Kalkun di Rumahku

sulistiyoningtyas-kalkun-di-rumahku
Kalkun in Memoriam, sekarang sudah pergi entah kemana pasca Betinanya hilang. 😦

Setiap keluar rumah, sekarang nambah kerjaan baru : Berantem sama Kalkun.

Mungkin yang pernah bertamu ke rumah saya, sempat mengenal “Unggas-unggas Buas” di halaman rumah saya, atau bahkan sempat diuber-uber juga. Mulai dari Angsa Jantan yang suka nyosor, dan Kalkun Jantan Jomblo yang hobi tebar pesona. Ngembangin sayapnya, sampe-sampe pernah ada tamu yang nggak berani masuk ke halaman, saking seremnya liat “Satpam” di halaman. Xixixi.

Belakangan, setelah Kalkun Jantan udah nggak jomblo lagi, alias udah dibelikan Betina, kok mendadak jadi ganas ya? Sempet syok, ketika tiba-tiba saya dipatuk. Padahal biasanya, dia cuma berisik dan mondar-mandir ndak jelas ketika saya jemur baju, atau nyapu halaman.

Sekarang, kalo liat saya atau Suami, dia udah siap-siap nantangin berantem. Bahkan, tadi udah nungguin aja di depan pintu. Pas pintu ta buka, doi langsung mau nyerang aja. Serem dan nggak lucu dong ya, kalo saya harus teriak-teriak lagi dan diliatin Tukang-tukang yang lagi ngerjain proyek jalan?

Continue reading “Kalkun di Rumahku”

Balada Ta’aruf, Sisakan Sedikit Ruang Untuk Kecewa

21Menjadi Wasilah (Perantara) proses ta’aruf seseorang tidaklah mudah. Segala konsekuensi harus dipertimbangkan dengan matang. Pasalnya, ini perkara menyatukan dua makhluk berbeda jenis dengan beragam latar belakang yang berbeda, dengan karakter dan segala perbedaan yang jelas antara keduanya, namun memiliki visi dan misi yang sama, yakni membangun rumah tangga di atas ketaatan kepada ALLAH ta’ala dengan jalan yang diridhai-Nya dan diatur dalam syariat Islam. Tentunya jujur dan amanah adalah modal utama, jika cacat salah satu modal utama tersebut, maka bukan tidak mungkin akan memudharatkan saudara sesama Muslim dan pertanggungjawabannya demikian besar di hadapan ALLAH ta’ala. Continue reading “Balada Ta’aruf, Sisakan Sedikit Ruang Untuk Kecewa”

Penyimpangan-penyimpangan yang Biasa Dilakukan Wanita

lalaaApakah penyimpangan-penyimpangan wanita itu?

1. Tidak sopan kepada Orang Tua

Rupanya sifat kasar itu tidak hanya ada pada laki-laki. Kadang-kadang ada wanita yang bersifat kasar kepada orang tuanya, tidak menjaga lisannya dan menganggapnya mereka seperti temannya sendiri sekali pun ia sudah ngaji.

Bahkan ada sebagian wanita yang mengganggap Ibunya seperti Budak, misalnya menjadikannya Pengasuh bagi anak-anaknya, dll.

Seyogyanya, seseorang yang sudah ngaji dan berilmu bisa menunjukkan akhlaq yang baik terhadap kedua Orang Tuanya dengan berkata-kata yang semakin halus, sehingga mereka terbuka untuk menerima ilmu yang kita miliki. Karena tidak sedikit orang yang sudah ngaji menjadi hakim bagi orang tuanya yang masih awwam.

Padahal kita diwajibkan untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua Orang Tua seperti firman ALLAH dalam Surah Al-Israa ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ……

“ALLAH telah memerintahkan kepada engkau agar engkau beribadah hanya kepada ALLAH saja dan tidak boleh beribadah kepada selain ALLAH dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…..”
Continue reading “Penyimpangan-penyimpangan yang Biasa Dilakukan Wanita”

Agar Mudah Memperoleh Ijin Bercadar

cadarKita semua memahami, bahwa cadar masih demikian asing di Masyarakat kita. So wajar, Orang Tua dan keluarga memiliki kekhawatiran berlebih ketika kita memutuskan bercadar. Lebih-lebih kini cadar dikait-kaitkan dengan aliran tertentu. Nah, sikap hikmah yang dapat ditempuh oleh akhwaat yang sudah mantap bercadar adalah, tidak grusa grusu.

