Surat Terbuka Untuk Pencopet (Dan Konco-konconya)

763c550a085e2cc148c4d8d6acbd682d.jpg
Sumber : Pinterest

Kenapa harus mencopet? Sebuah pertanyaan yang saya tujukan khusus untuk para pencopet. Barangkali, ada pencopet yang sedang beruntung mencopet Smartphone, dan online dengan HP hasil curiannya, lalu membaca tulisan saya ini. Mudah-mudahan ada ya? Atau sudah gerah duluan membaca judulnya.

Dua hari lalu, Adik Bungsu saya kecopetan ketika mau berangkat ke Purwokerto. Ia menumpang Bus “Harum” jurusan Bandung-Jogja. Ia menyetop Bus dari terminal Karangpucung. Tumbenan, Ria mendadak ngantuk dan tertidur di Bus, padahal biasanya dia terjaga mengingat jarak tempuh Karangpucung-Purwokerto hanya 1,5 jam perjalanan. Ria duduk di jok tidak begitu jauh dari Sopir dan Kernet Bus. Tas ransel yang dikenakannya, dikekep di dadanya. Setelah masuk Terminal Tanjung, Purwokerto Ria terbangun dan tas sudah berpindah tempat di sampingnya.

Ria terkejut, kemudian mengecek HP dan dompetnya. A’la kulli haal.. Smartphone miliknya, dan uang sebesar dua ratus ribu rupiah yang sedianya untuk membeli rok syar’i sudah raib entah kemana. Namun ATM, Kartu Mahasiswa, STNK, dan surat-surat lainnya masih pada tempatnya. Dalam keadaan panik, Ria melaporkan pada sopir Bus dan Kernet, yang terkesan cuek dalam menanggapi, dengan alasan, ”Aduh… Busnya sudah mau jalan lagi ke Jogja Mbak, jadi nggak bisa bantu.”

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah rugi, kalut, panik, tidak ada yang berempati pula. Miris ya? Ketika Ria menceritakan hal ini pada saya semalam, tiba-tiba terlintas dalam benak saya, sekiranya putri mereka (sopir Bus dan Kernet-red) yang mengalami hal tersebut, bagaimana perasaannya. Oke, saya orang awam yang tidak paham dunia per-BUS-an yang tidak tahu dampak jika apa yang saya pikirkan terjadi, tetapi sebagai makhluk sosial, bisakah berempati dengan menggeledah satu persatu Tas Penumpang? Atau meminggirkan Bus di kantor polisi terdekat? Atau apapun itu yang menunjukkan kepedulian terhadap penumpang? Oh.. rasanya ekspektasi saya terlalu tinggi.

Harta yang kita miliki, adalah milik ALLAH. Kehilangan, adalah sebuah keniscayaan jika ALLAH menghendaki. Dan sabar, adalah ketika benturan pertama terjadi. Artinya, kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersabar jika tertimpa musibah berupa kehilangan. Semua sudah ada dalam skenario takdir yang tertulis untuk kita di Lauhul Mahfuzh. Namun, menjadi Pelaku pencurian, pencopetan, begal, penjambretan, dan semacamnya adalah pilihan.

Saya ingin bertanya kepada para Pencopet, tidak perlu dijawab di depan wajah saya, cukuplah dijawab dalam hati saja, “Kemana perginya hati nurani itu ketika mencopet harta seorang gadis lugu yang akan berangkat menimba ilmu di kota orang? Jauh dari orang tua, yang entah bagaimana nestapanya ia berjuang dengan cara halal untuk bisa memiliki Smartphone yang diimpikannya?”

Kemanakah hati manusiamu, ketika mencopet dompet seorang lelaki tua berwajah lelah yang tertidur pulas di sudut Angkot. Ia membawa segepok uang gaji pensiun, hasil jerih payahnya bekerja berpuluh tahun lamanya, yang sedianya digunakan untuk membelikan baju kurung terbaik untuk Istrinya yang setia menunggu di rumah?

Kemanakah belas kasihmu, ketika merampas sepeda motor seorang wanita, Ibu Rumah Tangga yang akan menjemput anaknya sekolah. Sedangkan, itu harta paling berharga yang dimilikinya? Ia syok, stress, lalu kamu bebas melenggang tanpa dosa.

