Poligami Oh Poligami…

poligamiBaru-baru ini, dunia maya kembali geger oleh aksi seorang Isteri yang mengunggah video ungkapan perasaannya yang telah dipoligami oleh suaminya. Dengan cepat video tersebut merebak di daring bahkan diberitakan di infotainment. Tidak lama berselang, muncul video serupa. Kali ini, berisi curahan hati seorang Isteri yang rela dipoligami oleh Suaminya. keduanya sama-sama bercadar, dan itu membuat saya sebagai Muslimah merasa malu.

Lha, kenapa harus malu?

Saya memiliki beberapa teman yang membina rumah tangga ta’adud (poligami). Semuanya bercadar. Betul-betul bercadar karena keilmuan yang dimiliki, bukan bercadar karena mau action di depan kamera buat diunggah di You Tube. Bahkan kini, masing-masing sudah ada yang memiliki banyak anak, adapula yang sudah saatnya ngunduh mantu.

Kehidupan rumah tangga mereka adem ayem. Semua orang mengetahui praktek poligami yang mereka jalani. Orang yang mengenalnya beranggapan, Isteri-isterinya hidup guyub rukun, adem tentrem. Sampai-sampai, kami tidak pernah mencium aib yang diumbar oleh lisan mereka, meski sesekali pernah melihat sisa air mata di sudut matanya. Tidak dapat dipungkiri, orang-orang yang menjalani rumah tangga monogami saja kadang diterpa badai, kadangpula puting beliung, lantas bagaimana dengan mereka yang harus bergantian Nahkoda, dan mengkondisikan bahtera rumah tangga tetap berlayar mengarungi samudera kehidupan dengan seimbang?

Saya malu, jika ada seorang Muslimah menampilkan dirinya di dunia maya. Lengkap dengan atribut Islam, namun mempermalukan dirinya, suaminya, dan agamanya. Pertama kali menonton video hijaber yang merasa terdzhalimi karena poligami tersebut, saya langsung teringat pada Lacey Nicole Buchanan. Seorang Ibu dari Bayi bernama Christ yang memiliki cacat lahir. Struktur wajahnya tidak terbentuk sempurna. Nicole mempertahankan bayinya agar tetap dilahirkan, meski dokter memvonis bayinya berpotensi cacat. Nicole mensyukuri kelahiran puteranya. Ia pun mengunggah video di You Tube, mencurahkan isi hatinya dengan secarik kertas yang mewakili perasaannya. Dan kini, agaknya mengunggah video yang menjiplak konsep video Nicole menjadi tren yang ditiru oleh segelintir orang, termasuk muslimah yang seharusnya tidak menampakkan wajah dan tubuhnya di khalayak. Bayangkan, Video yang diunggah di You Tube ditonton oleh jutaan orang dari penjuru Dunia. Masa iya, cuma karena butuh perhatian lebih harus melucuti perhiasan bernama “Malu?”.

Oke… Back to topic…

Entah, berbicara soal poligami itu rasanya memang geregetan, gemes, dan bikin adrenalin bekerja lebih keras. Membuat darah mendidih, mata panas, dan hati mendadak beku seketika. Saya berkata demikian, sesuai porsi saya sebagai seorang Isteri. Wanita yang pencemburu, mudah terluka, memiliki hati selembut kapas, mata bak muara sungai, dan reaksi emosional yang tak terkendali jika akalnya sudah tak di tempat karena dibakar cemburu dan amarah.

Bohong, jika ada seorang wanita yang berkata, “Aku ikhlas kok dipoligami…”, “Aku nggak cemburu kok..”, “Aku siap kok..”. Kalau ada yang bisa berkata demikian tanpa menangis di pojok kamar setelahnya, tanpa hati yang disayat-sayat, tanpa cemburu sedikitpun, itu artinya ia perlu mendatangi Psikiater. Ah.. atau tak perlulah ke Psikiater, barangkali memang ia tak benar cinta pada Suaminya.

