Jangan Coreng Kemuliaan Cadarmu dengan Buruknya Akhlaq

ooApa yang Salah?

Sering mendengar kisah tentang akhwaat bercadar yang pada awal hijrahnya mendapat pertentangan keras dari kedua orang tua dan keluarganya. Ada yang diusir dari rumah, ada yang cadar dan jilbabnya sampai digunting, bahkan ada yang sampai kabur dari rumah karena kerasnya pertentangan dari keluarga.

Awal hijrah, saya juga mendapat pertentangan dari kedua orang tua. Itu waktu belum pakai cadar ya, baru mulai mengenakan hijab lebar. Orang tua fine-fine saja kalau saya berjilbab. Hanya masalahnya, orang tua tidak melihat tahapan proses saya ketika memutuskan berhijrah dari jaman jahiliyyah hingga berhijab syar’i. Dari pakai jilbab yang istilahnya Senin-Kamis (dipakai ketika ke kampus saja), itu pun masih pakai jilbab paris kok tiba-tiba berubah totalitas mengenakan Gamis, Jilbab Segiempat 150 x 150 centimeter, serta lengkap mengenakan kaos kaki dan manset. Orang tua mana yang tidak heran dan bertanya-tanya, “Ini anakku kenapa ya? Kok drastis banget berubahnya? Ada apa? Belajar agama dimana?”

Ditambah lagi, orang tua adalah orang awam, yang sedikit mengenal agamanya. Meski menurut standarnya, “Saya orang islam yang taat kok”. Shalat, tidak menyekutukan ALLAH, rajin Yasinan tiap Jum’at malam, sedekah, ngaji, dan lain sebagainya. Mungkin definisi religius seperti itu ya bagi kebanyakan orang tua, bahkan bagi saya sekali pun sebelum ALLAH beri hidayah.

Salahnya, ketika awal hijrah saya demikian sombong. Baru memperoleh ilmu secuil, sudah berani mengatakan “Mah, Yasinan itu bid’ah. Nggak ada tuntunannya dalam Islam. Baca yasin boleh-boleh saja, tapi jangan dikhususkan pas hari Jum’at doang dong…” kata saya ketika Ibu tengah bersiap berangkat yasinan di lingkungan kami.

Bukannya mendengar perkataan saya, Ibu malah berkata.. “Lah.. kamu ini baru belajar agama kemarin sore saja sudah berani berkata bid’ngah ke orang tua. Jangan-jangan nanti kamu malah berani ngafir-ngafirin orang tua, nggak mau kenal sama orang tua lagi kalo nggak ikut aliranmu. Begini-begini, Mamah juga tahu agama..” kurang lebih seperti itu kalimat yang dilontarkan Ibu demi menanggapi teguran saya.

Sedih dan kesal rasanya ketika itu. Saya curhat kesana-kemari dengan teman-teman shalihah yang sudah terlebih dahulu hijrah, mereka menyarankan untuk mendakwahkan orang tua dengan akhlaq yang baik. Karena pada dasarnya, orang tua tidak memerlukan ceramah panjang lebar kita. Mereka tidak mau didengarkan dalil-dalil dari Al-Qur’n mau pun As-Sunnah bukan karena kerasnya hati mereka, bukan pula karena fanatiknya mereka terhadap golongan atau organisasi tertentu. Mereka bersikap demikian karena kekhawatiran anak-anaknya tergelincir pada golongan sesat yang memang marak dimana-mana.

Pertentangan orang tua belum begitu kuat hingga pada akhirnya saya memutuskan bercadar. Mengetahui anaknya bercadar, Ibu saya segera menghubungi kampus tempat saya menimba ilmu, agar pihak kampus mengawasi dan melarang saya untuk bercadar. Laporan Ibu diterima pihak kampus, dan memang saya dipanggil Kaprodi untuk mengenakan pakaian yang telah ditentukan oleh Program Studi saya. Yakni berpenampilan layaknya seorang Guru, dengan mengenakan rok, jilbab, pakaian kemeja atau batik, dan tentunya sepatu fantopel. Karena, saya mengambil Jurusan Pendidikan Matematika. Namun tidak saya indahkan. Saya hanya melepas cadar dan menggantinya dengan masker medis, serta mengenakan sepatu teplek (tanpa hak). Saya berkuliah seperti biasa, meski Kaprodi tidak menyukainya. Toh, mengenakan pakaian syar’i adalah hak asasi manusia, demikian pula bercadar. Bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa? Bukankah beribadah sesuai agama dan kepercayaan adalah hak asasi manusia yang tidak boleh diusik?

