Wanita Pertama, dan Aku Kedua

kjBagaimana rasanya bila lelaki yang kita cintai kerap memuji wanita lain di depan kita? Mengelu-elukan kebaikannya. Ia yang pandai masak, becus merawat anak, cantik, berlesung pipi kembar dan bermata teduh?

Ya.. Suami yang kubanggakan selalu memujinya. Nyaris setiap hari. Aku ingin cemburu, namun sulit kuaplikasikan. Mungkin karena aku bukan yang pertama baginya. Hanya wanita kedua yang dinikahi dengan ijin wanita pertama, yang selalu didengungkan segala kesempurnaannya di kedua telingaku.

42Lusa, mereka saling bertukar kabar melalui telepon. Cukup lama kurasa. aku diam menyimak dengan kidmat, hingga akhirnya aku tak tahan untuk segera melanjutkan pekerjaan rumah tanggaku. Aku tak mau mengganggu kemesraan Suamiku dengannya. Wanita yang lebih dulu memenuhi cinta di seluruh rongga hati Suamiku. Aku melihat binar kebahagiaan dan kerinduan yang mendalam di sudut mata Suamiku. Yaa.. kerinduan yang menjalari seluruh persendiannya padanya, karena Idul Fitri kemarin, ia tak bisa mengunjunginya. Karena, memilih bersamaku di kota kelahiranku.

“Ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Bahkan aku tidak pernah tahu dengan pasti bahwa ia memiliki masalah. Ia mampu memendamnya selama bertahun-tahun. Dia wanita hebat…” Katamu. Aku cemburu namun mengaguminya.

Ketika kita menikah, ia datang bersamamu dan Abah. Usai akad nikah dilangsungkan, ia menangis memelukmu dan diriku. Air mataku menggenang, namun kutahan karena tak ingin terlihat cengeng di hadapan kedua orang tuaku dan keluarga besarku. Sebuah kehidupan yang baru membentang luas di pelupuk mataku. Aku harus berbagi cinta dengannya. Wanita pertama yang kau cintai.

Sebelum bertolak ia ke Batam, subuh itu ia duduk bersanding denganku di kamar Suamiku. “Permasalahan dalam rumah tangga itu adalah hal yang biasa. Apapun masalahnya, jangan sampai keluar dari kamar. Selesaikanlah di dalam kamar..” pesannya ketika itu. Air matanya menganak sungai. Membuatku salah tingkah. Aku semakin mencintai dan menyayanginya. Seperti Suamiku yang kutahu, sangat mengasihinya.

Ia menghadiahiku sarung batik yang adem kukenakan ketika tidur. Bahkan, ketika kita ke Malang pun tetap kubawa. Seperti cintanya yang menyelimutiku dan dirimu.

Aku bangga padanya, pun iri. Ia mampu membentuk karaktermu menjadi seperti sekarang ini. Mengajarimu membaca Al-Qur’an hingga selincah ini. Tangannya yang digdaya telaten merawat kedelapan putra-putrinya yang kesemuanya kini telah mendewasa. Harus bagaimana lagi kugambarkan tentang ia yang tak terganti di hatimu?

Tahun ini, In syaa ALLAH ia memenuhi panggilan ALLAH untuk berhaji di Tanah Suci. Semoga ALLAH senantiasa beri kesehatan, dan keberkahan baginya. Semoga pula, aku dan Suamiku bisa sesegera mungkin memenuhi rukun Islam kelima. Dan aku, bisa sebaik dirinya. Aamiin.

Wanita pertama Suamiku yang kukasihi, aku memanggilnya Mama..

Ibunda tercinta Suamiku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s