Ibu Rumah Tangga Butuh Piknik

Hello… Dunia Maya memang nggak seru ya kalo nggak ada postingan yang mendadak viral? Hehehe, salah satunya adalah postingan tentang ini :

12241326_431897143663093_4989743018326140665_n

Ternyata banyak juga loh yang pro maupun kontra. Ada yang setuju bahwa Ibu Rumah Tangga itu butuh piknik supaya tetap waras. Ada juga yang kontra, yakni menjalani peran sebagai seorang Mother full at home atau Ibu Rumah Tangga harus dibarengi dengan rasa ikhlas. Resiko, memutuskan untuk menikah dan menjadi Ibu Rumah Tangga itu berarti harus siap untuk direpotkan oleh suami dan anak-anak. Kalo enggak siap dengan keriweuhan dan warna-warni menjadi IRT, ya jangan menikah. Urus diri sendiri saja, atur rumah serapi mungkin saja tanpa khawatir ada yang lempar jaket di kursi, naruh handuk di atas galon, corat-coret dinding rumah, patah-patahin lipstisc mahal, en des bre en des bre. Tanpa perlu memusingkan besok mau masak apa? Tanpa merisaukan baju kerja suami yang belum diseterika, tanpa mengkhawatirkan anak bangun dari tidur, nyari emaknya, eh malah gelantungan di pintu Kulkas disangkanya emaknya ngumpet di Kulkas -_-“ , hemm..

Kalo saya? Emm.. karena masih dalam proses penantian memiliki buah hati, jadi belum begitu terasa berat yaa? Hanya, saya juga bingung mau pro atau kontra #halaah, tapi agaknya cenderung pertengahan saja. Maksudnya, saya setuju-setuju saja jika Istri minta piknik, namun piknik yang seperti apa dulu? Masa iya setiap pekan kudu piknik ke tempat yang keren, jauh dari rumah, boros di ongkos, kasihan suami yang ngos-ngosan kalo kemauan kita untuk piknik harus selalu dituruti, sedangkan sepekan penuh rambutnya nyaris keriting karena beratnya pekerjaan di kantor, atau badannya encok-encok karena kelamaan duduk di depan komputer (buat kerja loh ya, bukan onlen kayak saya ini hahaha 😀 ).

Mau tahu rasanya masa peralihan dari Single ke Ibu Rumah Tangga? Awalnya sih asyik-ayik aja, hepi, bangga, tapi emang kadang jenuh juga di rumah melulu. Sesekali timbul keinginan buat ngajar lagi, meski berkali-kali pula Suami bilang, “Mmm.. Kamu di rumah aja yaa Sayaaaaang?” ya sudahlah, manuut.

Bangun tidur, artinya jam bekerja sudah dimulai. Setelah cuci muka, subuhan, dzikir, tilawah, cucian melambai-lambai ingin disentuh, piring meraung-raung ingin dicuci, maka mulailah memasak untuk sarapan Suami, abis itu nyuci piring, beresin rumah, ngepel, nyiapin baju kerja Suami, ah banyak deh. Apalagi kalo sudah punya anak. Bisa tilawah tanpa Mushafnya direbut anak itu udah bonus banget. Mau ke toilet tanpa anak ngintil, nungguin di depan pintu toilet itu udah prestasi banget. Lagi makan tanpa anak naik-naik ke punggung, nglungker-nglungker kayak belut itu udah top banget, ya kaan Buibu? Nah, dengan rutinitas yang itu-itu saja, kadang menimbulkan kejenuhan apalagi kalo kuota internet habis.

Ya jenuh laah, sama dengan orang yang setiap hari makan telur, enggak ganti-ganti lauknya, lama-lama biduran 😀 . Nah, mensiasati kejenuhan yang terjadi memang perlu refreshing. Menyegarkan kepala beserta isinya dan badan tentunya. Piknik, tidak harus ke tempat yang jauh dari rumah, manjat gunung, nyewa hotel yang mahal, de ka ka.

Ketika hari libur, Suami inisiatif masakin sarapan buat Istri, momong anak, ngajak jalan pagi keliling sawah sambil ngukur jalan, bantuin Istri cuci piring, nyuci baju, itu udah lumayan bikin otot leher Istri lentur loh. Atau, setiap akhir pekan diagendakan buat makan di luar, enggak harus ke resto mahal juga sih, makan Sapi Goreng di SS depan GOR UNY plus Cah Kangkung, dan Sambel Terasi Mateng atau Ayam Bakar di Maharani (Baciro, Lempuyangan) itu juga udah top markotop (Itu mah mau saya :D).

Atau, kalo Istri lagi males keluar, bisa masak berdua di dapur. Masak yang rada-rada berat. Seperti Ikan bakar. Suami bertugas mencuci Ikannya dan bakar-bakar. Istri nguleg bumbu atau sambel. Nanti endingnya nyuci piring bareng, Suami buang sampah, Istri bersihin dapur. Kebersamaan di dapur, bisa menciptakan keromantisan. Bikin rileks, sambil sesekali bercandain Istri, bikin Istri mutung abis itu baikan lagi karena diiming-imingi gamis baru. Seru kan?

