Balada Ta’aruf, Sisakan Sedikit Ruang Untuk Kecewa

21Menjadi Wasilah (Perantara) proses ta’aruf seseorang tidaklah mudah. Segala konsekuensi harus dipertimbangkan dengan matang. Pasalnya, ini perkara menyatukan dua makhluk berbeda jenis dengan beragam latar belakang yang berbeda, dengan karakter dan segala perbedaan yang jelas antara keduanya, namun memiliki visi dan misi yang sama, yakni membangun rumah tangga di atas ketaatan kepada ALLAH ta’ala dengan jalan yang diridhai-Nya dan diatur dalam syariat Islam. Tentunya jujur dan amanah adalah modal utama, jika cacat salah satu modal utama tersebut, maka bukan tidak mungkin akan memudharatkan saudara sesama Muslim dan pertanggungjawabannya demikian besar di hadapan ALLAH ta’ala.

Pernah menjalani proses menuju pernikahan yang syar’i, mulai dari ta’aruf, nazhor, khitbah dan ijab qabul itu memiliki kesan mendalam yang tak akan terlupakan seumur hidup. Alhamdulillah, saya hanya mengalami sekali proses ta’aruf dan ALLAH mudahkan jalannya menuju pernikahan. Bukan berarti tanpa hambatan, pasti ada saja sandungan-sandungan kecil di dalamnya. Yang menguras air mata, energi, memerlukan kesabaran, kepasrahan dan segalanya, yang kesemuanya itu dilebur ketika mitsaqon ghalizhan diikrarkan di hadapan Ayah dan seluruh yang hadir pada prosesi akad nikah kami. Sebuah perjanjian yang kuat antara anak Adam dan Rabb semesta alam. Perjanjian kuat, yang disaksikan oleh para Malaikat, yang mampu mengguncangkan Arsy-Nya. Maa syaa ALLAH, itulah mengapa pernikahan demikian suci. Bahkan dikatakan, sebagai penyempurna separuh agama kita.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang akhwat yang meminta bantuan saya untuk dicarikan calon Suami. Kebetulan, ketika itu Suami pun dimintai tolong oleh rekannya untuk mencarikan calon Istri. Akhirnya, kami proses biodata keduanya. Kami saling bertukar informasi. Sang akhwat menghubungi saya, mengirimkan beberapa pertanyaan untuk dijawab oleh sang ikhwan, kemudian saya forward pertanyaan tersebut baik melalui sms, whatsapp, maupun inbox facebook Suami, kemudian baru Suami memforward kepada pihak laki-laki. Berlaku sebaliknya, jika ikhwan tersebut memiliki pertanyaan untuk diajukan pada akhwat, maka ia menghubungi suami, kemudian diteruskan kepada saya, dan saya forward kepada akhwat. Jadi, tidak ada interaksi bebas antara keduanya.

Setelah berjalan beberapa hari proses ta’aruf tersebut, Sang akhwat memperoleh respon positif dari keluarga tentang keinginannya untuk menikah. Hal yang membahagiakan tentunya. Kami terus bertukar informasi hampir setiap harinya. Selalu saya selipkan nasehat, supaya sang akhwat senantiasa menjaga hatinya agar tidak terfitnah. Tidak terlalu berharap, dan pasrahkan segalanya pada ALLAH Ta’ala. Saya sarankan supaya ianya juga banyak-banyak mencari informasi, baik testimoni tentang akhlaq sang Ikhwan, bagaimana pergaulannya, bagaima aktifitasnya. Tentu saja, tidak terang-terangan. Bisa diperoleh dari bertanya pada teman kampus, teman kerja, tetangga, saudarinya, “Bagaimana akhlaqnya?”, “Bagaimana aktifitasnya?” jadi tidak hanya sekedar menelan mentah-mentah biodata yang diperolehnya. Tujuannya adalah, supaya kita benar-benar tahu, apakah ia seseorang yang benar-benar baik? Atau manipulatif? Karena, menikah itu bukan perkara sehari dua hari, ini perkara berat, yang sejatinya semua wanita mengharapkan, “Hanya sekali seumur hidup…”

Karena selama proses ta’aruf berlangsung, bagi wanita akan sulit untuk tidak melibatkan perasaan. Terlebih, jika informasi yang disuguhkan adalah yang baik-baik saja. Bukan berarti harus mencari keburukannya, tidak… hanya wanita manakah yang tidak “terusik” hatinya manakala membayangkan Ikhwan yang tengah berproses dengannya adalah seorang laki-laki yang shalih, baik budi pekertinya, lembut tutur katanya, mapan, ganteng, berbakti pada kedua orang tua, dan lain-lain. Wanita manakah yang tidak mendambakan seorang Imam yang sebaik itu akhlaqnya? Wanita manakah yang tidak dibuat kagum dengan tingginya keilmuan yang dimiliki oleh Suaminya kelak? Pastilah, ada percikan-percikan “kecenderungan” di hatinya, meski kadarnya berlevel-level tergantung seberapa kuat wanita tersebut menyembunyikannya rapat-rapat di hadapan manusia, meski hatinya sudah bergemuruh laksana Gunung Berapi yang sudah naik statusnya menjadi awas, yang tinggal menunggu waktu untuk memuntahkan laharnya.

