Persiapan Pra Pernikahan?

weddingBismillaah…

Setiap ada teman yang berkunjung ke rumah, atau pas lagi main ke Wisma selalu mendapat pertanyaan,

“Kak.. Apa aja sih persiapan yang harus kita punya ketika mau nikah?”

Hmm.. Sebagai wanita, bahkan sejak masih bocah kita sudah diiming-imingi bahwa pernikahan itu seindah kisah Putri dan Pangeran di Negeri Dongeng. Bertemu Pangeran berkuda putih, jatuh cinta, menikah, punya anak and they live happily ever after… Padahal, realitanya kita sepenuhnya sadar bahwa kehidupan pernikahan selalu memiliki lika-liku yang terjal, segala rasa bercampur menjadi satu, segala peristiwa terlewati dengan derai tawa dan air mata.

Memasuki pintu gerbang pernikahan, itu artinya kita harus memiliki bekal yang lebih dari cukup. Pernikahan ibarat bahtera yang akan berlayar mengarungi samudera kehidupan, kemudian berlabuh di Surga. Seperti halnya seseorang yang hendak safar dengan menaiki sebuah kapal, melayari samudera yang luas, dan memerlukan waktu tidak sebentar. Tentu, ia akan mempersiapkan dengan matang bekal perjalanannya.

Lantas, apa sajakah persiapan yang harus dimiliki seorang wanita ketika memutuskan untuk menikah?

Ilmu Syar’i

Bekal ilmu syar’i adalah skala prioritas yang wajib kita bawa sebanyak-banyaknya untuk mengarungi samudera rumah tangga. Nah, mumpung masih lajang, maksimalkanlah untuk rajin datang ke kajian. Jangan hanya karena mau nikah trus ngaji ya? Tapi, karena kita sangat membutuhkan ilmu syar’i dalam setiap helai nafas kita. Kebutuhan akan ilmu syar’i itu lebih utama, sama halnya dengan kebutuhan kita akan makan dan minum.

Ilmu syar’i akan mengindahkan akhlaq dan melembutkan hati. Akan menjaga kita dari hal-hal yang menjerumuskan ke neraka. Tentu, seorang anak berhak dilahirkan dari seorang Ibu yang paham Ilmu Agama kan? Demikian pula, seorang Suami yang shalih berhak pula mendapatkan Istri yang memahami Agamanya dengan baik, agar ketika seorang Suami terjerumus pada kesalahan, Sang Isteri akan mengingatkannya dengan hikmah, dengan ilmu. Bukan begitu? Tentu, Rumah Tangga yang dibina oleh Seorang Muslim dan Muslimah yang mau belajar ilmu agama, memahaminya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan rumah tangganya, In syaa ALLAH akan mengantarkan keduanya pada Sakinah, Mawaddah, Warrahmah.

Emosi dan Mental

Tidak kalah penting, hal yang harus dipersiapkan dengan matang adalah emosi dan mental yang baik. Mungkin, ketika masih single, masih tinggal dengan orang tua, ngekost, kita bisa ngambek, mutung, tidak sabaran, tidak mandiri, dan bersikap semau kita. Setelah menikah, kita dituntut untuk bisa bersikap lebih dewasa, lebih bersabar, tidak egois, lebih bijak, lebih berempati dan pemaaf. Bagaimana tidak? Kita akan menikahi seseorang yang memiliki watak dan kebiasaan yang tidak serupa dengan kita.

Okelah, ketika masih ngekost, kita sudah terbiasa menghadapi teman-teman kost yang memiliki ragam karakter yang tidak sama juga. Namun, tentu sikap kita tidak dapat diserupakan kepada Suami. Bagaimanapun, Suami adalah Pemimpin Rumah Tangga kita. Kita wajib menghormati dan memuliakannya. Mengutamakannya daripada orang tua dan sahabat-sahabat kita. Mengalah demi menjaga kedamaian di dalam rumah tangga sekalipun kita benar, mentaatinya meski terkadang bertentangan dengan mau kita.

Belajar Memasak

Di tempat kost tidak ada alat masak dan dapur bukan sebuah alasan untuk tidak mau belajar masak. Ketika merantau, sering merindukan masakan Ibu di rumah kan? Yang enak, tinggal makan, gratis, dan bisa nambah hingga porsi kuli. Kerinduan akan masakan Ibu terkadang adalah alasan untuk mudik.

