Jalan Dakwah, Tauhid Dulu…

loveDakwah bukan saja hanya sekedar menyeru kepada kaum Muslimah untuk menutup aurat, memperhatikan adab interaksi dengan ajnaby, mengkampanyekan anti riba, menegur Mbak-mbok yang berselfie, memerdekakan hak bercadar, bercelana cingkrang, dan lain-lain. Bukan kesemua itu tidak penting untuk didakwahkan, namun ada yang luput yang seharusnya menjadi prioritas utama kita dalam berdakwah, yakni Tauhid.

Dari Ibnu Abbas -radhyallahu ‘anhu-, dia menuturkan bahwa ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal -radhyallahu ‘anhu- ke Yaman, beliau bersabda :

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain ALLAH -dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa ALLAH telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa ALLAH telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan ALLAH (Hadist Riwayat Bukhari no 1395 dan Muslim no 19).

Dalam hadist ini terdapat pelajaran penting tentang tahapan dalam berdakwah, yakni mulai dari yang paling penting kemudian perkara penting lain yang di bawahnya.

Inilah jalan dakwah para Rasul, mereka memulainya dengan dakwah kepada kalimat Laa ilaaha illallah, karena hal ini merupakan pokok dan asas bangunan agama seseorang.

Jika telah kokoh syahadat Laa ilaaha illallah, maka memungkinkan dibangun di atasnya perkara yang lainnya. Adapun jika syahadatnya belum kokoh, maka tidak bermanfaat amal yang lainnya.

Tidak mungkin engkau memerintahkan manusia shalat sementara mereka masih musyrik, engkau juga tidak bisa memerintahkan mereka puasa, sedekah, menyambung silahturahmi sementara mereka masih menyekutukan ALLAH, karena engkau tidak meletakkan asas yang pertama.

Setelah seseorang bertauhid dengan benar dan berusaha untuk menyempurnakan tauhidnya, kewajiban selanjutnya adalah berusaha untuk mendakwahkan tauhid. Karena keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali jika disertai ajakan dakwah kepada tauhid.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s