Kemana rasa takutmu pada ALLAH, ketika menyantroni rumah sederhana milik tetanggamu. Yang ia mengumpulkan sedikit demi sedikit, harus bekerja siang malam, menepis godaan kredit demi memiliki televisi, laptop, handphone, emas, dan lain sebagainya, lalu kamu mengambil seenaknya, mengancam dengan senjata tajam, merampas yang bukan hakmu? Bahkan ketika sisi kemanusiaanmu lenyap ditelan Iblis, kamu menghabisi nyawa mereka? Bagaimana jika Ibumu, Ayahmu, Istrimu, Anakmu menjadi korban kejahatan serupa? Mau berbuat apa?

Kepadamu Maling, Pencopet, Penjambret, Penipu, dan profesi sederajat dengannya.. Pekerjaan di Indonesia yang halal itu banyak. Apa? Jangan kambing hitamkan seleksi perusahaan ketat yang menyebabkan kalian menganggur, namun periksalah isi otak dan hatimu. Jika kalian berakal sehat, dan percaya bahwa rejeki kita sudah dijamin ALLAH tentu kalian akan berinisiatif untuk bekerja apapun demi halal dan berkahnya sesuap nasi yang mengenyangkan perut kalian.

Hanya… Kalian itu PEMALAS dan AHLI MAKSIAT! Oh, statement saya menvonis ya? Ya, memang saya menghakimi. Saya tidak percaya, alasan ketiadaan lowongan kerja adalah faktor mutlak meningkatnya tindakan kriminal. Kualifikasi yang tinggi bagi pelamar kerja, kempetisi yang ketat, rendahnya pendidikan, dan kesenjangan sosial di masyarakat adalah akar problematika ini. Realitanya, di Jogja khususnya, banyak saya dapati Penyandang Cacat yang membuka Wirausaha Aneka Kerajinan Tangan untuk dipasarkan hingga mancanegara. Banyak orang yang mau bekerja menjadi buruh Tani, Kuli Bangunan, Membuka Usaha Permak Jeans, Berjualan Siomay, membuka servis Lampu rusak, berjualan taplak, lap, celemek, menjadi kuli panggul, tukang becak, apalagi? Masih banyak lagi kan? Pekerjaan itu hina? Ah.. tidak.. mereka tentu jauuuh lebih mulia daripada MALING.

Kepada para Maling dan Konco-konco yang berprofesi sama dalam bidang pencurian yang –semoga ALLAH beri hidayah-…

Sebelum mencuri, pikirkanlah dampak-dampak dari perbuatan yang akan kalian lakukan. Bagaimana perasaan orang yang akan dirampas hartanya oleh kalian? Bagaimana susahnya mereka mendapatkan itu semua dengan cara yang halal? Coba kalian bayangkan, jika kalian tega menyantroni kost Mahasiswa. Ia jauh dari kedua orang tuanya, hidup dalam keprihatinan, ia mengerahkan segala kemampuan, waktu, dan pikirannya untuk mengerjakan skripsi maupun tugas-tugasnya. Lalu, ketika ia lengah, kalian curi laptop dan barang-barang berharganya. Tentu Mahasiswa tersebut banyak mendapat kerugian.

Ternyata, ia orang tidak mampu, membeli laptop pun nyicil, harus hutang kesana-kemari untuk melunasinya, ketika draft skripsi sudah ready, kalian merampasnya begitu saja. Kemana ia harus mencari gantinya? Bagaimana ia harus memulai skripsinya dari awal, sedangkan tenggat pendadaran sudah hitungan jari? Bagaimana getirnya Bapak Ibu di rumah, berharap putranya segera wisuda namun qadarullaah harus pupus karena ulah kalian?

