Sudah Siap Menikah, Kepentok Ijin Ortu?

vintageSudah siap menikah, namun kepentok ijin Orang Tua karena masih berstatus Mahasiswi? Atau, sudah wisuda namun belum bekerja sedangkan Orang Tua menginginkan amanah Sarjana yang diemban putrinya dapat dimanfaatkan agar ilmu yang ditimba semasa kuliah tidak sia-sia?

Wajar lho, orang tua memiliki sikap seperti itu. Dimanapun, harapan orang tua hanya satu, melihat anaknya hidup sejahtera dan berbahagia dengan pendidikan yang telah ditempuhnya selama bertahun-tahun. Orang tua merasa berhak melihat gadis kecilnya yang dulu manja dan cengeng, duduk di atas podium, mengenakan Toga, berselempang kain bertuliskan “Cumlaude” atau minimal di deretan namanya telah bertengger gelar baru, yakni S. Pd, S. Si, ST, S. Ked dan semacamnya. Tidak ada yang salah memang. Sah-sah saja, bagaimanapun mereka telah mengerahkan segenap perjuangan untuk menyekolahkan putrinya setinggi-tingginya hingga lulus bangku kuliah, hingga menjadi orang berpendidikan dan mereka berbangga atas hal tersebut.

Namun, di tengah perjalanan studi, sang anak berkeinginan untuk menikah karena sadar betapa besar fitnah lawan jenis di kampusnya, sadar bahwa ia membutuhkan pelindung untuknya karena jauh dari orang tua, sang anak ingin menjaga hati sesuci mungkin agar tidak terjebak dalam jerat-jerat cinta yang belum halal, ia membutuhkan mahram untuk perjalanan mudik karena jauhnya jarak yang harus ditempuh dari tempatnya kuliah menuju kampung halaman, atau alasan lainnya yang mendesak putrinya untuk segera menikah demi kemaslahatan diri dan agamanya.

Mengutarakan keinginan untuk menikah pada orang tua adalah perkara yang melibatkan hati sepenuhnya. Beragam emosi bercampur aduk di dalamnya. Malu, sungkan, galau, sedih, senang, deg-degan, pesimis mengaduk-aduk rasa hingga terkadang membuat tidak bisa tidur dan menggalau sepanjang waktu.

Yaa… Kita tetaplah gadis kecil milik Ayah dan Ibu di rumah, meski usia sudah menginjak kepala dua dan wajah imut sudah sirna tidak berjejak ditelan skripsi. Ahh.. pasti berat bagi mereka untuk mendengar putrinya berkata, “Pak… Ada yang mau datang melamar…”, Atau.. “Bu, aku ingin menikah…”.

Lalu, bagaimana meminta ijin yang tepat kepada kedua orang tua untuk menikah? Sebab, tidak dapat dipungkiri, perihal meminta ijin menikah masih menjadi alasan seseorang yang masih kuliah menunda menikah karena khawatir orang tua belum membolehkan dengan beragam alasan masuk akal yang dipunyai.

Menjalin komunikasi yang baik dengan kedua orang tua dengan sering menelepon dan merayunya. Bukan banyak ngasih kode di facebook yaa? hehehe.

Orang tua kita sudah lupa dengan kisah Siti Nurbaya. Mereka kini hidup di jaman pacaran adalah kelaziman untuk menapaki rumah tangga. Bagi sebagian orang tua modern, justru sangat aneh jika usia kuliah anak gadisnya belum juga punya pacar. atau menganggap “Alaah.. masih bocil, nikah itu nanti kalo Calonmu sudah mapan dan kariermu sudah menanjak, atau minimal kamu lulus S1 dululah baru mikirin nikah…”.

Nah.. Pintar-pintarnya kita ngasih kode ke Ibu. Dekati Ibu, karena kadang Ibu berperan besar juga dalam memberi restu untuk menikah lho, karena Bapak biasanya akan berkata, “Terserah, baiknya gimana menurut Ibu/Mamah/Bunda?”.

Sering-seringlah pancing Ibu untuk ngobrol-ngobrol soal menikah. Lihat bagaimana reaksinya, sambil kita yakinkan bahwa tujuan kita menikah semata-mata untuk beribadah kepada ALLAH. Daripada kita tidak dapat mengontrol hati yang fitrah menjadi fitnah karena godaan lawan jenis? Selain itu, menikah adalah solusi, agar ada yang menjaga kita di tanah rantau, agar ada yang menemani ketika mudik, supaya lebih semangat mengerjakan skripsi atau berangkat kuliah, supaya kita lebih bertanggungjawab, lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih shalihah, dan lain sebagainya.

