Yang Telah Mencuri Waktumu…

1

Dampak terlalu sering bermedsos ria adalah, menjadikan pengguna medsos lebih kritis..

Saking kritisnya, setiap ada fenomena baru yang tengah menjadi viral di daring dikritisi, dikomentari, dikepoin, diikuti, dsb.

Ya.. Tidak salah memang, hanya kadangkala terlintas di pikiran.. “Apakah waktu luangnya demikian banyak, sampai-sampai setiap yang terbetik di kepala, yang terlihat di mata, yang didengar oleh telinga, disajikan sepanjang waktu di timeline medsos? Banyak waktu luang, atau kurang kerjaan?”

Berbagi ilmu bermanfaat katanya.. Wah, Maa syaa ALLAH yaa, sebuah amalan mulia.. Karena, sebaik-baik Manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya..

Mari kita tengok akun facebook orang-orang yang terindikasi memiliki segudang kesibukan. Jarang nampak postingannya dan jarang pula terlihat komentarnya bertebaran kan? Atau, posting hanya sesekali waktu, mereply komentar beberapa jam atau hari kemudian.

Atau, kerjaannya memang di depan komputer yang terkoneksi internet, harus buka medsos, sehingga aktifitas di timelinenya demikian sering?

Atau memang kurang kerjaan, sehingga kerjaannya pegang gadget melulu?

Medsos memang melalaikan. Jika niat bermedsos adalah untuk menyebarkan kebaikan, harus betul-betul gadhul bashor di home. Banyak berita menarik bertebaran disana. Medsos akan hambar tanpa berita, akan senyap tanpa warna warni postingan kawan dan Iklan Fanspage. Maka, jangan buang waktu percuma untuk menjelajahi satu persatu postingan yang memikat hati. Kecuali, memang memberi manfaat bagi agamanya.

Masalahnya, lidah wanita itu panjang nian. Setiap menemukan berita heboh, dikritisi, dikomentari, dikepoin, diikuti. Alih-alih muroja’ah hafalan, malah jarinya ketak ketik di Mesin Pencari.

Yaa Akhwaat, saya adalah pelaku medsos yang lumayan sering buka Facebook. Bawaannya pengen buka hape terus.

Pasca mengikuti kajian Ustadzah Azizah Ummu Yasir Ahad kemarin, rasanya seperti digebuk keras-keras tatkala beliau mengatakan, “Pada hari Perhitungan nanti, kaki anak Adam tidak akan bergeser sebelum ditanya empat perkara. Masa muda, waktunya, umurnya, dan hartanya..”

Waktu itu seperti sungai, kita tidak dapat menyentuh air yg sama kedua kalinya..

Seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Tersentak, tersindir,  “Jadi selama ini, umur nyaris seperempat abad, apa saja yang telah saya lakukan? Untuk apa saya gunakan waktu luang yang demikian longgar? Untuk apa dan siapa ilmu yang saya timba bertahun-tahun lamanya? Darimana saja harta yang saya dapatkan, dan untuk apa saya gunakan?” Astaghfirullah.. Rupanya, empat perkara yang menjadi kunci “rumah akhirat” saya, belumlah seberapa.. Khususnya, pemanfaatan waktu luang yang demikian banyak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s