Atau, seorang penjual kue di kantin kejujuran sebuah Universitas. Berpeluh lelah membuat kue hingga tangannya melepuh. Menjajakan kue tanpa pengawasan di tempat belajar kaum intelek. Namun rupanya, keuntungan tidak seberapa, dengan dalih tidak ada uang kecil kalian tidak membayar. Atau, melihat tumpukkan uang di stoples, kalian tergoda mengambil uang di dalamnya. Ketika ia hendak mengambil uangnya, ternyata, dagangan laku keras namun uang yang masuk ke dalam toples minus. Padahal.. Ia sangat butuh uang untuk membeli susu anaknya, oh.. teganya…

Ittaqillaah.. Bertaqwalah kepada ALLAH. Orang-orang yang kalian copet adalah orang terzhalimi yang akan menggugat kalian di hadapan ALLAH. Tidak ada penghalang antara mereka dengan ALLAH, sehingga pengaduannya kepada ALLAH sudah pasti akan terkabulkan. Tidak takutkah kalian jika kalian dido’akan kesengsaran sepanjang hidup oleh mereka? Saya pun mendoakan, semoga kalian para pencopet, maling, dan sejenisnya agar ALLAH beri hidayah dan ganjaran setimpal.

Mencari rejeki halal itu mudah Pet, Ling? Yang susah adalah kemauan dan ketaqwaan kalian. Semakin jauh seseorang dengan ALLAH, maka hatinya akan mengeras. Semakin seseorang bermaksiat kepada ALLAH, maka hilang rasa takut akan azab ALLAH, hingga ia tidak takut mencuri, mencopet, dan merampok, bahkan membunuh.

Kelak…

Kalian akan memiliki keluarga. Akan merasakan menjadi Ayah, dan Pemimpin keluarga. Setiap balasan, sesuai amal perbuatan. Bagaimana jika ALLAH mentakdirkan Istri dan anak-anakmu menjadi korban serupa? Atau, jika sedang sial, kamu digelandang ke bui? Bagaimana nasib anak-anak dan Istrimu, tentu malu ber-Ayah dan ber-Suami seorang Maling.

Atau..

Kini kamu seorang Ayah dan Suami. Menafkahi Istrimu dengan jalan yang haram. Sesuatu yang haram, tentu akan mempengaruhi penggunanya. Makanan yang haram, tidak akan menjadi daging, namun akan menjadikan seseorang berakhlaq buruk. Relakah.. anak-anakmu menjadi anak pembangkang yang durhaka, dan ternyata gemar mencuri juga? Atau.. ternyata kamu tertangkap tangan sedang mencopet, wajahmu berlalu lalang di media massa. Ahhh.. ditaruh dimana wajah Istri, dan anak-anakmu? Mereka tentu akan menjadi bahan gunjingan warga, menjadi waspada terhadap mereka, membully, bahkan mengucilkannya. Hubungan kalian menjadi sangat tidak harmonis, bahkan berujung perceraian, karena malu tak tertanggungkan bersuami seorang pencopet. Bagaimana rasanya?

Terima kasih sudah membaca surat terbuka dari saya, mudah-mudahan membuat kamu sadar, bahwa banyak jalan menuju Roma, banyak cara halal mencari Harta. Yakinlah, ALLAH akan memberimu rejeki. Katakan, siapa di rumahmu yang rejekinya tidak ditanggung ALLAH? Semut-semut dan Uar di Lubangnya pun ALLAH beri rejeki, apalagi manusia yang berakal?

Untuk Adikku Ria, yang sudah hilang ya sudah, hikmah ALLAH itu luas. Apa yang ditakdirkan akan menimpa kita, pasti akan mengenai kita, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpa kita, tentu tidak akan mengenai kita. Iya kan Ri? Yang hilang, pasti ada gantinya. Lebih baik In syaa ALLAH. Belajar Ikhlas tentu tidak mudah, apalagi harganya tidak murah. Namun yakinlah.. Innallaha ma’asshobirrin..

Hikmah dari pencopetan yang menimpa Adik saya adalah, hendaknya seorang wanita ketika berpergian ditemani oleh mahramnya. Karena penjagaan mahram itu kuat dibanding seorang teman. Misalnya, seorang Ayah melihat anaknya diganggu tentu akan garang dan menolong anaknya, bagaimanapun caranya sekalipun bertaruh nyawa. Tapi seorang teman? Hanya jika ia dalam posisi yang menguntungkan, dan (kebanyakan) mustahil mau bertaruh nyawa.

Perbanyak dzikir dan berdoa selama perjalanan untuk menghindari gangguan jin dan manusia yang berbuat jahat. Jangan simpan barang berharga di bagian tas paling depan, namun simpan barang-barang berharga di bagian paling tersembunyi. Bawa uang seperlunya.

Advertisements

One thought on “Surat Terbuka Untuk Pencopet (Dan Konco-konconya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s