Awali lah hijrah dengan melembutkan akhlaq kepada kedua orang tua, keluarga, tetangga, dll. Perbaikilah tabiat buruk, bantu Ibu masak, beberes rumah, atau kalo jauhan ya sering-sering telepon, ajak Ibu atau Bapak ngobrol. Sesekali, ajak teman-teman yang sudah bercadar main ke rumah, tunjukkan etika dan adab yg baik ketika srawung dengan keluarga

Continue reading “Agar Mudah Memperoleh Ijin Bercadar”

Hamil di Luar Nikah? Tiada Keberkahan Baginya

MBAKenapa Wanita yang hamil di luar nikah mudah dalam proses persalinan, dan tidak merasakan kesusahan layaknya Ibu hamil pada umumnya?

Seperti yang kita ketahui, Ibu hamil pada trimester pertama seringnya merasakan sakit, sulit makan karena morning sickness, pusing, dan lain-lain. Kelelahpayahan Ibu hamil, dan perjuangan seorang Ibu ketika melahirkan bernilai pahala, bahkan mengandung dan melahirkan adalah jihadnya seorang wanita.

Namun, wanita yang mengandung karena berzina, terkadang tidak merasakan itu. Ia menjalani aktifitasnya dengan normal, bahkan ketika usia kehamilan membesar pun Orang-orang di sekitarnya tidak menyadari perubahan fisiknya. Tahu-tahu, sudah melahirkan entah di kamarnya, di toilet, dsb. Boleh jadi, ALLAH telah mencabut rasa sakit dan kesusahan pada wanita yang hamil di luar nikah supaya ia tidak beroleh pahala jihad.

Ini mungkin jawaban bagi kita ketika melihat fenomena Pelajar yang melahirkan bayinya di kebun. Atau di toilet sekolah. Ia melahirkan tanpa bantuan medis. Padahal, yang kita tahu, Ibu hamil yang melahirkan di klinik bersalin saja sampai meraung-raung kesakitan ketika kontraksi, bahkan demikian kelelahan ketika sedang bersalin. Mengapa ia tidak?

Continue reading “Hamil di Luar Nikah? Tiada Keberkahan Baginya”

Jalan Dakwah, Tauhid Dulu…

loveDakwah bukan saja hanya sekedar menyeru kepada kaum Muslimah untuk menutup aurat, memperhatikan adab interaksi dengan ajnaby, mengkampanyekan anti riba, menegur Mbak-mbok yang berselfie, memerdekakan hak bercadar, bercelana cingkrang, dan lain-lain. Bukan kesemua itu tidak penting untuk didakwahkan, namun ada yang luput yang seharusnya menjadi prioritas utama kita dalam berdakwah, yakni Tauhid.

Dari Ibnu Abbas -radhyallahu ‘anhu-, dia menuturkan bahwa ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal -radhyallahu ‘anhu- ke Yaman, beliau bersabda :

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain ALLAH -dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa ALLAH telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa ALLAH telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan ALLAH (Hadist Riwayat Bukhari no 1395 dan Muslim no 19).

Continue reading “Jalan Dakwah, Tauhid Dulu…”

Jangan Lagi Tanya “Kapan?”

wheeenKetika belum lulus, ditanya.. “Kapan wisuda?”

Setelah Wisuda ditanya, “Kapan nikah?

Setelah Nikah ditanya, “Kapan punya anak?”

Setelah punya anak ditanya, “Kapan hamil lagi?”

Asal jangan ditanya, “Kapan Suami nikah lagi?” hahaha, bisa kena tendang tuh.. 😀

Kalau saya pribadi, santai aja mah kalau ada yang tanya begitu. Enggak yang tiba-tiba menjadi sedih, galau, merana, dan gundah gulana. Cuma bingung aja mau jawab apa selain “Doakan yaa, segera?” atau “Belum tau..”, “Belum nih, kamu kapan?” #malah balik nanya 😀 Asal jangan coba-coba tanya yang point terakhir aja yah? Bener-bener ta tendang soalnya, xixixi.

Hmm.. itu kalau saya yah? Mungkin, di luar sana ada yang jauh lebih sensitif ketika menghadapi pertanyaan begitu. Alih-alih ingin berbasa-basi, mengakrabkan diri, mencairkan suasana, atau kalimat intro ketika ada keperluan, eh malah mendadak jadi drama queen. Yang ditanya, jadi melow-melow bombay, jadi murung, diem, kepikiran, dan kawan-kawannya.

Continue reading “Jangan Lagi Tanya “Kapan?””