Sahabat Sebaik Dirimu

tyasRindu…

Malam ini tidak bisa tidur, efek tadi nekat minum kopi karena mata ini demikian mengantuk. Tersenyum membuka folder sms dari dua Orang Sahabat, yang selama ini kuanggap sebagai Kakak dan Adik. Aku mengenal mereka jauh sebelum ngaji, hingga detik ini pun, kami masih bersahabat sangat dekat meski tidak seintens dulu karena kesibukan masing-masing.

Sekitar tahun 2009-2010, ketika untuk pertama kalinya hijrah ke kota Jogja. Aku ngekost di sebuah rumah kost angker di belakang kampus. Angker karena berada di pojok jalan sempit dan berpenerangan temaram. Dan bumbu cerita tidak sedap nan horror yang dibawakan setiap tetamu yang datang berkunjung. Rumah kost kami memiliki empat buah kamar.

“Yang kamar depan itu, Mahasiswa semester tiga. Jurusan Teknik Informatika, namanya Mba Uni. Sekarang lagi mudik ke Banjarnegara, bulan depan sudah balik Jogja lagi katanya..” Ibu kost menyerahkan kunci kamar kostku.

“Anaknya cantik, pinter banget…” lanjut beliau. Aku mengangguk, sebongkah rasa penasaran menelisik hati. Ingin rasanya bertemu segera.

***

23Entah bagaimana selanjutnya, demikian banyak memori awal-awal menginjak bangku kuliah banyak yang terkikis. Hampir seluruh teman seangkatan aku terlupa nama dan wajahnya, bahkan kelompok OSPEK pun demikian. Sedih ya? Tak mengapa.. Mungkin, harus banyak yang terlupa, supaya aku selalu teringat pada mereka yang tak mungkin kulupa, karena kedekatan fisik dan hati.

Mereka adalah orang-orang baik yang menemani perjuanganku menantang teriknya menjadi Mahasiswa perantauan. Menjadi anak kost yang hidupnya pas-pasan. Pas tidak punya uang, pas kepepet, pas males, pas laper, pas banyak tugas, dan pas-pasan yang lainnya.

Aku sakit ketika itu, dan mengharuskanku dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ia begitu baik, membelikanku sarapan. Mendahulukan diriku, daripada perutnya. Aku tidak tahu, ada pengorbanan yang disuguhkan pada momentum itu.

“Mbak Uni sudah makan?” tanyaku setelah tandas makanku.

“Belum, nanti aja.”

“Pake apa?”

“Tuh, ada mie..” dagunya menunjuk sebungkus Mie Sedap goreng di atas galon.

Selang berapa lama baru aku tahu, ia tak cukup banyak uang kala itu. Jika tak salah ingat, uangnya tinggal lima belas ribu. Sisa ia membelikanku makan. Aku merasa bersalah karenanya, dan sejak saat itu, aku amat menyayanginya.

Kini, ia mengabdi di sebuah sekolah menegah atas berskala Internasional di Jogja. Sulit untuk menemuinya, pun ia menemuiku. Meski sama-sama beratap langit yang sama di Kota Pelajar ini, namun rupanya jarak Sedayu-Jalan Magelang cukup jauh untuk ditempuh bagi pertemuan hitungan menit baginya, bagiku pula tentunya. Lelah karena bekerja, dan bersabar karena menjaga.

“Mbak Uni…” bunyi smsku tadi.

“Ya Mba Yas.. maaf lahir bathin ya Mba Yas?” balasnya.

“Kangen Mba Uni… Iya Mbak, taqoballallahu minna wa minkum…” obrolan terus berlanjut, sembari mengetik sms, air mata ini mengalir. Aku tersedu-sedu di balik bantal. Kenangan indah bersama Mba Uni menari-nari di pelupuk mataku. Entahlah, mataku selalu pedih pada perkara bernama rindu meski tak selalu berarti hatiku perih karenanya. Hanya, air mata ini mendahului kerinduanku daripada jasadku.

Ah Mbak Uni.. aku butuh berlama-lama di depan laptop untuk menceritakan banyak kebaikan pada dirimu. Hatimu selembut kapas, dan tekadmu sekeras karang. Kegigihanmu dalam memperjuangkan cita-cita, menginspirasiku untuk menjadi orang yang bisa berfokus pada satu tujuan.