Suami pernah berkata kepada saya ketika awal-awal pernikahan kami,

“Di balik masakan Ibu yang enak, terdapat seorang Bapak yang banyak bersabar di awal pernikahan…”

Hehehe, menyebalkan, tapi ada benarnya juga. Pasalnya, Mama Mertua sering menghibur saya ketika saya curhat soal Rendang rasa Ampas Kelapa buatan saya. Beliau berkata dengan logat Bugis, “Dulu waktu pertama nikah aku juga begitu, tak bisa masak. Tapi aku belajar terus sampai bisa buat kue-kue…”

Nah.. Tidak mengapa rasa masakan masih nano-nano, yang terpenting mau berkenalan dengan bumbu dapur. Kalau pas mudik, mintalah diajarkan Ibu di kampung halaman untuk belajar masak. Masakan enak yang tersaji di rumah akan membuat Suami berselera makan, betah makan di rumah, rindu masakan Istri di rumah ketika sedang bertugas di luar kota.

Juga ketika kita ternyata berjodoh dengan Suami yang berasal dari Pulau Seberang. Harus pintar-pintar menyesuaikan selera kita dengan selera Suami. Saya yang orang Jawa, kadang masih sedikit mengalami kesulitan untuk masak menu khas Sumatera maupun Sulawesi yang berbumbu kuat, karena tidak pernah makan kecuali rendang, jadi tidak bisa menerka-nerka bagaimana rasanya? Alhasil, Suami ngalah untuk makan menu rumahan ala orang Jawa yang rasanya manis dan gurih.

Nah, keuntungan kalo sudah pandai masak adalah, bisa memasak untuk keluarga besar Suami dengan masakan andalan khas daerah kita, tentunya hal demikian akan membuat kita semakin akrab dengan keluarga Suami. Karena kebersamaan ketika masak bareng di dapur dengan Mamah Mertua dan Saudara Suami.

Ilmu Parenting

“Al-Ummu Madrassatul ‘Ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq…”

Seorang Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya.. maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Seorang Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang dikecap pertama kali oleh anak-anak. Tentunya, Ibulah yang menjadi Guru yang utama dan tempat belajar anak-anak sejak masih berada dalam kandungan, hingga sepanjang tumbuh kembangnya. Sedangkan Ayah adalah Teladan, pelindung, penanggungjawab, Guru Ngaji, dan Super Hero bagi anak-anaknya.

Maka Saudariku, belajarlah memahami psikologi anak, pelajari tahapan perkembangan anak, cari tahu nutrisi-nutrisi terbaik untuk menunjang tumbuh kembang anak, agar ia menjadi Generasi Rabbani yang berkualitas dan cerdas. Tentu, engkau akan mengerti mengapa Ilmu syar’i menjadi prioritas? Ya, sebab.. Engkaulah Guru pertama yang akan mengajarkan Tauhid kepada anak-anakmu kelak. Sebab, ketika telah memiliki anak, waktumu akan lebih banyak untuk mengurus anak di rumah, sehingga sulit bagimu untuk bisa menimba ilmu syar’i seperti ketika masih single. Maka, manfaatkanlah semaksimal mungkin masa lajangmu.

Serba-serbi

Banyak sekali yang harus kita persiapkan sebelum memutuskan untuk menikah. Bolehlah, sambil menanti Pangeran berkuda putih datang menjemput pada Ayah, kita perbanyak membaca buku maupun artikel tentang tentang Fertilitas, Resep Memasak, Adab Az Zifaf, Ibunda Para Ulama, Surat Terbuka Untuk Para Suami, dan lain-lain.

Perlahan, hilangkan sifat atau kebiasaan yang buruk. Misal, pemalas. Sebab, menjadi Isteri itu harus rajin supaya Suami betah dan nyaman di rumah. Belajar mengatur keuangan. Ingat, setelah menikah kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebagai Istri yang qana’ah, yang memahami kelelahan Suami ketika bekerja, (Meski berpendapatan besar) seyogyanya kita lebih mengutamakan yang menjadi kebutuhan, bukan keinginan. Bersederhanalah, tak perlu membeli sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Bukankah boros adalah perbuatan yang tidak terpuji? Ketika masih single, kita bebas membeli apa yang kita inginkan. Setelah menikah, jika benar menyayangi Suami, jangan hamburkan uang Suami untuk membeli barang-barang yang pada akhirnya teronggok tidak terpakai karena memang bukan “kebutuhan”.

Yang terakhir, namun sangat penting adalah luruskan niat karena ALLAH. Menikah karena ingin menjaga diri dan menyempurnakan separuh agama kita. 🙂 Bukan karena mupeng melihat temannya sudah menikah, atau dikejar deadline oleh usia ya? Karena, menikah bukan lomba lari. Bagi yang telah siap untuk mengarungi Samudera Rumah Tangga, semoga ALLAH mudahkan antunna menuju pernikahan, dan memberkahi pernikahannya, serta memperoleh keturunan yang shalih dan shalihah kelak, aamiin.. yaa mujibassa’ilin..

Oh ya, lalu bagaimana meminta ijin kepada Orang Tua untuk menikah, padahal masih kuliah atau baru lulus? Nantikan tulisan berikutnya yaa.. In syaa ALLAH.. ^^

_________

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah,

Yogyakarta, 4 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s