adiknya yang terlihat jauh lebih sepuh dari dirinya. Mbah Putri melihat ketulusan Mamah merawat Mbah Wir, mulai dari menyediakan makan untuknya hingga membersihkan urusan toiletnya.

Mbah Putri kini telah tiada. Ia tengah mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama di dunia. Semoga ALLAH tempatkan Mbah Putri di Jannah-Nya. Karena kebaikan Mbah Putri yang tak pernah habis dilimpahkan kepada kami, anak dan cucunya. Aku tahu, Mbah Putri-ku tidak berjilbab sepertiku, masih berkonde dan berkebaya. Yah.. karena pada masa itu belum demikian nampak orang-orang shalih yang berjilbab selebar ini. Namun, Mbah Putriku adalah Wanita yang rajin shalat. Setidaknya, hingga ia tutup usia pada 75 tahun.

Selamat jalan Mbah…

Hari ini, aku sangat merindukan Mbah Putri. Semoga ALLAH pertemukan kita di Surga kelak ya Mbah? Aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s