Bahkan, saya akhirnya menemui Rektor sekedar bertanya, “Bu.. Apakah bercadar dilarang di kampus ini?” Ibu Rektor terdiam sejenak, kemudian beliau berkata.. “Sejauh ini, tidak ada aturan tertulis dilarangnya Mahasiswa untuk bercadar. Jika mau, ya silahkan saja asal tetap tertib…”

Masalah yang Sesungguhnya Ternyata…

Kita semua memahami bahwa bercadar adalah hal yang asing di Masyarakat kita. Sudah asing, penggunanya berakhlaq buruk pula, nah bagaimana tidak semakin memperuncing stigma negatif di mata masyarakat?

Sering saya bertemu Muslimah lainnya ketika sedang shalat berjama’ah di Masjid. Mereka menatap saya dengan penuh rasa penasaran. Ahhh.. tatapan itu, sudah tidak asing lagi untuk saya. Jika tersedia hijab (tirai), maka saya usahakan membuka cadar, atau menyapa dan menyalaminya duluan. Berbasa-basi standar nasional sambil menunggu dimulainya shalat, “Namanya siapa? Tinggal dimana? Kuliah dimana? Dan lain-lain.”

Kebetulan, saya tipe orang yang easy going dan rada parah cerewetnya jadi tidak begitu kesulitan membuat orang lain nyaman mendengar ocehan saya. Hingga kebanyakan pada akhirnya mereka bertanya, “Mbak.. Maaf, kalo boleh tahu.. Kenapa kok rapet banget begini?”

Well.. akhirnya kesempatan emas untuk “Memberitahu” datang juga. Barulah saya jelaskan, alasan mengapa mengenakan cadar. Tentunya.. dibahasakan dengan materi yang ringkas dan sederhana. Bisa minum puyer kalau saya jabarkan definisi, hukum cadar, dan khilafiyyah para Ulama tentang cadar.

“Saya bercadar, karena cadar merupakan salah satu syari’at Islam Mbak/Bu/Dek. Memang yaa, cadar itu di Indonesia masih asiiing banget. Ada ulama yang mewajibkan bercadar, dan adapula yang mengatakan sunnah. Nah, saya menganggap bahwa cadar itu wajib. Kenapa wajib? Karena wajah wanita itu kan didesain sedemikian rupa oleh ALLAH, seminimalis apapun tetep terlihat menarik di mata laki-laki. Saya risih dan malu kalo wajah saya dipandang oleh selain Suami. Makanya, ditutup aja deh. Yaah.. dari segi kesehatan pun juga bisa meminimalisir paparan sinar Ultra Violet kalo siang, debu, dan asap yang bikin kulit wajah jadi kusam. Saya tetep membaca surat yasin dan bershalawat untuk Nabi Muhammad, melayat kalo ada orang meninggal, mendoakan, kalo ada tamu main, sepulangnya mah rumah enggak perlu dipel karena tamu bukan najis, kalo Mbaknya mau main ke rumah, saya juga pake baju daster kok, nggak pake jilbab kalo di depan sesama Muslimah, dan lebarannya ikut pemerintah juga kok, kan kita wajib taat sama Pemerintah selama dalam kebaikan.. Saya beraktifitas seperti orang-orang pada umumnya, mungkin yang membedakan ya karena saya pake cadar. Mungkin kalo saya pake masker medis atau masker karakter hello kitty orang akan biasa aja yaa? Kalo pake Cadar yang senada dengan warna jilbab baru pada aneh.. hehehe”

Sengaja saya paparkan panjang lebar, why? Karena anggapan orang awam tentang wanita bercadar adalah:

“Orang yang bercadar itu fanatik..”

“Orang yang bercadar tidak mau yasinan dan tahlilan..”

“Kalo orang tuanya meninggal, nggak mau melayat dan mendoakan…”

“Kalo ada tamu main ke rumahnya, pulangnya rumah langsung dipel..”

Dan masih banyak lagi. Namun di balik wajah-wajah penuh tanya, sinis, mencemooh, takut, orang lain tentang wanita bercadar, yakinlah bahwa masalah yang sesungguhnya adalah karena mereka penasaran dan tidak tahu apa, siapa dan bagaimana sih orang bercadar itu? Kenapa sih harus bercadar?