Jadi intinya, baik suami maupun Istri WAJIB memahami perannya masing-masing supaya tidak terjadi ketimpangan diantara keduanya. Peran Istri adalah mengelola rumah tangga supaya tetap berjalan stabil, harmonis, dan selaras untuk mencapai tujuan di awal pernikahan, yakni Surga. Demikian pula Suami, ia selayaknya nahkoda bagi rumah tangganya. Nahkoda bertugas memimpin rumah tangga, bertanggungjawab terhadap seluruh penumpang yang turut berlayar bersamanya, yakni Istri dan anak-anak. Nahkoda tidak boleh egois, tidak boleh hanya mementingkan keselamatan dan kepentingan dirinya sendiri. Ia juga harus membawa seluruh penumpang yang membersamainya selamat sampai di tujuan, yakni Surga.

Nah, salah satu akhlaq baik seorang Suami adalah peka terhadap sinyal-sinyal yang diberikan Istri. Misal, Istri jadi sering uring-uringan, pendiam, murung, ngomel sepanjang waktu, sering membentak anak, acak-acakan, mendadak mellow, de el el. Wanita itu emang kadang susah bener mau bilang apa maunya hati. Misal, simak dialog berikut ini.

Suami : “Mau makan dimana nih?”

Istri : “Terserah Abang aja deh…”

Suami : “Di WS?”

Istri : “Jangan ah, mahal..”

Suami : “Di SS?”

Istri : “Minggu kemarin kan udah? Yang murah-murah aja deh…”

Suami : (Akhirnya beli gorengan lima ratusan)

Istri : (Diem)

Suami : “Kok nggak dimakan? Katanya laper?”

Istri : “Nggakpapa…” (Padahal sebenernya pengen makan di Warung Steak)

Suami : (Galau)

Lain kesempatan,

Istri : “Bagus mana, tas yang putih atau yang cokelat?”

Suami : “Dua-duanya bagus kok..”

Istri : “Yang mana?” (Maksa, sambil matanya membesar)

Suami : “Yang putih..”

Istri : “Ah, nanti cepet kotor..”

Suami : “Ya sudah, yang cokelat aja…”

Istri : “Ah, modelnya jelek…”

Suami : “Yaudah, enggak usah dua-duanya..”

Istri : “Katanya mau dibelikan?”

Suami : “Ya sudah, sok atuh pilih yang mana?”

Istri : “Yang merah aja deh..”

Suami : “Yaudah, ayo ke kasir..”

Pas di Kasir,

Istri : “Eh.. aku mau yang item aja deh Bang…”

Suami : (Membeku)

Nah kan, bingung juga ya jadi Suami? Wanita juga bingung mau bilang maunya apa? Itu dari sononya, saya juga kadang bingung kalo tiba-tiba mewek karena sesuatu hal, pas ditanya Suami, jawabnya enggakpapa, padahal papa :v . Untunglah, Suami bisa memecahkan kode saya, dan peka terhadap perubahan mood saya. Karena biasanya bawel dan berisik, mendadak pendiem itu kan something banget. Kalo sudah begitu, dipeluk, dielus-elus rambutnya kayak anak kecil, diajak keluar meski cuma jalan-jalan muterin UGM, atau cerita yang kocak-kocak tentang masa kecilnya, tentang pengalamannya. Maka, terhapuslah penat yang mendera hati. Begitu saja, mood saya sudah membaik.

Eh malah curcol.. Maafkan! ^^v Seharusnya, kita sebagai Ibu Rumah Tangga yang sadar betul dengan sisi kewanitaannya yang susah ditebak, yang tidak terduga, kadang juga aneh dan lebay, tak perlulah terlalu bermanja diri demi sebuah idealisme bahwa wanita itu harus selalu diagungkan hak-haknya, kalau tida dipenuhi maka akan stress, melampiaskan pada anak, begini dan begitu. Ayolaah, kita hidup di jaman modern yang serba canggih, semua tugas kerumahtanggan ita sudah banyak terbantu dengan adanya Mesin Cuci, Kompor Gas, dll. Jaman baaheula, ketika Nenek dan Ibu kita masih jadi Ibu muda, mereka saja tangguh. Punya anak setengah lusin masih bisa mengurus semuanya dengan sempurna. Anak-anaknya tumbuh sehat, bisa ngaji, hormat kepada orang tua, bahkan kini anak-akanya sudah ada yang jadi professor, dosen, dokter, presiden, menteri. Bahkan yaa.. kata Nenek saya, mereka dulu sambil momong anak, sambil matun di sawah loh. Bapaknya kemana? Bapak ya kerja, cari uang. Membajak sawah, berdagang, dsb. Mereka baik-baik saja sampai sekarang tuh..

Ibu muda jaman sekarang, baru punya anak satu sudah menyeru repotnya minta ditowel. Punya anak dua, sudah setengah kewarasannya. Saya heran, kenapa sih kita jadi pengeluh begini? Sudah diberi kemudahan, tapi kok kayaknya menjadi Ibu Rumah Tangga itu seperti sebuah penderitaan ya?

Oh.. boleh jadi, karena ada yang berkurang dalam menjalani peran ini, yakni IKHLAS dan BERSYUKUR. Sekiranya kita ikhlas merawat suami dan anak-anak demi beroleh surge, In syaa ALLAH enggak stress. Kalau saja kita bersyukur rumah berantakan itu artinya ada anak-anak sehat di rumah, baju suami menumpuk, itu artinya kita masih memiliki suami yang menjadi pintu Surga. Seandainya kita menerapkan kedua hal tersebut dalam menjalani biduk rumah tangga, In syaa ALLAH stress lewat. Piknik boleh, asal jangan dijadikan senjata untuk memeras otak Suami demi memenuhi keinginan kita yang macam-macam.

Mau dicoba? 😉

Yogyakarta, 3 Desember 2015 Pukul 22. 58 WIB

~ Tyas Ummu Hassfi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s