Membina Hubungan Baik dengan Keluarga Suami

2b0db6961cf3b90decddb5a96c8fb1af

Tidak jarang, saya mendengar kisah perseteruan menantu-mertua, Isteri dengan saudara Suami, atau sepaket istri dengan mertua dan keluarga Suami. Hmm.. agaknya cuma di negeri kita ya, ada mertua dan menantu musuhan? Atau minimalnya, di depan baik-baik saja, di belakang nggerundel. Pasalnya, saya memiliki teman yang menikah dengan orang Norwegia maupun Swedia, hubungan dengan mertua dan keluarga Suami cair-cair saja. Padahal, mertuanya non muslim loh.

Oh… barangkali, karena di negeri kita tercinta ini, sebagian besar masyarakatnya hobi menonton Sinetron yang mengisahkan tentang mertua jahat dan menantu sebaik tokoh Bawang Putih dari Negeri Dongeng jadi diadopsilah dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin loh ya?

Eniwei, satu hal terpenting yang wajib kita sadari sepenuh hati, dan sesadar-sadarnya ketika memutuskan untuk menikah adalah,

“Menikahi anaknya, berarti juga harus menerima keluarganya..”.

Nah, untuk menerima keluarga Suami, orang-orang asing yang kita nggak kenal, nggak pernah ketemu, bahkan boleh jadi ada yang berasal dari lain pulau, yang artinya memiliki kekhasan sendiri, tabiat yang berbeda, adat kebiasaan yang tidak serupa harus memiliki skill berkomunikasi yang baik, kedewasaan yang mapan, tidak kalah penting, toleransi, adab (etika) dan akhlaq yang baik adalah kunci utama keberhasilan merebut kasih sayang dan keharmonisan di tengah keluarga Suami.

Iya sih, kadang saya berpikir bahwa suasana tidak nyaman yang menyebabkan hubungan isteri dengan keluarga suami kurang harmonis terkadang dipicu oleh kecemburuan. Ibu Mertua khususnya, merasa cemburu karena anak lanang yang dulu disayang-sayang, dibanggakan, menjadi harapan, harus berbagi dengan kita, para isteri, yang enggak pernah ngasih apa-apa, kenal juga enggak, biayai sekolah boro-boro, eh.. setiap bulan make uang suami, setiap saat manja-manja ke suami. “Padahal, aku udah susah payah nyekolahin anakku tinggi-tinggi, giliran udah mapan, istrinya yang menikmati…” barangkali seperti itu pikiran mertua yang memiliki orientasi dunia kuat kali ya?

Atau, Isteri yang berakhlaq buruk. Setelah menikah, enggan mengunjungi mertua atau keluarga suami, hanya berpangku tangan ketika sedang bertandang ke rumah orang tua Suami, tidak mau berbaur dengan keluarga suami, terlalu pelit untuk berbagi dengan keluarga Suami, atau menjadi korban Sinetron yang menganggap, “Dimana-mana mertua itu sama aja, cerewet, ini itu, anu ana inu..”

Atau Saudara-saudara Suami yang merasa diabaikan, dipinggirkan setelah kita datang. Terlebih, jika Suami memiliki Adik atau Kakak perempuan yang sangat akrab sekali. Yang sebelum menikah kemana-mana selalu bersama, setelah menikah kita menjadi prioritas. Mereka merasa kehilangan sosok Adik atau Kakak yang manja, periang, ketika masih lajang. Maka meledaklah perasaan tidak suka kepada kita, yang biasanya satu dengan lainnya akan mengompori, sehingga beramai-ramai pula lah jadi memusuhi Isteri.

Nah…

Jika sejak awal Isteri “Menyiapkan panggung”, menyadari bahwa Suami tetaplah miliki Mertua dan Saudara-saudaranya. Suami tetaplah seorang anak, dan kelak kita akan menjadi seorang Ibu dari anak Suami, Mertua adalah Orang tua kita, dan Saudara Suami adalah Kakak dan Adik kita juga, In syaa ALLAH kecemburuan tidak akan terjadi.

Jangan terlalu jaim di hadapan keluarga suami, yang natural saja seperti ketika kita tengah berkumpul dengan saudara-saudara di rumah. Nggak jaim, bukan berarti seenaknya sendiri ya? Tetep harus menjunjung etika setinggi-tingginya dimanapun kita berada. Seperti kata pepatah :

“Dimana Bumi dipijak, disitu Langit dijunjung…”

Saudariku, Para Istri dan Calon Istri dimanapun berada, dan bagaimanapun keadaan antunna saat ini…

Berbuat baiklah kepada Ibu Mertuamu, jangan merasa berat ketika Suami ingin berbagi sebagian gaji untuknya. Ingatlah selalu, pemberian Suami tidaklah sebanding dengan betapa banyaknya lelah dan biaya yang dihabiskan Ibu mertua sejak mengandung hingga membesarkan suamimu. Menyekolahkannya agar ia menjadi orang yang bermasa depan cemerlang, lalu ridha, engkau menjadi prioritas anaknya untuk dibahagiakan dan disejahterakan. Padahal, belum genap bakti suamimu untuk Ibunda yang mengasihinya.