Sekiranya seluruh orang Indonesia tahu tentang hukum-hukum cadar, tentulah kita yang bercadar tidak akan dianggap asing dan aneh. Tidak akan muncul statement cadar itu budaya arab, yang paling kejam memutlakkan bahwa wanita bercadar adalah teroris! Namun sayangnya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa nyatanya, Indonesia yang konon Masyarakatnya mayoritas Muslim, buta akan agamanya sendiri. Enggan untuk belajar memahami agamanya sendiri. Islam hanya status di KTP, Islam hidup hanya ketika menjelang ramadhan, Shalat tegak hanya ketika Shalat Ied. Kejujuran kini telah langka. Patokan beragama hanya : Bisa membaca Al-Qur’an, Shalat, Sedekah, mengenakan jilbab. Sudah. Padahal, ada yang tidak kalah penting dari kesemua itu, yakni mempelajari Ilmu agama.

Harmoni yang Indah di Kampung Pogung

Saya begitu takjub ketika diberi kesempatan untuk tinggal di Kampung Pogung (Utara Fakultas Teknik UGM). Maa syaa ALLAH, sekiranya harga tanah dan rumah belum mencapai “M” ingin rasanya menabung untuk membelinya dan menghabiskan sisa usia disana.

Masyarakat dan orang-orang bercadar maupun bercelana cingkrang dapat hidup berdampingan dengan harmonis. Masjid-masjid selalu penuh dengan jama’ah. Suara adzan yang bersahutan terdengar merdu. Imam shalatnya fasih dalam membaca surat-surat sehingga tidak membuat jama’ah terkantuk-kantuk sampai sempoyongan, semangat beribadah masyarakat tinggi, anak-anak TPA semangat mengaji, tak ketinggalan Ibu-ibu memenuhi majelis Ilmu syar’i yang sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang paling mengagumkan adalah, anak-anak perempuan banyak yang sudah mau berjilbab, Maa Syaa ALLAH.. dengan pertolongan ALLAH harmoni ini terwujud.

Selain itu, rahasia terbesar suksesnya dakwah di Masyarakat Pogung yang mayoritas dihuni oleh Mahasiswa UGM adalah, “Perhiasan berupa Akhlaq yang baik…” Maa syaa ALLAH.

Bagaimana Akhlaq yang Baik Itu?

Akhlaq baik yang seharusnya dimiliki wanita bercadar adalah, murah senyum. Meski wajah kita tertutup rapat, dan hanya matanya saja yang terlihat, tetaplah berikan senyum terbaik pada orang lain. Senyum itu akan tersungging pada keryitan halus di mata kita, yang mampu dibaca oleh orang lain. Tentu khusus untuk wanita loh yaa? Jangan ke Bapak-bapak. Karena, senyum kita untuk saudara sesama Muslim bernilai sedekah.

Sapa dan berikan salam pada Muslimah ketika bertemu di jalan atau dimana saja. Meski nggak kenal. Tidak memandang rendah yang belum berjilbab atau berjilbab namun masih belum sempurna. Terus motivasi supaya istiqomah. Berlaku dan bertutur kata lemah lembut. Jangan kaku dan saklek. Menghendaki orang lain untuk memahami kita, namun kita tidak berupaya memahamkan orang lain tentang “Ini syariat ALLAH.. Ini amanah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.. Ini identitas Muslimah.. Ini indah.. Sungguh Indah…” dan ingat selalu, kita tidak lebih baik dari mereka yang belum paham hukum cadar, tidak lebih bijak dari kedua orang tua, tidak lebih pintar dari yang terlihat biasa-biasa saja. Jangan tinggi hati dengan ilmu yang baru secuil di majelis-majelis ilmu syar’i.

Selalu meminta hidayah kepada ALLAH agar tetap istiqomah. Jangan sombong dengan hidayah yang belum ada apa-apanya. Karena hidayah itu milik ALLAH, mintalah selalu agar hati tetap dalam genggaman Jemari-Nya, sungguh, hidayah demikian mahal. Yang terpenting adalah, jangan coreng kemuliaan cadarmu dengan buruknya akhlaq.

~ Tyas Ummu Hassfi

Yogyakarta, 10 Oktober 2015 at 11.25 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s