Face to Face tentu lebih baik ketika mengutarakan keinginan untuk menikah. Dimana tulisan dan suara dapat tergambar jelas dari lukisan ekspresi wajah kita, dimana hati kita menjadi begitu dekat dengan kedua orang tua. Bukankah sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati pula? Maka, berbicaralah dari hati ke hati dengan kedua orang tua, tidak grusaa-grusu, tidak pula memaksa.

Tunjukkan, bahwa kita serius untuk menikah, bukan karena mupeng melihat temannya sudah menikah duluan. Menikah bukan lomba lari, juga bukan ajang hebat-hebatan. Ingat loh ya, menikah itu memiliki tanggungjawab yang besar. Baik terhadap diri sendiri, Suami, anak-anak, dan akhirat kita di h

ijin menikah

adapan ALLAH. Jadi, harus diperhatikan benar niat awal menikah itu apa? Jika hanya mupeng karena ada teman yang “kayaknya” bahagia banget sih udah nikah? Enak banget sih udah nikah, maka lebih baik mundur teratur Ladies.

Menunjukkan keseriusan kita di hadapan kedua orang tua bahwa kita sudah siap menikah adalah, dengan bersungguh-sungguh dengan kuliahnya. Ketika di rumah, tunjukkan akhlaq baik, sikap dewasa, yang tadinya males bantu-bantu Ibu jadi rajin beberes, rajin masak, dan lain-lain.

Berikan Informasi seakurat mungkin tentang Ikhwan yang akan menikahi antunna atau sedang proses dengan antunna agar ketika orang tua menanyakan informasi dasarnya, kita bisa memberikan jawaban yang menyakinkan. Orang tua tentu tidak rela jika anak gadis yang sedari kecil dididik, disayang-sayang, namun ketika sudah dewasa malah jatuh ke tangan Suami yang tidak bertanggungjawab. Orang tua mana yang tidak patah hatinya jika anaknya salah memilih Suami?

Oya, apabila Si Ikhwan masih setengah-setengah ketika hendak nazhor, baiknya urungkan melanjutkan proses dengannya. Karena banyak kasus, sudah ta’aruf, setelah nazhor ikhwannnya mundur hanya karena si akhwat tidak begitu cantik. Nazhor hanya dilakukan apabila sudah yakin akan menikahinya, bukan ajang coba-coba ya? Kasihan… Jika ketika nazhor, orang tua si akhwat sudah berharap putrinya akan segera dilamar. Namun karena alasan kurang cantiklah, belum siap menikahlah, maka si ikhwan malah mundur.

Berjanjilah bahwa kita akan tetap menyelesaikan kuliah untuk menghargai jerih payah kedua orang tua yang telah menyekolahkan kita selama ini, dan usahakan untuk ditepati. Hal ini juga perlu didiskusikan dengan calon Suami ketika sedang proses supaya tidak begitu banyak mengecewakan kedua orang tua. Kecuali, orang tua memang benar-benar ridho kita tidak melanjutkan studi, misal karena hamil.

Berdoa dan Bertawakkal kepada ALLAH, jika toh orang tua belum juga mengijinkan menikah. Bagaimanapun, ridha ALLAH adalah ridha kedua orang tua juga kan? Mudah-mudahan, dengan tetap berikhtiar meluluhkan hati kedua orang tua dan bertawakkal, ALLAH mudahkan urusan teman-teman untuk segera menikah. Ingatlah, dibalik larangan kedua orang tua pasti terdapat kebaikan untuk kita. Jika memang takdir kita segera menikah, maka kita akan menikah juga kok, meski entah kapan? Sembari menunggu takdir tiba, maka upayakanlah semaksimal mungkin untuk segera menyelesaikan studi, dan diimbangi dengan menuntut ilmu syar’i. Karena menikah, memerlukan bekal yang tidak sedikit agar biduk rumah tangga yang didayung bersama kelak berlabuh di Surga.

Tenanglah…

Takdir ALLAH tidak pernah salah, karena ALLAH lebih tahu apa yang terbaik untuk kita…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s