Terima kasih Mbak Uni…

Telah menjadi Sahabat sekaligus Mbakku, yang dengan segenap kehanifan dalam hatimu, kau mau menemaniku mendatangi majelis ilmu syar’i di Mustek UGM untuk pertama kalinya. Yang menjadi tonggak sejarah perubahan diriku hingga seperti sekarang ini. Ketika aku banyak menemui kesulitan, membutuhkan bantuanmu, pun bahumu.. kau selalu ada untukku. Dimana lagi kutemu Sahabat sebaik dan setulus dirimu Mba? Kudoakan.. semoga kebaikan menyertaimu, dan segera menikah yaa Mbak? In syaa ALLAH.. aku datang ke Banjarnegara bersama Pangeranku. ❤

***

2011, aku tidak begitu suka dengan mereka. Orang-orang NTT yang ngekost di kost baruku. bukan tanpa alasan, tapi karena suara mereka ketika tertawa bahkan ngobrol di telepon sangat menggelegar. Dan itu sangat menggangu ketenangan belajar dan istirahatku.

Hingga suatu sore…

“Duggg…!” sandalku selip, dan tubuhku terhempas di anak tangga yang licin. Cukup keras, dan membuatku menjerit kesakitan. Segera, salah satu cewek NTT yang sedang mendaftar SM UNY itu menolongku. Memapahku ke kamarnya, dan mengurut kakiku dengan telaten. Tak lama, kakiku membaik.

Aku merasa berhutang budi padanya, namun ia merasa itu bukanlah sesuatu yang besar untuk kuanggap sebagi hutang. ia periang, tidak mudah tersinggung. Begitu pula teman-temannya. Ah, rupanya aku salah menilai mereka. Mereka adalah orang-orang baik yang terzhalimi oleh persangkaan burukku.

Belakangan kuketahui mengapa suara mereka sekencang TOA. Yapp.. mereka adalah Penduduk Pesisir Pantai yang memang terbiasa bersuara keras. Kalo suaranya kecil, tenggelam ditelan debur ombak, katanya. Saya mulai menyukai mereka, dan menjalin hubungan pertemanan baik dengan mereka.

Cewek yang menolongku bernama Madina. Bagus ya namanya? Ia seorang gadis santun yang periang. Maa syaa ALLAH, ia sehanif Mbak Uni pula. Ia adalah orang kedua yang sangat bersedia menemaniku hadir di Majelis Ilmu Syar’i dan membantuku mencari Wisma Muslimah yang selanjutnya menempaku menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin inilah alasan mengapa ALLAH mengekalkan ingatanku pada Mbak Uni dan Madina. Karena, mereka adalah orang-orang baik, yang apabila berteman dengannya maka tidak akan memerosotkan kehormatan dan agamaku. Andai bisa berupaya lebih keras, kupastikan mereka akan bebondong-bondong serius mengenal Islam yang haq. Mereka yang ketika masih awam saja sudah baik begitu, bagaimana jika mereka mengenal sunnah? Pasti jauuuh lebih baik dariku, in syaa ALLAH.

Madina sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Ia yang cerewet, sebelas dua belaslah denganku, menjadi teman yang menghibur ketika kegalauan mendera. Halaah. Ia yang selalu siap siaga menemaniku kemana pun roda motorku melangkah. Menyemangatiku, dan memahami diriku.

Terima kasih Madina, tidak pernah mengeluh karenaku..

Kamu temanku yang baik, tulus, pengertian dan hanif…

Aku kangen kamu Madina.. cepatlah main ke rumah sederhanaku, kita makan apa pun yang bisa kita makan.. 😀

Semoga ALLAH membaikkan urusanmu, dan menjadikanmu wanita yang shalihah yaa? Rindu memboncengmu sambil ngomel-ngomel karena posisi duduk miringmu kadang bikin berat motorku.. 😀

***

Didedikasikan untuk Sahabat sebaik dirimu, Mbak Uni dan Madina..

Aku mencintai kalian karena ALLAH… ❤

Kragilan, pada Penghujung Juli..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s