Tegakah engkau melarang Suamimu berbagi untuk Ibunya? Engkau pun kelak akan menjadi seorang Ibu dan bermenantu bukan? Tak sedihkah, jika putramu acuh padamu? Terlena dengan dunianya dan melupakanmu demi istrinya? Sedih bukan buatan bukan?

Bukan hanya perihal gaji, janganlah pelit untuk berbagi makananmu, perhatian, kasih sayang, waktu, kebahagiaan, dengan Ibu dan Saudara-saudara Suamimu. Dalam nadi mereka, mengalir darah yang serupa dengan Suamimu, janganlah egois hanya karena takut engkau terabaikan. Jika Suamimu seorang yang shalih, In syaa ALLAH engkau tetap bertahta di hatinya, dan Istimewa di matanya. Meski raganya berada di tengah keluarganya.

Bagaimana jika kenyataannya kita memiliki mertua yang cerewet, banyak berkomentar, turut campur dalam masalah keluarga kita, pilih kasih, menuntut Suami untuk menanggung biaya hidupnya?

Wah.. Berat juga ya jika ada mertua yang seperti itu? Hmmmm.. Mertua cerewet sebetulnya wajar, karena ia mematok standar kelayakan hidup Suami seperti standarnya. Dan kita dianggap tidak dapat menyamai caranya ketika melayani Bapak Mertua dan putranya. Alhasil, ia menjadi banyak berkomentar terhadap apa yang kita lakukan, bagaimana kia memasak untuk suami, seperi apa pelayanan kita terhadap Suami. Sekiranya hatinya (Ibu mertua, red) bersih dari penyakit hati, In syaa ALLAH setiap kata yang disampaikan kepada menantunya adalah berupa nasehat. Ia menyadari dirinya adalah panutan, ia pun adalah seorang menantu dari Ibunda Suaminya.

Sikap terbaik yang kita lakukan adalah, tetap maksimalkan dalam melayani Suami, mendengarkan dengan terbuka dan nggak baper. Jika Suami peka terhadap kecerewetan Ibunya, tentu ia akan banyak menceritakan kebaikan Istrinya dalam mengurusnya. Bukan malah menceritakan betapa tidak enaknya masakan Isteri, berantakannya rumah, anak-anak rewel, dan lain sebagainya. Hal demikian, justru menimbulkan ketidaksukaan dari Ibu Mertua, yang apabila dibiarkan akan menjadi percikan diantara keduanya.

Yang patut kita tekankan, setelah menikah jangan mudah curhat permasalahan yang menimpa rumah tangga ke Mertua atau khalayak, atau bahkan Ibu kita sendiri. Why, sebab ini akan menjadi bom atom yang sewaktu-waktu meledak jika tidak berhati-hati. Cukuplah, ALLAH sebagai pemberi solusi terbaik, dan Suami tempat berbagi yang terpercaya. Didiklah diri sendiri, dan bekerjasama dengan suami agar tidak membawa-bawa perkara rumah tangga keluar dari dapur pribadi. Ikut campurnya keluarga dalam perkara rumah tangga, ya dimulai dari diri pribadi bukan? Kalau tidak gemar mengadu dan curhat, pasti tidak akan sampai ada yang tahu kan selain ALLAH? Tapiii.. bukan berarti tidak boleh curhat sama sekali ya? Hanya sewajarnya saja, yang umum-umum sajalah, pun tujuannya agar mendapat bimbingan dan nasehat yang baik ya dari Mertua? Bukan supaya ada yang membela kita?

Mertua pilih kasih, ah.. tidak ada orang tua yang akan pilih kasih kok. Tapi, sekiranya perlakuan orang tua suami ke kita tidak sebaik kepada menantu yang lain, jangan baper dan berkecil hati. Tetap, sikapilah dengan akhlaq yang baik. Sekeras-kerasnya batu, tentu akan melunak jika terus ditempa air. Tidak perlu membesar-besarkan dan menyebarkan benang merah yang terjadi antara isteri dengan mertua, apalagi membenci mertua, ingatlah.. itu tidak menyelesaikan masalah. Yaa.. karena hanya di surgalah, kita bisa terbebas dari beban kehidupan.

لاَيَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَاهُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya..” (Surah al-Hijr ayat 48)

Tugas kita sebagai menantu sama dengan kewajiban kita sebagai anak. Menghormati mertua, menyayanginya, berbakti, dan mendoakan kebaikan bagi keduanya. Mertua pun memiliki hak yang sama seperti kedua orang tua kita. Segala kebaikan, dimulai dari dalam diri. Jika kita baik, In syaa ALLAH orang lain akan berbuat baik terhadap kita, demikian pula sebaliknya.

Namun.. Bersabarlah terhadap sikap tidak menyenangkan dari orang lain, sebab kita tidak bisa menuntut orang lain untuk berbuat serupa dengan apa yang kita lakukan dan inginkan to? So.. Jadilah menantu terbaik, isteri yang mulia, dan ibu teladan! Barakallahu fiikunna.. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s