Qadarullah wa maa syaa fa’al.. Setelah proses berjalan beberapa waktu lamanya, dengan beragam pertimbangan yang matang, meninjau kembali, dan menyelami informasi dari beberapa orang yang amanah dan faqih dalam perkara agama, sang akhwat memutuskan mundur. Testimoni yang diperoleh sang akhwat, Fulan yang tengah berproses dengannya tidak memprioritaskan Agamanya, dan cenderung masih condong pada perkara duniawi. Sedangkan, akhwat tersebut sangat butuh akan ilmu. Baginya, kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan seseorang. Jika seseorang memprioritaskan Agamanya, niscaya dunia akan tunduk kepadanya. Sedangkan, apabila seseorang terlalu fokus pada dunia dan melalaikan agamanya (akhiratnya), maka ia yang akan menjadi budak hawa nafsu semata dan menjadi orang yang sangat merugi.

Maa syaa ALLAH… Mundur adalah sebuah keputusan yang bijak.

Kepada Ikhwan yang serius ingin membina kehidupan rumah tangga, bahkan pemuda mana saja yang mengaku seorang Muslim, hendaknya perbaiki niat sebelum memutuskan untuk menikah. Perbanyak menuntut ilmu syar’i, tentu diimbangi dengan mencari rezeki dengan cara yang halal. Pernikahan bukan melulu soal Cinta, dan Nafkah. Lebih dari itu, menikah adalah soal ibadah, tentang pertanggungjawaban dunia akhirat. Seorang Suami, bertanggungjawab terhadap Istri dan anaknya. Pun, seorang Istri bertanggungjawab terhadap Rumah Tangga dan anak-anak Suaminya. Sekiranya, sebuah pernikahan tidak dibangun di atas iman dan taqwa, tidak dibina di atas ilmu dan ketaatan kepada ALLAH, dikhawatirkan akan melahirkan beragam permasalahan yang tidak diselesaikan dengan hikmah, namun hawa nafsu semata yang berakibat pernikahannya menjadi tidak berberkah, bahkan berujung pada perceraian, waiyyadzubillah..

bheartProses ta’aruf yang awalnya berjalan lancar-lancar saja bukanlah sebuah tolok ukur pertanda akan sukses menuju pernikahan. Bahkan, sudah banyak kasus yang sampai ke telinga saya, ada yang berproses hingga Undangan telah disebar, tenda dan pelaminan telah cantik dihias dengan pernak-perniknya, hari H telah tiba, namun rupanya ALLAH mentakdirkan lain, “Pernikahannya batal…” a’la kulli haal.. wanita mana yang tidak hancur berkeping-keping menghadapi kenyataan seperti itu? Orang tua mana yang hatinya tidak patah melihat putrinya terluka? Manusia mana yang tidak akan memendam tanya tatkala menjadi saksi pembatalan sebuah pernikahan? Hal yang sangat-sangat sulit untuk bisa diterima dengan legowo.

Wasilah saya, yang kini menjadi Kakak Ipar saya sering mengingatkan selama saya berproses dengan adiknya, “Dek.. Jaga hati ya? Hati-hati loh jangan sampai terfitnah…”.

Benar, selama ta’aruf, meski sang Ikhwan sudah datang menemui kedua orang tua, sudah mengkhitbah, sudah menentukan tanggal pernikahan, bahkan sudah mendesain Undangan pernikahan sekali pun, hati wanita tetaplah laksana gelas-gelas kaca yang mudah rapuh. Berhati-hatilah menjaganya supaya tidak membumbung terlalu tinggi dan jatuh berserakan ketika takdir ALLAH mendahului. Maka, selalu sisakan sedikit ruang untuk kecewa ketika memutuskan ta’aruf, ketika masih belum halal dalam ikatan suci pernikahan. Biarlah.. Cinta itu menjadi sajak-sajak indah yang terlantun ketika layar bidukmu telah terkembang untuk berlabuh di Surga-Nya, bersama ia yang telah ALLAH halalkan untukmu, di Dunia dan Surga-Nya.

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah, Baity Jannaty, 9 September 2015 at 7. 44 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s