Sah-sah saja kita tidak mau dimadu. Boleh kita tidak mau Suami berpoligami, yang tidak boleh adalah membenci poligami. Seperti halnya Jengkol. Jengkol itu halal dan enak. Tapi, karena tidak suka baunya, maka kita tidak mau makan Jengkol. Namun, bukan berarti kita mengharamkan jengkol dan tidak menyukainya sama sekali kan?

Demikian pula dengan poligami. Boleh kita tidak mau dipoligami. Namun, tidak boleh membenci bahkan mengharamkan poligami. Karena, ia bagian dari syariat ALLAH. Bolehnya melakukan poligami dalam Islam berdasarkan firman ALLAH subhanahu wa ta’ala:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(QS. An Nisaa: 3)

Sayangnya, sebagian suami masa kini ada yang bermudah-mudahan dalam menerapkan syariat poligami. Meski tidak dilarang dalam Islam seorang laki-laki memiliki lebih dari satu Isteri, namun jika tidak memiliki bekal agama yang mumpuni, kestabilan emosi yang baik, ekonomi yang stabil, mengayomi dan bertanggungjawab terhadap keluarga masih minim, maka sadar dirilah. Poligami bukan satu-satunya sunnah Nabi, masih banyak sunnah Nabi lainnya yang tidak kalah berpahalanya. Seperti menyambung silahturahmi, berpuasa sunnah, sedekah, dan lain sebagainya.

Nah, potret seorang Isteri yang mengunggah video curhatnya di media sosial adalah bukti poligami yang tidak dibangun di atas ilmu. Alhasil, sang Isteri merasa terdzhalimi, dan Suami merasa jumawa. Sekiranya poligami yang dijalani dibina di atas ketaatan kepada ALLAH, diimbangi dengan bekal ilmu agama yang kokoh, In syaa ALLAH hal demikian (Posting video curhat, bahkan ada viedo tandingannya) tidak akan terjadi.

Di jaman sekarang ini, banyak sekali suami yang berkeinginan untuk memiliki Istri lebih dari satu. Padahal, membaca Al-Qur’an saja megap-megap, shalat lima waktu di Masjid saja kalau lagi butuh sama ALLAH doang alias banyak bolongnya, shalat Jum’at aja karena kepepet nggak enak kalo nggak shalat Jum’at karena Boss di kantor saja Jum’atan? Foto Isterinya berserakan di dunia maya saja malah berbangga diri? Isteri salaman dengan non mahram saja nggak naik darah? Isteri pakai jilbab saja kalau mau kondangan, tapi santai-satai saja? lalu, apa yang bisa diharapkan dari tipe Suami yang seperti ini?

Janganlah begitu Wahai para Suami…..

Islam adalah agama yang indah. Syariat ALLAH tentu akan membawa kemaslahatan bagi umat-Nya. Demikian pula larangan ALLAH, tentu akan memudharatkan umat-Nya jika diterjang.

Wahai Para Suami yang ingin berbagi hati..

Atas nama sunnah Nabi, engkau yang sama sekali tidak pernah datang ke Majelis Ilmu begitu lantang menyerukan Poligami itu indah. Poligami itu kebutuhan. Poligami itu solusi. Poligami itu lebih baik daripada berzina.

Kemanakah perginya akal sehat dan hati nuranimu?

Anak gadis seorang Ayah yang dulu kau pinta, kini menanggung payah karena hati dan jiwanya remuk diterjang egomu..

Amarah, cemburu, kecewa, merasa lemah, mengaduk akalnya yang pendek dan mengikis agamanya yang kurang, karena sedikitnya iman yang bersarang akibat kelalaianmu untuk mendidiknya…

ALLAH beri engkau kelebihan akal dan kekuatan, itulah mengapa kaummu lah yang berhak menjadi pemimpin..

ALLAH muliakan kedudukanmu, bahkan jika boleh bersujud kepada Makhluk, Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam memerintahkan para Isteri untuk bersujud kepada Suaminya karena kemuliaannya…

Engkau boleh berbangga dengan banyaknya harta…

Tampannya rupa…

Tingginya pendidikanmu…47a45419888fdf434a94914962e44681

Namun…

Engkau tidak boleh lupa,

Isteri yang shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia yang tak ternilai harganya…

Ah… Tidak salah, tidak haram engkau berpoligami…

Namun….

Kembali kuingatkan wahai para Suami…

Isterimu, adalah gelas-gelas kaca yang rapuh…

Kaca terbaik adalah ia yang memerlukan ketelatenan untuk membuatnya, penuh kelembutan, kehati-hatian, dan proses yang tidak mudah..

Sebelum engkau memutuskan membagi cinta…

Koreksilah dirimu, ukurlah keimananmu, lihatlah kemampuanmu, periksa niatmu..

Jangan kau turuti nafsumu karena terpikat pada yang lebih muda, cantik, tinggi, putih, dan modis..

Itu tidak menjamin Surga bagimu wahai Suami!

Namun…

Jika niatmu karena ALLAH, mengikuti sunnah Nabi agar memiliki banyak anak dengan berpoligami, menolong para Janda dan gadis yang belum menikah, engkau mampu berlaku adil, engkau mampu mendidik Isterimu di atas ketaatan kepada ALLAH, engkau menjadikan sebab Isterimu ikhlas dan ridha, maka tak mengapa engkau berbagi cinta dan segalanya dengan wanita lain.

Poligami bukanlah Surga yang Tak Dirindukan. Poligami adalah ladang pahala bagi sesiapa yang ikhlas melakoninya. Mengharap wajah ALLAH, menaburinya dengan kecintan kepada ALLAH. Realitanya, sulit memang berbagi Suami, namun jika ingat luasnya rahmat ALLAH dengan buah kesabaran, tentu beratnya cemburu yang menggunung ditepis oleh kerinduan akan Surga-Nya.

Nasehat untukmu wanita….

Engkau boleh tidak mau dipoligami…

Namun, tahanlah lisanmu…

Tahanlah dirimu…

Tahanlah lakumu…

Engkau tidak boleh mencerca Isteri kedua, ketiga, keempat karena dianggap merebut Suami orang…

Engkau tidak boleh menghina poligami sebagai kutukan…

Poligami adalah syariat ALLAH yang halal…

Jika tidak suka, tidak tahan lagi, tidak mau dipoligami, janganlah sakiti ALLAH dengan mencelanya…

Engkau yang dipoligami adalah wanita terhormat yang ALLAH janjikan Surga jika mampu bersabar…

Tak perlu kau kabarkan seluruh dunia akan sakitnya dimadu..

Biar ALLAH obati luka hatimu yang berdarah-darah…

Bersabarlah..

Akan ada ganjaran bagi kepayahanmu menata hati, menata kehidupan kembali jika pada akhirnya perceraian adalah solusi terbaik…

Poligami bukanlah neraka. Citra poligami menjadi buruk karena banyaknya pelaku poligami yang berpoligami tanpa ilmu. Akibatnya, kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga meningkat. Meski demikian, kita tidak boleh menggeneralisir bahwa semua orang yang berpoligami itu keji. Pada kenyataannya, banyak rumah tangga ta’addud yang sukses. Contohnya Ustadz Aa’ Gym, meski sempat bercerai namun kini kembali rujuk. Ya, karena pernikahan yang dijalani dibangun di atas ilmu. Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Abdullah Taslim, dan lain sebagainya. Silahkan disimak video wawancara Ustadz Abdullah Taslim bersama Isteri-isterinya.

___________

Dan saya……

Saya tidak ingin berbagi Suami, sungguh saya tidak akan pernah sanggup! Namun, saya tidak membenci poligami.

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah

Yogyakarta, Senin 2 November 2015

Advertisements

One thought on “Poligami Oh Poligami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s